
Matahari dan bulan silih berganti, memerankan perannya masing-masing sesuai ketetapan waktu. Tak terasa sudah sepuluh kali matahari terbenam sejak Safira menginjakkan kakinya di kawasan pantai yang akan dibangun Reffan bekerjasama dengan perusahaan lokal di daerah tersebut.
Perizinan dan persiapan pembangunan berjalan lancar. Perusahaan Reffan dan Bara dapat bekerja sama tanpa hambatan yang berarti karena bagaimanapun masalah akan selalu ada saat kita masih berpijak di bumi. Namun setiap manusia mempunyai cara sendiri untuk menghadapinya. Ini yang membedakan, ada orang yang pikiran dan hatinya terlalu luas sehingga masalah yang datang tak ubahnya seperti kerikil kecil di samudera tak membuat dampak yang berarti. Namun berbeda jika kerikil kecil itu masuk kedalam cangkir kecil, bahkan percikannya saja sudah membuat masalah bagi pemiliknya. Bagi hati seluas samudera dia tahu kemana dia mengadu sehingga masalah yang datang tak membuatnya berkecil hati karena dia sadar dia menggantungkan hidupnya pada yang Maha Besar, karena sejatinya bersama kesulitan akan selalu ada kemudahan.
Safira sudah mulai terbiasa dengan angin laut dan suara ombak yang berlarian. Hatinyapun terasa tenang saat menikmati salah satu keagungan Sang Pencipta itu. Langit jingga saat matahari terbenam, ombak yang saling mengejar, garis cakrawala yang selalu mempesona tak pernah membuatnya berhenti untuk bersyukur atas karunia Tuhannya yang selalu menyertainya. Sepasang indra yang selalu terpukau melihat laut dan langit yang selalu menampilkan pemandangan berbeda setiap hari, indra perasa di kulitnya yang lembut terasa nikmat saat angin laut membelainya, indra penciumannya yang menikmati oksigen bersama dengan udara segar di sekitarnya, indra pendengarannya yang tak pernah bosan menikmati suara deburan ombak dan gemrisik daun-daun diterpa angin, dan indra pengecapnya yang tak pernah puas menikmati ikan-ikan segar yang sudah dibakar. Ah, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Safira memejamkan mata menikmati udara yang dihirupnya dalam saat sepasang tangan melingkar di perutnya.
"Betah ya di sini?" Ucap pria yang tak pernah berhenti mengawasinya.
"Asal sama mas Reeffan." Safira membuka mata menoleh ke kanan untuk melihat wajah tampan pemilik hatinya.
"Wah sudah pintar menggoda sekarang. Luar biasa kemajuan kamu." Reffan menoel hidung mancung istrinya dengan senyum merekah yang menambah pesonanya di hadapan Safira.
Safira tersenyum kemudian kembali menikmati pantai di depannya dengan menggenggam tangan suaminya yang melingkar di perutnya.
"Mas.."
"Hmm.."
"Apa semuanya berjalan lancar?"
Safira memang menemani Reffan di lokasi yang akan segera dibangun resort tetapi dia memilih menyendiri menikmati laut, menjauh dari kerumunan para pria yang sedang berkoordinasi.
"Alhamdulillah." Reffan menjawab sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku mau pulang."
"Maksudnya? Pulang ke Jawa?" Reffan mulai kuatir istrinya sudah tak betah di tempat ini karena memang masih minim fasilitas.
"Bukan, pulang ke rumah. Aku lapar." Safira berbicara dengan malu-malu karena perutnya sudah berisik dari tadi. Memasuki usia dua bulan ini porsi makannya bartambah dari biasanya.
__ADS_1
Reffan bernafas lega. Pikirannya tadi sudah melalang buana kemana-mana memikirkan istrinya yang mungkin tak betah di tempat ini. Reffan belum tahu saja jika Safira bahkan pernah tidur hanya di atas tikar seperti pindang berjejer saat masih muda dulu ketika ada kegiatan karate atau kerohanian Islam yang diikutinya. Masih muda? maksudnya saat single dulu tentunya, sekarang kan sudah calon emak.
"Yuk pulang!" Tanpa berlama Reffan langsung menarik tangan Safira tak ingin istri dan anaknya kelaparan.
Reffan pergi tanpa berpamitan pada Bayu dan Tama yang masih di sana membuat keduanyapun mengikuti langkah sepasang manusia yang melupakan dua insan yang terus membuntuti mereka. Mereka berdua masih membuntuti Reffan dan Safira sampai di depan rumah yang di tempati Safira dan Reffan. Sampai akhirnya Tama memberanikan diri untuk bertanya karena takut salah jika berbalik arah atau lebih salah lagi jika ikut masuk ke rumah bosnya.
"Maaf pak Reffan."
Reffan langsung berbalik badan baru menyadari dua orang sedari tadi membuntutinya.
"Mas aku angetin lauknya dulu ya." Safira masuk ke dalam rumah lebih dahulu.
Reffan mengangguk.
Kini ketiga pria berada di depan pintu masuk.
"Maaf pak, apakah hari ini sudah selesai?" Tama berbicara lagi.
"Ah iya. Hari ini sudah dulu. Tapi tolong kamu cek lagi detail rencana pembangunan apakah masih ada yang perlu disesuaikan dari rencana awal." Jawab Reffan tetap dengan santai.
Ketiga pria langsung menelan ludah hampir bersamaan saat tercium aroma masakan yang sedang Safira hangatkan. Bahkan perut Tama langsung berbunyi nyaring tak menghiraukan rasa malu. Tama hanya nyengir mengusap perutnya saat dua pasang mata memandangnya tajam. Tapi dua detik kemudian suara merdu beradu dari perut Bayu dan Reffan.
"Ah kalian ini!" Reffan menyalahkan dua karyawannya padahal suara perutnya tak kalah nyaring. Diapun menjadi tak tega dua anak buahnya hanya mengincipi aroma masakan istrinya. "Tunggu sebentar!" Reffanpun masuk ke dalam rumah.
"Sayang..." Reffan berjalan mendekat ke arah istrinya yang masih di depan kompor.
"Iya mas.." Safira menoleh ke suaminya yang celingukan ke atas panci.
"Apa kamu memasak banyak?" Reffan langsung bertanya saja daripada menduga-duga.
"Kenapa mas?" Tanya Safira heran.
__ADS_1
"Ada dua orang lagi yang kelaparan. Apa cukup?"
"Insya Allah cukup mas. Aku goreng ikan sebentar ya. Tadi sudah dibumbui ada di lemari es."
Reffanpun tersenyum mendengar jawaban istrinya.
"Makasi ya sayang." Reffan mengecup pipi Safira kemudian kembali ke dua orang yang menanti jawaban dengan hati was-was karena produksi saliva mereka sudah tak terkendali di tambah rasa perih yang mulai menyerang lambungnya akibat dari mencium aroma masakan Safira.
"Ayo masuk!" Reffan yang menampakkan tubuhnya membuat senyum merekah di wajah Tama dan Bayu, semilir angin terasa begitu nikmat menyempurnakan kebahagiaan di wajah mereka yang beberapa menit lalu tersiksa karena kelaparan yang tiba-tiba melanda.
Merekapun mengobrol di ruang tamu sambil menunggu Safira menyelesaikan menggoreng ikan lagi. Setelah dilihatnya istrinya sudah meletakkan makanan di meja makan, Reffanpun mendekat kemudian menggambil dua piring mengisinya dengan nasi, sayur lodeh, ikan dan sambal di pinggir piring. Kemudian membawanya.
"Sini sayang!" Reffan mengajak Safira untuk mengikuti langkahnya.
Tama sudah berdiri hendak menerima piring dari Reffan.
"Eh, enak saja. Ini punya saya. Kalian makan di sana ambil sendiri. Enak saja minta diambilkan." Reffan memasang wajah datar tapi membuat Bayu tak bisa menahan senyumnya melihat Tama yang langsung kikuk.
"Silakan pak, seadanya." Safira juga mengatakan sambil menahan senyum.
"Ini sudah berkah yang luar biasa bu." Tama berkata untuk menutupi salah tingkahnya.
Safira dan Reffan menikmati makanan mereka di ruang tamu berdua sementara Bayu dan Tama makan di meja makan. Reffan tak menghiraukan keberadaan dua makhluk lain di rumahnya, dia tetap menyuapi Safira tanpa sungkan. Dan dua makhluk di depan meja makan juga fokus pada makanan di depan mereka tanpa sungkan menghabiskan penyebab aroma sedap yang membuat perut mereka berdendang sedari tadi.
Setelah menghabiskan masakan istri bosnya. Tamapun berdiri lebih dulu.
"Terimakasih pak Reffan dan ibu makanannya sangat lezzaaatt, maaf saya khilaf menghabiskan tanpa sisa." Ucap Tama tanpa malu-malu.
Melihat Tama yang sudah beranjak dari meja makan, Reffan langsung menatapnya tajam.
"Mau kemana kamu? Siapa yang membereskan piring kamu?" Ucap Reffan langsung menusuk jantung Tama yang membuat sendi-sendi Tama langsung kaku. Tapi otak cerdasnya langsung memberikan pencerahan.
__ADS_1
"Ini pak, saya mau mengambil piring bapak dan ibu sekalian akan saya cuci."