
Safira masuk ke kamar hotel yang sepi karena Reffan masih belum kembali. Safira memutuskan untuk membersihkan diri agak lama menikmati air hangat yang menyentuh kulitnya mengusir lelah setelah seharian bekerja. Kini dia duduk bersandar di sofa dengan nyaman sambil mendengarkan murotal dari ponselnya.
Sejak siang tadi tubuhnya terasa lemas, beberapa kali terasa mual tapi tidak sampai muntah. Safira mengatur pernafasannya untuk mengurangi mual yang tiba-tiba muncul. Suasana yang nyaman membuat mata lelahnya terpejam terbuai ke alam mimpi.
Ada yang mendarat di wajahnya. Ciuman bertubi-tubi dari seorang yang dirindukan seharian ini membuat bibirnya tersenyum sebelum membuka mata.
"Mas sudah pulang? Maaf aku ketiduran. Mas juga sudah mandi ya?" Safira bangun menegakkan tubuhnya.
Reffan tersenyum dan masih sempat mengecup bibir istrinya cepat.
"Kamu lelah? Sebentar lagi magrib dilanjut nanti ya tidurnya." Reffan mengecup puncak kepala istrinya. "
"Iya mas." Safira menjatuhkan tubuhnya ke tubuh suaminya, memeluk erat tubuh suaminya.
Reffan tersenyum membalas pelukan Safira.
"Apa hari ini baik-baik saja?" Reffan bertanya dengan masih memeluk istrinya.
"Iya mas, semuanya baik." Safira menjawab cepat membuat Reffan tersenyum lega.
.
Seorang wanita masih di depan meja memeriksa laporan keuangan perusahaan keluarganya. Selama ini suaminya yang menerima laporan dan mengelola keuangannya. Namun tadi siang orang kepercayaan keluarganya menelpon Audri mengatakan bahwa keuangan perusahaan sedang diambang sekarat.
"Dana yang diminta bapak terlalu besar Bu. Maaf jika saya menghubungi ibu, tapi kondisi sekarang sedang tidak baik bu dikarenakan perkebunan di sini banyak yang rusak terkena angin kencang.
Sudah tiga kali ini bapak meminta jumlah uang yang cukup besar totalnya hampir 5 Milyar dalam dua tahun terakhir ini. Bapak bilang untuk membeli properti."
"Berani kamu mas bermain di belakangku. Bahkan kamu tak mengatakan membeli apapun padahal itu berasal dari perusahaan keluargaku." Audri menangis meremas print out laporan keuangan dua tahun terakhir.
Tangannya bergerak membuka email di laptop yang biasa digunakan suaminya di rumah. Beruntung email suaminya dalam keadaan terbuka. Dibukanya satu per satu email yang bisa memberinya bukti. Ada tiga buah apartemen yang telah dibeli suaminya, entah jika ada lagi yang luput dari penelitiannya.
"Satupun aku tak tahu mas. Bodohnya aku selama ini dan baru sekarang mataku terbuka."
__ADS_1
.
Pagi yang indah menyambut hari ini. Semuanya indah, langit yang cerah dengan sinar hangat mentari, sarapan berdua dengan kekasih hati yang masih sempat mencuri ciuman ke bibir istri, bekerja diantar suami dan dihadiahi ciuman hangat di pipi membuat wajah Safira bersinar bahagia berjalan memasuki kantornya. Senyumnya yang ramah merekah pada orang yang dilaluinya bahkan pada cleaning servis yang masih belum selesai menyelesaikan tugasnya membersihkan lantai.
Di dalam hatinya berharap hari ini akan lebih indah dari kemarin. Semoga pekan terakhir bekerja menjadi kenangan indah yang masih ingin diingat suatu hari nanti.
"Saya tunggu di ruangan saya sekarang." Fairuz menghampiri mejanya bahkan sebelum Safira menduduki kursi kerjanya.
Ira dan Bagas menatapnya dari jauh dengan cemas. Safira tersenyum menatap dua sahabatnya bergantian seolah mengatakan dia akan baik-baik saja.
"Kamu pandai sekali berpura-pura sayang." Fairuz mengatakan hal menjijikkan sesaat setelah Safira menutup pintu.
Mendadak perutnya seperti diaduk, mual, Safira mengatur nafasnya mengurangi rasa yang tak nyaman di hati dan perutnya. Sorot matanya menatap tajam dengan pandangan benci pada laki-laki yang kini berdiri dari kursinya berjalan pelan ke arahnya.
"Laki-laki mana yang membookingmu? Kau pikir aku tak sanggup memberikan semua fasilitas itu jika kau menjadi wanitaku?"
Pahit, ludahnya terasa pahit dan susah untuk ditelan. Jari-jarinya saling meremas di samping tubuhnya. Sudah tidak ada lagi sorot mata hormat pada atasannya yang ada hanya kebencian yang menyesakkan dadanya.
"Jangan jual mahal Safira. Aku sanggup meladenimu." Fairuz berbisik di dekat telinga Safira yang matanya sudah berkaca-kaca sekarang.
Dengan keras Safira memukul tangan Fairuz membuat tangan laki-laki itu lepas dari lengannya. Dengan cepat Safira keluar dari ruangan Fairuz berjalan cepat ke kamar mandi.
Safira muntah hebat di kamar mandi. Semua sarapan yang dimakannya dengan gembira dari tangan suaminya keluar tak bersisa malah kini menyisakan rasa pahit di pangkal lidahnya.
Tubuhnya lemas sekarang tapi dadanya masih panas entah karena baru saja muntah atau karena amarah yang tertahan.
"Fir..." Ira sudah memegang bahunya sekarang.
"Ra... terimakasih." Pelan sekali suara yang keluar dari bibir Safira.
"Kita ke kantin?" Ira bertanya cemas
Safira menggeleng. Saat ini dia tak ingin makan atau minum. Hanya bayangan Reffan yang sejak tadi ada diangannya.
__ADS_1
"Kita duduk dulu. Aku kuatir kamu pingsan."
Safira mengangguk. Ira membantunya berjalan ke ruangannya. Saat akan masuk ruangannya Safira melepas genggaman Ira di bahunya.
"Aku baik-baik saja Ra. Terimakasih." Safira tersenyum padahal bibirnya pucat. Dia tak ingin teman-teman yang lain menanyainya saat melihat Ira membantunya.
Safira sudah duduk. Bagas datang membawa secangkir minuman hangat.
"Minumlah." Setelah meletakkan cangkir di depan Safira dia kembali ke mejanya. Tadi dia bersama Ira dan mendengar Safira yang muntah-muntah saat Ira membuka pintu kamar mandi. Bagas kembali ke ruangan membuat secangkir susu jahe instan untuk Safira. Setelah memberikannya pada Safira, dia kembali ke mejanya karena saat ini ada hati Ira yang harus dijaganya. Bagaimanapun Safira adalah perempuan yang sanggup membuat Ira cemburu.
"Minum dulu Fir." Ira menyodorkan minuman yang diletakkan Bagas untuk sahabatnya.
Safira meneguknya perlahan. Aroma khas jahe membuat rasa mualnya berkurang perutnya lebih nyaman sekarang.
"Kembalilah ke mejamu Ra. Aku sudah lebih baik. Terima kasih banyak, kamu dan Bagas sahabat yang sangat baik. Semoga kalian bahagia." Safira tersenyum menyentuh lembut tangan Ira.
Ira tertegun, terkejut dengan perkataan Safira apalagi melihat senyum Safira yang seolah tahu tentang dirinya dan Bagas padahal Ira belum sempat mengatakannya.
Ira tersenyum. Safira adalah pribadi yang peka, dan itu yang membuatnya ringan menolong orang.
.
Di ruangannya Fairuz mengeram mendapati Safira yang masih keras kepala. Pikirannya hanya dipenuhi cara mendapatkan Safira, dia sangat ingin menyalurkan hasratnya kepada Safira apalagi istrinya berubah dingin padanya akhir-akhir ini.
Di ruangan lain Bu Dar baru saja membuka CCTV hari ini kemudian memindahkan beberapa menit rekaman hari ini dan mengirimkan pada seseorang di kantor pusat. Dipandangnya surat pengunduran diri milik salah satu karyawati.
Kini Safira berada di ruangan Bu Dar, sesaat tadi Safira dipanggil ke ruangannya. Safira yang sudah merasa jauh lebih baik kondisinya segera masuk ke ruangan Bu Dar, dia yakin Bu Dar memanggilnya perihal pengunduran dirinya.
"Apa kabar Safira. Tidak seperti biasanya, kamu kelihatan pucat, apa kamu sakit?" Bu Dar menyapa ramah.
Safira tersenyum. "Saya baik-baik saja bu."
Bu Dar tersenyum. "Lalu kenapa kamu mengundurkan diri?"
__ADS_1