
Mengenal Reffan dua pekan terakhir ini membuat Safira tahu Reffan adalah orang yang sanggup melakukan sesuatu yang dia mau apapun caranya. Maka wajar Safira ragu jika Reffan dan adeknya hanya kebetulan berada di Candi Prambanan saat ini.
Adanya dua pria dibelakang mereka membuat Safira dan adeknya tidak bebas lagi. Padahal hari ini mereka sudah berencana hura-hura berdua.
"Pak Reffan dan Pak Raffi kami berdua duluan ya mau lanjut jalan ke tempat lain." Safira berusaha memisahkan diri dari dua lelaki di dekatnya.
"Kenapa gak barengan aja kan kami juga lagi jalan-jalan. Lebih seru kan kalau ramai." Reffan mencoba menahan Safira dan adeknya.
"Eh Hasna, kamu kan kuliah di Yogya ya pasti tahu kan oleh-oleh khas di sini anterin yuk?" Raffi menarik tangan Hasna agar mengikutinya. Raffi sengaja melakukan itu agar mereka punya alasan bersama.
"Hei hei, ngapain tarik-tarik tangan adekku. Lepasin!" Safira setengah berteriak pada Raffi yang menarik tangan Hasna. Kemudian Safira menarik tangan adeknya agar mendekat ke arahnya.
"Eh, maaf Safira, aku kan juga calon adek iparmu."
"Tetap saja kalian bukan muhrim. Jangan cari kesempatan ya, adekku masih kecil jangan aneh-aneh." Safira sudah mengeluarkan seribu kata-katanya.
"Maksud hati membantu sang kakak malah kena semprot kakak ipar." Batin Raffi.
Reffan menatap Raffi tajam matanya seolah berbicara, "Kenapa kamu malah membuat Safira marah!"
Hasna yang melihat kakaknya melindunginya memeluk erat lengan kakaknya sambil tersenyum. "Ah, seneng deh ada mbak Safira. Berasa kayak dulu lagi."
"Iya, maaf ya Safira. Aku gak bermaksud apa-apa tadi." Raffi tersenyum merayu Safira agar tidak dipelototi kakaknya lagi.
"Ya udah mbak gak papa kita anterin mas Raffi dan mas Reffan ke tempat oleh-oleh dulu aja." Hasna mencoba menengahi, dia juga merasa sungkan pada calon kakak iparnya.
"Kakak ipar bisa marah juga ya ternyata mas." Raffi berbisik di telinga Reffan.
"Banyak yang tidak kamu tahu tentang Safira." Reffan tersenyum menatap punggung Safira yang berjalan menjauh. Reffan dan Raffi berjalan di belakangnya.
Mereka berdua keheranan, mereka yang diantar untuk membeli oleh-oleh tetapi dua orang wanita di depannya sibuk mencoba barang, topi, tas, sandal sambil tersenyum gembira seolah lupa ada dua pria yang menatap penuh makna pada dua gadis di depannya. Setelah sadar ada dua pasang mata yang mengawasi. Senyum mereka langsung memudar dan menaruh barang-barang yang dicobanya.
"Mas, mau beli oleh-oleh yang seperti apa?" Tanya Hasna pada Raffi yang ada di belakangnya.
"Yang cuman ada di sini apa ya Hasna?" Raffi balik bertanya. Sebenarnya dia tidak benar-benar ingin membeli oleh-oleh itu hanya alasannya aja.
__ADS_1
"Mau bentuk pajangan banyak nih mas Raffi yang bentuk candi Prambanan atau gantungan kunci juga ada." Hasna menunjuk beberapa miniatur candi Prambanan.
"Ah ya, yang ini aja deh." Tangan Raffi mengambil beberapa gantungan kunci khas Prambanan.
"Safira atau dek Hasna tidak ingin beli sesuatu?" Dengan suara lembut Reffan bertanya pada Safira dan adeknya.
Safira menggeleng, Hasna menjawab, "Enggak mas."
"Mendengar suara lembutnya mas Reffan kok aku berasa adek tiri ya." Raffi melongo kakaknya bersikap lembut pada Safira dan adeknya.
"Karena sudah dianterin, aku traktir makan yuk. Mas Reffan yang bayar." ucap Raffi menunjuk kakaknya.
"Makasi Pak Raffi tapi kami sudah ada rencana ke tempat lain." Safira tersenyum pada Raffi. "Kami duluan ya. Assalamu'alaikum." Lanjut Safira.
"Mas lihat kan aku sudah berusaha lho menahan kakak ipar. Aku sudah menjadi adek yang baik kan." Ucap Raffi pada kakaknya.
"Hmmm.... Tidak usah berusaha terlalu keras, karena kita akan tetap ada di sana dimanapun mereka berada hari ini."
"Wow, jadi rencana kita hari ini adalah mengejutkan mereka dengan kehadiran kita dimanapun mereka berada. Luar biasa!" Raffi terpukau dengan kegilaan kakaknya.
"Kita ketemu lagi." Raffi sudah akan menyendokkan makanan ke mulutnya.
Safira dan Hasna sama-sama mengunyah makanan dengan tatapan bergantian menatap Reffan dan Raffi. Sepertinya Safira dan adeknya juga berpikiran sama bahwa mereka sengaja mengikuti mereka.
Kecepatan makan Reffan dan Raffi tentu saja berhasil menyusul Safira dan Hasna yang sudah akan habis. Mereka berempat selesai makan hampir bersamaan.
"Safira,.." ucapan Raffi sudah dipotong Reffan.
"Panggil mbak Safira, Raffi." Reffan menekankan setiap kata-katanya.
"Mbak Safira, tinggal sendirian di Surabaya?" Raffi menekankan kata mbak sambil melirik Reffan.
"Iya Pak Raffi." jawab Safira singkat.
"Pak, jangan panggil begitu Safira eh mbak Safira. Umur kita sama kan? aku belum tua seperti kakakku." Raffi buru-buru meralat karena belum terbiasa memanggil mbak ke Safira.
__ADS_1
"Hehe.. becanda kak. Panggil nama saja." lanjut Raffi.
"Mas Raffi masih kuliah?" Hasna bertanya pada Raffi. Hasna lebih cepat akrab pada orang yang baru ditemuinya karena pembawaannya yang ceria dan cerewet. Berbeda dengan Safira yang pendiam pada orang asing apalagi jika laki-laki.
"Iya, masih ambil S2 belum selesai di Inggris. Ini mama minta pulang karena acara lamaran mas Reffan." lugas Raffi menjawab.
"Berarti di sini sampai mbak Safira dan mas Reffan nikahan ya?"
"Iya, sekalian. Eh, Hasna kapan ke Surabayanya mau barengan sama mas Raffi nanti aku jemput kita ke Surabaya bareng pas nikahan."
"Ehem... " Safira sudah berdehem memasang benteng perlindungan untuk adeknya.
"Eh mbak Safira, maksudku nanti sekalian sama mama papa juga gitu." Raffi berubah kikuk mendapat tatapan tajam dari Safira. "Hasna, mbak Safira emang selalu begini ya, sudah kayak pengawal kamu aja." Raffi mengecilkan suaranya tapi tetap saja terdengar jelas.
"Hehe... mbak Safira emang gini, selalu jagain aku dari dulu mungkin buat mbak Safira aku selalu adek kecilnya yang harus dilindungi."
"Kesan pertamaku kemarin mbak Safira anggun dan lembut bener. Tapi ternyata bisa galak juga."
"Ah, mbak Safira ini bisa jadi apa aja... Sesuai kebutuhan."
Safira yang dibicarakan seolah tak mendengar pembicaraan adek dan calon adek iparnya sibuk menikmati minuman dingin di depannya. Sementara Reffan hanya memandangi Safira sesekali tersenyum melihat perubahan mimik pada wajah Safira.
"Mbak Safira pernah menggagalkan pencopet yang akan mencopetku, menyelamatkanku saat aku hampir tertabrak. Apa sih yang mbak Safira gak bisa.. Mbak Safira juga bisa mengganti lampu kalau ayah lagi gak di rumah, dulu pas masih SMP SMA aja sering manjat pagar rumah kalau gak ada yang bukain pagar."
"Hah.. benarkah?" kali ini Reffan dan Raffi sungguh terkesima dengan sosok anggun di depannya.
"Dek, kenapa kamu ghibahin mbak sih." Safira berkata datar memandang adeknya.
"Hehe.. Kan di depan mbak gak di belakang mbak. Yang aku omongin kan bener semua mbak. Itu pujian mbak, mbak Safira the best pokoknya.
"Kalo kita ngomongin orang dan itu bener ya itu ghibah, kalo yang kita omongin salah sudah jatuh ke fitnah. Yuk lanjut yuk!"
Reffan dan Raffi ikut berdiri saat Safira dan Hasna akan pergi.
Mereka menaiki mobil masing-masing. Tidak ada salam perpisahan karena semuanya yakin sebentar lagi mereka akan bertemu kembali.
__ADS_1