
Safira sudah bersiap pergi dari rumah sakit, bajunya sudah berganti bukan lagi baju pasien. Sejak tadi wajahnya sudah secerah mentari pagi. Pergi dari pengawasan mata elang, bukankah itu terdengar sangat indah. "Ah, akhirnya aku bebas!" Safira tersenyum manis sekali menatap menu sarapan di depannya.
Reffanpun tak berhenti menatap Safira yang bahagia, karena wajah cantiknya terlihat berkali-kali lipat lebih cantik saat dia bahagia. "Bahagia sekali kamu hari ini."
"Tentu saja."
"Sesenang itu kamu keluar dari sini."
"Bukankah setelah ini saya bisa kembali pada rutinitas saya. Beraktivitas seperti biasanya. Setelah saya menghabiskan sarapan, saya boleh pergi kan?"
"Kenapa buru-buru?" Reffan jelas tidak suka Safira ingin cepat-cepat pergi dari hadapannya.
"Saya ingin masuk kerja hari ini."
"Besok saja, aku sudah memintakan izin untukmu dua hari."
"Tapi saya tidak enak Pak Reffan, meninggalkan pekerjaan saya, pasti membuat susah orang-orang yang ada di sana." Safira sudah memasang wajah memelasnya sambil menunduk. "Tolong izinkan saya pergi pagi ini." Lanjutnya berharap Reffan mengabulkan permintaannya.
Ah, melihat wajah sedih Safira luntur juga pertahanan Reffan. Padahal tadinya dia ingin berlama-lama dengan Safira sebelum Safira pergi dari hadapannya.
"Habiskan sarapanmu, aku akan mengantarmu."
"Tidak per...." kata-kata Safira sudah dipotong
"Kau mau aku tidak jadi memulangkanmu. Hem."
"Bukan begitu. Saya tidak mau merepotkan anda. Maaf." Safira sudah panik mendengar ancaman Reffan.
Dengan cepat Safira menghabiskan sarapannya. Pun demikian dengan Reffan yang juga sedang sarapan di sofa memakan makanan yang sama dengan Safira. Nasi goreng seafood yang lezat yang tak mungkin ada di menu rumah sakit manapun.
Dengan langkah berat Safira memasuki mobil Reffan. Duduk di bangku belakang bersama Reffan sedangkan Bayu menyetir di depan seperti biasanya.
"Saya mau pulang dulu Pak Reffan. Berganti baju dan mengambil tas kerja saya. Nanti saya pergi ke tempat kerja sendiri saja."
__ADS_1
"Bayu, ke rumah Safira lalu kita akan mengantar ke tempat kerjanya."
"Baik Pak." Menoleh sebentar ke belakang sambil membungkukkan badannya.
"Jangan melihat ke belakang lagi. Apa yang kau lihat hah?"
"Baik Pak." Bayu sudah gelagapan ketahuan melirik Safira. Padahal tadi dia tidak sengaja melirik Safira saat menoleh ke belakang.
Safira sudah tiba di rumahnya. Berganti baju kerja dengan cepat dan memoleskan bedak tipis di wajahnya juga lipstik soft kesukaannya. Segera diraihnya tas kerjanya dengan cepat, tentu saja dia tak ingin tuan pemaksa terlalu lama menunggu. Jika marah Safira tak mau menduga apa yang akan terjadi. Bisa gagal dia masuk kerja on time hari ini.
Safira sudah duduk lagi di bangku belakang. Reffan masih memperhatikan penampilan Safira yang terlihat segar dengan dandanan tipis di wajahnya. Ada perasaan tak rela di hatinya melihat wajah Safira akan dinikmati banyak orang apalagi saat dia mengingat Bagas teman kerja Safira. "Bisa tidak berkedip dia melihatmu nanti." Kesalnya dalam hati.
"Kita berangkat sekarang pak?" Tanya Bayu setelah menduga Safira sudah duduk dengan nyaman di tempatnya, tentu saja dia tidak berani lagi menoleh ke belakang pandangannya lurus ke depan.
"Bagaimana jika tidak jadi saja? Kamu bisa istirahat dulu di rumah."
"Apa? Kenapa bisa begitu? Tadi kan anda sudah setuju." Wajah Safira sudah berubah kesal menghadapi Reffan.
"Ini sudah kewajiban saya Pak Reffan melaksanakan pekerjaan saya. Bukan karena siapapun. Baiklah terimakasih saya akan pergi sendiri ke tempat kerja saya. Assala..."
"Berani kamu keluar dari mobil ini. Saya pastikan kamu tidak akan berangkat bekerja pagi ini."
"Memangnya apa sih yang akan dia lakukan. Suka sekali dia mengancamku. Tapi kenapa aku nurut aja sih." umpat Safira di dalam hati, tangannya sudah melepas handle pintu yang akan dibukanya tadi.
Mobilpun melaju meninggalkan rumah Safira bergerak dengan kecepatan stabil membelah kota metropolitan kedua di negeri ini. Setelah berhasil melewati kemacetan, Safira sudah bisa melihat kantornya tak jauh dari pandangannya.
"Pak, saya turun di luar saja." Safira tadi sudah mengirim pesan pada sahabatnya Ira. Pasti Ira sudah menunggunya di lobby kantor. Safira tidak ingin paginya yang indah berubah menjadi sidang interogasi jika Ira melihat dirinya diantar mobil mewah ke kantor, belum lagi jika ada teman-teman lain yang melihatnya.
"Beraninya kamu memerintahku. Ini mobilku terserah aku mengantarmu sampai mana Bayu masuk ke dalam."
"Astaghfirullah." Safira sudah cemas memperhatikan keadaan sekitarnya kuatir ada yang melihatnya. Saat Reffan akan membuka pintu.
"Pak saya mohon jangan keluar." Safira sudah menyatukan telapak tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Kenapa?" Reffan melepaskan tangannya dari handle pintu.
"Saya tak mau ada gosip aneh-aneh. Saya mohon tolong anda jangan keluar."
Reffan menghembuskan nafasnya kasar padahal dia ingin melihat senyum Safira sebelum pergi darinya dan menatap punggung Safira sampai tak terlihat.
"Ya sudah, keluarlah."
"Terimakasih." Wajah Safira sudah kembali cerah lagi.
Padahal tanpa Reffan keluarpun. Orang-orang yang melihat mobil hitam mewah nan mengkilap berhenti di depan lobby saja sudah menghentikan langkahnya dan menunggu siapa yang akan keluar dari mobil itu.
"Safira!" Baru saja Safira menutup pintu mobil suara sahabatnya dan suara laki-laki yang dikenalnya sudah berdengung di telinganya.
"Ah, kenapa aku mengabari Ira tadi." sesalnya di dalam hati.
Bagas tentu saja menghentikan langkahnya saat melihat Ira yang menunggu di depan lobby. Dan Ira pasti tidak bisa berbohong siapa yang ditunggunya.
"Safira kamu diantar siapa?" Bagas sudah mulai menginterogasinya.
"Teman! Masuk yuk, keburu terlambat." Safira sudah melangkahkan kakinya akan masuk ke dalam kantor namun gerakan kakinya yang tak normal tertangkap oleh Bagas.
"Safira kamu kenapa? kamu terluka? kakimu kenapa?" interogasi masih berlanjut.
"Tak papa Pak Bagas. Kita harus masuk sekarang." Safira sudah menggandeng lengan kiri Ira. Sementara Bagas berjalan di samping kiri Safira masih memperhatikan Safira dari puncak hijabnya hingga ujung sepatunya.
Reffan yang membuka sedikit jendelanya tentu saja mendengar percakapan mereka. Tangannya mengepal apalagi saat melihat pandangan Bagas yang terus melekat ke tubuh Safira.
"Harusnya aku kurung kamu Safira. Enak sekali laki-laki itu bisa melihat kamu seharian. Aku saja hanya melihatmu sebentar tadi. Aku bakar saja kantormu biar kamu tak perlu pergi bekerja Safira." Pikiran Reffan sudah menggila.
Bayu hanya menggelengkan kepalanya. Bayu tahu itu hanya ucapan Reffan saja karena cemburu melihat Safira berdekatan dengan laki-laki lain.
"Ya begini kalau ABG jatuh cinta. Hahahaha...." Bayu tertawa di dalam hatinya. Mulutnya terkunci rapat. Mana berani dia menertawakan bosnya.
__ADS_1