Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Kita baikan yah?


__ADS_3

Pukul satu siang Freya dan kedua sahabat sang suami sudah tiba kembali di rumahnya. Ketiganya langsung masuk ke dalam rumah, seperti biasa rumah dengna ukuran cukup besar itu sepi hanya nanpak kedua orang tua Freya yang edang menonton televisi. Lebih tepatnya hanya papa Freya yang menonton televisi karena si Mama seperti biasa sibuk menatap layar ponselnya.


“Eh kalian udah pulang.” Sapa Ratna saat Freya duduk di sampingnya.


“Iya Ma. Bang Ar mana Ma?” tanya Freya saat tak mendapati Arka di ruangan yang sama.


“Di kamar tadi Mama suruh dia tidur, kasihan wajahnya lesu gitu. Suami kamu itu pasti kurang tidur.” Jelas Ratna.


“Iya Tan, si Arka tuh semenjak ribut sama anak Tante nggak pernah bisa tidur.” Ujar Irfan.


“Jangan ngarang deh Kak, tadi pagi aja tidurnya pules banget.” Bantah Freya.


“yelah itu mah pules karena ada di deket lu aja kali jadi dia ngerasa nyaman. Dari waktu ku marah sama dia nggak pernah tidur dia tuh.” Ujar Irfan.


“Udah jangan ribut mulu. Kalian istirahat aja dulu sebelum perjalan jauh nanti, supaya nggak kecapean. Kamu juga Fre ke kamar sana temenin suami kamu. Jangan jadi istri durhaka.” Titah Ratna.


“Iya Tante, kita langsung ke kamar dulu.” Pamit Rendi yang diikuti oleh Irfan.


“Belain aja terus menantu Mama. Sebenernya yang anak Mama tuh siapa sih aku apa Bang Ar? Dari pagi ngebelain dia terus.” Kesal Freya sambil beranjak dari duduknya.


Ratna segera bangkit dan menarik Freya, membuat gadis itu kembali duduk di sampingnya. “Mama ngga belain kamu ataupun suami kamu. Kalian itu baru memulai rumah tangga beberapa bulan saja udah kaya gini. Cobaan dimasa depan akan lebih sulit sayang, dinatara kalian harus saling percaya supaya hubungan kalian tak mudah goyah. Jika hanya karena masalah seperti ini kamu sudah kabur-kaburan bagaimana kamu akan menghadapi masa depan?”


“Tapi Ma, Bang Ar yang jahat dia pacaran di belakang aku.” Ucap Freya sambil menahan tangisnya.

__ADS_1


“Kamu yakin suami kamu pacaran? Nggak Cuma pikiran kamu yang terlalu kejauhan?” tanya Ratna.


“Beneran Mama, kan aku udah ceritain semua ke Mama.” Keluh Freya.


“Sekarang Mama tanya, Freya cinta nggak sama Arka?”


“Cinta lah Ma, kalo nggak mah aku nggak akan sesedih ini.”


“Sekarang abaikan soal pacaran atau tidak yang jelas jika kamu mencintai seseorang maka kamu harus bisa pertahanin dia di samping kamu, apalagi orang yang kamu cinta juga cinta sama kamu. Bukan malah kabur dan mengabaikan suamimu. Untung Arka nyusul kamu kesini, lah kalo dia malah kesemsem sama orang yang kata kamu pacar dia, kamu mau gimana? Mau biarin suami kamu diambil orang?”


“Nggak mau Mama.” Kali ini gadis dengan rambut panjang itu benar-benar tak mampu menahan tangisnya.


Ratna menghapus air mata putrinya dan memeluk gadis yang masih terisak dengan tangisnya. “Yang namanya rumah tangga itu selalu ada ujiannya sayang. Saat kalian diuji jangan sampe kamu kabur seperti ini lagi. Belajarlah menyelesaikan masalah kalian sendiri jangan sampai orang lain tau masalah kalian, kecuali jika kalian sudah tak mampu menyelesaikannya sendiri baru kamu cerita ke Mama atau Bunda Mira. Ingat jangan pernah lari dari masalah. Belajarlah lebih dewasa, meskipun kamu masih terlalu muda tapi sekarang kamu punya tanggungjawab mengurus suamimu. Begitu juga Arka, dia punya tanggungjawab yang lebih besar dibanding kamu. Jangan lama-lama marahannya nggak baik, lagipula suamimu punya itikad baik menyusul kamu kesini. Di ajuga sudah menjelaskan semua perkara salah paham kalian bahkan meminta maaf untuk kesalahan yang sebenarnya tak ia lakukan. Ini semua murni karena gadis yang ngaku-ngaku pacar suamimu, dan sebagian karena salah kamu yang kabur dan membuat ini semua semakin rumit.” Tutur Ratna panjang lebar dengan wejangan-wejangan terkait cobaan dalam suatu hubungan.


“Tapi apa?”


“Tapi tadi aku masih ragu dan belum percaya sama mereka. Tapi kalo dipikir-pikir lagi sepertinya Kak Lisa emang yang ngejar Bang Ar. Aku harus gimana Ma kalo emang bener aku Cuma salah paham? Kan malu Ma.” Ujar Freya.


“Makanya kalo ada apa-apa dipikir dulu baik-baik jangan main ngambek sama kabur. Kebiasaan kamu itu dikit-dikit ngambek.”


“Abisnya kan sakit banget aku tuh Ma liat Bang Ar dipanggil sayang sama dia, padahal aku aja manggilnya Abang nggak pake sayang.”


“Ya udah tinggal panggil sayang aja sana. Lagian kamu menantu Mama ganteng gitu kamu panggil Abang kayak tukang bakso aja. Udah sana ke kamar temenin suami kamu.” Ujar Ratna.

__ADS_1


Freya menurut, gadis itu beranjak dari duduknya dan meninggalkan sang Mama. Menapaki tangga demi tangga dengan aneka pemikiran yang bersarang di kepalanya. Tiba di dalam kamar ia meletakan tasnya di gantungan yang terletak di samping pintu, menutup pintu dengan asal tanpa menguncinya. Dengan pelan berjalan pada sosok yang belum lama ditetapkan sebagai tersangka tukang selingkuh sedang terlelap dalam tidurnya. Ikut membaringkan diri di samping Arka, menatap dalam wajah suaminya yang tetap tampan meskipun ada sedikit lingkar hitam di bawah matanya, sepertinya benar Arka tak tidur dengan selama ribut dengannya.


Tatapannya beralih ke tangan Arka yang memegang ponsel, terlihat beberapa kali benda pipih itu menyala tanpa suara. Iseng-iseng Freya mengambilnya dari tangan Arka. Ini pertama kalinya ia memeriksa ponsel Arka tanpa sepengetahuan yang punya. Entahlah ia jadi seberani ini setelah mendengar penjelasan Rendi dan Irfan tadi.


Freya melirik ke sampingnya memastikan Arka masih tidur. Ternyata ponselnya tak dikunci dengan bebas Freya membuka ponsel itu. Ada banyak panggilan tak terjawab atas nama Lisa bahkan puluhan chat dari nama yang sama tak satu pun dibalas karena di baca pun tidak. Pandangannya begitu terkejut saat mendapati namanya di kontak sang suami, tertera nama ‘My Treasure’ di sana dengan puluhan panggilan keluar.


Tak sampai disana, Freya melanjutkan membuka setiap chat yang ada. Tak ada satu pun yang mengarah pada perselingkuhan kecuali chat Lisa yang terus memanggilnya sayang. Lanjut ke galeri kali ini mulutnya dibuat menganga karena ternyata ada begitu foto dirinya disana, sepertinya diambil secara diam-diam.


Freya langsung menjatuhkan ponsel ditangannya ketika Arka tiba-tiba melingkarnya tangan di perutnya. Reflek matanya melirik ke samping. “A-Abang udah bangun?” ucapnya terbata seperti maling yang baru saja ketahuan.


“Hm iya. Jangan marah lagi, Abang minta maaf.” Ucapnya dengan suara khas bangun tidur sambil menatap Freya.


“Eh iya. Ini ponsel Abang barusan aku pinjem bentar. Kameranya bagus.” Elak Freya padahal Arka tak menanyakan apa pun terkait benda itu. “Aku taruh sini yah.” Imbuhnya sambil meletakan ponsel pada nakas di samping ranjang.


“Iya. Kalo kamu mau nanti Abang beliin yang kayak gitu. Tapi udahan yah ngambeknya.” Bujuk Arka.


“Tapi aku nggak pengen ponsel Bang, Eh iya boleh deh. Maafin aku karena udah salah paham.” Ucap Freya dengan pelan.


“Maafin Abang juga, seharusnya Abang ceritain soal Lisa dari awal supaya kamu nggak salah paham. Jadi kita baikan yah?” tanya Arka yang masih setia menatap istrinya.


“Iya Bang.” Jawab Freya dengan malu kemudian menyerukan wajahnya di dada Arka, tempat ternyamannya.


Arka memeluk erat Freya yang baru saja berbaikan dengannya, megusap punggung gadis itu dengan lembut dengan sesekali menepuknya penuh kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2