Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Safira!


__ADS_3

Setelah memastikan Safira tidak melawan di kursi penumpang. Fairuz masuk ke kursi kemudi bersiap melajukan mobilnya. Mesin sudah menyala, sabuk pengaman sudah melekat di tubuhnya. Kakinya sudah bersiap menginjak gas. Hampir saja mobil bergerak, sebuah motor mengerem di depan mobilnya hanya menyisakan jarak kurang dari satu meter.


Fairuz mengeram, "Brengsek, berani sekali anak ini!"


Fairuz melepas sabuk pengamannya, membuka kasar pintu mobilnya. Bersamaan dengan pengendara pria yang turun tergesa dari motornya.


"Mana Safira?" Tanpa melepas helm, dia mendekati Fairuz.


"Bukan urusanmu bocah. Singkirkan motormu jika kamu masih ingin bekerja dengan nyaman." Fairuz berbicara dengan angkuh.


Bagas mendekat membenturkan kepalanya yang masih menggunakan helm ke kepala Fairuz.


"Sialan!" Fairuz mengumpat mendapati kepalanya yang terasa puyeng.


Bagas mendekatkan wajahnya ke kaca mobil mencari keberadaan Safira. Saat melihat Safira di bangku penumpang, dia menggedor jendela karena tak berhasil membuka pintunya.


.


Flashback on


Beberapa waktu yang lalu terjadi keributan di depan lobby karena seorang pengendara motor nekat akan masuk ke parkiran mobil di basement. Dua orang security mencegahnya.


"Apa-apaan kalian?" Bagas yang sebenarnya ingin memastikan Safira aman sampai rumah melihat mobil Fairuz. Akhirnya diapun mengikuti mobil Fairuz yang mengekori mobil Safira.


"Maaf pak anda tidak boleh masuk ke parkiran mobil. Parkir sepeda motor ada di sana." Seorang security mengarahkan tangannya ke parkiran motor.


"Safira dalam bahaya, saya harus cepat ke basement." Bagas panik karena tidak bisa segera menyusul mobil Fairuz yang mengikuti mobil Safira.


Dua orang security saling pandang.


"Safira dalam bahaya. Istri bos kalian dalam bahaya, kalian malah menahan saya. Kalian tidak percaya? Cepat telpon bos kalian, ah ya telpon Reffan sekarang. Cepat!" Bagas kebingungan.


Security juga nampak bingung, bertanya-tanya dalam hatinya, siapa orang di depannya ini yang berani menyebut bosnya dengan namanya saja. Walaupun kebingungan seorang security tetap menghubungi Bayu asisten Reffan. Saat security yang lain lengah, Bagas segera melajukan motornya ke arah basement.


Flashback off


.


Reffan masih di ruangannya bersama Bayu dan sekretarisnya Diana membahas hasil kerjasama dengan salah satu rekan bisnisnya. Sejak tadi Reffan sudah tak tenang memikirkan Safira, dia selalu melihat ponselnya mengecek keberadaan Safira. Setelah melihat titik lokasi Safira di hotelnya dia tersenyum lega tapi batinnya masih belum tenang juga.


"Ada apa denganku?" Reffan yang gelisah meraba dadanya yang berdebar.

__ADS_1


Matanya menatap ponsel Bayu yang bergetar di meja.


"Ada apa?" Bayu langsung berdiri dari posisi duduknya, menatap bosnya yang juga sedang memperhatikannya.


.


"Safira!" Bagas masih menggedor kaca berharap Safira bisa mendengarnya.


Safira memang masih bisa mendengar suara ketukan bertubi-tubi di kaca tapi sayangnya tak punya kekuatan untuk menggerakkan tubuhnya. Setetes cairan bening lolos dari sudut matanya.


"Aku tak bisa melindungi diriku sendiri." Safira berusaha membuka matanya, entah matanya sudah terbuka sempurna atau belum karena Safira hanya melihat bayangan samar dan buram.


Buggh!


Sebuah tinju mendarat di wajah Bagas mengenai hidungnya, membuatnya menjauh dari kaca.


"Jangan ikut campur urusanku!" Fairuz menatap Bagas dengan mata berkilat.


"Jika yang anda maksud urusan anda adalah Safira maka selamanya saya akan ikut campur." Bagas melepas helmnya melempar ke Fairuz namun berhasil ditangkis Fairuz.


"Kau masih suka pada Safira hah?" Fairuz tersenyum mengejek Bagas.


Bagas menyerang dengan gegabah, membuat pukulannya meleset. Fairuz menendang perut Bagas dengan mudah.


Dua orang security datang langsung melerai dan memegangi Fairuz dan Bagas. Hampir bersamaan dengan kedatangan Reffan, Bayu dan Diana. Diana sekretaris Reffan ikut mengekori bosnya karena ingin tahu apa yang menimpa istri bosnya.


Mata Reffan berkilat memandang Fairuz yang dipegangi seorang security kemudian beralih memandang Bagas.


"Safira Fan, di mobil Fairuz." Bagas memberi tahu keberadaan Safira.


Fairuz tersentak saat Bagas mengenal laki-laki yang baru saja datang.


Reffan dengan cepat mendekati mobil Fairuz mencari keberadaan Safira. Namun handle pintu terkunci membuat amarahnya langsung naik ke ubu-ubun. Reffan berjalan mendekati Fairuz.


Buggh! Sebuah tinju mendarat di perut Fairuz dari Bayu asisten Reffan. Reffan melirik Bayu.


"Maaf pak tangan saya gatal sekali sudah tak tahan." Bayu menjawab asal.


Reffan geram karena sudah bersiap melayangkan tinju dari tangannya yang terkepal malah keduluan asistennya.


Bayu dengan cepat menggeledah saku Fairuz mengambil kunci mobilnya.

__ADS_1


Reffan langsung kembali ke mobil Fairuz saat mendengar bunyi kunci terbuka. Diraihnya tubuh Safira agar bersandar di pundaknya. Netranya seakan melompat saat melihat wajah Safira. Wajah cantik istrinya pucat, keringat dingin bercucuran dari wajahnya dan yang membuat dada Reffan berdebar hebat adalah luka di sudut bibir istrinya dan pipi sebelah Safira yang memerah.


"Bajingan!" Reffan mengumpat. Tangannya mengepal kuat, ingin sekali dia menghajar Fairuz tapi dia juga tak ingin meninggalkan Safira.


"Sayang bangun!" Reffan mengecupi pipi istrinya.


"Sayang!" Suara Reffan tercekat saat melihat wajah kesayangannya yang masih saja pucat.


Diana menghampiri bosnya dan ikut terkejut saat melihat wajah Safira.


Bagas yang sudah tak dipegangi security karena Bayu menyuruh melepaskannya berjalan mendekat ke Safira, dadanya ikut sakit saat Safira disakiti. Bagas menyerang Fairuz kembali, pukulannya mendarat di wajah Fairuz menyisakan luka di sudut bibirnya.


Sementara Diana bertanya pada Reffan. "Saya panggil ambulan atau langsung kita bawa ke rumah sakit saja pak?"


"Kita langsung pergi. Cepat siapkan mobil!"


Bayu langsung berlari mengambil mobil, meninggalkan Fairuz begitu saja. Tak lama mobil sudah berada di dekat mobil Fairuz dengan Bayu di kursi kemudi.


Reffan mengangkat tubuh Safira. Diana membukakan pintu untuk Reffan. Bagas berlari ikut masuk ke kursi di samping Bayu. Setelah melempar kunci motornya ke security dan mengatakan titip motor. Sejujurnya dia juga mengkuatirkan keadaan Safira, tapi Bagas memastikan itu bukan cinta.


Reffan tak bisa menyembunyikan wajah cemasnya, diciumi wajah Safira berharap istrinya segera membuka mata.


.


Diana menghampiri Fairuz yang ditinggalkan bos dan asistennya begitu saja. Setelah berada di depan Fairuz dia melepas sepatunya, menampar Fairuz dengan keras.


"Aku tak mau menyentuh pria sepertimu tapi aku ingin menghajarmu. Sepatu yang kuinjak ini yang pantas untukmu." Diana menamparkan sepatunya sekali lagi ke wajah Fairuz. "Lepaskan dia! Pergilah tapi bersiaplah pak bos tak mungkin membiarkanmu."


"Itu tadi bosmu? Apa Safira simpanannya?" Fairuz yang pipinya memanas tapi masih bisa penasaran.


Diana yang sudah memakai sepatunya lagi melepas sepatunya dan melemparkan ke wajah Fairuz.


"Bu Safira istrinya bodoh. Istri pemilik hotel ini." Diana merasakan dadanya naik turun, geram dengan pria di depannya yang bodohnya gak kira-kira plus brengsek lagi.


Fairuz merasakan badannya seketika lemas.


"Safira!" Gumamnya lirih dan hanya didengar dirinya sendiri.


Ponselnya bergetar menampilkan sebuah panggilan.


"Selamat sore Pak Fairuz. Besok anda diagendakan menemui Direksi. Undangannya sudah dikirim ke email anda."

__ADS_1


__ADS_2