
Setetes butiran bening sudah lolos dari sudut netra Safira. Reffan merutuki diri sendiri bagaimana bisa melupakan kaki Safira yang baru saja terkilir hanya karena jiwa prianya sudah kehausan meminta berbuka.
"Maaf, apa sakit sekali?" Reffan merangkak mendekati wajah Safira, menghapus tetesan air mata di pipinya dengan ibu jarinya.
"Apa ini hukumannya?" Safira menggigit bibir bawahnya.
"Bukan sayang, aku tadi lupa kakimu sakit tidak sadar menariknya." Tentu saja bukan ini yang Reffan inginkan.
Safira memandang lekat Reffan yang mengacak rambutnya sendiri.
"Ah, kenapa jadi begini. Batal lagi kan." Frustasi Reffan mengumpat dalam hatinya.
Reffan menarik tubuh Safira dalam pelukannya memeluknya erat dan mengecup keningnya.
"Istirahatlah dulu Safira." Ucap Reffan lembut.
Pelukan hangat Reffan dan aroma tubuh maskulin Reffan membuat Safira nyaman, rasa kantuk begitu cepat menyergap membawanya terlelap dengan cepat. Mungkin juga karena beberapa hari terakhir ini Safira tidak tidur dengan nyenyak sehingga saat pelukan yang dirindukan menyelimutinya Safira begitu cepat terbuai ke alam mimpi.
Reffanpun ikut memejamkan mata memeluk kekasih hatinya. Tak peduli di luar masih pagi, sinar mentaripun masih hangat. Dua manusia saling memeluk menghangatkan hati.
Saat matahari mulai tegak di atas kepala, Reffan bangun terlebih dahulu. Posisinya masih seperti tadi memeluk Safira dan menjadikannya guling yang sangat nyaman. Reffan tersenyum, dikecupnya puncak kepala Safira yang masih berbalut jilbab ada keinginan untuk membukanya. Namun diurungkannya karena kuatir akan mengganggu tidur nyenyak Safira.
"Tidurlah sayang, kamu pasti kurang tidur memikirkan dan merindukan pria tampan ini." Senyumnya narsis.
Reffan beranjak keluar kamar membawa ponselnya. Dia duduk di teras cottage menghubungi seseorang.
"Bayu tolong siapkan kamar terbaik untuk saya."
suara di seberang
"Ya villa di kawasan hotel itu bagus juga."
suara di seberang
"Siang ini kamu jemput."
Reffan kembali ke dalam kamar setelah menghubungi asistennya.
Saat masuk kamar, Safira sudah terduduk mengecek kakinya yang terkilir dengan menggoyang-goyangkannya.
"Sudah bangun?" Tanya Reffan melangkah mendekati istrinya.
"Iya." Jawab Safira menoleh ke arah datangnya suara. Sebenarnya Safira terbangun karena merasakan Reffan yang melangkah menjauhi ranjang.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya?"
"Sudah lumayan."
"Ada yang kamu inginkan? Sebaiknya jangan dibuat jalan dulu, kalau ada yang kamu inginkan katakan saja padaku."
"Aku belum memperpanjang sewa cottage ini, siang ini sudah habis. Karena dua hari lagi cutiku juga sudah habis jadi aku berencana pulang ke rumah hari ini."
"Ikut saja denganku nanti."
"Kemana?"
"Honeymoon."
"Eh, apa..." Bukannya tidak mendengar perkataan Reffan sebelumnya tapi karena Safira terkejut dengan kata yang baru saja didengarnya. Wajahnya merona tertunduk malu.
Melihat wajah merona gadisnya. Jiwa jahil Reffan tergugah untuk semakin menggodanya.
"Honeymoon sayang." Bisik Reffan tepat di telinga Safira. Tangan Reffan meraih lembut dagu Safira memaksanya menghadap ke wajahnya. Kecupan singkat mendarat di bibir cantik Safira. Kemudian berlanjut hisapan yang dalam. Reffan melepas bibirnya tangannya menyingkap jilbab Safira. Lalu menyerang lagi dengan serangan penuh yang membuat Safira hanya pasrah mengikuti permainan Reffan di bibir dan mulutnya.
Safira menepuk-nepuk dada Reffan berusaha melepaskan diri. Terpaksa Reffan menghentikan aksinya.
"Kita belum solat Dhuhur mas. Jam berapa sekarang?" Ujar Safira
"Mas..." Safira.
"Kenapa Safira?" Reffan berhenti kesal
"Sudah waktunya check out juga." Jawab Safira.
"Aku bayar dendanya sudah kamu diam sekarang." Reffan nampak kesal.
Baru saja akan menarik tengkuk Safira. Krriiing... telepon di dalam kamar berdering.
"Ah...." Reffan berteriak jengkel mengacak rambutnya.
Reffanpun berdiri mengangkat telepon yang mengganggunya.
"Iya. Saya check out sekarang." Suara Reffan datar namun jelas terlihat kekesalan di dalam raut wajahnya.
Safira duduk merapikan pakaiannya dan akan beranjak ke kamar mandi. Baru saja kakinya akan menginjak lantai, tubuhnya sudah melayang. Reffan dengan sigap menggendongnya.
"Mas..." Cicit Safira yang agak takut melihat Reffan kesal tadi.
__ADS_1
"Mau ke kamar mandi kan? Jangan dibuat jalan dulu." Ucap Reffan datar.
Reffan menggendongnya ke kamar mandi, membantunya berwudhu kemudian menggendongnya lagi dan mendudukkannya di ranjang menghadap kiblat. Reffan juga mengambilkan mukena milik Safira.
"Sambil duduk aja. Aku wudhu dulu, kita solat berjamaah." Ucapnya lembut.
Seusai solat Reffan mengecup kening Safira. Kemudian mengemas barang-barang milik Safira yang masih berada di luar tas. Reffan sendiri mengambil barangnya di cottage sebelah. Bayu sudah menunggunya di depan cottage bersiap membawakan barang milik Reffan dan Safira.
Reffan menggendong Safira menuju mobil. Safira malu karena setiap orang yang berpapasan dengannya akan tersenyum melihat mereka berdua. Safirapun menyembunyikan wajahnya di dada Reffan tak sanggup menatap orang-orang yang mereka lalui.
Sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan yang Safirapun tak tahu akan dibawa kemana tak ada percakapan di antara mereka bertiga. Safira juga tak mau bertanya lagi karena besar kemungkinan jawaban Reffan akan membuatnya malu apalagi ada Bayu di sana. Reffan memeluk pundak Safira agar Safira bersandar di tubuhnya.
Mereka bertiga sudah sampai di tempat tujuan. Bangunan hotel berdiri megah di area pegunungan. Safira tahu ini adalah hotel terbaik di kota ini dengan view dan interior yang sangat indah. Awalnya Safira mengira akan menginap di salah satu kamarnya, ternyata Reffan tidak menggendongnya ke arah lobby. Rasa penasaran yang sangat besar namun masih terkalahkan ketakutannya untuk bertanya pada suaminya yang sedari tadi tidak tersenyum sama sekali.
Akhirnya rasa penasarannya bermuara juga saat Reffan sudah berdiri di depan sebuah villa bergaya minimalis di kawasan hotel tersebut.
"Bayu pastikan jangan ada yang menggangguku selama dua hari ini. Jangan ada yang datang mendekat ke area villa tanpa perintah dariku. Begitu juga dengan yang mengantarkan makanan, antarkan saat aku sudah memintanya." Instruksi Reffan pada Bayu yang ada di depannya. Safira masih bersembunyi di dada Reffan, karena Reffan berbicara pada asistennya tanpa menurunkan Safira terlebih dahulu.
"Siap Pak." Jawab Bayu patuh. Diapun segera membukakan pintu untuk bosnya.
Bayu meletakkan semua barang Reffan dan Safira di meja. Kemudian dia melangkah akan keluar.
"Saya keluar pak. Bapak bisa menghubungi saya kapanpun. Selamat bersenang-senang Pak Reffan." Bayu membungkukkan badannya, ada senyum tipis di wajahnya. Reffan membalas dengan anggukan kepala dan senyum menakutkan yang dilirik Safira saat mendongakkan wajahnya. Ada rasa kuatir menghinggapi pikirannya, dadanya berdebar, jantungnya bekerja keras memompa darah lebih cepat.
Reffan tak juga menurunkannya, dia malah menggendong Safira berkeliling melihat villa.
"Mas, turunkan aku mas. Mas pasti capek, aku berat mas." Safira akhirnya buka suara setelah Reffan tak juga menurunkannya.
Saat ini mereka berada di pinggir kolam renang indoor. Seringai Reffan muncul menatap Safira yang ngeri meliriknya.
"Mau turun. Baiklah.. kamu yang minta ya."
Byyuuuurrr...
Reffan menjatuhkan Safira ke dalam kolam renang. Kemudian diapun ikut menyusul Safira.
"Mas.." Safira kelagapan mengusap wajahnya. Dia sangat kaget dengan tindakan Reffan baru saja.
Reffan meraih dan memeluknya. "Kamu yang minta diturunkan tadi."
Safira sudah cemberut mendengar jawaban Reffan. Suaminya ternyata memang sangat usil tak terduga.
"Baju kamu basah Safira. Harus dilepas ini." Ucap Reffan enteng sambil menikmati lekuk tubuh yang terpampang jelas di depannya.
__ADS_1