
Terimakasih atas dukungannya di novel Jodoh Berawal dari Mimpi..
Author lagi garap novel Jejak di Pipi Membekas di Hati. Mampir dan mohon dukungannya ya teman-teman..😉
❤
Bagaimana perasaanmu jika orang yang kamu benci berada di depanmu setelah dia mengucapkan akad nikah atas namamu?
Kirania Putri Kamaniya sangat membenci Devan yang merupakan kakak kelas dua tingkat di atasnya saat masih memakai seragam putih abu-abu. Dia sama sekali tak menyangka jika Devan adalah Naufal Satriya Devanka. Laki-laki yang telah melamar Kiran melalui kedua orangtuanya.
.
.
__ADS_1
"Kiran Kiran kamu tidak berubah... kamu meninggalkan aku dan malah asyik tidur memeluk gulingmu. Bagaimana bisa kamu tidak peduli padaku di saat para wanita di luar sana berebut perhatianku?"
"Lalu mengapa kamu menikahiku bukan menikahi salah satu pemujamu?"
"Aku tidak suka ditolak, dan kau sudah menolakku jadi aku harus mendapatkanmu." Nada bicara Naufal berubah serius dengan tatapan menusuk jantung Kiran.
Mata Kiran sudah berkaca-kaca, dia terbenam dalam pemikirannya sendiri bahwa Naufal menikahinya karena dulu dia menolaknya dan kini Naufal ingin balas dendam padanya. "Pernikahan seperti apa yang akan aku jalani?" Kiran mengeratkan pelukan gulingnya sementara Naufal meninggalkannya menuju kamar mandi.
Naufal keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah. "Kita adalah pengantin baru, jadi bersikaplah selayaknya pengantin baru."
"Kemarilah, bukankah tadi sudah kukatakan bersikaplah seperti pengantin baru." Naufal menepuk kasur di sebelahnya.
__ADS_1
Kiran yang melihatnya justru memilih duduk di sofa di samping ranjang.
"Mari kita buat kesepatan, aku tahu anda kesal pada saya karena kejadian dulu tapi anda harus tahu kekesalan saya pada anda ribuan kali lipat lebih besar." Kiran mulai bicara, dia tidak ingin menjadi orang yang tertindas dan dirugikan dalam pernikahannya ini.
"Tidak ada kesepakatan apapun, pernikahan ini akan berjalan sesuai dengan keinginanku dan kau Kiran harus patuh pada suamimu ini." Naufal menatap Kiran dengan tatapan tajam yang jelas membuat Kiran tak berkutik. "Lakukan kewajibanmu sebagai seorang istri dan aku akan lakukan kewajibanku sebagai seorang suami." Naufal jelas tak ingin kata-katanya dibantah oleh Kiran karena sejak dulu dia tak pernah mendapat penolakan, hanya Kiran yang berani menolaknya. Dan saat ini dengan statusnya sebagai suami Kiran jelas Naufal tak ingin ada penolakan sekecil apapun dari Kiran.
Tubuh Kiran meremang mendengar kata-kata Naufal dia sudah membayangkan apa yang dimaksud Naufal dengan kewajiban antara suami istri. Kiran tak pernah dekat dengan laki-laki manapun, dan sekarang berada sekamar dengan seorang pria saja sudah membuat jantungnya berdebar tak karuan apalagi perkataan tentang suami istri yang baru dikatakan Naufal padanya.
"Aku hanya ingin istirahat sebentar, nanti malam pasti melelahkan."
"Nanti malam... apa maksudnya...."
"Maksudku resepsi akan melelahkan menyambut para undangan." Naufal sudah tak tahan melihat wajah Kiran yang memerah, dia yakin pikiran Kiran sudah berkelana membayangkan hal lainnya. Wajah Kiran bertambah merah karena malu mendengar yang diucapkan Naufal.
__ADS_1