Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Hari yang Terasa Lama


__ADS_3

"Oke Safira, dilanjutkan ya pekerjaannya." Fairuz berkata kemudian membalikkan badannya.


"Akhirnya Pak Fairuz pergi juga." Batin Safira.


"Baik, terimakasih Pak." balas Safira, kemudian duduk kembali setelah Pak Fairuz pergi dari mejanya.


Sementara Bagas masih memandang tajam Pak Fairuz, bagaimanapun dia laki-laki yang mengenali tatapan kaumnya. Bergantian dia menatap Safira dan Fairuz sambil berharap apa yang dipikirkannya hanya sebuah prasangka.


Bagi Safira detik yang berganti menit seolah begitu lama, waktu berjalan begitu lambat entah kenapa. Dipikirannya saat ini hanya ada kalkulasi berapa hari lagi hingga weekend dan bertemu Reffan yang ternyata sangat ngangenin.


"Ah, kenapa kangen banget sih. Baru juga ditinggal dua hari." Keluh Safira yang baru saja berbalas chat dengan Reffan. Reffan selalu memberi kabar dan menanyakan kabar Safira terutama di sela-sela jam istirahat. Pernah Reffan videocall saat jam istirahat namun Safira akhirnya mematikannya karena teman-temannya sungguh riuh menggodanya.


Nanti di rumah aja ya mas videocallnya. Ketik Safira setelah mematikan videocallnya. Padahal sebenarnya Reffan sangat ingin melihat wajah istrinya yang memerah digoda teman-temannya.


Kangennya sekarang, pengen lihat wajah kamu kok disuruh nanti sih.


Ya udah mas lihat foto aku aja (emoticon lidah terjulur)


Gak bisa gerak dan diajak ngomong dong (emoticon mencium)


Sabar yah (membalas emoticon mencium)


Safira menjatuhkan kepalanya ke meja kerjanya, tubuhnya kehilangan energi saat mengingat Reffan. Ternyata benar rindu itu begitu berat saat pernah didekap erat. Raga yang terpisah terasa resah saat aroma yang dirindu hanya terbayang tak bisa menyatu.


"Rapat mbak setelah makan siang, semangat dikit dong." Ira menghampiri meja Safira.


"Semangaaaattt." Tangan Safira terkepal di udara tapi suaranya terbang terbawa udara tak seirama dengan kepalan tangannya. Ira yang melihatnya tertawa memukul-mukul meja.


"Duh yang kena virus rindu, angkat tangan lah daku. Gak bisa comment belum pengalaman." Ira menegakkan tubuh Safira yang seolah tak memiliki tenaga.


Safira menepuk nepuk bahu Ira sambil tersenyum. "Jodoh insyaAllah datang tepat waktu Ir. Sudah disesuaikan dengan yang bersangkutan."


"Iya Fir. Aku baik-baik saja." Balas Ira.

__ADS_1


Safira bisa merasakan kegelisahan sahabatnya yang masih sendiri dari matanya membuatnya merasa bersalah menampakkan kerinduannya pada suaminya di depan sahabatnya.


"Yuk ah, bentar lagi rapat mulai." Safira langsung berdiri seolah menemukan aliran listrik yang menyengatnya karena tak ingin melihat sahabatnya murung.


Mereka berjalan saling merangkul menuju ruangan rapat yang tujuh menit lagi akan dimulai.


"Mohon maaf pak. Jika ini tetap dilaksanakan akan ada beberapa kemungkinan yang terjadi yang harus kita prediksi......." Safira memberikan penjelasan tentang bahasan rapat mereka. Wajahnya kalem, bicaranya santun namun berbobot sesuai dengan isi kepalanya. Orang-orang tidak kesal saat Safira mengomentari ide mereka karena komentar Safira memberikan solusi dari kelemahan ide yang mereka lontarkan. Cerdas, santun, peka dan berbicara secukupnya adalah label yang melekat dalam diri Safira.


"Bagus sekali Safira, sesuatu akan menjadi sempurna dalam pandanganmu." Pak Fairuz tersenyum menanggapi penjelasan Safira. Sejak tadi matanya mencuri pandang pada Safira bahkan saat Safira baru masuk ke dalam ruangan rapat.


Dan sepasang mata terus mengawasi mereka berdua. Sepasang mata yang sudah menaruh curiga saat awal pertemuan mereka. Sepasang mata yang mengerti bahasa kaumnya, pemilik mata tersebut masih berharap apa yang dipikirkannya tidak benar-benar terjadi.


.


"Lagi apa?" Setelah salamnya dijawab Safira, Reffan memberondong Safira dengan berbagai pertanyaan tentang hari yang sudah dilaluinya.


"I miss you, Safira."


Wajah Safira merona. Senyum malu-malunya begitu menggoda.


Yang ditanya semakin tersipu. "Jangan tanya lagi" batin Safira. "Meja kerjaku menjadi saksi beratnya kepalaku yang menempel di sana karena merindukanmu, bantalku menjadi saksi saat tetesan air mata begitu saja meluncur mengingatmu." hati Safira merintih mengingat kerinduannya pada sang suami beberapa hari ini.


"Jawab dong?" Desak Reffan.


Safira tersenyum dengan mata yang berkaca membendung cairan yang bisa jebol seketika, "Sangat." Ucapnya lirih.


Reffanpun tersenyum, bahagia karena istrinya merindukannya namun sedih saat netra milik kesayangannya berkaca-kaca.


"Jangan nangis, aku tak bisa melihatmu menangis. Jika kamu menangis aku tak akan tahan untuk tak pergi ke bandara dan terbang secepatnya untuk menghapus air matamu." Rayu Reffan.


"Ini sudah hampir tengah malam." Safira langsung tertawa bahagia mendengar perkataan Reffan.


"Memangnya kenapa? Pilotnya akan aku bangunkan." Ucap Reffan sekenanya.

__ADS_1


Safira semakin tertawa mendengarnya.


"Begitu dong, cantik banget. Kok bisa sih kamu cantik banget gak pakai make up? padahal wajahnya sudah ngantuk."


"Hmmm... rayuan pasti ada maunya.."


"Beneran sayang... muuuaaaccchhhh! Tidurlah sudah malam, jauhkan handphone-nya."


Safira meletakkan hp-nya di nakas dengan layar yang masih menghadap ke wajahnya, diapun berbaring miring tersenyum menatap layar yang masih menyala.


"Mas juga tidur ya... muuuaaaaccchh."


"Aku akan tidur setelah kamu tidur."


Safira memejamkan matanya setelah melantunkan doa akan tidur dan membaca tiga surat terakhir dalam Al Qur'an.


Setelah memperhatikan bulu mata lentik Safira dan memastikan istrinya sudah tertidur. Reffan mendekatkan layar ponselnya dan mengecupnya kemudian mematikan sambungan videocallnya dan ikut memejamkan mata berharap bermimpi memeluk sang istri.


.


Lima kali matahari sudah bergantian dengan bulan saling menggantikan menemani hari-hari Safira dan seluruh penduduk bumi. Kali ini Safira merasa matahari sangat romantis memeluknya hangat. Senyumnya di pagi merekah mengalahkan indahnya bunga. Langkahnya terasa ringan mengayun tanpa beban.


"Ah, hari apa ini kenapa ada banyak bunga beterbangan?" Ira pura-pura berpikir sambil menatap wajah Safira. "Cantik banget kamu Safira kalau hari Jumat."


Bagas yang ada di dekat merekapun tersenyum.


"Ikutan senang kita yang lihat. Iyakan Ir?" Bagas akhirnya ikut nimbrung obrolan dua sahabat di depannya.


"Betul banget Pak Bagas. Kemarin-kemarin udah kayak cacing kelaparan nempel terus di meja." Ira menanggapi yang kemudian mendapatkan lirikan maut dari Safira.


"Eh, ada acara apa nih?" Safira meraih kotak berisi kue dengan tulisan namanya di atas meja meraihnya mendekat ke arahnya.


"Dari Pak Fairuz. Biar kita semangat kerja hari ini." Ucap Ira kemudian meraih kotak kue miliknya dan membukanya. "Wah, enak nih Fir. Sus buah dan cheese roll cake. Mudah-mudahan sering begini ya." Irapun duduk di meja kerjanya, mencomot kue yang di atasnya berhias buah dengan warna menggoda.

__ADS_1


Safira membuka kotak kue di depannya. Deg! pupilnya melebar. Tangannya bergetar. Secepatnya dia berdiri melihat sahabatnya yang masih menikmati sus buah di tangannya, masih ada cheese roll cake tertinggal di kotak kue. Dua, mata Safira memastikan kotak kue milik Ira hanya ada dua macam kue. Kenapa miliknya berbeda, kenapa? Kenapa ada tiga macam kue dan kenapa ada kue berbalut coklat berbentuk hati di kotak kuenya?


__ADS_2