
Reffan sudah berdiri di depan Safira yang duduk memegangi kakinya yang terkilir.
"Ada suami malah lari." Reffan sudah berjongkok menyentuh kaki yang dipegangi Safira.
"Auw... sakit." Safira berteriak saat Reffan menggoyang-goyang kaki milik Safira.
Reffan segera menggendong Safira. Safira panik merasakan tubuhnya melayang tidak menyentuh tanah.
"Turunkan aku mas. Aku bisa jalan sendiri." Safira menggerak-gerakkan tubuhnya agar bisa turun dari dekapan Reffan.
"Diam Safira. Kamu ini harus nurut sama suami. Kamu mau aku cium di sini?" Reffan sudah mendekatkan wajahnya menatap lekat Safira.
"Jangan mas."
"Makanya nurut."
Dalam gendongan Reffan, Safira berfikir keras. Tiga hari Reffan tak menghubunginya tetapi sekarang dia sudah ada di dekatnya. Lalu bagaimana dengan wanita itu. Safira bingung harus berbuat apa dan mengatakan apa pada Reffan.
"Buka!" Reffan menyuruh Safira membuka pintu cottage tanpa menurunkannya dari gendongannya. Karena memikirkan sesuatu, Safira sampai tak sadar sudah berada di depan cottage, suara Reffan membuatnya kembali ke dunia nyata. Diapun membuka pintu cottage dengan kedua tangannya yang bebas.
Reffan menurunkan Safira di ranjang dengan posisi duduk. Kemudian Reffan naik ke ranjang duduk di depan kaki Safira kemudian melepaskan kaos kaki yang menutupi kaki Safira.
"Mas.." Safira bersuara, tapi kemudian terhenti karena bingung harus memulai pembicaraan dengan suaminya. Reffan yang menatap tajam ke arahnya menambah frekuensi debaran di dadanya.
"Kenapa? Heran aku ada di sini?" Reffan mulai bersuara.
Safira hanya mengangguk tertunduk.
"Tentu saja aku di sini akan memberi hukuman untuk istriku karena pergi tanpa izin dari suaminya." Reffan berbicara sambil mengangkat salah satu alisnya dengan tatapan terhunus yang membuat bulu halus di tubuh Safira berdiri.
Safira ingin membela diri tapi tatapan Reffan membuat kata-katanya tercekat di tenggorokan tak mau keluar.
Reffan tersenyum penuh makna melihat mukena dan sajadah traveling yang dilipat rapi di atas nakas.
"Kamu mau dihukum apa Safira?" Ucapkan melembut menatap Safira.
Entah kenapa kata-kata Reffan semakin membuat perasaan Safira campur aduk, tubuhnya merespon akan ada bahaya tapi tak sanggup melakukan apapun.
__ADS_1
"Mmmas yang bikin ulah, kenapa aku yang dihukum?" Akhirnya Safira buka suara.
"Ulah yang mana? aku cuman berulah sama kamu." Reffan berpura-pura tak tahu penyebab kepergian Safira.
Pipi Safira merona mendengar pernyataan Reffan. Malu. Tapi kemudian dia mengingat foto-foto Reffan dengan seorang wanita yang dikirimkan kepadanya membuat ubun-ubunnya terasa mendidih.
"Pura-pura. Dasar lelaki." Celetuk Safira marah.
"Pura-pura apa Safira? bagaimana aku tahu apa yang membuatmu marah jika kamu langsung pergi tanpa mengatakan apapun? Apa dengan kamu pergi semua masalah akan selesai?" Jawab Reffan.
"Kenapa di sini jika sudah ada wanita yang dekat denganmu?" Safira berucap kesal membuang muka dari Reffan.
"Wanita yang mana?" Tanya Reffan datar.
"Wanita yang menyentuh dada dan lenganmu." Safira keceplosan berteriak karena tak tahan melihat Reffan yang tak merasa bersalah sedikitpun.
Reffan tersenyum, "Apa kamu cemburu?"
"Pertanyaan macam apa itu." Kesal Safira di dalam hatinya. Dia melihat ke arah jendela agar tidak menatap Reffan
"Apa istriku cemburu?" Reffan bertanya lagi, wajahnya sudah sangat dekat dengan pipi Safira. Safira yang tak kunjung memberikan jawaban dan membuang muka darinya membuat Reffan sangat gemas. Diraihnya dagu istrinya memaksa Safira untuk melihat ke arahnya. Sebuah kecupan mendarat di bibir Safira membuat Safira terkejut dan mendorong dada Reffan. Mendapat penolakan dari istrinya membuatnya bertambah menginginkan bibir Safira yang sudah sangat dirindukannya.
Tubuh Safira membeku ingin menolak perlakuan Reffan tapi tubuhnya tak kuasa menolak justru pertahanannya semakin melemah. Reffan selalu saja membuatnya tak berkutik.
Reffan terus melancarkan aksinya tak peduli jika bibir Safira akan bengkak karena ulahnya. Keinginannya saat ini hanya melampiaskan rasa rindunya yang sudah bertepi menemukan pelabuhan cintanya.
Ini adalah ciuman terlama mereka. Safira sampai kuwalahan menghadapi aksi Reffan di bibir dan mulutnya bahkan dia kesulitan memasukkan udara ke paru-parunya.
Setelah puas memakan bibir Safira. Reffan melepas cengkraman di dagu Safira. Dilihatnya bibir cantik istrinya yang semakin merah dan seksi karena ulahnya. Safira tak bisa membuat wajahnya berhenti merona, dia menunduk sambil menarik oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya.
"Mas lepaskan.." ucapnya lirih meminta tangannya dilepaskan.
"Aku akan mengikatmu jika kamu berani pergi dariku lagi Safira." Ucap Reffan melepaskan kunciannya di tangan Safira.
Reffan mendekati kaki Safira, mengelusnya lalu mengurut kaki Safira yang terkilir.
"Auuuuww.... sakit..." Teriak Safira, dia tak sadar kakinya yang tak sakit menendang Reffan.
__ADS_1
Reffan melotot menatap Safira. "Berani menendang suami. Hukumanmu ditambah."
"Maaf mas, gak sengaja. Sakit sekali." Cicit Safira yang ngeri mendengar kata hukuman dari mulut Reffan.
"Makanya mikir dulu kalau mau lari dari suami. Allah aja gak suka kamu lari dariku, sakitkan jadinya." Ucap Reffan kembali meraih kaki Safira yang terkilir mengelusnya lembut. Sementara kakinya menindih kaki Safira yang bebas agar tidak menendangnya dua kali.
"Mas juga harusnya mikir dong. Sudah punya istri kenapa dekat-dekat dengan perempuan lain." Kilah Safira tak mau kalah.
Reffan mengeluarkan ponselnya kemudian membuka sebuah video lalu menyerahkan ke Safira. "Ini yang kamu maksud?"
Safira menerima ponsel Reffan, matanya melebar menyaksikan video dari ponsel di dalam genggamannya. Selagi Safira menyaksikan video yang menyebabkan kesalahpahaman di antara mereka, Reffan mengurut kaki Safira. Reffan tersenyum karena Safira hanya merespon dengan gerakan kecil di kakinya tidak seperti tadi. Rupanya video itu berhasil mengalihkan perhatian Safira. Saat video itu selesai baru Safira menjerit lagi merasakan sakit di kakinya karena Reffan menarik kuat kakinya.
"Sudah! Coba gerakkan!" Perintah Reffan.
Safira menggerak-gerakkan telapak kakinya ke kanan dan kiri. Lalu tersenyum merasakan kakinya sudah membaik. "Terimakasih." Ucapnya lirih. Saat ini Safira ingin bersembunyi dari Reffan yang menatapnya tak biasa, tatapan tajam yang bersiap menyerang.
"Ada lagi yang mau kamu ucapkan, istriku?" Reffan memberikan penekanan pada kata istriku.
"Mmaaf aku salah." Ucap Safira yang terus menunduk.
"Ada lagi?"
"Maaf seharusnya aku tidak pergi begitu saja."
"Ada lagi?"
"Seharusnya aku bertanya dulu pada suamiku." Suara Safira semakin pelan.
"Ada lagi?"
"Mas mau memaafkanku?"
"Berapa hari kamu pergi tanpa kabar?"
"Tiga hari." Safira menarik kakinya, menekuk lututnya ke depan dada. Safira melirik Reffan yang memandangnya dengan nafas memburu.
"Sekarang diamlah dan terima hukuman pertamamu." Reffan menarik kedua kaki Safira dengan kuat, dia lupa kaki Safira baru saja terkilir.
__ADS_1
"Auuw...." Mata Safira sudah berkaca-kaca menahan rasa sakit di kakinya.