
Safira terkejut, Bagas tahu apa yang dipikirkannya akhir-akhir ini.
"Jika aku menjadi seorang suami, aku tidak akan keberatan untuk membayar pinalti istriku yang akan berhenti kerja. Aku rasa suamimupun juga begitu. Tapi jika kamu tetap tidak ingin mengatakan tentang pinalti itu pada suamimu, katakan saja padaku berapa yang kamu butuhkan." Bagas seakan mengerti jika Safira berat berhenti bekerja karena ada denda yang harus dibayar jika mundur sebelum lima tahun.
Safira menggeleng.
"Aku tidak sedang mencari perhatianmu Safira, aku sudah move on." Bagas tertawa. "Anggap saja aku abangmu."
Sekarang Safira tersenyum. Dia ingat suaminya cemburu saat dia memanggil Hans dengan sebutan abang.
"Tapi saranku bicarakan dengan suamimu, dia akan senang jika kamu jujur padanya." Bagas mulai lega melihat Safira tersenyum.
"Jika kamu butuh bantuan apapun katakan padaku. Aku tak keberatan sedikitpun membantumu, jangan kuatirkan apapun tentangku. Aku akan menjagamu semampuku saat kamu berada dalam penglihatanku. Jangan kuatirkan pekerjaanku. Jikapun Fairuz kesal atau marah padaku dia tidak akan bisa langsung memecatku, ya paling aku di mutasi ke seberang pulau. Tapi tak apa, aku sudah tak punya siapapun, aku sudah siap di mutasi ke manapun."
Safira menoleh, "Pulanglah pak!"
"Aku menunggumu sampai kamu benar-benar pulang. Aku hanya kasihan pada ikan-ikan di sini yang berteriak-teriak tapi tak ada yang mendengarnya gara-gara kamu ketiduran di sini." Bagas berbicara dengan mimik serius tapi kemudian tersenyum melihat Safira yang juga tersenyum.
"Cepat pulang Safira!" Kemudian Bagas berputar dan meninggalkan Safira sendirian di bangku. Bagas tak benar-benar pergi dia menunggu Safira di serambi masjid dekat Safira memarkir mobilnya.
Safira memandang jauh ke arah danau. Dulu dia suka jogging di sini bersama teman-teman kuliahnya. Tentu saja saat dirinya masih berstatus mahasiswa. Memorinya berputar menayangkan ulang saat-saat bahagia menjadi mahasiswa. Saat itulah idealismenya terbentuk, teman-temannya begitu menghargainya. Tak pernah ada laki-laki yang berani mendekatinya, karena mereka sudah tahu pasti jawaban Safira. Jadi jika ada laki-laki yang menyukainya hanya berani mencuri pandang dari jauh atau memberikan ucapan selamat milad saat Safira ulang tahun itupun hanya lewat pesan dari ponsel ke ponsel. Safira dikenal sebagai sosok yang religius, pakaiannya dan tutur katanya saja sudah memperlihatkan hal itu.
Berbeda dengan dunia kerja, teman-temannya lebih berani menunjukkan rasa. Mungkin karena sudah bekerja jadi merasa sudah mandiri dan memiliki penghasilan. Idealis seseorang bisa luntur di tempat kerja. Arus bisa membawamu kehilangan pegangan. Bahkan awalnya Safira terlihat aneh dengan jilbab yang menjuntai menutupi dada, sedangkan semua temannya melilitkan jilbabnya ke leher. Walau terasa asing, Safira berusaha mempertahankan apa yang diyakininya benar. Namun semuanya terasa hancur dan sia-sia saat dia mengingat kata-kata pak Fairuz tadi.
Safira kembali sesenggukan. Mempercepat pasokan oksigen ke dalam tubuhnya. "Kuat Safira, jangan lemah!" Dia memberikan kekuatan pada dirinya sendiri. "Sejak kapan Safira jadi cengeng begini. Bangun Safira! Bangun!" Safira masih meneriaki dirinya sendiri.
Safira menarik nafas dalam, mengalirkan energi ke seluruh organ-organ tubuhnya. Dia mulai bangkit dari bangkunya, melangkah menjauhi danau. Dilihatnya Bagas benar-benar menunggunya. Saat Safira sudah masuk mobil, Bagaspun meraih ranselnya dan bersiap naik ke motornya.
Pandangan Safira fokus menyetir agar segera sampai di rumahnya. Sementara di belakang, Bagas masih membuntutinya dengan menjaga jarak, hanya ingin memastikan Safira selamat sampai di rumahnya. Setelah Safira masuk ke dalam rumah diapun pergi dengan perasaan lega.
Safira tak melihat ponselnya sejak tadi, padahal saat dia berada di area danau Reffan meneleponnya berkali-kali karena melihat titik posisi Safira yang berada di kampus dan itu cukup lama.
Baru setelah sampai rumah, Safira melihat ponselnya. Dan mengirim pesan pada suaminya.
Aku baru sampai rumah mas, sebentar ya mas aku mandi dulu.
Tak mungkin Safira menelpon suaminya dalam keadaan basah kuyub seperti saat ini. Sebenarnya Safirapun sudah menggigil kedinginan. Setelah mengetik pesan untuk suaminya Safira segera masuk kamar mandi.
__ADS_1
.
Sekitar 20 menit Safira berada di dalam kamar mandi. Baru saja dia keluar, ponselnya di atas meja rias sudah bergetar. Panggilan videocall dari suaminya. Safira langsung mengangkatnya, tapi kemudian menghadapkan layar ke lampu di langit-langit kamar. Safira masih melilitkan handuk di tubuhnya, tangannya segera meraih pakaian di dalam lemari.
S : Assalamu'allaikum mas.
R : Walaikumsalam. Mana nih wajah kamu kok disuruh lihat lampu sih?
S : Bentar ya mas aku pakai baju dulu
R : Mana coba lihat
S : Mas ih
R : (Suara Reffan tertawa) Gak papa lah kan suami sendiri. Lihat dong.
S : Sabar dong mas
R : Cepat lihatin. Nanti aku terkam seharian lho gak bisa gerak kemana-mana.
S : Mas ih
S : Sudah selesai
R: Tuh kelewatan kan, kenapa cepat sekali ganti bajunya. Coba diulangi lagi. Nanti aku terkam gak bisa kemana-mana.
Safira tersenyum, sudah biasa suaminya menerkamnya sampai tak bisa berkutik.
S : Mas, maaf aku mau solat magrib dulu ya. Nanti aku telpon lagi. Assalamu'alaikum.
R : Wa'alaikumsalam.
Sambungan sudah terputus. Reffan masih menatap tajam layar datar di depannya. Karena dilihatnya wajah istrinya tak berseri seperti biasanya. Wajah cantiknya pucat, matanya merah. "Apa dia baru saja menangis?" Reffan bergumam sendiri.
.
Seusai solat dan berdo'a. Safira segera pergi ke dapur membuat cokelat hangat, telur mata sapi dan merebus mie instan. Tubuhnya semakin menggigil, dia butuh segera menghangatkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama untuk membuatnya apalagi menghabiskannya. Safira duduk bersandar di kursi makan. Sendirian menatap piring dan gelas yang sudah kehilangan penghuninya.
__ADS_1
"Mas, aku kangen." Gumamnya sendiri. Setitik cairan bening lolos lagi dari sudut matanya. Buru-buru dihapusnya.
"Sudah cukup lama kamu menangis Safira. Jangan menangis lagi!" Safira menguatkan dirinya. Menaruh piring dan gelas kotornya di tempat cuci piring. Besok pagi dia akan membereskannya.
Setibanya di kamar. Dia langsung menelpon kembali suaminya melalui panggilan videocall.
R : Assalamu'alaikum sayang
S : Wa'alaikumsalam mas
R : Ini tadi baru pulang sayang? Kok magrib-magrib baru mandi. Dari mana?
S : Tadi ada rapat di luar mas. Terus aku solat ashar di masjid kampus.
R : Oh gitu. Sudah makan belum?
S : Sudah mas baru saja
R : Makan apa?
S : Makan mie i... (Safira segera sadar untuk tidak melanjutkan kata-katanya, mengkuatirkan reaksi suaminya jika tahu dia makan mie instan). Makan mie mas.
R : Mie apa?
S : Ya mie mas. Mie yang panjang-panjang itu. Mas tahu mie kan? (Safira tersenyum menampilkan giginya)
R : Mie apa Safira? (Masih bertanya karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan)
S : Mie instan mas sama telur (Tersenyum semanis mungkin)
R : (Membuang nafas) Tidak biasanya kamu makan mie instan. Kenapa? Masa istriku makan mie instan sih. Aku jadi berasa gagal jadi suamimu. Tunggu ya aku akan menyuruh mereka mengirimkan makanan dari hotel.
S : Jangan mas! Aku sudah kenyang. Sekali-kali gak papa makan mie instan mas. Aku malas masak tadi juga malas membuka pintu jika pesan makanan. Aku ingin segera tidur, rasanya lelah sekali.
R : Safira, apa kamu baik-baik saja?
Safira terdiam
__ADS_1
R : Safira Nadhifa Almaira. Apa ada sesuatu yang terjadi denganmu hari ini?