
"Mas..." Safira terkejut dengan tangan yang melingkar di perutnya tiba-tiba.
"Saya permisi pak bu." Rosa berpamitan karena tahu diri tak ingin mengganggu pasangan halal di depannya.
"Terimakasih ya mbak Rosa." Ucap Safira yang tak enak kemesraannya dilihat karyawan suaminya.
"Sama-sama bu." Rosapun pergi menjauh.
Reffan memeluk tubuh istrinya dari belakang semakin erat, menghirup dalam aroma semerbak dari tubuh istrinya di balik gaun.
"Mas...." Safira kelabakan saat tangan Reffan mulai menjalar kemana-mana. Walaupun pencahayaannya di buat remang-remang dia tetap malu karena ada di ruang terbuka.
Reffan menyadari keadaan istrinya yang tak nyaman kemudian memutar tubuh istrinya menghadap ke arahnya.
"Katanya rindu?" telunjuk tangan kanan Reffan meraih dagu istrinya tangan kirinya memeluk pinggang sang istri.
"Malu mas kalau ada yang lihat." Safira celingukan memastikan tak ada yang melihatnya.
"Kan halal kenapa malu? kalau gak halal bermesraan baru malu." Ucap Reffan.
"Bermesraan gak perlu dipertontonkan mas, tetap malu walau sudah halal, itu privasi kita." Jawab Safira, tangannya menahan dada Reffan yang hampir menempel di tubuhnya.
"Oh gitu.. pengen yang gak dilihat orang ya? Sabar ya kita makan dulu." Reffan malah menggoda istrinya karena rindu wajah istrinya yang cepat sekali memerah.
"Mas ih.." Dan benar saja wajah istrinya langsung menunduk malu bersemu merah.
"Ayo makan dulu. Harus dicharge dulu biar tahan sampai pagi." Reffan masih belum puas menggoda istrinya yang menggeliat di dalam pelukannya salah tingkah dan semakin menggemaskan.
"Lepasin dong mas." Safira berusaha melonggarkan pelukan Reffan karena tubuhnya menghangat.
Bibir mereka bertemu sekilas melampiaskan sedikit rindu yang menyiksa lima hari ini. Safira langsung mematung mendapat kecupan dari suami. Menampakkan wajah menggemaskan yang membuat Reffan semakin bergelora.
"Ayo makan!" Reffan mulai tersadar ada makanan yang sudah menunggu. Jika tidak dia pasti sudah membopong istrinya ke kamar.
"Seharusnya tadi makan malam di kamar saja. Ah, salah strategi sekarang aku juga yang terpancing." Gerutunya di dalam hati.
Reffan mengarahkan Safira untuk duduk dan menyeret kursinya mendekat ke arah Safira. Merekapun makan malam, tak ada kata-kata yang keluar selama makan malam hanya tangan yang bergerak menyuapi dan mata yang menatap dalam tak ingin lepas dari pemilik muara rindu yang kini sudah bertepi.
.
Langit yang cerah walau kelam dan sinar bulan yang mendamaikan menjadi saksi dua insan yang telah menemukan penawar rindunya. Safira bersandar di bahu Reffan dengan tangan Reffan yang memeluk pundak istrinya. Mereka baru saja menyelesaikan makan malamnya. Duduk sebentar mengambil jeda.
"Mau kencan kemana?" Tanya Reffan sambil mengusap-usap bahu sang istri.
__ADS_1
"Ehm.. kemana ya mas? belum kepikiran sih." Jawab Safira
"Pengen apa? Mau di kamar aja nih?" Goda Reffan sambil menoel dagu sang istri.
"Mas ih.... aku belum kepikiran mau kemana mas." Jawab Safira jujur.
"Trus yang di pikiran apa dong?"
"Cuman kepikiran kita bertemu dan bisa dipeluk mas Reffan." Jawab Safira tersenyum malu-malu.
"Ya sudah ayuk ke kamar, mas Reffan peluk sesuka hati." Reffan senang sekali mendengar jawaban istrinya.
"Nonton yuk mas!" Safira menegakkan tubuhnya.
"Ke bioskop?" Reffan mengernyit.
"Bukan, nonton film di kamar sambil..." Safira memberikan jeda pada kalimatnya "sambil peluk." lanjutnya malu.
Reffan tersenyum memandang sang istri yang malu-malu tapi justru menggemaskan. Reffan berdiri lebih dulu kemudian meraih pundak sang istri membuat istrinya ikut berdiri.
"Ayo sayang ke kamar!" Ajak Reffan menggandeng tangan istrinya.
.
"Pake laptopku atau laptopnya mmm..." Kalimat Safira tak bisa terdengar lagi karena Reffan sudah membungkamnya dengan bibirnya.
Lamaaaa... Safira tersengal-sengal nafasnya. Diapun memukul-mukul dada Reffan. Reffan memundurkan wajahnya memberi jeda Safira menghirup udara dengan cepat kemudian melahap lagi bibir Safira semakin dalam.
Tubuh Safira terangkat, kakinya tak lagi berpijak. Reffan mengangkatnya kemudian menjatuhkannya di sofa panjang.
"Mas..." Ucap Safira di tengah nafasnya yang terengah setelah Reffan melepaskan bibir sang istri.
"Katanya mau nonton..." Protes Safira.
Reffan tertawa, "Kamu godain terus sih, mancing- mancing."
"Kapan godainnya?" Protes Safira dahinya mengernyit.
"Setiap saat, senyummu, wajahmu, lirikanmu... semua yang ada padamu.." Jawab Reffan yang masih mengurung istrinya dalam pelukannya.
"Mana ada yang begitu." Safira manyun.
"Mau nonton?" Tanya Reffan tersenyum kemudian duduk diikuti Safira.
__ADS_1
"He em." Jawab Safira antusias
"Mau film apa?" Tanya Reffan lagi
"Film action." Jawab Safira riang.
"Baiklah, tapi ganti baju dulu. Pakai ini! Aku akan cari filmnya." Reffan menyerahkan sebuah paper bag.
Safira meraih paper bag dari tangan suaminya sambil memasang wajah curiga menatap tajam ke arah suaminya. Yang ditatap malah tersenyum penuh makna.
.
"Pasti gak jadi nonton kan kalau pakai baju seperti ini." Pantulan tubuhnya memakai gaun merah seksi minim bahan dengan brokat tembus pandang membuatnya malu sendiri. Safira lalu tersenyum melangkah ke ruang ganti tempat Reffan menyimpan pakaian-pakaiannya.
Safira sengaja membawa pulang pakaiannya dan hanya tersisa satu di kamar Reffan dan itu untuk baju ganti besok. Tadi Reffan menyuruhnya langsung ke hotel dan tidak mampir kemanapun sehingga Safira tidak bisa mengambil pakaiannya di rumah. Safira memilah-milah pakaian Reffan dan akhirnya menjatuhkan pilihan pada sebuah jas hitam yang tergantung rapi, dia penasaran ingin memakai jas suaminya di tubuhnya.
Reffan tak berhenti tersenyum menatap istrinya yang memakai jas kedodoran, kulit putih istrinya tampak bersinar memakai jasnya yang kelam, rambutnya yang panjang terutai begitu saja ke belakang dengan beberapa helai yang terjatuh di depan dan pundaknya. Pesonanya tak pernah pudar apapun yang dipakainya, bahkan sekarang otak Reffan sudah fokus dengan tubuh istrinya yang dibalut lingerie merah di balik jasnya.
"Kok pakai jas sih?" Reffan masih tersenyum meraih tangan istrinya untuk duduk bersamanya di ranjang. Reffan sudah mempersiapkan laptop yang siap menayangkan film action yang akan mereka tonton bersama.
"Biar enak nontonnya mas. Nanti aku kedinginan kalau cuman memakai pakaian dari mas."
"Kan ada yang ngangetin."
"Gak jadi nonton dong."
"Pasti jadi donk kan sudah mas siapin." Jawab Reffan sangat meyakinkan. "Tapi gak tahu berapa menit nontonnya." Imbuhnya dengan senyum yang tertahan.
"Mas ih, kan katanya tadi mau kencan."
"Iyaaa.. dari tadi kan kita kencan. Cuman kalau kencan halal ada plus-plusnya. "Aroma yang menguar dari tubuh sang istri sudah sangat mengganggu Reffan. Reffan sudah tak sabar menikmati apa yang dilakukan istrinya tadi sore. Tapi iya tahan dulu karena sepertinya istrinya tak ingin buru-buru.
Safira memajukan bibirnya cemberut tapi wajahnya bersinar saat melihat layar laptop.
"Mas aku mulai ya." Safira menekan tombol agar filmnya segera berjalan.
Mata Safira fokus ke layar, dia meraih sebuah bantal ke dadanya untuk di dekap, tubuhnya merapat ke tubuh Reffan yang sedikit di belakangnya. Paha mulus Safira menyembul dari balik jas hitam. Beberapa kali Reffan menelan ludah agar kuat menahan diri dan membiarkan Safira fokus beberapa menit menonton film.
"Sayang rambutmu sudah kayak coklat, enak banget." Reffan menciumi rambut Safira yang tadi dikeramasi dengan shampo beraroma coklat. Tangannya menyibak rambut dan bibirnya mulai menciumi leher mulus yang semerbak wangi.
"Mas filmnya baru mulai... Ah..." Safira sudah menggeliat dan mendesah tak karuan akibat ulah suaminya. Jas yang dipakainya sudah terlempar jauh dari ranjang.
Reffan menutup laptopnya yang berada di meja kecil dekat ranjang. Kemudian kembali ke tubuh istrinya tak membiarkan istrinya untuk sedikit saja menegakkan kepala.
__ADS_1
Malam melepas rindu baru saja dimulai. Tak ada jarak di antara keduanya untuk saling menyatu berharap ikatan di antara mereka semakin kuat karena bahtera mereka baru saja berlayar.