
Hingga sore menyapa, Safira hanya bangkit untuk menunaikan solat Dhuhur. Pekerjaannya sendiri dan tugas tambahan dari Fairuz benar-benar menguras waktu dan energinya. Tawaran Bagas yang akan membantunya lagi ditolaknya, Safira tahu Bagas juga mempunyai pekerjaan sendiri. Ira yang memandangnya heran karena tak ikut makan siang juga hanya diberi senyuman olehnya, Safira hanya titip dibelikan roti dan kopi.
Suara printer yang mencetak hasil kerjanya, berlomba dengan suara jemari lentiknya di atas keyboard laptop. Bagi Safira waktu seperti berlari meninggalkannya sangat cepat.
Hembusan nafas lega keluar dari lubang hidungnya setelah lembar terakhir tugasnya berhasil tercetak. Tangannya gesit menyusun tumpukan kertas di depannya kemudian langkahnya dengan cepat masuk ke ruangan Fairuz setelah mengetuk pintu.
"Masuk, ah Safira, aku sampai bosan menunggumu." Mulutnya dibiarkan menguap di hadapan Safira.
"Bosan kau bilang!" Safira mengumpat dalam hatinya. Tangan kanannya membanting hasil pekerjaannya ke meja.
"Kamu memang luar biasa sayang! Senang sekali walaupun ada yang cuti aku tak perlu kuatir karena ada dirimu. Wajahmu terlihat lelah Safira tapi kenapa kamu tetap cantik mempesona." Fairuz masih berbicara tak tahu malu.
"Pekerjaan saya sudah selesai, permisi." Safira enggan meladeni kata-kata Fairuz
"Tunggu sayang!" Fairuz berdiri dari tempat duduknya. "Apa malam ini aku bisa mendapatkan jawaban ya untuk dinner kita?"
"Tidak dan tidak akan pernah." Safira menjawab cepat.
Fairuz tersenyum, "Aku janji hanya makan malam saja, besok aku tidak akan memberimu tugas lagi."
Safira menoleh dengan mata yang menyimpan kekesalan berlapis. "Tak bisakah anda menggunakan akal sehat anda untuk mengingat istri dan anak anda?"
Braaakk! Fairuz menggebrak meja, Safira cukup terkejut.
"Sudah kubilang jangan menyebut mereka saat kita sedang berbicara Safira. Bisakah kau menjadi wanita manis? Jangan membuatku marah lagi ya cantik!" Tangannya ingin menyentuh dagu Safira, Safira mundur menjauh.
"Permisi tugas saya sudah selesai." Safira pergi keluar ruangan tanpa melihat Fairuz lagi.
Safira ingin kembali ke mejanya. Namun baru saja pintu ruangan Fairuz tertutup sempurna, tubuhnya sudah meluruh ke lantai. Bagas yang sejak tadi memperhatikan pintu ruangan Fairuz segera berlari ke arah Safira sambil memanggil Ira.
"Ira cepatlah, Safira sepertinya pingsan!" Bagas berteriak pada Ira membuat rekan kerja yang lain ikut berdiri menghampiri.
Safira sudah tak bisa melihat lagi, tapi dia masih bisa menyangga tubuhnya untuk duduk dan bisa mendengar orang-orang yang mengerumuninya.
"Safira kau bisa dengar?" Bagas berjongkok di depan Safira.
Safira mengangguk pelan, tenggorokannya terasa kering dan lidahnya terasa kaku untuk sekedar menjawab pertanyaan.
__ADS_1
"Tidurkan di sofa ruangan saya!" Fairuz keluar karena mendengar suara ribut di depan ruangannya.
Ira dan seorang perempuan setengah baya memapah Safira untuk istirahat di sofa ruangan Fairuz.
"Aku cari minyak kayu putih dulu." Bagas berlari keluar ruangan.
"Kalian semua kembali bekerja, biarkan dia tiduran di sini dulu." Fairuz berbicara setelah dia duduk di kursi kebesarannya.
Agak ragu Ira meninggalkan Safira di ruangan Fairuz. Tapi baru saja Fairuz memerintahkan semuanya untuk keluar. Irapun membuntuti yang lain untuk keluar.
Setelah semua orang pergi dan pintu tertutup. Fairuz menatap wajah Safira yang matanya terpejam dengan berbagai perasaan. Wajah cantik itu terlihat pucat dan tak berdaya. Posisi tidur membuat lekuk tubuh Safira samar menonjol. Pikirannya mulai didesaki beberapa rencana.
Fairuz menelan ludah kasar menghampiri Safira yang terpejam.
.
Ira berjalan keluar dari toilet akan masuk kembali ke ruangan. Bagas yang berlari mendekat langsung berteriak padanya.
"Mana Safira?"
"Masih di ruangan pak Fairuz."
Ira terkejut dengan suara keras Bagas apalagi kata-kata kasarnya. Dia mematung dengan setetes butir bening di pipinya. Ira berpikir mungkin Bagas masih menyukai Safira tapi apakah tidak keterlaluan sampai membentaknya begitu. Tadi dia memang ragu untuk meninggalkan Safira sendirian tapi dia juga ingin BAK ke toilet. Bagas dan Damar, kedua lelaki itu mengapa hanya Safira yang ada di matanya. Ira menghapus jejak airmatanya, diapun melangkah menyusul ke ruangan Fairuz.
Bagas berlari dan langsung membuka ruangan tanpa mengetuknya.
"Pak Fairuz!" Bagas terkejut dengan posisi Fairuz.
Fairuz telungkup di lantai tak jauh dari posisi Safira yang sedang duduk.
Ira yang ikut masuk juga terkejut dengan yang di lihatnya.
"Apa yang terjadi?" Ira dengan polosnya bertanya.
"Mungkin terpeleset karena hatinya buta." Safira berdiri berlalu meninggalkan Fairuz yang sekarang sudah duduk di lantai memegangi pipinya.
Bagas dan Ira pergi mengekori Safira.
__ADS_1
"Safira, sudah jam pulang ayo kita temani kamu makan." Bagas bersuara. Sebenarnya dia ingin tahu bagaimana Fairuz sampai telungkup di lantai tadi.
Ira sebenarnya masih dongkol dengan Bagas tapi sekarang pikirannya sedang menebak-nebak apa yang terjadi.
"Baiklah." Safira juga merasakan tubuhnya masih lemas apalagi setelah mengeluarkan tenaga yang cukup besar tadi.
Flashback on
Fairuz berjalan meninggalkan kursi kebesarannya. Berjalan pelan dengan mata menelisik tajam dari kaki Safira terus ke atas. Sekarang dia sudah berada di samping Safira yang memejamkan matanya.
"Cantik sekali kamu Safira, aku bisa merasakan keindahannya di balik baju kebesaranmu itu. Sayang sekali kamu menyembunyikannya." Fairuz menatap lekat tubuh wanita di depannya.
Tangannya terulur ingin menyentuh bibir pink yang terbalut lipstik tipis hampir serupa dengan warna bibirnya. Namun gerakan cepat menepis tangannya dan sebuah bogem meluncur cepat dengan kekuatan penuh ke pipinya disertai terbukanya sepasang mata indah yang kini menatapnya tajam, matanya berkilat bagai pedang yang memantulkan cahaya mematikan.
Safira sempat tak sadarkan diri sebentar tapi kemudian telinga tajamnya yang sudah terbiasa menebak gerakan membuatnya tersadar karena ada langkah yang mendekat. Dia mulai mengumpulkan kesadaran dan kekuatan walaupun matanya masih terpejam. Dan itulah Safira yang membuat Fairuz terpelanting dan jatuh tersungkur di lantai.
Flashback off
Bagas geram mendengar cerita Safira namun takjub juga dengan wanita di depannya.
"Apa tanganmu tidak sakit?" Bagas melirik tangan Safira yang sepertinya meninggalkan bekas kemerahan.
"Tak apa." Safira menggoyang-goyangkan tangannya.
"Maafkan aku Safira, aku bodoh tak menyadari itu semua." Ira menunduk merasa bersalah.
Safira menggenggam tangannya.
"Bukan salahmu. Aku yang menutupinya karena terlalu malu." Safira mengelus lembut tangan sahabatnya.
"Makanlah Safira, aku akan mentraktirmu karena berani meninju wajah Viruz brengsek itu. Kau juga Ira, aku juga akan mentraktirmu sebagai permintaan maafku sudah bicara kasar tadi." Bagas tersenyum pada Ira yang wajahnya masih lesu. Irapun membalas senyuman Bagas.
.
Safira kembali ke hotel Reffan setelah solat magrib di masjid. Tubuhnya sangat lelah hari ini, dia ingin berendam sebentar dengan air hangat. Safira langsung menuju ke kamar mandi setelah menutup pintu kamar.
Dua puluh menit cukup membuat badannya fresh lagi. Karena merasa sendirian di kamar, Safira masih menggunakan handuk kimono dan menggelung rambut basahnya dengan handuk. Dia berjalan ke kamar untuk mengambil setelan tidurnya di tas yang belum di susunnya di lemari.
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah tangan kekar laki-laki memeluk pinggangnya dari belakang. Dengan cepat Safira membungkuk dan menarik tubuh laki-laki itu ke depan, membuat laki-laki di belakangnya terbanting jatuh ke depan, kepalanya yang terbalik tertutup handuk yang tadinya menggulung rambut Safira.