
Semua mata langsung tertuju pada Safira.
"Apa dia istrinya? Tapi dia lebih mirip anak kuliahan. Lihat saja pakaiannya yang santai seperti mahasiswa yang akan study tour. Kurang jas almamater saja." Gumam Bella wanita yang setia menggenggam kalung bunga.
"Apa dia istri pak Reffan, aku pernah melihat foto istrinya yang cantik sekali saat resepsi pernikahan. Ah, benar ini orang yang sama, wajahnya memang menyenangkan untuk dipandang dalam keadaan polos begitu. Ah menyenangkan sekali jika bangun tidur melihat wajah polos yang cantik begitu." Gumam Bara, pengusaha lokal yang bekerja sama dengan Reffan.
Saat ini tangan Reffan sudah beralih memeluk pinggang Safira. Bibirnya menempel di puncak kepala Safira menegaskan pada semua yang ada di sana. Inilah wanita miliknya, Safira adalah bayangannya dan Reffan adalah bayangan Safira berpijak pada tempat yang sama dan tak akan pernah saling meninggalkan.
Dengan senyum yang dipaksakan Bella mengalungkan kalung bunga kepada Safira.
"Kamu selalu merekah indah sayang, bahkan bunga-bunga indah di sekitarmu tak terlihat karena tertutup pesonamu." Bisik Reffan di telinga Safira namun sepertinya suaranya masih bisa didengar orang-orang yang ada di situ.
Safira hanya mematung dengan wajah merona, wajahnya menunduk menahan malu. Tangannya meremas lengan suaminya membuat Reffan malah tersenyum dan mengeratkan pelukannya di pinggang Safira.
"Ehm, maaf pak Reffan apakah pak Reffan berkenan berbincang sebentar di kantor saya?" Bara berdehem dan memberanikan bicara karena adegan romantis di depannya membuat iri.
"Boleh. Masih ada waktu sebentar." Reffanpun naik ke sebuah mobil yang telah disiapkan oleh asistennya. Rombongan Reffan berada dalam satu mobil mengikuti mobil Bara.
Saat ini mereka baru saja masuk ke dalam ruangan Bara.
"Silakan duduk pak Reffan, pak Bayu, pak Tama dan ..." Bara menggantung ucapannya.
"Nyonya Reffan." Reffan menyahut cepat.
"Ah iya maafkan saya. Silakan Nyonya Reffan!" Sambung Bara.
Safira hanya mengangguk kemudian mengikuti Reffan yang menggenggam tangannya untuk duduk.
"Jangan bicara dengan siapapun. Kamu hanya boleh berbicara denganku." Bisik Reffan yang diangguki oleh Safira.
"Perkenalkan ini adalah Bella, saya menunjuknya untuk menyertai pak Reffan, dia sangat mengenal daerah ini. Jika membutuhkan apapun bapak bisa meminta padanya." Penjelasan Bara membuat Bella tersenyum manis tapi Reffan yang menjadi tujuannya malah tak melirik sama sekali. Netra Reffan hanya memandang wajah Safira, Reffan menikmati ekspresi Safira yang memandang ke arah Bella. Sejujurnya dia senang sekali melihat ekspresi Safira yang menahan cemburu. Reffan menahan tawanya bahkan senyumpun dia tahan.
"Apa dia mengerti tentang proyek ini?" Reffan bertanya dengan suara dinginnya.
"Ehm.. Bella cukup tahu tentang proyek namun secara mendetail Dika yang menjadi penanggung jawabnya." Jawab Bara.
"Kalau itu saya sudah tahu jika Dika penanggung jawabnya. Lalu apa gunanya Bella?" Reffan berbicara menatap tajam Bara.
Bella mulai kehilangan senyumnya.
"Bella bisa menyiapkan yang anda butuhkan selama di sini pak Reffan. Dia sangat tahu wilayah ini." Bara mulai was-was dengan tatapan Reffan.
"Anda seharusnya tahu dengan siapa anda bekerja sama. Saya tidak butuh Bella atau siapapun yang anda siapkan untuk saya. Asisten saya sangat bisa diandalkan untuk semua hal." Ucap Reffan tegas.
__ADS_1
Bayu langsung menegakkan tubuhnya yang sudah tegak. Dia seperti di atas awan sekarang.
"Maaf pak Reffan, saya hanya..." Ucapan Bara terputus saat Reffan mengangkat telapak tangannya.
"Apa kerja sama ini perlu dilanjutkan?"
"Tentu saja pak." Bara menjawab cepat.
"Jika begitu, kita hanya akan membahas tentang kerjasama kita. Jangan mencampuri kehidupan saya. Apalagi menyiapkan asisten untuk saya." Ucap Reffan yang tak ingin didebat.
"Baik pak, saya mohon maaf."
"Dan satu lagi, saya hanya bekerja sama dengan orang yang bisa menjaga kehormatannya. Saat ini saya menilai anda adalah orang baik dalam bisnis dan keluarga anda. Tapi jika saya menemukan cacat pada perilaku anda sebagai seorang laki-laki. Maka saya akan mengakhiri semua kerjasama kita tak peduli kerjasama ini sudah berjalan berapa persen. Saya lebih baik kehilangan yang telah saya investasikan daripada harus ikut ketiban sial karena perbuatan anda." Ucap Reffan tegas.
Semua orang di sana tertegun mendengar perkataan Reffan. Kecuali Bayu karena dia sudah mengetahui sifat Reffan. Safira yang baru membersamai Reffan juga cukup terkejut dengan kata-kata suaminya. Netranya sekarang tidak lagi melihat Bella tapi menatap wajah tampan Reffan dengan aura yang menghanyutkan hati Safira.
"Mas, kamu keren sekali." Batin Safira di dalam hatinya.
.
"Masuklah lebih dulu sayang. Barang-barang kita sudah ada di dalam." Reffan melepas genggaman tangannya.
Safira mengangguk. Kemudian masuk ke dalam rumah yang akan mereka tempati selama di sini. Sementara Bayu dan Tama akan tinggal di rumah sebelah mereka. Rumah ini sebenarnya adalah rumah penduduk yang paling bagus. Bayu sudah menyiapkannya untuk tempat tinggal mereka. Bayu sudah memiliki orang yang bisa diandalkan di sini. Beberapa bulan terakhir ini, orang ini yang memberikan semua informasi yang dibutuhkan dan menyiapkan semua kebutuhan mereka selama di sini. Bayu memang asisten yang bisa diandalkan.
"Aku mengerti. Kalian berdua istirahatlah. Besok kita akan memulai perencanaan proyek kita."
"Siap pak." Ucap Bayu dan Tama hampir bersamaan.
.
Reffan masuk ke dalam rumah. Dilihatnya Safira menata barang-barang mereka.
"Sudah sayang dilanjutkan besok saja. Kamu pasti lelah, lebih baik sekarang mandi lalu istirahat. Sebentar lagi makan malam akan datang." Ucap Reffan dengan gerakan tangan memijat pundak istrinya.
Safira tersenyum, dia memang lelah tapi melihat ketegasan Reffan hari ini, hatinya sungguh senang sekali serasa ada bunga-bunga yang mengitarinya membuat rasa lelahnya terbang entah kemana.
Cup! Sebuah ciuman mendarat di pipi kiri Reffan. Sejuk sekali dirasakan hati Reffan, tiba-tiba mendapatkan tetesan embun di hatinya.
Reffan tersenyum meraih pinggang istrinya, "Apa ini? Pipi satunya iri." Bisik Reffan di dekat telinga Safira.
Cup! sekarang bibir Safira mendarat di pipi kanan Reffan.
"Sekarang kamu pintar menggoda." Ucap Reffan mencubit hidung mancung istrinya.
__ADS_1
Safira tersenyum lalu tubuhnya merapat memeluk suaminya. Dihirupnya aroma maskulin Reffan, membuatnya sangat nyaman. Safirapun memejamkan matanya.
"Apa ini bisa diartikan nyonya Reffan minta nafkah batin?" Reffan lebih erat memeluk Safira, suaranya mulai serak saat mencium aroma tubuh Safira.
Safira langsung mendorong Reffan. Dia tersenyum manis sekali. Safirapun berbalik badan berjalan anggun ke kamar mandi namun gerakannya ditangkap netra Reffan meminta untuk ditemani.
Dengan cepat Reffan meraih tubuh Safira mengangkatnya sehingga kaki Safira tak lagi berpijak di lantai.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menyadarkan Reffan bahwa tadi dia sedang menunggu makan malam datang. Reffan menggendong Safira kemudian menurunkan di kamar mandi.
"Nanti kita lanjutkan setelah makan malam. Kamu harus bertanggung jawab malam ini." Ucap Reffan saat menyatukan kening mereka. Reffanpun keluar kamar mandi. Sesaat sebelum menutup pintunya dari luar, "Jangan lama-lama ya sayang mandinya!"
Reffan berjalan ke arah pintu, seseorang yang mengantarkan makan malamnya sudah menunggu di depan pintu. Setelah mendapatkan makan malamnya, Reffanpun menyusunnya di meja. Dia sudah tidak sabar menunggu Safira, jika saja dia tak ingat Safira sedang hamil maka pasti sekarang dia sudah menindak Safira yang memancingnya dan jika sudah terjadi bisa dipastikan makan malam mereka akan sangat terlambat.
.
"Ayo cepat makan!" Ucap Reffan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Kini Reffan dan Safira sudah sama-sama harum dan segar.
"Anakku pasti sudah kelaparan. Makan yang banyak ya sayang." Ucap Reffan kemudian mengecup perut datar Safira kemudian beralih ke bibir Safira. Kecupan singkat yang mengulum senyum keduanya.
Mereka berdua makan dengan cepat karena memang sudah kelaparan. Sesekali terlihat tangan Reffan terulur menyuapi lauk atau sekedar kerupuk dengan tangannya.
Safira sudah berdiri hendak membereskan perlengkapan mereka namun Reffan meraih lengannya dan membuatnya terduduk di pangkuannya.
"Biarkan dulu sayang. Nanti aku yang bereskan." Ucap Reffan yang tangannya sudah memainkan rambut Safira dan menciumnya. Safira mengalungkan tangannya ke leher Reffan, senyum cantik menghiasi bibirnya.
"Kamu dari tadi tidak bersuara tapi senyum-senyum terus, tanggung jawab sudah menggoda." Reffan menyesap aroma dari leher menggoda istrinya. Kemudian berhenti untuk memandang wajah kesayangannya. Safira masih diam tak bersuara membuat Reffan gemas pada istrinya.
"Auw... mas..." Suara Safira akhirnya keluar juga saat Reffan menggelitiki pinggangnya. Suara tawa renyah Safira mengusir keheningan malam. Safira berusaha membalas perlakuan Reffan tapi tak kunjung berhasil.
Sementara di rumah sebelah Bayu dan Tama yang sedang duduk di teras menikmati angin malam seusai makan malamnya hanya bisa saling berpandangan mendengar sayup suara tawa yang semakin menghilang.
"Tega sekali anda pak, mau pamer sama kami." Gumam Bayu lirih.
"Nasibku di malam dingin malah bersama pria. Oh dinda dimana kamu berada tak kasihankah kau melihat abang Tama." Suara Tama sudah seperti penyair yang kesepian. Namun sedetik kemudian bola kertas bungkus makanan yang yang baru saja diremas Bayu melayang ke wajahnya.
"Kamu pikir aku senang berduaan sama kamu. Bereskan! Lebih baik aku tidur daripada mendengarkan suara hatimu." Bayu sudah melangkahkan kakinya masuk rumah, hatinya kacau sendiri mengingat kesendiriannya.
"Nasib nasib.. Untung abang ini sabar dinda, sabar menunggumu sampai tertindas begini." Suara Tama masih terdengar sambil membereskan peralatan makan mereka.
__ADS_1