Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Kedatangan Mama Raisa


__ADS_3

"Mas aku gak papa. Aku bisa jalan sendiri gak perlu dipegangin kayak gini mas. Malu mas dari tadi dilihatin orang terus." Safira protes dengan sikap Reffan yang terus memeluk pundaknya sementara tangan yang lain menggenggam tangan Safira. Hampir saja Reffan menggendongnya jika Safira tidak cepat menghindar.


"Sudah diam. Aku sedang memegangi anakku. Kamu hati-hati kalau jalan, pelan-pelan aja biar anakku gak jatuh." Reffan malah mengomeli Safira.


Safira melirik kesal tapi saat ini hatinyapun sedang bahagia mendapatkan kesempatan sebagai calon ibu.


Sementara Bayu hanya bisa berjalan pelan di belakang sepasang suami istri. Ingin mendahului tapi tak mungkin akhirnya dia hanya bisa pasrah dengan langkah pelannya.


Setelah sampai di kamar hotel Reffan menyuruh Safira masuk terlebih dahulu. Kemudian Reffan menutup pintu dan berbicara di luar kamar.


"Bagaimana pengunduran diri Safira?" Reffan langsung bertanya pada asistennya setelah pintu tertutup sempurna.


"Saya sudah mendapatkan persyaratannya pak. Jika Bu Safira mundur saat ini ada penalti yang harus dibayar." Bayu menjawab cepat.


"Berapa?"


"Lima puluh juta pak."


Reffan tersenyum.


"Bagaimana pak? Apakah saya mengurusnya sekarang?" Bayu bertanya bingung menerjemahkan makna senyum dari bosnya.


"Tunggu instruksi dariku. Kamu siapkan saja semua persyaratannya." Reffan kembali mendekati pintu kamarnya.


"Baik pak."


Reffan masuk ke kamar membuat lega Bayu yang harus mengekori bosnya sedari tadi dengan langkah siputnya.


"Akhirnya aku bisa meluruskan kakiku." Bayu bergumam sendiri berjalan malas ke arah lift.


.


Reffan baru saja masuk ke kamar dan mendapati Safira yang baru saja melepas jilbabnya. Safira tersenyum ke arah suaminya yang baru saja masuk, pandangannya tertuju pada Reffan yang terus mendekat ke arahnya.


Hup!


"Eh mas." Safira terkejut tubuhnya langsung melayang tak sempat menghindar.


"Aku mau memandikan anakku." Reffan tersenyum jahil.


"Mana ada yang begitu. Anaknya saja belum lahir." Safira cemberut.


Reffan tertawa melangkah semakin dekat ke kamar mandi.


.


Deru kendaraan saling menyahut di jalanan, malam memang sudah menyelimuti Jakarta tapi keramaian jalanan seakan tak pernah tidur. Waktu juga belum terlalu malam, jarum pendek jam baru saja melewati angka delapan dua puluh menit yang lalu. Di sebuah kamar sepasang kekasih halal baru saja merayakan kebahagiaan dengan saling memberi kehangatan. Reffan memperlakukan Safira begitu lembut karena dia juga sangat mencintai anaknya.


"Mas..." Safira memanggil suaminya yang masih asyik bermain-main dengan rambutnya.

__ADS_1


"Hmm.." Reffan hanya berdehem


"Mas, kapan aku boleh kembali ke Surabaya?" Safira masih ndusel di dada suaminya.


"Apa masih perlu ke Surabaya?" Reffan bertanya sambil menciumi rambut istrinya.


"Maksudnya mas?" Safira mendongakkan wajahnya menghadap ke suaminya.


"Apa masih perlu kamu bekerja sayang? Sekarang ada anakku lho di perutmu. Kamu juga pernah pingsan di kantor." Reffan berganti mengusap pipi istrinya bibirnya beralih menciumi wajah istrinya.


"Kan bulan depan aku resign mas." Safira menyuguhkan wajah memelas.


Reffan membuang nafas kasar.


"Jika aku memintamu resign sekarang bagaimana?" Reffan mengangkat dagu Safira memaksa melihat bola matanya.


Safira menghindari tatapan Reffan.


"Bulan depan sebentar lagi mas."


"Kamu menyembunyikan sesuatu?" Reffan mengarahkan wajah Safira untuk melihatnya.


Safira menggeleng.


Reffan tersenyum. Senyum kecewa.


Safira mengerjap mencerna ke arah mana pertanyaan suaminya.


"Apa kamu masih menganggapku orang asing?" Reffan menyederhanakan pertanyaannya.


"Bukan begitu mas. Hanya saja aku..." Safira ragu meneruskan kalimatnya.


"Apa?"


"Aku merasa tak sebanding denganmu." Safira menjawab hati-hati dengan pandangan mata yang tak sanggup melihat suaminya.


Reffan langsung mendorong tubuh Safira membuatnya terlentang dan dia kini sudah mengunci tubuh istrinya.


"Kamu memang harus dihukum. Kenapa bicara seperti itu?" Setelah berucap Reffan langsung menenggelamkan kepalanya di dada sang istri menggigit bergantian di kedua sisi.


"Auww... mas..." Entah teriakan atau ******* yang keluar dari mulut Safira.


Reffan menghentikan penyerangan saat ada yang mengetuk pintu kamar. Hanya sejenak, kemudian penyerangan di lanjutkan kembali. Tapi lagi-lagi orang yang mengetuk pintunya tak mau menyerah. Dengan kesal Reffan bangkit dari atas tubuh Safira.


"Siapa yang berani mengetuk pintu malam-malam begini." Reffan bersungut beranjak mengambil pakaian di dalam lemari. Suara ketukan pintu masih terdengar.


"Jangan kemana-mana! Hukumanmu belum selesai." Reffan memberi perintah dengan sorot mata tajam sambil memakai kaos yang baru saja diambilnya.


Safira mematung hanya menarik selimut menutupi tubuhnya kemudian mendekapnya.

__ADS_1


Reffan terkejut saat melihat siapa yang datang. Dibukanya pintu, baru saja pintu terbuka seorang wanita cantik paruh baya langsung menerjang masuk.


"Kenapa lama sekali? Kamukan janji setelah Safira selesai pelatihan akan pulang ke rumah. Kenapa malah menginap di hotel? Ditelpon gak diangkat, mama sampai harus menghubungi Bayu. Safira pingsan kok malah diajak ke sini harusnya dari rumah sakit langsung pulang ke rumah." Mama Raisa sudah menyerang dengan ribuan kata begitu masuk ke dalam kamar.


Papa Rendra hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya saat Reffan meliriknya.


"Safira mana? Kenapa dia pingsan?" mama Raisa langsung melangkah mencari keberadaan menantunya.


Safira panik. Dia bingung harus melakukan apa, tubuhnya hanya ditutupi selimut tebal. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam selimut menyembunyikan seluruh tubuhnya di sana termasuk rambutnya.


"Mamama tunggu..." Reffan mencegah tapi terlambat mama Raisa sudah melangkah cepat menuju arah ranjang.


"Astaga.. Reffaaaan....!" Mama Raisa membelalakkan matanya melihat lantai yang berserakan handuk. Saat matanya menatap ranjang dia melihat gundukan di dalam selimut. Siapa lagi di sana jika bukan Safira yang menyembunyikan dirinya.


Mama Raisa menghujani Reffan dengan cubitan di pinggangnya.


"Safira baru saja pingsan sudah kamu obrak-abrik." Mama Raisa terus mencari celah untuk mencubit pinggang Reffan, tak menemukan celah berganti sasaran ke lengan Reffan. Sementara papa Rendra sudah duduk di sofa dengan nyaman sambil tertawa menikmati adegan ibu dan anak di depannya.


"Auw ma.. mama apaan sih." Reffan meraba bekas cubitan mamanya.


"Kamu ini yang apaan."


Reffan langsung memeluk mamanya agar tidak bisa mencubitinya lagi. Dan mengarahkan mamanya untuk duduk di sofa.


Mama Raisa akhirnya mau duduk di sebelah papa Rendra.


"Safira kenapa pingsan? Dan kamu, sudah tahu istrinya baru aja pingsan malah...." Mama Raisa masih ingin mengomel tapi telunjuk Reffan sudah di depan bibir mamanya.


"Sssttt... mama tenang dulu dong. Tadi mama telpon Bayu? Bayu bilang apa sama mama?" Reffan bertanya setelah mamanya diam.


"Kata Bayu Safira pingsan di ruang pelatihan. Kalian membawanya ke rumah sakit kemudian Bayu mengantar ke hotel lagi. Kenapa gak pu...?" Cerita mama Raisa dihentikan lagi oleh Reffan.


"Bayu belum bilang kenapa Safira pingsan?" Reffan bertanya lagi.


"Belum..." Mama Raisa menjawab cepat


Reffan tersenyum dia membetulkan duduknya menyandarkan tubuhnya dengan nyaman.


"Ih, malah senyum-senyum. Safira kenapa?" mama Raisa menarik lengan Reffan dan berusaha menebak yang terjadi.


Wajah mama Raisa mendekat ke telinga Reffan.


"Safira hamil?" mama Raisa berbisik di telinga Reffan.


Reffan mengangguk tetap dengan wajah tersenyum bahagia.


"Ah.... kita akan punya mainan baru pa." mama Raisa menghambur memeluk papa Rendra bahagia. Namun dua detik kemudian mama Raisa kembali duduk menghadap putranya.


"Safira akan tinggal di Jakarta kan?"

__ADS_1


__ADS_2