Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Titik Terendah Safira


__ADS_3

Bagas yang akan berjalan ke miniatur apartemen mendengar semuanya, tadi dia bersama Ira kemudian beralih melihat Safira yang didekati pak Fairuz dari arah belakang.


Safira masih mematung, meremas tali tasnya semakin kuat. Netranya memanas, gemuruh amarah sudah mendidih di dadanya. Ingin sekali dia memecahkan kaca penutup miniatur di depannya. Tenggorokannya bahkan terasa sakit untuk menelan ludahnya sendiri.


"Aku sangat menantikanmu Safira. Pikirkan dengan baik apa yang akan kau dapatkan." Fairuz mundur selangkah kemudian pergi begitu saja meninggalkan Safira.


Sekarang nafas Safira begitu cepat, oksigen dipaksanya masuk ke hidung sebanyak-banyaknya agar tubuhnya tak jatuh ke lantai.


"Astaghfirullah hal adzim. Astaghfirullah hal adzim. Astaghfirullah hal adzim..." Bibirnya bergumam istighfar sebanyak-banyaknya.


"Safira." Ira terkejut melihat wajah pucat Safira. Tangannya langsung menggenggam lengan Safira. "Kamu kenapa? Apa pusing?"


Safira menggeleng.


"Kita segera ke mobil saja." Bagas segera mengajak Safira dan Ira kembali.


"Kita antar ke rumahmu ya Fir." Ira menggenggam tangan Safira, wajahnya sudah tidak sepucat tadi.


"Aku gak papa, kita ke kantor saja. Motor kalian juga masih di kantor." Safira sudah bisa berbicara sekarang.


"Jangan pikirkan kami Fir, kita bisa pesan kendaraan online nanti dari rumahmu. Yang penting kamu dulu." Ira masih membujuk sahabatnya.


"Aku gak papa. Aku masih mau mampir ke tempat lain. Kita ke kantor sekarang pak Bagas." Suara Safira terdengar tegas tak ingin dibantah.

__ADS_1


Ira dan Bagas tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan Safira.


Awan kelabu di langit sudah mulai meneteskan butiran-butiran air, semakin lama semakin cepat. Hujan deras mulai mengguyur kota. Safira masih terdiam di dalam mobil setelah kedua sahabatnya turun. Sekarang dia sudah beralih ke belakang kemudi. Entah dia ingin kemana, dia belum ingin pulang sekarang. Dipandangnya awan kelam yang sempurna menutup langit. Safira mulai menginjak gas, mobilnya melaju pelan meninggalkan kantor, namun dua detik kemudian semakin cepat berlari di bawah guyuran air hujan seperti dirinya yang ingin berlari dari dunia.


Safira menghentikan mobilnya di depan masjid di kampusnya dulu kemudian turun dari mobil dan sedikit berlari untuk solat ashar. Air mata sudah bercucuran saat ditunaikannya solat, bahunya terlihat naik turun menandakan tak sedikit airmata yang keluar dari matanya.


Hancur, itu yang dirasakannya sekarang. Seorang pria baru saja ingin membelinya dengan sebuah apartemen. Hancur sudah harga dirinya, hatinya terasa remuk. Belum pernah Safira merasakan dirinya sehancur ini.


"Wanita macam apa aku ini." Tangannya bergetar menutup wajahnya. Allah...." Bibirnya ikut bergetar menyebut Tuhannya.


Dadanya masih bergemuruh. Dipandangnya hujan lebat di luar dari dalam masjid. Danau buatan dengan jogging track yang mengitarinya terlihat samar karena derasnya hujan. Safira berdiri, melipat mukenanya lalu turun lagi menuju arah mobilnya. Diletakkan semua barang miliknya, tasnya juga ponselnya hanya pakaian yang menemaninya di bawah guyuran hujan. Blazer tebal berwarna navi menyamarkan bentuk tubuhnya.


Dilihatnya danau buatan yang sepi. Siapa juga yang akan ada di sana saat hujan lebat begini, kecuali dirinya yang berharap air hujan bisa membersihkan perasaannya.


Ditariknya resleting samping roknya membuat langkahnya semakin lebar, Safira biasa menggunakan celana di dalam roknya. Langkahnya semakin cepat, berlari. Dia sekarang sudah berlari mengitari danau. Air mata dan air hujan berlomba luruh dari wajahnya.


Safira terduduk, pandangannya kabur mengarah ke danau. Nafasnya terengah-engah, tapi air matanya masih belum habis mengalir.


Seseorang tiba-tiba sudah berdiri di samping bangku. Safira menoleh karena terkejut. Tangannya reflek mengusap pipinya.


"Tak perlu kau hapus Safira, aku tak bisa melihat air matamu yang bercampur air hujan." Bagas membuka suara, matanya lurus memandang danau di depannya.


"Pergilah pak." Safira tak bisa beranjak dari kursi karena otot kakinya terasa lemas.

__ADS_1


"Aku mendengarnya." Bagas bersuara.


Tangis Safira semakin menjadi. Malu, itu yang dirasakan Safira saat ini.


"Jangan menyakiti tubuhmu seperti ini karena pria brengsek itu. Kamu sama sekali tidak salah Safira, pria itu yang tak tahu diri sampai mengatakan hal seperti itu padamu."


"Pergilah pak." Safira mengusir Bagas, pundaknya sampai bergetar karena tangisnya.


"Tidak jika kau masih di sini." Bagas berbicara keras bertanding dengan suara derasnya air hujan.


"Safira, aku ingin membencimu saat kau memilih menikah dengan suamimu saat ini. Tapi itu kau Safira, aku tak bisa membencimu."


Bagas menoleh ke Safira yang menunduk.


"Safira, kau yang sudah menolongku kan? Menjatuhkan amplop berisi uang tiga juta bertuliskan namaku. Kemudian memberikan amplop itu pada cleaning servis untuk memberikannya padaku."


Safira melihat ke arah Bagas, dia menggelengkan kepalanya.


Bagas tersenyum. "Hari itu, aku bingung karena di dompetku hanya tersisa dua lembar uang lima puluh ribu dan sepuluh ribu, sementara di atm-ku sudah tak bersisa karena kukirimkan semuanya untuk operasi ibuku malam sebelumnya. Aku dihubungi tetanggaku jika keadaan ibuku melemah pasca operasi, aku baru saja akan meminta izin dari kantor. Tapi setelah melihat dompetku aku sadar, aku tak punya uang lagi. Aku baru saja dimutasi ke Surabaya ini, rasanya malu untuk meminjam pada teman-teman di sini. Kau pasti melihatku menangis dan mendengarku saat mengeluh di parkiran. Awalnya aku bingung seorang cleaning servis menyerahkan amplop bertuliskan namaku yang katanya tadi jatuh. Namun setelah aku membukanya, keinginanku untuk segera pulang membawaku langsung pergi dan memesan tiket. Aku akan mencari tahu nanti."


Safira jelas terkejut dengan apa yang dikatakan Bagas. Namun dia masih menggeleng.


"Tulisan di amplop itu adalah tulisan tanganmu Safira. Aku mencari tahu tulisan yang mirip di amplop yang sampai saat ini masih kusimpan. Dan saat aku bertanya pada cleaning servis waktu itu, dia juga mengatakan jika kau yang menemukan amplop itu dan menyuruhnya memberikan padaku. Seolah-olah itu memang milikku. Aku bukan orang tak punya, almarhum ayahku meninggalkan beberapa aset padaku dan ibu tapi hari itu aku butuh dana cepat untuk ibuku yang kecelakaan dan butuh segera dioperasi. Tanpa pikir panjang aku segera mentranfer semua uangku yang ternyata jumlahnya pas untuk keperluan operasi. Aku tak sadar uangku habis. Dan kau menyelamatkanku dari rasa malu berhutang dan uangmu mengantarkanku untuk berada di sisi ibuku sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya meninggalkanku selama-lamanya." Ada bulir bening keluar dari sudut mata Bagas.

__ADS_1


Safirapun masih menangis duduk mendengarkan Bagas bercerita.


"Safira, lebih baik kamu keluar secepatnya. Kebanyakan laki-laki tidak menerima penolakan." Bagas memberikan sarannya. "Apa kamu memikirkan pinaltinya?"


__ADS_2