
Safira langsung menggenggam tangan Reffan karena kuatir ada nada tinggi yang keluar dari lisan suaminya.
Pramusaji yang melihat genggaman tangan di depannya segera menunduk dan pergi.
"Kalau memanggilmu kak bukankah seharusnya memanggilku bang. Apa usia kita benar-benar terlihat berbeda jauh?" Wajah Reffan terlihat jelas sedang kesal.
Safira tersenyum mendapati wajah suaminya yang menggemaskan karena kesal. Lucu sekali melihat Reffan merajuk seperti saat ini.
"Bukankah laki-laki suka dihormati? Panggilan pak menandakan orang tersebut menghormati laki-laki itu. Bukankah semua karyawan mas juga memanggil mas Reffan dengan panggilan itu karena menghormati mas Reffan yang merupakan atasan mereka. Sedangkan perempuan selalu ingin terlihat muda, mereka lebih sensitif dengan panggilan yang menyiratkan usia maka mereka akan lebih suka dipanggil kak daripada bu bahkan ada yang tersinggung karena belum menikah sudah dipanggil bu. Jadi sebelum mereka para wanita uring-uringan ribuan kata maka orang lebih senang memanggil kak pada mereka yang terlihat masih muda." Safira mengungkapkan pendapatnya entah teori darimana tapi itulah yang muncul di benaknya untuk menenangkan suaminya.
Reffan nampak berpikir kemudian manggut-manggut.
"Apa benar begitu?" Reffan menatap tajam Safira yang sedang meminum air kelapa muda.
Safira mengangguk mantap. Reffanpun ikut menikmati kelapa muda di depannya kemudian tangannya membalas genggaman tangan Safira.
Sementara dua orang yang menguping pembicaraan mereka hanya senyum-senyum sendiri menundukkan kepalanya.
.
Menjelang sore Safira dan Reffan masuk ke kamar penginapan. Begitu pula dengan Bayu dan Tama.
Bayu dan Tama bernafas lega akhirnya malam ini indra pendengaran mereka tidak menangkap polusi udara suara sepasang suami istri yang sedang kasmaran karena kamar hotel kedap suara.
"Akhirnya tidur di kasur nyaman tanpa polusi udara." Suara Bayu sambil menjatuhkan diri ke sofa empuk.
"Alhamdulillah telinga dan hatiku aman malam ini." Suara Tama yang langsung telungkup di kasur.
Dua orang yang menikmati kesendirian mereka di kamar yang berbeda sedang mensyukuri keadaan mereka saat ini.
.
Setelah mengunci pintu kamar Reffan langsung ke kamar mandi mengecek air panas dan keberadaan hair dryer.
"Aman!" Reffan tersenyum keluar dari kamar mandi.
"Aman apa mas?" Safira yang menata barang-barang menoleh ke suaminya.
"Air hangat lancar, hair dryer nyala. Kamu bisa mandi kapanpun tanpa merebus air." Reffan tersenyum penuh makna.
Di rumah yang ditempatinya memang tidak ada water heater karena daya listriknya tidak cukup jika dipasang water heater. Reffan seringkali merebuskan air untuk Safira jika harus mandi saat langit masih gelap karena tak ingin anak dan istrinya kedinginan.
Safira menyembunyikan senyuman dan kembali menata perlengkapan yang dibawanya tapi kemudian berjingkat terkejut karena Reffan sudah ada di belakangnya melingkarkan tangan di tubuhnya.
"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Reffan yang semakin erat memeluk Safira.
"Gak papa mas. Mas lucu." Jawab Safira yang masih tersenyum.
"Kok lucu sih?" Reffan membalik tubuh istrinya.
"Iya, hari ini mas gemesin." Jawab Safira sambil mencubit pipi Reffan.
"Kamu yang gemesin!" Tanpa aba-aba Reffan sudah mengangkat tubuh istrinya menuju kasur.
"Mas, aku mau mandi." Safira hendak duduk tapi direbahkan kembali oleh Reffan. "Sudah sore mas."
__ADS_1
"Sebentar saja, mandinya sekalian. Suka kan?" Reffan mulai menggoda istrinya merapatkan tubuhnya dengan tangan yang sudah menjelajah kemana-mana.
.
Angin laut menerpa wajah mereka, ditambah suara gulungan air yang saling mengejar. Di langit, bulan nampak begitu sempurna paling bersinar di kelamnya malam. Reffan dan Safira sedang di balkon hotel menikmati bermandikan sinar bulan yang menyapa lembut di awal malam.
"Aku mencintaimu Safira. Semakin hari cinta ini selalu bertambah. Jadi bertanggung jawablah karena telah membuatku mabuk berada di sisimu." Ucap Reffan di depan wajah Safira.
Safira yang awalnya tersenyum bahagia, langsung berubah manyun mendengar kalimat terakhir yang diucapkan suaminya.
Reffan tergelak, kemudian dengan kasar menyambar bibir Safira semakin lama semakin dalam membuat tubuh Safira yang awalnya berdiri kokoh melemah tak berdaya.
"Angin malam tak baik untukmu dan anak kita." Reffan melepas ciumannya mengusap pipi Safira dengan ibu jarinya. "Aku yang baik untukmu dan anak kita karena akan memberikan kehangatan untuk kalian." Reffan sudah tersenyum dengan netra yang siap memangsa.
Safira mendorong suaminya kemudian berlari kecil masuk ke dalam kamar dengan wajah merona. Namun selalu saja dia berlari ke tempat kesukaan Reffan.
Reffan menutup pintu balkon hampir bersamaan dengan dua orang yang juga menutup pintu balkon perlahan, bahkan sebelum benar-benar membukanya. Tadinya mereka ingin menikmati angin malam sebentar di balkon setelah makan malam tapi ternyata letak kamar mereka yang berada di kanan dan kiri kamar Reffan membuat indra pendengaran mereka tercemari. Dua orang tersebutpun mengurungkan niatnya untuk menikmati angin malam berhias deburan ombak dan pancaran sinar rembulan. Mereka lebih memilih masuk kembali ke dalam kamar kedap suara.
.
Safira yang mual membuat panik tiga orang pria. Wajah ketiganya sudah tegang karena Safira baru saja memuntahkan isi perutnya setelah makan siang mereka di sebuah restauran saat perjalanan pulang. Kini mereka ada di pinggir jalan setelah Safira meminta Tama menepikan mobilnya. Safira merasa lebih lega sekarang, berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-parunya.
Tadi saat baru saja selesai makan, indra penciumannya menangkap aroma yang mendadak membuat perutnya seperti diaduk-aduk. Aroma petai menusuk tajam indra penciumannya padahal bagi orang normal tak ada masalah.
"Mas aku mual bau petai." Safira berbisik di dekat telinga Reffan. Mata Reffan langsung mencari sumber penderitaan istrinya.
"Kita ke mobil ya sayang!" Reffan langsung memapah istrinya yang menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangannya.
Tama dan Bayu saling berpandangan kemudian Bayu dengan cepat membayar makanan mereka sementara Tama segera berlari ke mobil untuk menyalakan mesin dan ac-nya.
Safira berusaha menahan mualnya tapi tak juga berhasil kemudian meminta Tama meminggirkan mobil. Di sinilah ketiga pria terlihat panik tak tahu harus melakukan apa.
"Air air.." Reffan berteriak lagi. Bayu yang tangannya kosong segera kembali ke mobil, tangannya bergerak kasar mencari botol air mineral.
"Minum dulu sayang!" Reffan membukakan botol air minum dan mengulurkan pada Safira setelah mengusap bibi Safira dengan tissue. Safira meminumnya sedikit kemudian mengembalikan pada Reffan. "Bagaimana keadaanmu sayang?"
"Sudah enakkan mas." Jawab Safira lemah.
Reffan membantunya naik kembali ke mobil. Dua orang yang tadi terlihat panik sudah ikut lega sekarang.
"Kamu makan lagi ya?" Reffan memeluk bahu Safira agar istrinya bersandar pada tubuhnya.
Safira menggeleng. "Nanti saja mas, perutku masih tak nyaman."
Tama menatap Reffan seolah bertanya dia harus menyetir kemana sekarang.
"Jalan pulang saja dulu!" Ucap Reffan
"Baik pak." Tama mengangguk dan segera melajukan mobilnya.
Mata Safira perlahan terpejam, diapun tertidur selama perjalanan. Reffan memeluknya erat seakan ingin menyalurkan energi yang dimilikinya.
Mata Safira baru terbuka setelah mobil memasuki perkampungan penduduk di sekitar rumah yang mereka tinggali.
Mata indahnya menangkap seorang wanita yang duduk terjatuh di halaman rumahnya sambil menangis menatap kue-kue yang berserakan di depannya.
__ADS_1
"Pak Tama tolong berhenti dulu! Mas aku turun sebentar ya. Kasihan ibu itu." Safira menunjuk wanita paruh baya dengan pandangannya.
Safira turun dari mobil mendekat ke arah wanita yang masih menangis menatap kue-kue yang menempel di tanah. Reffan ikut turun juga mengawasi istrinya dengan menjaga jarak.
Suara sesenggukan wanita berjilbab itu begitu miris di telinga Safira. Safira bisa menerka apa yang terjadi, sepertinya kue-kue itu adalah dagangan si ibu yang jatuh berserakan sebelum sempat dijual.
"Bu.." Safira berjongkok di samping sang ibu.
Ibu itu terkejut ada orang asing yang melihatnya.
"Ibu memang tidak berguna, hanya merepotkan saja. Dan sekarang ibu sudah menjatuhkan gorengan yang akan ibu jual. Ibu memang tidak berguna." Terdengar suara di sela-sela isak tangisnya.
Safira menggeleng kemudian menyentuh lengan si ibu.
"Tak apa bu. Ibu tak sengaja menjatuhkannya. Mari bu saya bantu bangun." Ucap Safira lembut.
Tangan si ibu berusaha mengambil lagi makanan yang sudah terkontaminasi dengan tanah.
"Biar saya yang bereskan bu." Ucap Safira lagi.
"Tidak nak, setidaknya ini masih bisa ibu makan." Jawab ibu itu yang mulai mereda isakan tangisnya.
"Jangan bu! Biar saya yang membelinya tolong ibu jangan memakannya." Safira menatap kue-kue yang beberapa di antaranya bahkan sudah berselimut tanah. "Mari saya bantu masuk ke rumah. Jangan pikirkan kue-kue itu lagi." Safira sedikit memaksa ibu itu untuk berdiri. Tangannya memeluk kedua bahu si ibu dari belakang.
Safira membantu si ibu duduk di ruang tamu rumahnya, mengusap lembut tangannya yang keriput. Kemudian tangannya membuka tasnya mengambil beberapa lembar uang berwarna merah meletakkan di meja di depannya.
"Tidak nak, jangan!" Ibu itu menarik tangan Safira yang hampir menyentuh meja.
"Tak apa bu. Ini rezeki ibu hari ini dari Allah." Ucap Safira lembut.
Ibu itu kembali terisak sambil membungkuk.
Sementara Reffan memutuskan menunggu di mobil bersama Tama dan Bayu membiarkan Safira mengobrol dengan ibu tadi.
"Ibu tidak berguna tidak bisa memberikan kebagiaan pada anak ibu. Ibu sudah berusaha sekuat yang ibu bisa, ayahnya meninggal saat dia masih kecil. Sungguh, ibu sudah berusaha." Si ibu bercerita sambil terisak.
"Ibu memang salah tak bisa memberikan apa yang dia mau. Seharusnya dia tidak lahir sebagai anak ibu mungkin dia akan lebih bahagia." Ibu itu melanjutkan bercerita lagi.
Ada yang sesak di dada Safira mendengar penuturan wanita di depannya. Safira hanya diam dengan tangan yang masih mengusap lembut tangan si ibu.
"Apalagi ibu sekarang sudah tua, hanya bisa merepotkan saja." Semakin lemah suara si ibu.
Kini netra Safira memanas.
"Demi Allah ibu sudah berusaha sekuat tenaga nak. Ibu bekerja keras untuk menyekolahkannya hingga universitas, ibu juga tak ingin dia hidup susah seperti ibu." Suara ibu kembali terdengar menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Anak ibu laki-laki atau perempuan?" Safira bertanya hati-hati.
"Perempuan nak. Dia selalu menyalahkan ibu karena lahir sebagai anak ibu yang kekurangan. Ibu tak bisa selalu menuruti keinginannya. Dia harus bekerja saat masih kuliah agar bisa lulus, karena ibu jatuh sakit dan malah merepotkannya. Ibu memang tidak berguna." Suara si ibu kembali melemah.
"Astaghfirullah." Sekarang bertambah rasa perih di hati Safira. "Jangan berkata begitu bu! Tidak baik. Saya percaya ibu sudah berusaha melebihi kekuatan ibu."
Ibu itu mengangguk dengan isakan yang masih bisa terdengar.
"Ada banyak hal yang luput dari penglihatan kita. Hal-hal yang bisa membuat kita bersyukur." Safira mencoba menenangkan si ibu.
__ADS_1
Namun mereka berdua dikagetkan dengan suara wanita yang wajahnya tak asing di mata Safira.
"Mudah bagimu mengatakan itu karena tak pernah merasakan menjadi kami." Suara sinis yang membuat kedua orang di depannya terkejut.