
"Hah?" Ardi begitu terkejut mendengar ucapan Bundanya.
"Ha.. Hamil?" Ucap Freya lirih kemudian kembali berlari ke kamar mandi karena ingin muntah.
"Ardi jangan cuma hah heh hoh, cepetan kabarin Arka. Suruh kakak kamu pulang dulu." Teriak Mira kemudian menyusul Freya ke kamar mandi, membantu memijat leher belakang menantunya.
Saking terkejutnya dan belum bisa percaya dengan kata-kata Bunda Mira terkait kehamilan Freya, Ardi reflek mengirim chat ke Arka karena berulang kali di telpon tak di angkat. *Kak pulang dulu, Freya hamil.*
Freya kembali berbaring di bantu oleh Bunda Mira. "Apa lagi yang sakit sayang?"
"Perut aku Bun enek banget terus kepala aku juga pusing. Sekarang malah dingin." Keluh Freya sambil menaikan selimutnya hingga ke dada.
"Ardi cepet telpon dokter keluarga kita." Titah Mira.
"Tapi Bun."
"Jangan tapi-tapian cepetan." Teriak Mira yang mulai panik takut terjadi apa-apa pada calon cucunya. Mertua Freya itu nampaknya sudah sangat yakin kalo sang mantu muntah-muntah karena hamil.
"Jangan telpon dokter Bun. Freya takut." Ujar Freya lirih.
"Lah kenapa?" Mira berbalik menatap Freya.
"Aku nggak mau di suntik Bun." Rengek Freya.
"Dia juga nggak bisa minum obat Bun." Timpal Ardi yang memang sudah tau betul segala sesuatu tentang Freya. Maklum lah secara Ardi kan pejuang cinta Freya yang gagal sebelum memulai.
"Lah terus ini gimana dong kalo nggak manggil dokter." Mira semakin panik.
"Aku nggak apa-apa Bun di bawa tidur aja biasanya juga sembuh. Aku kalo sakit nggak pernah minum obat." Ucap Freya pelan.
"Ya udah kamu istirahat, biar Bunda temenin di sini."
Ardi yang baru saja kembali dari dapur membawa segelas susu murni untuk Freya. "Minum dulu udah gue panasin. Gue tau lu cuma bisa minum ini kalo sakit." Ujar Ardi sambil menyodorkan gelas pada Freya.
__ADS_1
"Susu apa itu Ardi? Jangan ngasih minuman sembarangan ke Freya, ntar dedeknya kenapa-napa." Selidik Mira.
"Ini cuma susu murni yang biasa iklannya gambar naga itu loh Bun." Jawab Ardi. "Udah nih minum Fre." Imbuhnya sambil memberikan gelas berisi susu.
Freya meminumnya hingga habis. "Makasih Di. Lu emang paling ngertiin gue."
"Sama-sama. Udah lu tidur biar gue sama bunda jagain lu di sini."
.
.
.
Pukul sembilan malam Arka yang baru saja selesai dengan pembahasan progres program KKN mereka kembali ke kamar bersama dengan Rendi, Irfan dan dua lainnya. Tangannya langsung meraih benda pipih yang sedari tadi ia isi daya. Terlihat disana sepuluh panggilan tak terjawab dari Ardi. Alih-alih menelpon balik Ardi, Arka justru di buat terkejut dengan pesan Ardi yang baru saja ia baca. *Kakak pulang dulu, Freya hamil.* Kini HP nya bahkan terjatuh begitu saja. Seketika tatapannya kosong, entah apa yang ada dipikiran lelaki itu saat ini.
Empat orang yang berada di kamar itu saling melempar tatapan seolah bertanya kenapa. Irfan yang sudah rebahan di ranjang pun beranjak dan mengambil HP Arka karena yang punya masih berdiri dengan tatapan kosong.
"Hahha gue nggak nyangka Ar lu hebat juga. Nggak sia-sia kita pernah nonton film biru berjamaah." Ucap Irfan sambil menepuk pundak Arka.
Rendi yang kepo segera menghampiri Irfan. "Apaan sih? Kenapa si Arka sampe jadi patung gitu?"
"Nih lu baca aja sendiri." Irfan memperlihatkan pesan dari Ardi.
"Wow amazing lu Ar. Selamat yah." Ucap Rendi, "nggak nyangka kita udah mau jadi Om, Fan." Lanjut Rendi.
Arka duduk di tepi ranjang. Lelaki itu mengacak rambutnya. Masih tak percaya dengan kabar yang diterimanya.
"Lu nggak seneng Ar?" Tanya Rendi.
"Iya kok lu malah jadi kayak orang bingung gitu sih Ar?" Timpal Irfan.
Arka mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar, tenyata dua orang lainnya sedang keluar. Hanya menyisakan mereka bertiga.
__ADS_1
"Gue seneng. Tapi jujur gue belum siap. Ah ini salah gue kenapa waktu itu nggak pake pengaman." Lagi-lagi Arka mengacak rambutnya.
"Nggak siap kenapa sih Ar?" Tanya Rendi.
"Ya kan kalian tau gue belum kerja. Sampe sekarang aja hidup gue masih dibiayai sama orang tua. Gue pengennya bisa mandiri dulu baru punya anak. Lagian kalian tau sendiri Freya aja masih suka ngambekan dia belum dewasa. Kasian juga dia baru mau masuk kuliah malah hamil. Jadi bukan gue nggak seneng, cuma gue rasa waktunya yang belum tepat." Tutur Arka.
"Lagian lu udah tau bini lu belum dewasa malah lu ajakin aye aye kagak pake pengaman lagi lu." Ujar Rendi.
"Kebablasan gue waktu itu, padahal rencananya mau dibuang diluar aja, eh kepalang tanggung malah gue gass. Abis gitu bikin nagih banget tau nggak. Ah mau gue ceritain kasian kalian kaga bisa praktek. Tapi kan baru dua minggu kebelakang gue aye aye masa langsung hamil yah?" Heran Arka.
"Gebleg lu malah pamer Ar. Soal beneran hamil kagaknya ya gue Ar lu yang main aye aye kok malah nanya ke gue." Kesal Irfan sambil melempar bantal pada Arka.
"Jadi gimana rencana lu kedepannya?" Tanya Rendi.
"Mungkin gue bakal nerima tawaran bokap yang nyuruh gue mulai kerja di kantor cabang, lagian beres KKN kan kita harus magang. Jadi kemungkinan gue mau magang di perusahaan bokap aja terus lanjut kerja disana."
"Mantap. Gue salut sama lu Ar. Pikiran lu udah jauh ke depan di banding kita yang masih suka main." Puji Irfan.
"Gue juga masih suka main kali. Cuma kan nggak bisa kaya dulu, gue udah punya bini dan bentar lagi punya baby juga." Raut wajah bingungnya mulai beralih menjadi senang, rasanya lucu menyebut kata 'baby' bahkan sebelumnya akan punya anak di usia semuda ini tak pernah terpikirkan. Boro-boro mikirin anak nikah muda aja nggak pernah kepikiran bagi seorang Arka.
"Gue mau balik dulu. Lu bilang ke yang lain gue ada urusan darurat gitu yah. Gue mau liat istri sama calon baby gue." Arka kembali melihat HP nya. Beberapa pesan beruntun masuk dari Bunda Mira yang mengatakan Freya muntah-muntah dan demam disertai pusing. Arka lantas menggenakan jaketnya dan keluar dari kamar.
"Ar mau kemana?" Tanya Lisa yang baru saja hendak masuk ke kamarnya.
"Bukan urusan lu!" Arka berlalu meninggalkan Lisa yang masih berdiri di depan pintu. "Baby tunggu papa pulang." Batinnya.
.
.
.
Baby baby jangan lupa like, komen dan votenya yah. Ajak temen-temen juga buat baca cerita ini biar jemaah halu kita makin bertambah. Terimakasih. See you next part.
__ADS_1