Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Bersyukur


__ADS_3

Safira terkejut melihat Bella berdiri di pintu. Ibunya Bellapun tak kalah terkejutnya.


Safira berusaha tersenyum ke arah Bella.


"Nak kamu sudah pulang?" Ibunya tersenyum ke arah Bella. "Kamu pasti lelah!"


"Jika aku punya tempat lain untuk tinggal aku tak mungkin pulang ke sini. Tentu saja aku lelah, aku bukan putri dari orang kaya raya." Bella masuk ke ruang tamu berdiri di depan Safira hanya terpisah oleh sebuah meja.


"Dan kau nyonya Reffan, tak perlu mengatakan apapun di sini. Kehidupanmu hanya tinggal menikmati harta suamimu. Jangan membual soal bersyukur, apa kamu mau bertukar peran menjadi diriku?" Bella menatap Safira sinis.


Sementara ketiga pria yang menyaksikan Bella masuk ke rumah sudah bisa menebak jika itu pasti rumah Bella. Mereka bertiga mulai menerawang apa yang akan terjadi.


"Apa bu Safira akan baik-baik saja." Tama tidak kuat untuk tidak berbicara.


"Pasti baik-baik saja. Bu safira bisa bertahan melawan dua pria apalagi hanya satu wanita seperti Bella." Bayu yang sebenarnya juga risau memantapkan jawabannya.


Reffan tentu saja juga gelisah, mana mungkin dia tidak memikirkan istrinya yang sedang hamil. Tapi di sudut kecil hatinya ada keyakinan bahwa Safira bisa menyelesaikan ini.


Lima detik..sepuluh detik.. dua puluh detik.. tiga puluh detik... masih hening tak ada suara di antara ketiga pria yang sebenarnya cemas.


Enam puluh detik...


"Bukankah kita sebaiknya melihat apa yang terjadi di sana." Tama mulai tak bisa menahan diri untuk diam saja.


"Apa kita tidak akan mengganggu para wanita di sana atau malah membuat Bella emosi melihat kedatangan kita?" Bayu mulai memikirkan akibatnya.

__ADS_1


Bayu dan Tama memutar kepala untuk melihat bosnya yang masih belum mengatakan apapun.


"Kita lewat halaman rumah sebelah, berjalan pelan jangan sampai terlihat. Kita dengarkan dari balik dinding apa yang terjadi di dalam. Jangan sampai terlihat dari jendela." Reffan berbicara menggebu.


Bayu dan Tama sampai melongo menatap Reffan.


"Kalian dengar tidak?" Reffan sudah meninggikan suaranya karena tidak direspon kedua orang di depannya.


"Iya pak setuju." Bayu dan Tama menjawab cepat.


"Ingat jangan membuat keributan di rumah warga." Reffan berucap lagi.


"Siap." Bayu dan Tama kembali menjawab bersamaan.


.


Safira masih tersenyum. Agaknya ibunya Bella juga terkejut Bella mengenal Safira dan menyebutnya nyonya Reffan. Apa wanita cantik di sebelahnya adalah istri dari pemilik resort yang akan dibangun di dekat tempat tinggalnya.


"Pertanyaan bodoh macam apa itu?" Safira menatap Bella yang juga menatapnya dengan pandangan tajam dan kesal.


"Apa kamu pikir aku mau ibuku dihina oleh anak sepertimu? Aku juga jelas tak mau adekku mempunyai kakak yang tidak bisa memberikan contoh yang baik untuknya. Dan lagi, mana mungkin aku mau kau mengambil posisiku sebagai istri mas Reffan. Aku mencintai semua keluargaku, aku bersyukur dengan posisiku saat ini." Safira tegas menjawab.


"Tentu saja kamu bersyukur, mana ada istri pengusaha kaya tidak bersyukur. Jika kau di posisiku, apa yang pantas kusyukuri? Aku sudah yatim sejak kecil, ibuku hanya bisa menyekolahkanku dan memberiku makan itupun tidak sampai kelulusan S1 ku. Aku harus berjuang antara kuliah dan mencari uang. Tubuhku rasanya remuk setiap malam. Dan itu terus berulang setiap hari. Bahkan weekend aku harus tetap bekerja karena pengunjung cafe akan lebih ramai. Apa yang bisa aku syukuri nyonya Reffan, sampai saat inipun aku harus bekerja keras tapi tak juga bisa keluar dari rumah ini."


Ibunya Bella kembali terisak. Sakit sekali Safira melihatnya, bukan karena kata-kata Bella melainkan karena airmata yang keluar dari sudut mata ibunya.

__ADS_1


"Kau bertanya padaku? Akan aku jawab, dengarkan baik-baik dan buka hatimu karena begitu banyak yang luput dari rasa syukur kita. Bersyukurlah saat pagi kau membuka mata kau ternyata masih menghirup udara bebas, tidak ada selang oksigen di hidungmu, kau masih bisa menggerakkan tubuhmu. Bersyukurlah kamu masih bisa melihat bayangan alis di depan cermin melihat hasil lukisan pensil alismu simetris atau tidak. Bersyukurlah tanganmu masih bisa membasuh tubuhmu dan membersihkan bagian tubuhmu setelah buang hajat. Bersyukurlah kakimu masih bisa memakai sepatu high hells." Safira berhenti berucap, netranya memanas.


"Kamu masih punya mata sehingga tak perlu meraba dan menggunakan buku khusus untuk membaca, kamu masih punya tangan yang bisa kamu gunakan untuk menikmati makanan di depanmu, kamu punya kaki yang ringan berjalan kemana saja tanpa tongkat penyangga apalagi kursi roda. Sementara banyak yang jauh lebih tak beruntung dari kita. Mengambil barang dan berjalan dengan meraba karena hanya kegelapan yang dia lihat. Makan dengan kakinya karena dia tak tahu rasanya mempunyai tangan. Berjalan dengan bantuan alat penyangga karena kakinya tak normal seperti kita." Safira menitikkan air mata kata-katanya bukan hanya untuk Bella tapi juga untuk dirinya sendiri, mengingatkan kembali pada rasa syukur yang seringkali terlalaikan begitu saja.


Bella menunduk. Kesal dicerami Safira tapi sejujurnya hatinya yang keras mulai tertembus cahaya.


"Aku juga ingin merasakan seperti mereka yang bergelimang harta. Bahagia memiliki apapun, dihormati oleh siapapun." Lirih Bella mengungkapkan isi hatinya.


"Jika kekayaan menjadi tolak ukur kebahagiaan. Mengapa ada orang kaya yang stres sampai terjerumus memakai barang haram? Jika kekayaan adalah ketenangan, mengapa ada orang kaya yang keluarganya hancur berantakan? Jika kekayaan adalah tujuan, mengapa setelah orang tersebut kaya masih sibuk mencari cara haram untuk menambah kekayaannya? Jika kekayaan adalah kehormatan, mengapa justru hartanya menjatuhkannya ke tempat tidak terhormat di dalam penjara?"


Bella menatap Safira, wanita cantik yang menutup auratnya tapi tetap memukau penampilannya.


"Jika kita terpaksa harus menangis di dunia maka pastikan kita tidak akan menangis di akhirat kelak. Karena setelah kita berpisah dengan jasad kita, kita tidak akan bisa kembali untuk memperbaiki perbuatan kita di dunia." Safira menatap netra Bella. Sejujurnya dia kasihan pada Bella.


Mata Bella sudah berkaca-kaca tapi dia mengerjap untuk menahan cairan agar tak luluh di depan Safira.


"Maaf saya banyak bicara. Saya bukan merasa lebih baik dari kamu. Tapi saya hanya tak tahan ada seorang ibu yang menangis karena anaknya. Jika ibumu hanya memikirkan dirinya, aku yakin ibumu sudah menikah lagi dulu. Ibumu memang sudah tua tapi aku bisa melihat sisa-sisa kecantikannya dulu yang dimakan kerja kerasnya karena membesarkanmu."


Tubuh ibunya Bella bergetar, apa yang dikatakan Safira mengingatkannya lagi pada kejadian puluhan tahun yang lalu.


Bellapun menangis terduduk, masih diingatnya saat dirinya berusia delapan tahun, ibunya menolak lamaran seorang duda kaya dengan seorang putra yang tertarik padanya. Ibunya menolaknya karena takut anaknya mempunyai bapak tiri dan saudara tiri laki-laki.


"Saya permisi, sekali lagi maaf, saya terlalu banyak bicara." Safira mengusap lembut tangan ibunya Bella kemudian berdiri untuk keluar rumah.


"Nak, siapa namamu?" Ibunya Bella bertanya dengan sisa isak yang masih jelas terlihat.

__ADS_1


__ADS_2