Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Kembali Lebih Cepat


__ADS_3

Tangan Safira terkepal siap melayangkan satu pukulan ke wajah laki-laki di depannya tapi otaknya mulai mengenali postur tubuh orang di depannya. Dengan pelan dan hati-hati Safira mengambil handuk yang menutupi wajah laki-laki itu.


"Astaghfirullah.." Safira langsung duduk bersimpuh di samping suaminya yang sedang menatapnya tajam.


"Mas maaf... aku kaget, tiba-tiba ada orang di dalam kamar." Tangan Safira meraih tangan kanan suaminya kemudian menciuminya bertubi-tubi.


Akhir-akhir ini Safira memang berada dalam mode waspada, apalagi setelah kejadian tadi siang, mode waspadanya selalu on.


Reffan akan duduk tapi tangannya memegang pinggangnya sendiri. "Auuww." Reffan meringis sambil mengintip ekspresi Safira.


"Sakit ya mas? Maaf ya mas. Aku pijitin ya." Safira sudah bertumpu dengan lututnya hendak membantu Reffan bangun.


"Ya sakit lhah... diajak romantis malah dibanting. Lagi pula siapa yang berani masuk ke kamar ini tanpa izin." Sebenarnya Reffan tidak apa-apa karena dia juga mendarat dengan baik tadi, untuk orang yang tahu beladiri dia bisa mempersiapkan tubuhnya mendarat dengan posisi aman mengurangi resiko cedera.


"Maaf mas. Aku ingatnya kan mas Reffan empat hari ke Pontianak jadi aku kaget tiba-tiba ada laki-laki yang masuk kamar." Safira menunduk tapi matanya mengintip melihat ekspresi Reffan yang terus menekuk wajahnya sejak tadi.


Sekarang mereka berdua sudah di atas ranjang. Setelah Safira membantu memapah Reffan dan Reffan yang tersenyum jahil melihat wajah bersalah istrinya itu.


"Mana yang sakit mas? Mas tengkurap dulu deh!" Safira menyingkap baju Reffan membukanya ke atas.


"Auww..." Reffan pura-pura menjerit saat Safira menyentuh pinggangnya. Safira yang terkejut langsung mengangkat tangannya.


"Pelan-pelan dong Safira." Reffan berbicara dengan senyum yang tersembunyi.


"Ini ya mas yang sakit? Safira menyentuh lagi pinggang suaminya mengurutnya pelan.


"Iya. Dari bawah sayang, dari pantat sakit semua. Kamu turunkan celanaku. Auuw.." Reffan masih drama menjerit saat disentuh Safira. Tangannya melepas sabuk di celananya agar Safira bisa menurunkan celananya.


Safira jadi bingung saat celana suaminya mengendur karena resletingnya sudah dibuka suaminya. Ragu untuk menyentuhnya.


"Sayang, kamu lagi ngapain sih. Kenapa gak segera dipijat. Sakit sekali dari pantat sampai punggung." Reffan malah mulai tak sabar karena istrinya mematung.


Dengan gerakan lambat Safira menurunkan celana suaminya, walau ragu dia menyentuh bagian belakang suaminya.


"Kamu duduk di pahaku, mana enak dipijit miring begitu!"

__ADS_1


"Tapi mas kan..." Belum selesai berbicara, Reffan sudah tak mau menunggu lagi.


"Cepat dong Safira, tambah sakit nih."


"Iya mas iya." Safira langsung naik tak membantah lagi karena merasa bersalah.


Reffan menikmati tangan lembut istrinya yang menyentuh kulitnya, ternyata enak juga dipijitin istri pikirnya. Tapi pasti lebih enak kalau....


Tiba-tiba Reffan sudah berbalik badan dengan memegangi tubuh Safira agar tidak jatuh.


"Mas, kok.." Safira jadi gugup berada diatas tubuh suaminya yang menghadap ke arahnya, dia sudah akan turun tapi ditahan tangan kekar sang suami.


"Yang depan juga mau dipijat sayang." Reffan berbicara pelan.


"Mas ih, mana ada yang begitu." Rona merah sudah menghiasi wajah cantik istrinya kesukaan Reffan.


"Kamu bisa merasakannya kan?" Tangan Reffan menyentuhkan tangan istrinya ke miliknya yang sudah siap tempur.


Safira menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Malu sekali dia walaupun dengan suaminya sendiri.


"Tanggung jawab dong gimana nih!"


Safira terdiam menelan ludah dengan kasar. Sementara Reffan sudah melepas kemejanya dan celananya dengan kaki. Tangannya sudah menarik tali kimono istrinya yang menjadi satu-satunya penutup tubuh istrinya.


"Mas.." Safira sampai terkejut handuk kimononya melayang dari tangan suaminya, terlempar jauh dari ranjang.


.


Reffan berbaring miring di samping istrinya mengamati wajah lelah yang sekarang sudah terlelap. Dia tersenyum mengingat kejadian tadi. Reffan sengaja menunggu Safira masuk ke kamar dan menunggu sesaat memastikan istrinya berada di kamar mandi sesuai dengan kebiasaan istrinya setelah pulang kerja. Reffan ingin memberikan istrinya kejutan tapi nyatanya dia yang terkejut dengan respon istrinya.


"Kenapa wajahmu lelah sekali sayang. Kita baru melakukannya satu ronde." Reffan mengelus lembut pipi istrinya. Safira menggeliat karena sentuhan Reffan. Reffan tersenyum menikmati respon sang istri.


"Apa kamu baik-baik saja di sini? Entah kenapa aku merasa ada sesuatu denganmu." Sekarang telunjuknya berada di kening istrinya turun menyusuri hidung mancung istrinya kemudian berhenti di bibir pink yang selalu menggoda. Reffan tersenyum lagi, Safira menggeliat lagi tapi kali ini kepalanya sudah ndusel ke dada Reffan, tubuhnya meringkuk di dalam pelukan suaminya. Reffan mengecup kening istrinya, memeluknya dan ikut terlelap setelah sebelumnya menyalakan alarm karena mereka berdua belum solat isya', satu jam lagi dia akan bangun.


.

__ADS_1


Mereka berdua baru saja mandi dan solat isya' Saat ini sedang duduk di sofa, di depannya ada makanan yang baru saja di antar.


"Masih ngantuk sayang?" Reffan mengelus lembut rambut Safira yang masih terasa lembab


"Gak terlalu mas, enak tadi boboknya jadi lebih fresh sekarang."


"Ya jelas dong, ndusel terus minta dipeluk pasti enak lah tidurnya." Reffan berkata sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Mas ih." Safira memeluk suaminya dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Pelukan sang suami menjadi favoritnya sekarang.


"Ayo makan dulu, jangan ndusel aja dilanjut nanti lagi." Reffan menoel hidung istrinya.


Safira langsung melepas pelukannya dengan bibir manyun yang menggemaskan.


Reffan tertawa, tangannya meraih makan malam mereka dalam satu piring Reffan menyuapi istrinya dan makan untuk dirinya sendiri.


"Mas, mas pulang lebih awal. Semuanya baik-baik saja kan?" Safira bertanya setelah selesai mengunyah.


"Iya baik-baik saja. Aku memadatkan jadwal di sana karena ingin cepat bertemu denganmu." Reffan kembali menyendokkan makanan ke mulut Safira yang sebelumnya tersenyum manis.


Safira mengunyah lagi.


"Aku lihat wajahmu lelah sekali, apa akhir-akhir ini di kantor sibuk sekali?" Giliran Reffan yang bertanya pada istrinya.


"Sedikit sibuk." Safira menjawab singkat.


"Ada masalah?" Reffan bertanya lagi.


Safira menelan ludahnya. Netranya menatap mata suaminya. Ada keinginan untuk meluapkan segalanya pada sang kekasih halal. Tapi bagaimana jika suaminya marah setelah dia bercerita dan mendatangi Fairuz. Safira takut sekali jika itu terjadi.


Safira tersenyum kemudian menggeleng.


"Aku baik-baik saja mas."


"Sungguh?" Reffan mendekatkan wajahnya kemudian mengecup bibir istrinya lembut, melepasnya lalu menatap tajam netra sang istri, mendekat lagi dan dikecupnya lagi bibir Safira lembut namun kali ini semakin lama dan dalam.

__ADS_1


"Kamu berbohong Safira. Aku akan segera mengetahuinya." Reffan bergumam dalam hatinya.


__ADS_2