Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Kamu Masih Punya Hutang


__ADS_3

"Kita ke rumah sakit!" Seru Reffan


"Tapi mas..." Ada rasa takut yang mulai menyelimuti Safira


"Jangan menolak sayang! Ayo!" Reffan sudah menggenggam tangan Safira. Sebuah tas berisi baju ganti diraihnya.


Mama Raisa langsung menghampiri Reffan dan Safira saat dilihatnya Reffan membawa sebuah tas.


"Kami akan ke rumah sakit ma. Safira mengeluarkan darah." Ucap Reffan.


"Kalian ke mobil dulu, mama ikut, mama bersiap sebentar." Mama Raisa segera berjalan cepat ke kamarnya berganti baju dan mengambil tas.


Wajah Safira terlihat tegang, bagaimanapun dia tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Sesekali dia terlihat menahan rasa sakit walau tak lama.


"Tenang sayang! Pikirkan kita akan bertemu anak kalian jangan pikirkan yang lain." Mama Raisa menenangkan Safira mengusap perut Safira yang sesekali menegang.


Safira mengangguk. Reffan, dia juga takut, rasa cemasnya melebihi yang dirasakan Safira. Dia harus mengakui ini adalah saat paling menegangkan dalam kehidupannya. Reffan yang biasanya terlihat cool dan bersahaja sudah berganti dengan Reffan yang wajahnyapun tegang. Sebaik apapun dia menutupinya, orang lain tetap dapat melihatnya dengan jelas.


Saat ini Reffan hanya bisa memeluk erat Safira dengan salah satu tangan yang mengusap perut istrinya yang terlihat besar.


Di rumah sakit seorang bidan langsung menyambut kedatangan mereka mengarahkan ke sebuah ruangan bersalin. Tak lama dokter spesialis kandungan datang dengan senyum ramahnya.


"Kita cek dulu ya bu." Senyum terus mengembang di wajah dokter wanita tersebut berusaha mengurai ketegangan yang jelas terlihat di sana.


"Detak jantung bayi bagus. Ini masih pembukaan satu. Bu Safira bersabar dulu ya. Kita pindah ke ruang perawatan dulu sambil melihat perkembangannya."


"Berapa lama dok?" Reffan mulai terlihat tak sabar.


"Sabar dulu ya pak. Ini kelahiran pertama umumnya kenaikan pembukaan agak lama tapi bapak dan ibu tidak perlu cemas. Kita akan pantau perkembangannya. Jika masih kuat ibu bisa dibantu jalan-jalan."


Kini adzan Isya' telah berkumandang. Safira terlihat semakin sering menahan rasa sakit walaupun dia tak mengeluh hanya terlihat mengatur nafasnya dan istighfar yang terdengar lirih dari bibirnya.


Mama terlihat lebih tenang walaupun sebenarnya diapun gelisah. Tapi mama Raisa menahan diri agar tidak semakin membuat tegang putra dan menantunya.


"Solatlah dulu Fan, mama akan di sini." Mama Raisa berusaha membuat Reffan tenang. Ini adalah saat pertama dia melihat wajah anaknya yang begitu tegang bahkan sedari tadi begitu sulit untuk berbicara hanya kecupan di kening, punggung tangan dan perut Safira yang dilakukannya berulang-ulang.


"Sebentar ya sayang." Reffan menyetujui perintah mamanya karena diapun butuh menenangkan diri dan bersimpuh di hadapan Tuhannya.


Safira hanya mengangguk.


"Mama suapi ya sayang. Kamu butuh tenaga nanti." Mama Raisa duduk di pinggir brankar Safira. Mengambilkan roti untuk menantunya.


Safirapun menerima suapan mamanya. Apapun akan dilakukannya untuk memudahkan perjuangannya melahirkan buah hatinya. Safira menghabiskan rotinya walau terkadang harus berhenti jika rasa sakit itu datang.


Pintu kamar terbuka, Bu Sofi dan pak Salman langsung masuk setelah mengucapkan salam.


"Bu..." Lirih suara Safira, setetes cairan bening begitu saja lolos dari sudut matanya saat melihat ibunya yang telah berjuang melahirkannya ke dunia.


"Iya sayang. Kamu akan baik-baik saja." Bu Sofi juga terlihat meneteskan air mata kemudian memeluk putri pertamanya.


Ibumu memaksa ayah untuk ke Jakarta siang tadi karena perasaannya tidak enak. Setelah tiba di bandara mama menghubungi nak Reffan tapi tidak diangkat. Ayah menelpon pak Rendra dan katanya kalian sudah di rumah sakit. Pak Rendra sedang di perjalanan juga tadi.


Ayah Salman memeluk Safira dan mengecup dalam kening putrinya. Ada rasa yang menekan dadanya saat melihat putri yang dicintainya menahan rasa sakit yang terlihat jelas di wajahnya.


"Ibu ayah, Fira minta maaf selama ini..." Airmata yang tadi hanya menetes kini sudah mengalir begitu saja.


"Sssttt... Kami selalu memaafkanmu sayang, kamu anak yang baik, anak kebanggaan kami." Ayah Salman yang berbicara, Bu Sofi hanya mengangguk karena airmatanya membuat tenggorokannya tercekat.


"Ma... Safira minta maaf.." Ucap Safira meraih tangan mama Raisa.


"Sudah sayang. Kamu tak pernah sedikitpun menyakiti mama." Bu Sofi juga terlihat meneteskan airmata namun segera diusapnya. "Kamu dan anak kamu akan baik-baik saja."


Safira tersenyum walau tampak memaksa karena rasa sakitnya semakin bertambah sering dan lama.


Reffan masuk ke dalam ruangan.


"Ayah ibu.." Reffan mencium punggung tangan kedua mertuanya. "Maaf saya belum mengabari."


"Gak papa nak, kamu pasti memprioritaskan Safira." Ayah Salman yang berbicara.


Ayah Salman pamit ke mushola hendak solat. Sementara mama Raisa dan Ibu Sofi solat bergantian di ruang perawatan. Sejujurnya ayah Salman tak tahan melihat putri yang disayanginya kesakitan, dia memilih bersimpuh dan berdo'a di hadapan penciptanya menumpahkan airmata yang sedari tadi ditahannya.

__ADS_1


Menjelang pukul sepuluh malam, seorang bidan datang untuk mengecek perkembangan Safira.


"Pembukaan tiga bu pak." Ucap bidan ramah.


"Kenapa lama sekali sus. Istri saya sudah kesakitan." Reffan yang sedari tadi menahan diri akhirnya mengeluarkan kata-kata yang dipendamnya.


"Sabar ya pak. Ini kelahiran pertama, prosesnya memang seperti ini. Jika Ibu sudah tidak tahan rasa sakitnya panggil kami ya pak. Saya permisi dulu."


Setelah bidan keluar.


"Kenapa mereka bisa setenang itu. Apa dia tidak lihat Safira sudah kesakitan begini." Dada Reffan terlihat naik turun.


"Sabar Fan. Memang seperti ini melahirkan apalagi anak pertama." Mama Raisa mengusap-usap punggung Reffan agar tenang.


Reffan mengatur nafas, mendekat kembali ke sisi istrinya. Terlihat tangannya mengepal setiap kali dirasakan genggaman tangan Safira yang menguat. Pasti saat itu rasa sakitnya datang.


Reffan merasa tak berguna bahkan untuk mengurangi sedikit saja rasa sakit yang dirasakan Safira.


"Maaf sayang, jika aku bisa, aku akan memindahkan rasa sakitmu padaku." Reffan mengusap airmata yang kembali lolos dari netra sang istri.


Bu Sofi hanya duduk diam tak sanggup harus mengatakan apapun karena baginya akan lebih mudah jika dia yang merasakan sakitnya melahirkan daripada harus melihat putrinya yang kesakitan.


Lewat tengah malam bibir Safira berucap lebih keras.


"Allah... aku gak kuat." Ucapnya dengan mata yang terpejam.


"Sayang..." Reffan langsung menekan tombol panggilan. Bidan langsung masuk ke ruangan Safira.


"Istri saya kesakitan sus, tolong lakukan sesuatu!" Ucap Reffan dengan penuh penekanan karena menahan amarah namun ditahannya agar tidak berteriak di depan Safira.


"Kita pindah ke ruang bersalin ya bu pak." Bidan tersebut pergi dan datang kembali membawa kursi roda.


Di ruang bersalin sebuah selang oksigen dipasangkan ke hidung Safira. Safira berganti pakaian dari rumah sakit yang memudahkan untuk proses persalinan.


"Berapa lama lagi sus? Istri saya sudah sangat kesakitan." Reffan sudah dalam mode panik.


"Sabar ya pak masih pembukaan empat." Ujar bidan setelah memeriksa kembali perkembangan kondisi jalan lahir.


"Mas aku gak kuat. Maafkan aku mas, aku sering.." Ucap Safira sambil menahan rasa sakit yang semakin sering.


"Jangan bicara begitu sayang. Kamu tidak pernah salah, mas yang banyak salah. Kamu pasti kuat sayang." Reffan mengecup kening istrinya.


"Mas... arrggghhh. Sakit sekali mas!" Safira meremas bantalnya.


"Suusteeerrrrrr." Reffan berteriak.


Mama Raisa dan Ibu Sofipun masuk ke dalam ruang bersalin.


"Pembukaan lima.. Sabar ya Bu..."


"Operasi saja suster. Cepat siapkan untuk operasi!" Reffan sudah setengah berteriak.


"Sabar dulu Fan!" Mama Raisa menenangkan anaknya.


"Gak kuat aku ma, lihat Safira begitu." Reffan memeluk mamanya.


"Arrgghhh." Safira kembali berteriak bersamaan dengan tumpahnya cairan ketuban.


Bidan memeriksa kembali jalan lahir. Lalu segera keluar.


Safira terduduk, mual hebat menyerangnya. Reffan segera mengambil plastik dan semua isi lambung Safira terkuras habis. Ini sudah kedua kalinya Safira muntah.


Wajah Safira sudah pucat. Bidan yang tadi memeriksa sudah kembali bersama dua rekannya yang dengan cekatan menyiapkan semua peralatan.


Wajah Reffan nampak bingung karena bidan tadi baru saja mengatakan pembukaan lima kenapa sudah siap-siap sekarang.


"Pembukaan tujuh!" Bidan tadi berseru pada rekannya yang masih sibuk menyiapkan semua peralatan.


"Delapan."


Seorang rekannya keluar.

__ADS_1


"Arrggghhh... Allah.." Safira sudah menangis tak tahan dengan rasa sakit yang semakin berlipat-lipat. Dia memeluk tangan Reffan meremasnya sekuat mungkin.


Bidan yang keluar sudah masuk kembali bersama dokter. Dokter tersenyum ke arah Safira.


"Sembilan dok." Ucap Bidan yang baru saja memeriksa Safira.


"Sudah ingin mengejan bu?"


Safira mengangguk, karena dia sudah merasa ada dorongan yang menuntunnya untuk mengejan.


"Kita coba ya! Ikuti arahan saya." Ucap dokter tenang. Tangannya sudah bersiap dengan sebuah gunting di dekatnya.


Safira mengejan dengan sisa kekuatan yang masih ada.


"Eeerrrggghhhh." Percobaan pertama gagal.


Reffan seperti menemukan kembali kekuatannya yang tadi sudah lemas melihat Safira kesakitan.


"Ayo sayang preman saja kamu hajar, kamu pasti bisa!" Ucapnya di dekat wajah Safira. Tangannya di remas kuat Safira saat dorongan mengejan datang lagi.


Sejenak bidan dan dokter terpana mendengar cara Reffan menyemangati istrinya. Tapi kemudian segera tersadar lagi saat Safira mengejan kuat.


"Eeeerrrgggghhhh." Semua tenaganya dikeluarkan.


Bayi mungil meluncur ke tangan dokter yang sudah bersiap.


"Alhamdulillah." Reffan memeluk wajah Safira kemudian menciumi wajah istrinya yang memucat. "Terimakasih sayang." Airmatanya sudah tak terbendung lagi.


Dokter dan bidan yang ada di sana seketika tertawa saat air mancur dikeluarkan oleh bayi mungil yang baru saja menghirup udara. Pipis pertama putra pertama Safira dan Reffan membuat geger ruang bersalin.


Kini bayi mungil itu sudah berada di dada Safira setelah dibersihkan.


"Dijahit dikit ya bu." Ucap dokter yang sedang dibantu bidan mempersiapkan posisi Safira.


"Auw dok." Safira sedikit merespon. "Sakit dok."


"Gak dibius aja dok biar gak sakit." Ucap Reffan yang ikut memercing melihat ekspresi istrinya.


"Sudah pak, bius lokal."


"Ditambahin saja dok obatnya." Reffan memercing lagi. Membayangkan sakitnya jalan yang baru saja dilalui bayinya dan harus dijahit lagi. Tadi saja Reffan sempat melihat dokter beraksi dengan gunting di tangannya saat Safira mengejan.


Dokter tersenyum. "Sekarang sudah gak sakitkan?" Sepertinya obat sudah bekerja terbukti Safira hanya bereaksi kecil.


Perawat datang mengambil bayi mungil mereka untuk dibersihkan kemudian diadzani. Reffan menggendong bayi mereka dengan tegang. Ini pertamakali tangannya menyentuh bayi yang begitu mungil. Rasa haru bahagia memeluknya saat mengadzani putra pertama mereka. Perawat kemudian membawa bayi mereka untuk dimandikan.


"Aku mandi dulu ya mama papa. Biar tambah cakep." Perawat menirukan suara anak kecil seolah bayi mereka yang berbicara.


Perawat yang lain mengambilkan kursi roda untuk memindahkan Safira ke ruang perawatan.


Mama Raisa masuk ke dalam ruang bersalin ingin melihat keadaan Safira sementara bu Sofi dan ayah Salman mengikuti perawat yang membawa cucu mereka ke ruang bayi.


"Bisa berdiri tidak bu?" Perawat bertanya pada Safira yang wajahnya masih pucat.


"Bisa." Safirapun duduk bersiap akan berdiri namun seketika pandangannya menggelap tak sadarkan diri.


Reffan panik dan mengguncang tubuh Safira, tapi wajah pucat istrinya tak juga terbangun.


Mama Raisapun terkejut, jantungnya semakin cepat berdenyut, tenggorokannyapun tercekat.


"Bangun Safira! Kamu masih punya hutang. Ayo bangun, atau aku akan beritahu ayah. Cepat bangun!" Reffan menangis memeluk wajah Safira.


.


.


.


Sebentar lagi tamat teman-teman. Jangan lupa di like ya, biar authornya seneng 🥰


Temen-temen bisa mampir ke novel Jejak di Pipi Membekas di Hati yang mulai update lagi.

__ADS_1



__ADS_2