
Segar sekali rasanya setelah berendam air hangat. Ini adalah pertama kalinya Safira menikmati fasilitas hotel dengan bathtub. Sungguh Safira tidak mengira dia akan mendapatkan kompensasi di atas ekspektasinya hanya karena terjebak di dalam lift yang tidak lebih dari 30 menit.
Mengingat kembali kejadian di dalam lift, Safira kembali mengingat Reffan. Ya Reffan ada di sini, dan tadi mereka baru saja bertemu. Safira pikir pasti Reffan juga mendapatkan kompensasi seperti dirinya. Tapi yang Safira bingung adalah sikap Reffan yang aneh karena memberondongnya dengan berbagai pertanyaan seperti ayahnya saja.
“Ah sudahlah, kenapa aku pusing memikirkan Reffan. Mungkin saja dia hanya penasaran dan terkejut melihatku lagi.”
“Jika dia di sini itu artinya sampai besok aku akan bertemu dengannya, termasuk makan malam nanti.” Tiba-tiba saja Safira merasakan tubuhnya bereaksi aneh, jantungnya memompa darah lebih cepat membuat tubuhnya menghangat dan tangannya berkeringat.
“Aih, apa yang terjadi padaku. Kok aku grogi gini sih? Kamu kenapa Safira? Kenapa mendadak begini?” Cepat ditepisnya perasaan aneh yang menjalar dalam tubuhnya hanya karena mengingat akan bertemu Reffan.
Safira memilih menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk untuk rehat sejenak sambil menikmati langit senja yang terlihat jelas dari kaca jendela kamarnya. Safira berfikir mungkin akan menyenangkan jika dia tidak sendirian di kamar luas ini. Ya jika saja Ira bisa ikut, dia pasti punya teman ngobrol saat ini.
Safira, seorang gadis yang suka kesederhaan, tak pernah terlihat make up tebal menghiasi wajahnya, namun tetap saja wajahnya selalu tampak bersinar dan menentramkan. Inilah yang membuat setiap orang betah berlama-lama memandang wajahnya, meneduhkan begitulah kata teman-temannya saat berbicara dengan Safira. Itulah yang dirasakan juga oleh Bagas sehingga begitu suka memandangi Safira dan berada di dekatnya. Hampir saja matanya terpejam saat langit senja mulai memudar berganti malam.
“Ah, ini pasti sudah magrib. Ngantuk sekali..” langkahnya gontai menuju ke kamar mandi, tak lama kemudian Safira sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih segar, sisa-sisa air wudhu juga masih menempel di wajahnya.
Dengan segera Safira menggelar sajadahnya kemudian memakai mukena yang didominasi warna coklat dengan motif bunga. Tentu saja, seperti yang pernah Bagas katakan, wajah Safira seakan bersinar saat memakai mukena. Cantik dan menyejukkan. Ditunaikan tiga rakaat kewajibannya sebagai seorang muslim, setelah salam lisannya masih bergumam lirih mengagungkan nama Tuhannya kemudian tangannya menengadah merayu Penciptanya yang memiliki sifat Pengasih dan Penyayang, entah apa yang ada dalam do’anya wajahnya terlihat sendu saat ini.
Baru saja kedua tangan mengusap wajahnya setelah berdo’a,
Kriiing....kriiing....
__ADS_1
“Hallo... ya...?” masih dengan mukena yang dipakainya tangannya dengan sigap meraih gagang telepon di atas nakas.
“Selamat malam Ibu Safira. Kami hanya ingin menyampaikan makan malam untuk Ibu telah disiapkan. Ibu bisa segera menikmatinya di restauran atas di lantai 11.” Terdengar suara ramah seorang wanita di seberang.
“Ok. Terimakasih Mbak.” Ujar Safira
“Apakah Ibu Safira akan ke restauran sekarang?”
“Ehm... nanti mbak, setelah Isya’ ya jam 7 lebih lah...”
“Baik Ibu akan kami tunggu kedatangannya. Terimakasih Ibu Safira. Selamat malam.”
“Malam..” Safirapun meletakkan kembali gagang telepon di tempat semula.
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? Mahasuci nama Tuhanmu pemilik keagungan dan kemuliaan. Dua ayat terakhir surat Ar Rahman menutup tilawahnya. Ditutupnya Al Qur’an kesayangannya dan diletakkannya di atas nakas. Safirapun kembali menunaikan kewajibannya karena sudah masuk waktu Isya’. Setelah salam, kembali ia tengadahkan tangannya beberapa saat merayu Tuhannya dengan doa-doa yang tak pernah dilewatkannya. Mengapa? Mengapa dia selalu saja berdo’a, apakah Safira yakin do’anya akan dikabulkan Tuhannya. Ya, tentu saja dia sangat yakin Allah, Tuhannya akan mengabulkan do’anya. Jikapun bukan yang dia pinta yang dikabulkan, pastilah Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Karena Allah pasti lebih tahu yang terbaik untuknya. Dan bukankah hanya orang sombong yang tak mau menengadahkan tangannya berdo’a pada Penciptanya.
Sekarang Safira telah menggunakan pakaian santai rok jeans dipadukan dengan kaos lengan panjang yang cukup tebal berwarna dominan navi dan hijab berwarna serupa yang terjuntai cantik sepinggang, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih, ini membuatnya terlihat semakin bersinar dengan pantulan cahaya lampu. Diraihnya tas tangan berisi dompet kemudian diraihnya ponselnya dan dimasukkan dalam tas di tangan kirinya. Setelah memastikan barang penting yang harus ia bawa, diapun melangkahkan kakinya menuju pintu kamar karena tak dipungkiri Safira merasakan perutnya sudah menari-nari mengajaknya makan malam saat ini.
Lantai 11, saat ini langkahnya menuju ke restauran di lantai itu. Dikeluarkannya voucher dinner yang bertuliskan namanya. Seorang petugas dengan sigap langsung mengantarnya ke sebuah meja yang....
“Wow...” kata itu yang menggema di dalam hati Safira saat tiba di sebuah meja dalam ruangan VIP. Dari tempatnya saat ini dia bisa melihat gemerlap lampu kota Surabaya lengkap dengan langit malamnya. Mejanyapun sangat cantik dengan hiasan lilin yang membuat suasana sangat romantis. Seketika Safira tersadar, dia edarkan pandangannya ke sekeliling, namun tak dia temukan orang lain di ruangan itu kecuali seorang petugas yang kini sedang berjalan ke arahnya membawa segelas minuman dengan buah lemon di bibir gelas.
__ADS_1
“Tunggu sebentar ya Bu. Sebentar lagi makanan akan siap dan diantar kemari.” Ucap pelayan restauran ramah sambil tersenyum.
Safira hanya mengangguk. Tentu saja karena dia masih terkejut berada di ruang makan VIP, sebelumnya Safira berfikir akan makan bersama banyak orang dengan menu buffet. Tapi nyatanya saat ini dia sendirian dalam ruangan yang sangat romantis seakan ini sudah disiapkan sebelumnya khusus untuk dirinya.
Safira akan menyentuh gelasnya namun urung diminumnya karena dia teringat Reffan.
“Apa Reffan akan kemari?” mengingat Safira terjebak dalam lift bersama dengan Reffan dan tadipun dia bertemu Reffan maka seharusnya Reffan akan makan di tempatnya juga. Sekali lagi Safira mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan lagi dia tidak menemukan siapapun kecuali pelayan restauran yang sedang membawa makanan. Pelayan itu dengan sigap menyusun makanan yang dibawanya di depan Safira yang menatap takjub ke makanan di depannya. Makanan yang ada di depannya jelas adalah hidangan yang istimewa.
“Selamat menikmati Bu. Panggil saja kami jika ada yang ibu butuhkan. Hidangan penutupnya akan kami sajikan nanti tapi jika ibu menginginkannya panggil saja kami.”
“Baik, terimakasih ya!” senyum Safira menghiasai wajahnya.
“Aku tak perlu berlama-lama di sini, mungkin Reffan akan segera datang. Aku tak tahu dia sudah makan di sini atau belum.” Safira berpikir dia harus menghindari bertemu dengan Reffan, dia tak mau berada di ruangan yang sama lagi hanya berdua dengan Reffan seperti di lift saat itu.
Safira tidak menyadari di dalam ruangan lain yang tak jauh dari tempat duduknya seseorang sedang tersenyum menatapnya dari arah samping sambil menikmati hidangan sama persis dengan yang Safira nikmati.
“Sebenarnya aku sedikit kecewa Safira, kamu tidak memakai gaun cantik seperti tadi namun kamu tetap saja cantik Safira walaupun dengan pakaian santai begitu.” Reffan berbicara sendiri tanpa melepaskan pandangan dari sasarannya.
“Sabar sebentar lagi Reffan, tunggu Safira cukup kenyang dulu, dia pasti tak nyaman makan jika kamu terus memandanginya di dekatnya.” Reffan masih berbicara dengan dirinya sendiri. Netranya terus menatap Safira seolah takut targetnya akan menghilang dari pandangannya.
“Sekarang waktunya!” Reffan berdiri kemudian melangkah pergi dari mejanya. Tentu saja dia akan pindah meja.
__ADS_1
Safira baru saja menyelesaikan kunyahan terakhirnya saat seseorang berdiri di sampingnya. Tentu saja Safira terkejut, karena orang tersebut sudah berada di sampingnya padahal sebelumnya Safira tidak mendengar ada langkah kaki mendekat.