Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Efek ngacak rambut


__ADS_3

Senin kembali menyapa, mau tak mau setiap insan harus kembali ke rutinitas biasa. Mulai dari ibu rumah tangga yang harus bangun pagi demi suami dan anak-anaknya, siswa yang harus siap-siap upacara bendera hingga para pekerja yang menyambut hari ini dengan malas, kenapa libur cepat sekali berlalu pikir mereka.


Tak berbeda dengan calon ayah yang sedang sudah beberapa kali bolak balik kamar mandi muntah-muntah, meskipun lemas ia harus tetap pergi bekerja. Lain halnya dengan calon ibu yang bisa menikmati sarapan dengan nikmat, Arka hanya bisa minum teh hangat pagi ini. Si caby kesayangannya benar-benar menguji kesabaran, setiap pagi dan malam selalu mengajaknya olahraga memuntahkan semua isi perut hingga tak tersisa. Hingga rasanya ia trauma untuk makan pagi dan malam hari.


“Abang nggak sarapan? Ntar lemes lagi di kantor.” Ucap Freya sambil mengunyah roti di mulutnya, yang dibalas gelengan kepala oleh Arka.


“Makanlah Bang! Nih aku suapin yah?” Freya menyodorkan roti dengan selai cokelat yang baru saja ia gigit pada Arka.


“Nggak mau sayang. Ntar aja, siangan makannya. Kamu aja makan yang banyak, kan sekarang kamu makan buat dua orang, sama si caby.” Ujar Arka.


“Amazing emang anak lu Kak. Belum apa-apa udah nyiksa bapaknya.” Ucap Ardi diakhiri tawa, “Itu si caby kalian bikin pake gaya apa sih? Kok jadinya ngeselin banget.” Imbuhnya tanpa dosa.


Bunda Mira dan suaminya hanya tersenyum menanggapi obrolan anak dan menantunya. Sementara Freya jadi tak enak hati, ia meletakan kembali roti yang sedang ia makan. Ia tak terima atas kata-kata Ardi yang mengklaim caby nya ‘ngeselin’ padahal ia dan Arka sangat menyayanginya.


“Kenapa kagak diabisin roti lu? Apa si caby pengen gue yang bikinin roti spesial buat mamanya?” ledek Ardi ketika melihat Freya tiba-tiba kehilangan nafsu makan dan meletakan roti yang belum habis di piring.


“Mau Abang bikinin lagi pake selai yang lain? Atau mau di mix pake selai semua rasa?” tawar Arka.


Freya menggelengkan kepala, “nggak. Udah cukup aku sama caby ngerepotin kalian. Maaf…”


“Sayang…” Arka berdiri dan memeluk Freya yang masih duduk di kursinya, “kamu sama caby nggak pernah ngerepotin. Abang seneng kok meskipun harus makan yang aneh-aneh dan muntah tiap pagi sama malam. Kita semua tuh sayang sama kalian.” Lanjut Arka sambil membelai rambut istrinya yang mendadak baperan.


“Tapi kata Ardi si caby nyiksa bapaknya, ngeselin juga.” Adunya tak terima.


“Jangan dengerin Ardi. Dia cuma bercanda aja Dek.”


Ardi jadi serba salah. Apalagi melihat tatapan tajam sang kakak padanya. Dari awal niatnya hanya meledek saja. “Iya iya Fre gue becanda doang. Lu kayak baru kenal gue kemaren aja. Gue tuh sayang banget sama calon ponakan gue.” tutur Ardi. “Si caby kesayangan itu gue sayang banget. Gue rela ngelakuin apa aja asal si caby seneng. Udah kek jangan murung gitu. Bukan lu banget.” Imbuh Ardi.


“Iya sayang, kita tuh sayang banget sama si caby. Bunda juga siap ngapain aja asal calon cucu bunda seneng. Ayah juga kan?” timpal Mira yang dianggukki Bayu.


“Udah jangan sedih lagi yah.” Arka melepas pelukannya dan kembali duduk di samping Freya.


“Mau di bikinin roti mix semua rasa sama Ardi.” Ucap Freya.

__ADS_1


Tanpa berbicara Ardi mengambil roti tawar dan mengolesnya dengan berbagai selai, “Silahkan kakak iparku tersayang.”


“Satu lagi…”


“Oke gue ambilin.” Ardi mengambil selembar roti lagi dan memberikannya pada Freya.


Freya menepisnya dengan mengibaskan tangan, “bukan.”


“Terus lu mau apa lagi?”


“Emz, gue mau lu sama Miya…” Freya bingung melanjutkan ucapannya, ia sadar kalo keinginannya ini tak masuk akal.


“Kalian lanjutin aja sarapannya, Bunda mau nganter ayah ke depan.” Potong Mira kemudian beranjak meninggalkan ruang makan bersama Bayu.


“Abang juga berangkat dulu. Nanti berangkat kuliah bareng Ardi aja yah.” Ucap Arka lalu meninggalkan Freya setelelah mengecup kening sang istri, tak lupa mengelus si caby yang masih stay di perut.


Waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi, Freya baru saja memasangkan sabuk pengamannya. “Udah Di, ayo berangkat.” Ucapnya pada adik ipar yang duduk di balik kemudi. Demi kakak ipar ia rela berangkat kuliah satu jam lebih awal karena jadwal kuliahnya kali di mulai jam sepuluh.


“Eh iya Di, gara-gara tadi kepotong Bang Ar yang mau berangkat kerja gue jadi lupa belum bilang keinginan si caby satu lagi loh.” Ujar Freya.


“Hah? Serius? Sejak kapan lu punya pacar Di? Bukannya lu jomblo.” Wajah terkejut dan tak percaya jelas terlihat di wajah berponi itu.


“Sejak kemarin.” Jawab Ardi enteng. Ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman samar.


Freya memandang ke luar, pikirannya menerawang jauh. Gagal sudah niatnya untuk membantu Miya mendapatkan Ardi, “Mi maafin gue nggak bisa merealisasikan rencana kita.” Batin Freya.


“Woy Mamanya caby.” Panggil Ardi, “udah nyampe nih. Turun gih.” Imbuhnya.


“Makasih Di.” Ucapnya kemudian turun dari mobil.


Dengan lesu Freya berjalan pelan ke fakultasnya. Langkahnya berhenti seketika saat melihat Ardi yang berjalan mendahuluinya dan memanggil seseorang yang sangat ia kenal dengan sebutan ‘sayang’ kemudian merangkul gadis yang belum menengok itu.


Freya berulang kali memejamkan kemudian membuka kembali matanya, ia bahkan mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan yang ia lihat adalah kenyataan, “ini gue kagak lagi ngimpi kan?” gumamnya kemudian berjalan cepat menghampiri Ardi.

__ADS_1


“Kalian?” Freya menunjuk Ardi dan Miya secara bergantian.


“kenalin nih cewek gue.” ucap Ardi.


“Serius?” Freya masih tak percaya.


“Iya lah.” Jawab Ardi yang masih merangkul bahu Miya. Sementara yang dirangkul masih diam membisu tak mampu berkata-kata.


“Sumpah gue seneng banget. Kenapa nggak bilang kalo kalian pacaran sih? Gue sampe nggak bisa tidur semaleman tau Mi, mikirin gimana caranya ngewujudin rencana kita.” Tutur Freya.


Miya masih diam saja, hanya tersenyum sesekali menanggapi Freya yang terus nyerocos tanpa rem. Otaknya masih belum bisa menerima penjelasan Freya yang tak bisa tidur untuk mewujudkan rencana ngidam mereka, di sisi lain Ardi malah sudah mengakuinya sebagai pacar. Padahal kesepakatan mereka kan hanya akan berpura-pura pacaran jika Freya meminta. Tapi apa ini? Freya belum meminta tapi lelaki yang merangkulnya sudah mengaku sebagai pacar?


“Gue ke kelas dulu deh, nggak mau ganggu yang baru jadian.” Ucap Freya kemudian berlalu meninggalkan mereka. Sesekali ia menengok ke belakang dan mendapati Ardi yang masih merangkul bahu Miya tersenyum padanya.


“Kita udah mulai nih pura-pura pacarannya Di?” tanya Miya setelah Freya sudah tak terlihat lagi.


“Ke kelas gih udah mau mulai pelajarannya bentar lagi.” Ucap Ardi sambil mengacak rambut Miya pelan.


Ingin sekali rasanya kali ini waktu berhenti seketika, merasakan tangan Ardi yang mengacak rambutnya malah serasa hatinya yang diacak-acak tak karuan. Jantungnya makin jedar jeder berdegup tak sesuai aturan. Tapi Miya tak mau menunjukan dirinya yang baper di depan Ardi, mengetahui lelaki itu hanya menganggapnya sebagai sahabat.


“Awas ih. Jadi berantakan nih rambut gue.” elak Miya berpura-pura kesal padahal dalam hati berharap diacak-acak terus juga nggak apa-apa. Tanpa mendengar jawaban Ardi, ia berlari menuju kelas.


Ardi memandangi gadis berambut pendek yang semakin menghilang dari pandangan. Kini pandangannya beralih pada tangan kanan yang ia gunakan untuk mengacak rambut Miya, lagi-lagi ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman.


“Sebahagia ini ngacak rambut cewek? Pantesan Kak Arka hobi banget ngacak-ngacak rambut Freya.” Batinnya.


.


.


.


kuy praktek, yang jomblo acak-acak rambut sendiri aja!

__ADS_1


jangan lupa like komen favoritkan. WAJIB!!!


__ADS_2