
Safira menoleh ke kanan dan kiri, setelah memastikan orang yang di ruangannya sibuk sendiri dengan ponselnya, dia membuka kotak paket di depannya. Ada sebuah kartu yang langsung terlihat saat Safira berhasil membuka paket. Tangan kirinya mengambil kartu itu, tangan kanannya menyentuh kain hitam di dalam kotak yang terasa lembut di tangannya dan matanya langsung tertuju pada deretan kata dalam kertas tersebut.
Restauran Lelayar jam 7 malam. Pakailah gaun ini sayang.
Perutnya seperti diaduk-aduk, mual menyerangnya saat membaca kata sayang dalam kartu itu. Dibantingnya paket ke lantai di bawahnya. Diambilnya kertas, Safira membuka ponsel, mencari file kiriman Bayu. Ditulis nama istri Fairuz di sana, nomor ponsel dan alamat rumahnya. Kemudian dia berjongkok mengambil tulisan namanya dengan hati-hati dan mengganti dengan tulisan yang baru dibuatnya. Setelah dipastikan rapi Safira memesan jasa pengantaran online. Safira turun ke bawah untuk memberikan paket kepada pengantar. Setelah itu dia naik lagi dan ke toilet mencuci tangannya dengan sabun sebersih mungkin seperti baru saja ada yang mengkontaminasi tangannya.
Safira duduk di belakang meja kerjanya. Ada rasa mual yang masih tersisa, kepalanya juga terasa agak pusing.
Ira dan Bagas masuk ruangan dan menghampirinya.
"Sudah makan belum?" Ira bertanya pada sahabatnya.
Safira menggeleng.
"Mau aku pesankan? Ini tadi kita belikan jus strawberi saat makan siang. Mau belikan makanan kuatir kamu sudah pesan online." Ira memberikan gelas transparan dengan cairan pink di dalamnya.
"Gak usah, aku bawa bekal kok." Safira meraih minuman yang diberikan Ira, menusukkan sedotan kemudian meminumnya hampir setengah gelas.
Tapi tiga detik kemudian dia terlihat seperti orang yang akan memuntahkan isi perutnya. Safira berlari ke toilet dan benar saja. Cairan yang baru saja diminumnya keluar lagi bersama rasa pahit dari asam lambungnya. Ira menyusulnya kemudian karena sempat mematung antara terkejut dan panik, setelah sadar baru dia menyusul Safira.
Sementara Bagas berpikir seharusnya dia tidak membeli minuman dingin tadi karena mungkin saja Safira masuk angin setelah hujan-hujanan kemarin sore. Bagas mengambil cangkirnya yang masih bersih dan membuat teh hangat.
Safira dan Ira sudah kembali. Ira membantu Safira duduk lagi.
"Beneran gak papa Fir, kamu pucat lhoo?" Ira kembali bertanya setelah sekian kali mengajukan pertanyaan yang sama dan jawaban Safirapun sama
"Aku gak papa Ir." Safira sudah duduk di kursinya.
"Kamu makan dulu deh. Mana bekalmu aku ambilkan ya." Ira celingukan mencari kotak bekal .
Safira meraih tasnya dan mengeluarkan kotak bekal berisi sandwich yang tadi pagi dikirimkan oleh karyawan suaminya.
Aroma wangi masih tercium saat kotak bekal terbuka walaupun sudah pagi tadi dibuat.
__ADS_1
"Wuih, niat banget Fir bikin sandwich tebel banget." Ira meneguk air liurnya melihat tumpukan roti isi.
"Bukan aku yang buat. Dikirimin suamiku. Ambillah!" Safira tersenyum menyodorkan kotak bekalnya ke arah Ira.
"Ya Allah, abang suamimu sweet banget sih." Ira ragu akan mengambil karena baru saja makan tapi kepingin juga jadi tangannya pun terulur.
"Auuuww.." Ira terkejut karena tangannya disentil Bagas pelan.
"Kamu itu baru aja makan. Masih gangguin jatah makannya Safira." Bagas menggelengkan kepalanya. "Ini Fir kamu minum untuk ngangetin perutmu." Bagas meletakkan secangkir teh hangat di depan Safira.
"Terimakasih pak." Safira meraihnya meminumnya tiga teguk.
"Kita tinggal dulu ya.. kamu habiskan makananmu." Bagas memberi isyarat pada Ira untuk meninggalkan Safira. "Ayo!"
Mereka berduapun meninggalkan meja Safira.
"Kok ditinggal sendiri pak? Kasihan Safira."
"Jahat banget sih!" Ira mengecek sudut bibirnya yang tak ada cairan sedikitpun.
Bagas tertawa melihat Ira yang berpikir kata-katanya benar.
.
Sambil makan Safira meraih ponselnya, mengirimkan pesan untuk suaminya.
S : Mas, aku boleh menginap di hotel malam ini?
R : Tentu saja sayang. Kamu baik-baik saja?
S : Iya mas. Aku baik. Makasi ya mas.
R : Sama-sama sayang
__ADS_1
Dahi Reffan berkerut saat Safira meminta menginap di hotel malam ini. Sebelumnya dia bersikeras untuk tinggal di rumahnya jika Reffan tak ada.
"Kenapa ya Safira minta menginap di hotel. Tidak biasanya?" Reffan tak sadar gumamannya di dengar Bayu.
"Bukankah lebih baik pak Reffan. Bu Safira lebih aman dengan penjagaan di hotel.
Dahinya bertambah mengkerut dengan jawaban Bayu. "Maksudmu?"
Bayu gelagapan, dia keceplosan karena masih kuatir telah memberikan informasi kepada Safira, dia takut informasi itu malah membahayakan istri bosnya.
"Maksud saya. Di hotel kan ada sistem keamanannya pak. Jadi pak Reffan lebih bisa tenang meninggalkan bu Safira di hotel daripada tinggal sendirian di rumahnya."
"Padatkan jadual kita di sini, percepat yang bisa dipercepat." Reffan menatap Bayu tajam, merasa ekspresi wajah Bayu tidak biasa.
"Baik pak." Jawab Bayu singkat.
Bayu tidak menyadari Reffan yang menatapnya. Dia langsung berpikir untuk menghubungi keamanan hotel di Surabaya agar memperketat keamanan saat kedatangan Safira juga mengawasi lantai kamar bosnya.
.
Langit malam menyelimuti kota yang terlihat megah dengan gemerlap lampu berwarna warni. Hampir pukul tujuh malam, kendaraan masih melaju bagai siang hari. Restauran tetap terlihat ramai walaupun bukan weekend.
Di sebuah ruangan privat restauran mewah seorang pria sudah duduk di sana, pria paruh baya yang masih terlihat muda sudah duduk di sana. Dia sudah mempersiapkan diri di apartemen yang dirahasiakannya dari istrinya. Setelan celana jeans dan kemeja santai membuat penampilannya lebih muda dari usianya. Aroma parfum dari pakaiannya menguar memenuhi ruangan. Walaupun gelisah dia cukup yakin wanita incarannya akan menyerah juga. Biasanya dia cukup membelikan sebuah apartemen untuk targetnya, wanitanya sudah bertekuk lutut padanya, jika belum dia akan mengintimidasinya maka targetnya tidak akan bisa menolak lagi keinginannya. Dan dua hal itu sudah dilakukannya pada Safira. Safira pasti akan datang.
Ujung jarinya bergantian menyentuh meja, bosan menunggu dia meraih ponselnya sekedar ingin mengisi waktu. Padahal dia baru menunggu lima menit, waktu juga belum menunjukkan pukul 7 tepat. Tapi menunggu Safira membuat waktu terasa lama, dia tak bisa memungkiri jika Safira wanita yang berbeda, dia sama sekali tak terlihat tertarik pada kemewahan dan parahnya lagi dia keras kepala. Itu membuat ada sedikit kekuatiran dalam hatinya jika Safira tak datang, dia mulai berpikir apakah akan benar-benar merealisasikan ancamannya.
Senyumnya merekah, saat netranya menangkap bayangan gaun hitam yang bagian bawahnya menjuntai sampai lantai. Dahinya berkerut karena seharusnya gaun itu pas dengan tubuh Safira.
Kepala Fairuz mendongak untuk melihat wajah pemakai gaun di hadapannya.
"Sayang!" Wajahnya terkejut tapi dipaksakan tersenyum melihat wanita di depannya.
"Mas, gaunnya terlalu panjang tapi aku suka sekali."
__ADS_1