
Mentari pagi yang hangat menerpa tubuh mengusir hawa dingin yang masih tersisa. Reffan dan Safira berkeliling menyusuri taman rerumputan melihat hewan-hewan yang ada di kawasan hotel, mereka juga tak melewatkan memberi makan jerapah yang terlihat rakus memakan kacang panjang dari tangan Safira dan Reffan, Safira tertawa saat melihat lidah jerapah menggulung mengambil makanan dari tangannya.
Reffan mendekati ular yang melilit di tubuh pawangnya, Safira menarik lengannya.
"Gak usah dekat-dekat lah mas." Ujar Safira masih memegangi lengan suaminya.
"Gak papa itu gak berbisa." Reffan ingat Safira takut dengan hewan melata. Reffan malah menarik tubuh Safira semakin mendekat.
"Gak mau mas." Safira memberontak melepaskan pelukan suaminya dan dengan cepat berlari menjauh. Safira masuk ke toilet di dekat lobbi.
Reffan mengikuti Safira sampai depan toilet. Tak mungkin dia ikut masuk ke toilet wanita.
"Safira takut atau gak suka dengan hewan melata." Reffan berpikir dan mulai merasa kuatir. Dia sedikit membuka pintu kamar mandi, dilihatnya Safira mual di depan wastafel. Reffan menutup pintu lagi, menunggu Safira di depan pintu.
Pintu terbuka, Safira kaget Reffan sudah ada di depan pintu dengan pandangan meneliti dari ujung kepala hingga kakinya.
"Kamu baik-baik saja?" Reffan masih meneliti mimik Safira.
"Iya gak papa." Jawab Safira singkat.
"Kamu takut atau gak suka? Sampai mual begitu." Tanya Reffan lagi.
"Takut, gak suka dan geli. Semuanya." Jawab Safira yang kemudian melangkah menjauh.
Reffan segera meraih tangan Safira dan menggenggamnya. Kemudian jalan mengikuti kemauan istrinya. Ternyata istrinya kelaparan.
.
Tengah hari Reffan dan Safira check out dari hotel. Reffan bersegera melajukan mobilnya ke arah kota Surabaya.
"Mau kemana lagi sayang?" Tanya Reffan pada istrinya yang mulai mengantuk.
"Pulang aja ya mas." Safira sudah tak tahan untuk segera memejamkan mata. Tiga menit kemudian Safira sudah terlelap cantik.
.
Menjelang sore mereka tiba di hotel milik Reffan. Setelah membersihkan diri mereka duduk di sofa dekat kaca menikmati senja di balik gedung bertingkat.
__ADS_1
"Cepat sekali waktu berlalu." Safira melingkarkan tangannya ke perut Reffan, besok mereka akan kembali LDR-an dan saat ini Safira ingin terus memeluk suaminya.
"Sebentar ya sayang." Reffan melepaskan pelukan istrinya. Kemudian mendekati pintu kamar karena ada yang mengetuk pintu.
Karyawannya masuk membawa makanan untuk dinner yang sudah dipesan Reffan sebelumnya.
Reffan mengambil alih makanan yang didorong karyawannya dan menyuruh karyawannya segera pergi karena ada Safira yang tak berjilbab, walaupun tidak kelihatan karena ada dinding yang menghalangi, tapi Reffan lebih memilih karyawannya tidak masuk ke dalam.
"Pergilah, saya akan menatanya sendiri." Ucap Reffan datar.
"Baik Pak. Permisi." Karyawannya membungkuk kemudian mundur.
Reffan menutup kembali pintu kamarnya. Kemudian mendorong santapan dinner-nya ke arah meja lalu mulai menyusunnya. Tangannya sangat cekatan menata setiap menu beserta perlengkapan makan. Safira berjalan mendekat.
"Tunggu di situ dulu, kalau kemari aku akan memakanmu." Ujar Reffan sambil melirik ke arah arah Safira.
Safira langsung berhenti, mundur, duduk lagi dan memperhatikan suaminya dari jauh sambil tersenyum.
Setelah selesai dengan semua pernak pernik dinner. Reffan berjalan ke arah Safira.
"Ayuk kita solat magrib dulu. Setelah itu kita makan." Ujar Reffan kemudian mengulurkan tangannya yang disambut dengan segera oleh istrinya.
.
Safira melipat mukena dan sajadahnya kemudian meraih sajadah suaminya yang telah dilipat lalu meletakkan pada sebuah meja yang melekat di dinding.
Reffan memeluknya dari belakang, menyesap aroma tubuh istrinya yang selalu dirindukannya.
"Pasti menyenangkan bisa memelukmu setiap hari begini." Pelan Reffan berbisik di telinga Safira.
Suara Reffan pelan tetapi menusuk hati Safira. Dia merasa bersalah telah membuat hubungan mereka menjadi LDR-an.
"Maaf mas." Ucapnya lirih. "Sabarlah mas, beri aku waktu, aku tak ingin menyusahkanmu." Gumamnya hanya di dalam hati.
"Tak apa sayang, tak apa jika kamu belum siap dan masih ingin bekerja. Tapi aku harap suatu saat nanti kamu mau memilih satu atap bersamaku setiap hari." Reffan memeluk erat Safira, menciumi dengan mesra pundak dan leher istrinya.
"Mas...." Safira menggeliat dengan perlakuan suaminya. "Kapan kita makan?" Tanyanya dengan suara yang tercekat.
__ADS_1
Reffan tertawa, berdekatan dengan istrinya memang membuat lupa diri, hasratnya langsung berkobar.
"Iya kita makan dulu. Setelahnya baru kita...." Reffan membalik tubuh istrinya mengecup sekilas bibir yang sedikit terluka karena ulahnya sejak malam perjumpaan mereka.
"Hari ini kamu jadi tidak sabaran untuk makan." Senyum Reffan.
Safira tersenyun manampakkan giginya yang berjajar rapi karena memang benar hari ini dia yang selalu mengajak suaminya untuk makan.
Reffan menggandeng tangan Safira menariknya pelan menuju meja yang telah tersusun menu makan malam mereka. Netra Safira tak lepas dari memandang wajah suaminya, dia sangat ingin melihat wajah tampan itu selalu berada di dekatnya.
Saat sudah di dekat meja baru netranya bisa melepas wajah suaminya dan beralih ke makanan di depannya.
Deg.
"Astaghfirullah." Batinnya memekik, Safira cukup sadar ada suaminya di sampingnya. Dadanya bergemuruh, keringat dingin mulai mengalir di tubuhnya walaupun dia berusaha menetralkan reaksi tubuhnya tapi debaran jantungnya tetap tak bisa dikendalikan.
"Ini khusus untuk istriku. Terimakasih sudah mengisi hatiku." Tangan Reffan mendekatkan sebuah cake berbalut coklat berbentuk hati ke arah istrinya.
Safira masih terpaku, mencoba menghirup banyak oksigen di sekitarnya agar tubuhnya kembali normal.
"Sayang, apa kamu tidak suka?" Reffan meneliti ekspresi Safira yang mematung.
"Bbu..bukan mas. Aku terkejut. Terima kasih mas." Safira memeluk tubuh Reffan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Matanya terasa panas. Ada rasa sakit yang meremas hatinya karena mengingat kue berbentuk hati.
"Kamu coba dulu ya sedikit saja nanti baru kita makan." Reffan membimbingnya untuk duduk dan mengarahkan cake ke tepi meja mendekat pada Safira.
Safira mengambil sendok, netranya memandangi kue yang terlihat cantik dan manis dengan hiasan pita dari coklat dan buah strawberi. Dipotongnya kue itu sedikit dipinggirnya kemudian masuk ke rongga mulutnya, lidahnya merasakan manis dan sedikit asam dari selai strawberi di dalam cake. Rasa manisnya merasuk juga ke hati mencoba menekan rasa sakit yang tadi mendominasi. Tak terasa setetes bulir bening terlepas dari sudut matanya yang buru-buru dihapusnya tapi ternyata tangan Reffan jauh lebih cepat dari gerakan tangannya. Sejak tadi netra elang milik sang suami selalu menatap tajam ke arah istrinya. Ada rasa penasaran dengan ekspresi sang istri yang terkejut dengan kejutan cake darinya. Tapi Reffan merasa bukan hanya terkejut bahagia, ada hal lain yang Reffan tak tahu itu.
Safira terkejut tangan suaminya menghapus air matanya. Dia menggenggam tangan Reffan lalu mengecupnya.
"Wahai penggenggam alam semesta. Aku tahu aku berlumur dosa. Kumohon izinkan aku meminta cukup satu laki-laki yang perhatian padaku, cukup satu laki-laki yang di hatinya ada namaku, cukup satu laki-laki yang memandang sayang padaku, cukup suamiku. Aku mohon jangan hinakan aku di dunia ini apalagi di akhirat kelak. Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi 'ala diinik. Rabbanaa aatina fiddunyaa hasanah wafil aakhiroti hasanah waqinaa adzabannar.*" Safira berdo'a di dalam hatinya berharap Allah selalu menjaga mereka berdua apapun yang terjadi.
.
.
.
__ADS_1
.
*Artinya Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.