Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Kesederhanaan yang Hangat


__ADS_3

Reffan menatap Safira cemas. Jangan sampai Safira membuatnya tidur sendirian. Yang ditatap malah senyum-senyum mencemaskan.


"Gak boleh begitu Hasna, sekarang kakakmu sudah menikah berbeda dengan dulu." Ayah Salman menegur putri bungsunya.


"Kan mumpung mbak Fira ada di sini yah." Hasna berwajah masam plus cemberut menghiasi bibirnya. "Bolehkan mas?" Tiba-tiba Hasna tersenyum manis merayu kakak iparnya.


Reffan terkejut cengar cengir bingung harus menjawab apa. Dirinya jelas tak ingin tidur sendirian. Tapi melihat ekspresi adeknya, Reffan berasa menjadi kakak ipar yang kejam yang merebut kakak kandungnya.


"Hasna!" Ayah Salman berucap lembut tapi mengisyaratkan jika dia tidak menyukai Hasna yang merajuk.


Safira hanya tersenyum tak berkata apapun tapi lirikan matanya seolah sedang mempermainkan hati Reffan. Reffan yang menangkap senyum Safira bergumam dalam hatinya. "Awas kamu ya! Kamu pasti berharap aku mengabulkan permintaan adekmu."


"Mas nginep di sini hanya dua hari dek. Nanti ya bobok dengan mbak Safiranya, mbakmu masih disini sampai akhir pekan depan." Reffan tersenyum melihat Safira yang memudar senyum jahilnya.


"Wah asyik dong." Hasna memeluk lengan Safira sudah tidak cemberut lagi.


"Maaf ya nak Reffan. Hasna ini masih seperti anak kecil yang nempel terus jika ada kakaknya. Maklum saudaranya hanya Safira." Ujar ayah Salman.


"Gak papa yah. Raffi juga suka ngikutin saya walaupun bertengkar melulu jika bersama." Reffan tersenyum melirik istrinya.


"Sebentar lagi magrib mau ikut ke masjid?" Ayah Salman bangkit dari duduknya.


Reffan menatap Safira. Safira balas tersenyum.


"Iya yah ayo." Reffanpun berdiri kemudian membungkukkan badannya mengecup kening istrinya membuat yang lain tersenyum bahagia.


Selepas solat magrib ternyata ada pengajian yang diisi oleh seorang ustadz. Ayah Salman menawari Reffan untuk mengikuti pengajian. Reffanpun mengiyakan. Sederhana namun entah mengapa ada ketentraman yang Reffan rasakan di tengah hangatnya keluarga Safira. Reffan yakin keluarga ayah Salman bisa terlihat lebih dari yang terlihat sekarang. Buktinya begitu adeknya diterima kuliah di Yogyakarta, mereka bisa memutuskan membeli rumah begitu saja. Tapi mereka lebih memilih hidup sederhana dan melakukan rutinitas sederhana setiap hari. Ayah Safira hampir selalu solat berjama'ah di masjid dan memasukkan beberapa lembar uang ke kotak masjid setiap masuk masjid.


Reffan duduk di samping ayah Salman, mendengarkan penyampaian ustadz sambil merenungkannya.


"Letakkanlah dunia di tanganmu jangan di hatimu. Dan letakkan Allah di hatimu. Maka hatimu akan menjadi alarm untuk menjaga perbuatanmu tidak keluar dari aturan yang Allah tetapkan dari dunia yang kenikmatannya hanya sementara. Dengan begitu kita tak akan lupa kemana kita akan kembali. Karena sejatinya apa yang kita lakukan di dunia ini akan menjadi bekal saat kembali nanti. Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mengingat kematian. Luar biasa bukan, karena orang yang mengingat kematian akan berhati-hati dalam perbuatannya, dia tak ingin akhir hidupnya berada dalam keburukan."


.


Reffan baru saja pulang dari masjid bersama ayah Salman.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum.." Ucap ayah Salman.


"Wa'alaikumsalam.." Jawab ibu Sofi cepat kemudian berjalan menyambut suaminya.


"Kok sepi bu? Anak-anak kemana?" Ayah Salman bertanya sambil berjalan masuk ke ruang keluarga.


"Itu..." Bu Sofi menunjuk ke kedua putrinya dengan matanya.


Ayah Salman dan Reffan sama-sama tersenyum melihat kakak beradik tidur berpelukan di atas karpet yang cukup tebal.


"Mereka sudah makan duluan. Ayah dan nak Reffan makan dulu sekarang. Biarkan saja mereka di situ dulu. Maaf ya nak Reffan, maklum mereka hanya dua bersaudara." Ucap Bu Sofi sambil menarik suaminya ke ruang makan.


"Iya Bu. Gak papa Bu saya ngerti juga, saya juga hanya dua bersaudara tapi tak mungkin tidur berpelukan yang ada tendang-tendangan.


Bu Sofi dan ayah Salman tertawa mendengar perkataan menantunya.


Ayah Salman dan Reffanpun makan malam sementara Bu Sofi duduk di dekat kedua anak perempuannya yang lelap tertidur.


.


"Ibu bangunkan mereka ya yah. Kasihan kelamaan tidur di karpet." Tanya Bu Sofi pada suaminya yang sedang mengobrol santai dengan menantunya setelah makan.


"Wah, ayah keren masih kuat gendong Hasna." Spontan Reffan takjub pada ayah mertuanya.


"Jelas dong." Ucap ayah Salman berbangga diri kemudian dengan cepat memindahkan Hasna ke kamarnya diikuti Bu Sofi yang berjalan di belakangnya.


Tak lama ayah Salman keluar dari kamar Hasna.


"Kuat gak gendong Safira?" Tanya ayah Salman pada Reffan yang masih duduk di samping Safira tersenyum memandang wajah istrinya.


"Wah ayah belum tahu saja, saya gendong Safira pakai tangan satu saja bisa." Reffan menyombongkan diri.


"Coba sih!" Ayah Salman meladeni.


"Jangan sekarang yah. Perutnya Safira ada isinya." Ujar Reffan tersenyum nakal.

__ADS_1


"Apa hubungannya?" Ayah Salman penasaran.


"Ayah tahu kan cara orang manggul karung beras? Begitulah kira-kira." Jawab Reffan ringan.


"Lhah... Ha...haa.." Ayah Salman tertawa.


Sementara Reffan tersenyum menghirup nafas dalam mengingat bagaimana dia pernah memanggul Safira di pundaknya saat emosinya tak stabil.


Setelah berhenti tertawa, ayah Salman menyuruh Reffan membawa Safira ke kamar sekalian agar mereka berdua bisa istirahat.


Reffanpun dengan hati-hati menggendong Safira ke kamarnya kemudian meletakkan perlahan ke ranjang sempit dengan lebar 120 centimeter.


Ayah Salman menyusul ke kamar saat teringat sesuatu.


"Maaf ayah lupa mengganti tempat tidurnya. Butuh kasur lipat?" Tanya ayah Reffan.


"Gak perlu yah. Cukup kok untuk berdua." Reffan tersenyum lebar.


"Kamu ini. Ya sudah, jika butuh sesuatu ketuk saja kamar kami jangan sungkan!" Ayah Salmanpun berlalu pergi.


"Iya yah, terimakasih." Reffanpun mendekat ke arah pintu menunggu ayah Salman tak terlihat kemudian mengunci pintu.


Kini Reffan naik ke ranjang memandangi wajah istrinya dilihatnya bulu mata Safira bergerak-gerak membuat Reffan tersenyum.


Reffan berbaring miring kemudian tangannya membuka jilbab istrinya melemparnya ke sembarang arah. Lalu tangannya membuka kancing bagian atas baju piyama Safira. Wajah Safira yang terpejam terlihat gelisah, bulu matanya bergerak-gerak.


Reffan sengaja membuka kancing perlahan sambil menikmati wajah gusar istrinya. Tiga kancing sudah terbuka, Safira langsung memiringkan tubuhnya membelakangi Reffan dengan posisi meringkuk.


Reffan menyingkirkan rambut yang menutupi tengkuk Safira kemudian menciuminya. Reffan bisa merasakan nafas Safira yang semakin cepat. Tangannya dengan paksa masuk ke balik baju yang sudah terbuka kancingnya.


"Nakal ya, berani pura-pura tidur." Tangan Reffan sudah meremas kesukaannya.


"Auw mas!" Safira berpindah posisi berbaring dan berusaha menarik tangan suaminya. Matanya sudah melirik suaminya yang tersenyum nakal.


"Enak?" Tanya Reffan nakal.

__ADS_1


Safira manyun. "Mas aku ambil kasur lipat ya?" Kasurnya sempit ini.


"Kita kan sudah biasa, di ranjang rumah sakit saja bisa." Reffan menarik Safira dan memeluknya tak membiarkan istrinya mengelak lagi. "Tahan suaramu nanti kita digrebek!" Reffan menggigit telinga istrinya sementara Safira hanya bisa menggigit bibirnya mencegah suara keluar dari bibirnya.


__ADS_2