
Arka sudah tiba di perusahaan Ayahnya. Setelah menyerahkan surat pengantar magang dan segala administrasi untuk kepentingan kuliahnya ia kembali ke ruangan tempatnya bekerja. Dia duduk di meja kerjanya, mencoba focus pada layar datar yang menyala di depannya. Banyak angka terpampang di sana. Sang ayah tak semena-mena melepas anaknya untuk langsung terjun bebas ke dunia kerja yang kejam, ia menjadikan Arka asisten manager keuangan. Bagaimana pun putranya belum berpengalaman, hingga meskipun ia adalah generasi penerus yang akan memegang kukuasaan tetap saja Bayu mendidik anaknya untuk belajar dari dasar supaya kelak jika sudah menjadi pemimpin tak akan semena-mena menggunakan kekuasaanya.
Bu Ara, manager keuangan yang diberi kepercayaan oleh Bayu untuk membimbing Arka memperlakukan Arka seperti karyawan lainnya. Orang itu begitu professional, ia tak membedakan karyawan berdasarkan latar belakangnya. Begitu pun dengan Arka meskipun lelaki itu kelak akan menjadi pimpinannya ia tak sungkan membimbing Arka dengan tegas. Hal itu yang membuat Bayu memilih Bu Ara untuk membimbing putranya.
Bu Ara menghampiri Arka yang tampak melamun di mejanya. Wanita itu mengetuk meja Arka dua kali hingga pemiliknya melihat padanya, “focus Arka, kerjaanmu harus selesai sebelum pulang nanti.”
“Iya Bu, ini sudah selesai. Sedang saya tinjau ulang.”
“Bagus. Kerjamu lumayan cepat,” Bu Ara berpindah ke samping meja Arka dan melihat monitar datar berisi angka. “tapi saya lihat hari ini kamu tidak focus, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Sebaiknya jika kamu punya masalah jangan sampai mempengaruhi kinerjamu.” Imbuhnya kemudian meninggalkan meja Arka.
Arka melanjutkan pekerjaannya, meninjau ulang yang sudah ia kerjakan untuk memastikan tak ada kesalahan di sana. Berulang kali ia mengacak rambutnya asal, karena semakin ia berusaha focus tetap saja pikirannya tak bersahabat. Otaknya itu seolah tertinggal di kampus, kilas pandangan tadi pagi di depan kelas Freya selalu saja menganggunya.
Arka mengambil ponselnya dan menghubung Freya untuk memastikan gadis itu tak menemui adik tingkat yang yang tak tau diri. Bahkan tadi pagi sebelum meninggalkan kampus Arka sudah mengirim pesan pada Ardi untuk menemani Freya di kampus.
“Halo sayang kamu lagi apa?” Tanyanya saat Freya sudah menerima panggilannya.
“Aku lagi di kantin Bang. Abang udah makan siang?”
“Belum, kamu sama siapa di kantin? Nggak sama dia kan?” Arka begitu enggan menyebut nama Tito.
“Aku bareng Ardi dan Miya Bang.”
“Ya udah, jangan makan yang pedes-pedes takut asam lambung kamu kambuh lagi. Nanti pulangnya minta anterin Ardi aja yah. Pulang ke rumah Bunda aja, nanti pulang kerja Abang jemput. Kasian kamu kalo di apartemen sendirian.”
“Oke siap Bang.”
__ADS_1
Arka menyimpan kembali ponselnya dan beranjak untuk makan siang. Jam istirahat membuat kantin perusahaan lumayan penuh. Di sela-sela makan siangnya beberapa mahasiswi yang nampaknya juga sama dengannya sedang magang duduk di meja yang sama dengan Arka. Seperti biasa para perempuan berbasa-basi dan mencari perhatiannya tapi ia blak-blakan mengungkapkan statusnya yang sudah beristri hingga membuat mereka tak lagi mendekatinya.
Jam kuliah sudah selesai, Freya ditemani Miya sedang menunggu Ardi di kantin. Adik iparnya itu masih ada satu mata kuliah lagi. Miya sudah mengajak Freya untuk main saja dulu di apartemennya sambil menuunggu Ardi, tapi Freya menolaknya. Ia memilih menunggu di kantin sambil mengerjakan tugas pertama yang mereka terima.
“Kalian lagi ngerjain apa? Mau kakak bantu?” Tito yang tiba-tiba duduk diantara mereka menawarkan diri.
“Ngerjain tugas pertama nih.” Jawab Miya.
“Coba gue liat,” Tito mengambil buku catatan Freya. “Oh ini sih mudah nih.” Ucapnya.
Freya mengambil buku catatanya, “nggak usah kak, gue bisa ngerjain sendiri kok. Iya kan Mi?” ucapnya sambil mengeser kursinya menjauh.
“Kok gue ngeras lu lagi ngehindarin gue Fre?” Tanya Tito.
“Kenapa? Gue tau lu suka sama gue sejak SMK. Lu bilang mau nyusul gue kuliah terus kita bisa pacaran kalo lu udah jadi mahasiswa. Sekarang semua udah terwujud, lu satu kampus sama gue dan gue juga nggak punya pasangan. Apa karena kakak sepupu yang ngaku-ngaku jadi suami lu?”
“Dia emang suami gue Kak.”
“jangan ngarang deh Fre. Gue tau lu nggak boleh pacaran sampe lulus SMK. Mana mungkin lu baru lulus SMK belum lama dan sekarang lu bilang udah nikah? Apa nggak ada alasan lain buat nolak gue?”
“Beneran Kak, gue udah nikah. Dan untuk masalah surat di masa lalu anggap aja itu nggak pernah terjadi. Toh itu juga hanya bagian dari tugas siswa baru kala itu.”
“Tapi gue tau lu beneran suka sama gue, buktinya tiap pelajaran olahraga lu selalu liatin gue!”
“Itu Cuma sekedar kagum aja kali kak, toh kan bukan Freya doang yang liatin kakak pas pelajaran olahraga. Gue juga ngeliatin kakak terus kok.” Kali ini Miya tak tinggal diam, ia tak tega membiarkan sahabatnya terus diberondong pertanyaan yang menyudutkan.
__ADS_1
Tito seklias melirik Miya kemudian kembali menatap Freya, “Kalo lu belum bisa nerima gue, please kasih gue kesempatan buat ngeyakinin kalo lu beneran cinta sama gue Fre, bukan sekedar kagum. Dan jangan pake status bohongan lu sebagai istri orang buat bikin gue ngajauh dari lu. Karena itu nggak akan pernah terjadi.” Pinta Tito yang masih tak percaya akan status Freya.
“Soal kakak percaya atau nggak, itu bukan urusan gue kak. Yang penting gue udah jujur sama kakak. Gue nggak ada hak buat ngelarang orang suka sama gue. Perasaan itu urusan masing-masing, tapi disini hanya ada suami gue.” Ujar Freya sambil menunjuk hatinya.
Freya beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan kantin, tapi cairan berwarna merah yang saja mengguyur wajahnya membuat gadis itu melihat ke samping, “Kak Lisa? kenapa kakak nyiram gue?”
Miya langsung berdiri mengitari meja dan mebantu Freya mengelap wajahnya dengan tisu. “Lu nggak apa-apa Fre?”
Freya mengambil tisu di tangan Miya, “Nggak apa-apa. Gue bisa sendiri.” Ia membuang tisu itu setelah selesai mengelap wajahnya dan kembali menatap Lisa yang masih berdiri di sampingnya.
“Kakak udah nggak waras? Salah apa gue sampe main siram segala? Kebanyakan nonton sinetron yah!” Bentaknya pada Lisa, hingga semua penghuni kanti menjadikan mereka tontonan gratis.
“Lu yang udah nggak waras!” bentak Lisa dengan menunjuk Freya dengan jarinya. “apa yang tadi lu bilang ke dia?” kali ini Lisa melirik Tito kemudian kembali menghunuskan tatapan tajamnya pada Freya, “Lu bilang istrinya Arka? Sadar diri, lu tuh Cuma adik sepupunya jangan ngaku-ngaku deh!” lanjutnya.
“Terserah Kakak mau ngomong apa tapi setidaknya gue punya harga diri nggak ngejar-ngejar suami orang.” Pungkas Freya kemudian pergin meninggalkan kantin. “Ayo Mi!”
Miya mengikuti Freya, “Sayang banget tuh wajah, cantik tapi nggak waras!” ejeknya pada Lisa sebelum pergi.
.
.
.
jangan lupa like dan komentarnya!!
__ADS_1