Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Apa Kamu Bahagia?


__ADS_3

Deg! Safira tersentak Reffan mengatakan hal semacam itu. Entah dirinya yang sensitif tapi ada rasa nyeri menjalari hatinya.


"Mas, kenapa mengatakan begitu?" Safira memandang wajah suaminya yang sedang menatapnya juga.


"Kenapa gak bilang ada Damar, dia pernah menyukaimu kan? Atau mungkin sekarang masih sama?" Reffan menarik lengan Safira mengajaknya ke tempat sepi.


"Apa aku harus mengatakan pada mas nama-nama tujuh pulah enam orang pelatihan yang datang? Tiga puluh satu orang laki-laki dan empat puluh lima orang perempuan? Atau aku perlu memfoto daftar hadirnya mas?" Safira memandang lekat netra Reffan.


"Boleh juga!" Reffan tersenyum.


"Damar atau siapapun teman laki-laki semuanya aku sanggap sama dan perlakuanku pada mereka juga sama mas." Safira menjelaskan pada Reffan.


Reffan mengecup lembut kening istrinya.


"Amarahku sebesar cintaku dan cintaku membuatku cemburu." Reffan menatap lekat netra istrinya memeluk pinggangnya dengan erat memaksa tubuh istrinya menempel padanya.


"Mas, jangan di sini! Nanti ada yang lewat mas." Safira mulai resah kuatir ada yang melihat, suaminya tak juga melepaskan pelukannya.


"Kamu ini kenapa sih. Ini suamimu kenapa takut ada yang lihat?" Reffan terlihat kesal.


"Walaupun suami istri kan juga tidak baik mas bermesraan di tempat umum. Malu jika ada yang lihat. Beda lagi jika di kamar terserah mau ngapain aja." Safira menarik tangan Reffan agar melepaskannya.


Reffan langsung melepaskan tangan yang melingkari pinggang sang istri. "Baiklah, nanti malam ya, bersiaplah. Kamu sendiri lho yang mengatakannya. Jangan terlambat ya!" Reffan menoel hidung Safira kemudian melenggang pergi meninggalkan Safira yang masih mematung berpikir.


"Apa ada kalimatku yang salah?" Jantungnya berdebar-debar sekarang.


.


Pelatihan hari kedua sudah dimulai, posisi duduk mereka sama dengan saat hari pertama.


Ira terlihat lebih rileks walaupun berada di dekat Damar. Sepertinya dia sudah berhasil mengendalikan perasaannya saat berada di dekat Damar. Apa dia masih mencintai Damar atau berusaha menghilangkan nama Damar di dalam hatinya. Bukankah mencintai hanya sepihak itu menyakitkan? Hanya dia dan Tuhannya yang tahu isi hati Ira.


.


Seperti biasa seusai solat mereka akan mendatangi meja yang telah menghidangkan menu makan siang.


"Fir, aku ke toilet dulu ya. Kamu ambil makan duluan aja gak papa." Ira menepuk pundak Safira yang sedang mengambil piring.

__ADS_1


"Iya Ra. Nanti aku duduk sebelah sana ya." Safira menunjuk deretan kursi yang masih kosong.


"Ok!" Ira berjalan sedikit cepat ke toilet.


"Apa kamu bahagia Safira?" suara seorang laki-laki di belakangnya yang ikut mengambil piring. Posisinya berada di belakang Safira. Tanpa menoleh Safira sudah tahu pemilik suara itu.


Safira mempercepat mengambil makanan. Tak ingin menjawab pertanyaan yang dianggapnya tak penting. Dia tak ingin memancing pandangan orang-orang melihat ke arah mereka berdua karena masih banyak orang yang menikmati santapan siangnya.


Safira sudah selesai mengambil makanan diapun duduk di kursi yang sebelahnya masih kosong menunggu Ira yang akan menempati kursi itu. Tapi ternyata Damar masih mengikutinya dan langsung duduk di sebelahnya.


"Maaf pak masih banyak kursi kosong. Ira nanti akan duduk di sini." Safira berkata tanpa melihat Damar.


"Ira belum ke sini, aku hanya ingin mengobrol denganmu sebentar." Damar memainkan sendok di tangannya.


"Maaf pak, tapi tak enak dilihat orang. Bapak atau saya yang pindah?" Safira berkata dengan sopan.


"Kamu menghindariku? Aku hanya ingin tahu jawabanmu? Apa kamu bahagia Safira? Apa kamu bahagia bersama suamimu itu? Apa kamu bahagia setelah tidak memberikan kesempatan sedikitpun padaku?" Damar menoleh ke arah Safira.


Safira berdiri.


"Duduk Safira! Aku hanya bertanya jadi jawablah atau kamu mau mendengar pertanyaanku dengan suara keras agar semua orang bisa mendengarnya?" Damar ikut berdiri.


"Jawablah!"


"Saya bahagia pak." Jawab Safira tegas.


Damar tersenyum masam.


"Permisi pak, Ira sebentar lagi pasti kemari."


"Memangnya kenapa jika Ira kemari? Kamu takut Ira marah padamu seperti dulu? Kenapa kamu hanya peduli pada Ira, tak pernah peduli dengan perasaanku Safira." Suara Damar mulai mengeras tidak selembut tadi.


"Sebisa mungkin saya akan menjaga perasaan sahabat saya dan sayapun telah berusaha untuk menjelaskan pada anda. Saya sudah meminta maaf pada anda saat itu karena tidak bisa membalas perasaan anda. Tolong anda mengerti. Permisi." Safira melangkah menjauhi Damar tepat saat itu Ira dan Bagas yang sama-sama dari kamar mandi mendekat ke meja mengambil piring.


Safira mencari tempat lain kemudian melambaikan tangan pada Ira yang celingukan mencari keberadaannya.


Di sisi tembok lain terhalang hiasan tanaman merambat seorang pria mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Aku ingin mengurungmu Safira, hanya aku saja yang melihatmu dan terlihat olehmu." Ucapnya dengan tangan masih terkepal.


.


"Assalamu'alaikum.." Safira masuk ke kamar yang telah disiapkan suaminya di hotel tempatnya pelatihan. Kepala Safira celingukan mencari suaminya.


Tak ada jawaban. Tak ada pula tanda-tanda dari keberadaan suaminya. Safira terus melangkah, meneliti sofa, meja kerja, ranjang kemudian dia menaruh tasnya dan berjalan ke arah pintu kamar mandi sambil memasang telinga kemungkinan suaminya ada di sana tapi tak ada suara. Diapun menggeser pintu.


Hap! Tubuhnya langsung di tarik Reffan yang tubuhnya masih basah. Reffan langsung melepas jilbab istrinya.


"Mas mas tunggu.." Safira meraih tangan suaminya agar menghentikan gerakannya tapi ditepis Reffan.


"Sudah sejak tadi aku menunggumu untuk mandi bersama. Aku sudah mandi tapi tak apa mandi lagi bersamamu." Tangannya lincah melepas pakaian istrinya satu persatu.


"Maasss...Auww." Safira ingin berontak tapi tangan suaminya malah meremas bagian tubuhnya yang menggoda suaminya.


.


Malam belum terlalu larut, dua insan sudah berada di bawah selimut saling memeluk. Reffan tak henti-hentinya menyerang istrinya, sudah sejak siang tadi dia ingin mengurung istrinya dalam pelukannya dan dia harus bersabar menunggu Safira masuk ke kamarnya.


"Sudah ngantuk?" Reffan mengusap lembut rambut hitam Safira yang masih terasa lembab karena belum sempurna Safira mengeringkannya, Reffan sudah menjatuhkannya di ranjang.


"Sedikit!" Safira berkedip-kedip mengusir rasa kantuk yang mulai menyerang.


Reffan tersenyum. "Ngantuk gitu kok!"


Safira tersenyum memandang wajah suaminya.


"Aku ingin mendengar suaramu sayang. Kamu tidak ingin menceritakan bagaimana hari ini?"


Reffan mengusap lembut punggung istrinya tanpa halangan.


Safira menatap lekat netra suaminya.


"Ceritakan padaku apa yang terjadi hari ini. Bukankah kamu sudah berjanji akan terbuka padaku?" Reffan menarik tubuhnya hingga terduduk dan bersandar di kepala ranjang.


Safira mulai berpikir. Apakah suaminya melihat kejadian tadi siang atau perasaan suaminya saja yang ingin mengetahui apa saja yang terjadi padanya hari ini.

__ADS_1


Safira ikut menarik tubuhnya duduk di sebelah suaminya dengan menggenggam selimut di dadanya.


__ADS_2