Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Singa Betina


__ADS_3

Fairuz mengeram dan kini tangannya terkepal. Lift terbuka, Safira keluar tanpa halangan. Menarik nafas dalam kemudian membuangnya untuk mengurangi kegugupannya. Mengancam bukan sifat Safira, tapi dia sudah lelah diancam oleh pimpinannya itu.


"Sekarang kita lihat apa reaksinya Safira, semoga dia berhenti setelah ini." Harap Safira di dalam hatinya.


Satu jam berlalu dari jam kerjanya tidak ada tanda-tanda Fairuz memanggilnya. Safira dengan tenang mengerjakan pekerjaannya. Bagas masih terus mengawasinya, ditambah juga Ira yang bolak-balik melihat ke arah Safira, dia juga mengkuatirkan sahabatnya karena sekarang dia sudah tahu.


Hampir istirahat siang, Safira lupa memberi tahu Bayu. Dia meraih ponselnya mengetik sesuatu di sana.


S : Assalamu'alaikum. Pak Bayu, saya tahu ini sudah dua hari tapi tolong jangan memberitahu suami saya dulu. Saya sendiri yang akan memberitahunya nanti.


B : Wa'alaikumsalam. Apakah masalahnya sudah beres?


S : Semoga saja.


B : Dia masih mendekati anda?


S : Semoga saja tidak lagi.


Bayu yang sedang duduk dengan Reffan fokus dengan ponselnya, tidak disadarinya Reffan memperhatikannya.


"Apa ada pekerjaan yang belum selesai, sepertinya kamu sibuk sekali." Reffan bertanya.


Bayu yang masih berpikir tentang jawaban Safira yang menggantung menjadi tidak fokus dengan orang di depannya.


"Tidak Pak, hanya membalas pesan dari Bu Safira."


Duaarrr!


Petir seakan menyambar di tengah hari tanpa mendung atau hujan yang menyertai.


"Bodoh! Apa yang kamu ucapkan Bayu! Bodoh!" Bayu memejamkan mata merutuki dirinya yang tak fokus sampai keceplosan di depan Reffan.


Mata Reffan sudah menatapnya tajam, tangan yang bertumpu di meja sudah terkepal.


"Apa maksudmu membalas pesan Safira. Kenapa dia mengirimu pesan?" Mata Reffan sudah berkilat ditambah lagi penekanan pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.


"Ehm begini pak." Bayu ragu meneruskan kata-katanya tapi sudah terlanjur salah ucap. Jika dia berbohong, dia akan tamat.


"Cepat katakan jangan berbelit-belit!" Reffan menggebrak meja, untungnya mereka ada di private room sekarang.

__ADS_1


"Bu Safira minta tolong untuk dicarikan data atasannya...." Jawab Bayu pelan


"Kenapa? Cepat katakan dengan cepat!" Reffan tak sabar dengan jawaban Bayu


"Karena... karena atasannya itu menginginkan Bu Safira." Bayu memandang wajah Reffan yang memerah


"Brengsek!" Reffan mengumpat. "Berikan ponselmu! Cepat Bayu!"


Bayu gelagapan memberikan ponselnya.


"Buka!" Perintah Reffan


Bayu segera membuka percakapan chat dengan Safira.


Mata Reffan menatap tajam ponsel Bayu, telunjuknya bergerak-gerak di layar. Dadanya bergerak naik turun, uap emosinya di ubun-ubun sudah dapat terlihat dengan jelas.


"Apa Safira juga menelponmu?" Mata Reffan masih menatap layar datar milik asistennya.


"Tidak pak! Hanya chat itu saja." Bayu gelagapan menjawab sambil menangkap ponsel miliknya yang dilempar Reffan ke arahnya."


"Kenapa Safira menghubungimu dan minta tolong padamu?" Reffan beralih menatap Bayu sekarang.


"Takut?!"


"Mungkin takut pak Reffan marah atau menyuruhnya berhenti bekerja."


Tangan Reffan terkepal, amarah yang berlapis-lapis. Marah pada Safira yang malah terbuka dengan asistennya, marah pada Bayu yang menyembunyikan permintaan Safira darinya dan marah yang menggunung pada Fairuz tentu saja.


"Kamu Bayu!" Tangan Reffan sudah mengepal hendak memukul Bayu tapi ditahannya.


"Maafkan saya pak!" Bayu menunduk saat melihat tangan Reffan yang terkepal melayang.


"Bagaimana bisa kalian menyembunyikannya dariku? Ahhh!" Reffan membanting tubuhnya untuk duduk kembali.


.


Sementara di ruang kerjanya. Safira yang baru saja merasakan ketenangan beberapa jam harus kembali menegang saat Fairuz memanggilnya setelah jam istirahat.


"Masuklah Safira!" Suara Fairuz dari balik meja dengan mata yang masih menatap laptop di depannya.

__ADS_1


Safira berjalan mendekat ke arah meja, beristighfar sejak tadi di dalam hatinya.


"Apa kamu menikmati harimu? Wajahmu sepertinya senang sekali tidak banyak melakukan pekerjaan hari ini. Aku bukan tidak peduli lagi padamu karena tidak memberimu tugas hari ini. Tapi ada pekerjaan yang harus kuselesaikan dengan cepat. Mendekatlah, kamu ingin tahu apa yang kukerjakan kan?" Fairuz memutar laptop menghadap ke arah Safira.


Bola mata Safira melebar melihat file di depannya. Ada nama Bagas Aditama dan Meira Savitri di sana. Mutasi.


"Aku sibuk sekali hari ini. Memikirkan siapa yang akan kuajukan untuk mutasi, dua nama ini sepertinya adalah pilihan yang tepat. Bukan begitu Safira?" Fairuz tersenyum menjengkelkan ke arah Safira.


"Kau seharusnya berpikir bijaksana sebelum mengancamku Safira, nasib teman-temanmu ada di tanganmu..."


"Pak Bagas baru saja dimutasi kemari lima bulanan yang lalu. Bagaimana bisa akan dimutasi lagi? Dan Ira.." Safira memotong pembicaraan Fairuz tapi kemudian Fairuz memotongnya kembali.


"Kamu terlalu lugu sayang. Hidup ini tentang pilihan Safira. Dan semuanya tidak gratis. Jika kamu mau teman-temanmu tidak di mutasi ke pulau nan jauh di sana. Kamu harus membayarnya." Fairuz berdiri dari kursi mengitari mejanya dan duduk di depan meja di samping Safira. "Kamu bayarannya!"


Safira mengepalkan tangan, dadanya naik turun dengan cepat. Pikirannya berkecamuk, Pak Bagas memang tidak keberatan untuk dimutasi kemanapun tapi Ira, bagaimana jika Ira dimutasi ke pulau Indonesia Timur, Ira seorang perempuan. Jika ini karena aku, Ira mungkin akan membencinya seperti saat Damar menyukainya.


"Urusan anda dengan saya mengapa melibatkan teman-teman saya?" Safira memandang benci pada orang di sebelahnya.


"Bukankah kamu juga melibatkan istriku dalam urusan kita. Kita impaskan?" Fairuz mendekatkan wajahnya.


"Itu artinya. Jika teman-teman saya dimutasi karena anda, istri anda akan tahu kelakuan suaminya. Begitukan maksud anda?" Safira berbicara tegas tak sedikitpun melihat ke arah Fairuz.


"Safira!" Fairuz membentaknya.


"Saya sudah cukup bersabar dengan kelakuan anda. Jika anda masih terus menggangu saya dan teman-teman saya. Maka sudah seharusnya istri anda dan suami saya mengetahui kelakuan anda."


"Kamu!" Fairuz berdiri menunjuk wajah Safira.


"Berhenti mengancam saya. Anda salah sasaran pak! Lakukan apa yang mau anda lakukan dan saya akan melakukan bagian saya. Tapi saran saya, hentikan semua ini!" Safira berbicara pelan namun tepat sasaran. Fairuz dibuatnya tak berkutik. Fairuz salah perhitungan, wanita di depannya benar-benar marah saat dia menyenggol teman-temannya.


Fairuz berhasil menekan Safira dengan tugas-tugas menumpuk dan Safira diam saja. Tapi saat teman-temannya akan disentuh Safira benar-benar marah. Fairuz tak mengira titik kelemahan Safira yang dipikirnya akan semakin menekan Safira justru membuat singa betina itu bangun.


.


Safira meninggalkan ruangan Fairuz dengan Fairuz yang masih mematung. Safira duduk kembali di kursi, mengatur nafas agar lebih tenang, meraih ponselnya dan mematikan rekaman suara. Ira menghampirinya, menggenggam tangannya. Safira tersenyum.


"Aku baik-baik saja. Kembalilah bekerja Ir." Safira menyuruh Ira kembali ke mejanya.


Safira fokus menyelesaikan pekerjaannya. Tepat di jam pulang, Safira berkemas dan segera beranjak dari kursinya setelah berpamitan pada teman-temannya. Dia berjalan cepat ke arah lift. Safira ingin segera bertemu dengan suaminya dan menceritakan semuanya sebelum Bayu lebih dulu mengatakan pada suaminya.

__ADS_1


Di tekannya tombol lift di depannya. Lift terbuka memperlihatkan sosok yang sangat ingin ditemuinya.


__ADS_2