Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Pengumuman


__ADS_3

Mentari sudah tenggelam berganti dengan kegelapan bertabur kerlap kerlib bintang yang menghiasi langit malam itu. Ballroom hotel tempat mengadakan acara sudah disulap sedemikian rupa menjadi kian mewah. Meja bundar dan kursi tamu yang dibalut dengan kain berwarna putih tulang semakin menambah elegan. Aneka makanan dan snack tersedia di bagian sisi ruangan dengan pelayan yang selalu siap sedia.


Sebagian tamu mulai berdatangan dari mulai rekan bisnis, karyawan, teman kuliah Arka Freya hingga tak ketinggalan tamu spesial Bunda Mira dari Grup Chat yang telah mengirim menantu kesayangan.


Freya masih berada di dalam kamar hotel, sedari siang keluarganya memang sudah memesan beberapa kamar untuk teman-teman grup chat, Papa dan Mama Freya juga keluarga Arka tentunya.


Freya sudah selesai dengan riasannya. Ia mengenakan gaun berwarna soft pink selutut dengan rambut yang cepol ala-ala drakor, tak lupa menambahkan hiasan berupa jepit simple yang dibelikan oleh Miya, sesuai rencana malam ini ia mau couplean jepit dengan Miya.


Melihat penampilannya di cermin, sesekali merapikan poni yang sama sekali tak berantakan, “Kayak gini malu-maluin nggak yah?” tanyanya pada pantulan dirinya di dalam cermin.


“Nggaklah, imut gitu mamanya caby.” Ucap Arka yang baru saja keluar dari kamar mandi. Calon ayah itu sudah siap dengan stelan jas hitam formal dan duduk di ranjang.


Freya berbalik menatap Arka, “cuma imut doang yah Bang?”


Arka beranjak berdiri di hadapan Freya, sedikit menunduk untuk bisa menyamakan tinggi mereka. “udah imut manis gini kayak biasanya kok sayang.” Ucapnya sambil menangkup kedua pipi Freya dengan telapak tangan.


“Aku nggak cantik yah Bang?”


“Cantiklah. Kamu tuh paling cantik. Ngegemesin juga nih.” Lanjutnya sambil mencubit pipi Freya.


“Yah aku cantiknya cuma bikin gemes aja yah. Kalah dong aku sama Kak Lisa? Dia mah body nya wow banget, mana bajunya yang kemaren seksi banget.” Ujar Freya sambil kembali berbalik dan menatap cermin. Suaminya begitu tinggi dan tampan, tak ada keburikan sedikit pun. beralih menatap pantulan dirinya, “Ini mah kayak adek sama kakaknya.” Imbuh Freya, meratapi penampilannya yang yang tak seksi sama sekali.


“Apa aku ganti baju aja yah Bang? Takut penampilan aku tuh yang paling kayak bocah nanti. Liat aku nggak keliatan dewasa sama sekali.”


“Nggak udah udah kayak gini aja, Abang suka kok.” Ucap Arka lalu memeluk Freya, ia tau sang istri sedang kurang percaya diri. Sejak hamil Freya memang mudah berubah moodnya, baperan tapi kadang ngeselin juga nggak ada batas.


Freya dan Arka masuk ke dalam tempat acara yang sudah ramai, sepertinya sebagian besar tamu undangan hadir semua terlihat dari ballroom yang luar jadi terasa sempit. Freya masih memegang lengan kiri Arka mengikuti kemana pun suaminya berjalan. Dari mulai menyapa beberapa mahasiswa yang Freya kenal saat ospek. Ada juga Irgi, mahasiswa tingkat tiga dari jurusan TI yang pernah menghukumnya saat ospek.


“Hai cantik-cantik kembluk.” Sapanya pada Freya. “makin gemesin aja sepupunya Ar, buat gue boleh yah?” Imbuhnya.


“Maaf yah Kakak, gue ini udah sold out.” Jawab Freya dengan tawanya.

__ADS_1


"Kayak dagangan aja lu pake sold out segala. Kasih gue aja lah Ar. Gue udah cocok banget nih jadi pasangan sepupu lu." Ucap Irgi.


"Kagak bisa, dia udah ada yang punya!"


“Bang Ar aku kesana dulu.” Ucap Freya sambil menunjuk ke arah Miya yang duduk bersama teman-teman satu kelasnya. Meski ada satu orang yang bukan anggota kelas mereka tapi nyasar di meja itu, pamannya si caby.


“Iya. Abang duduk di sana yah kalo kamu nyariin.” Ujar Arka sambil menunjuk meja ketiga tempat Irfan dan Rendi duduk.


Freya mengangguk kemudian berjalan menjauh, menuju tempat Miya duduk.


“Hei calon adik sepupu.” Suara yang lumayan ia kenali, pasalnya hanya Lisa yang memanggilnya dengan sebutan itu.


Meski enggan, Freya menghentikan langkahnya dan menyapa Lisa dengan kedua orang tuanya. Seperti dugaannya wanita itu berpenampilan seksi dengan baju yang kemarin di belinya.


“Malem Om, Tante. Kak Lisa juga.” Sapa Freya ramah kemudian kembali menghampiri Miya.


Dari tempat duduknya Freya bisa melihat ayah dan ibu Lisa yang duduk bergabung di meja yang sama dengan mertua dan orang tuanya. Sementara Lisa duduk di meja yang sama dengan Arka. Sangat kentara wanita itu berulang kali mencari perhatian Arka.


“Eh Fre lu kan sepupunya Kak Arka nih. Apa cewek yang duduk bareng sepupu lu itu istrinya?” tanya salah seorang teman Freya.


“hih… masa lu lupa sih? Pas ospek kan Kak Arka bilang udah nikah tuh, tapi kita-kita kan belum tau istrinya siapa. Makanya kita tuh antusias banget pada hadir ke acara ini soalnya pengen tau istri kak Arka.” Lanjutnya.


“Iya bener Fre. Apa itu istrinya? Tapi bukannya itu kak Lisa yah? Senior kita yang pernah nyiram lu pake jus tomat di kantin?” timpal salah satu teman lagi.


“Bukan dia.” Ardi yang sedari tadi diam jadi ikut bersuara.


“Terus yang mana istrinya Kak Arka? Penasaran nih gue secakep apa orangnya.”


“Ntar juga kalian tau kok. Orangnya nggak cakep-cakep amat, yang ada ngeselin.” Ucap Ardi sambil melirik Freya yang sibuk memakan camilan.


“Ngeselin-ngeselin juga lu pernah bucin akut sama itu orang.” Ucap Miya.

__ADS_1


“Itu kan dulu sayang, sekarang kan ada elu.” Jawab Ardi yang membuat Miya tersedak mendengar kata ‘sayang’ terucap dari mulut Ardi.


“Lu nggak apa-apa kan yang?” Ardi menyodorkan air minum.


“Makasih, gue nggak apa-apa.” Ucap Miya setelah minum, Ardi semakin hari semakin aneh. Main panggil sayang tanpa kompromi terlebih dahulu, membuat hati Miya bekerja lebih keras nahan baper.


“Ah kesel gue lama-lama liat kalian lebay banget.” Ucap Freya sambil beranjak dari duduknya.


“Bilang aja sirik. Mau kemana lu? Jangan jauh-jauh ntar ilang lagi.” Ledek Ardi.


“Lu kira gue bocah apa. Awas ntar lu, kalo udah di rumah.” Ancamnya sebelum pergi.


Freya mengedarkan pandangannya, mencari emak-emak dari grup chat yang sudah memberi dia banyak edukasi dua satu plus-plus. Kangen dengan kegilaan mereka. Selain itu, kali aja ada pelajaran baru yang bisa dia peroleh.


Freya tersenyum simpul saat mendapati emak-emak dari grup chat duduk tak jauh dari meja Arka. Ia berniat kesana dan bergabung tapi saat melewati meja sang suami, malah menariknya, “sini aja Dek.” Ucap Arka lalu berdiri dan berbisik di telinga Freya, “Abang mual, pengen deket caby.”


“Ya udah aku duduk di samping Kak Rendi yah.” Freya mengitari meja dan duduk di samping Rendi.


Bukannya kembali duduk di tempatnya Arka malah mengikuti Freya, “Ren lu pindah ke kursi gue yah.”


Rendi dengan pasrah mengalah, demi ponakan barunya ia rela duduk di samping nenek lampir. Si calon ayah yang hampir muntah-muntah berhasil menghilangkan rasa mulanya setelah duduk di dekat sang istri.


Bayu berdiri di panggung dengan kata-kata sambutan tak lupa ucapan terimakasih atas kehadiran dan kerja sama semua patner bisnisnya.


“Dalam kesempatan ini saya ucapkan terimakasih atas kehadiran dan dedikasi para karyawan serta dukungan dari semua rekan-rekan yang ada di sini. Selain merayakan ulang tahun perusahaan, dalam kesempatan ini saya juga akan mengenalkan putra sulung saya yang sudah mulai berkerja di perusahaan.” Ucap Bayu.


Arka berjalan ke podium dan berdiri di samping sang Ayah, “Putra saya, Arkana Rahardian.” Ucap Bayu memperkenalkan putranya yang di sambut dengan tepukan tangan tamu.


Di tempat Freya duduk, Lisa sedang melakukan touch up pada wajahnya, tak ketinggalan ia pun memoleskan lipstick di bibir dan merapikan rambutnya yang tak berantakan.


“Ngapain lu tiba-tiba sibuk gitu Lis?” tanya Rendi yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


“Ya gue siap-siap lah, soalnya abis ini Om Bayu pasti bakal ngenalin gue sebagai tunangan Arka.” Ucapnya penuh keyakinan. Ia memasukan lipstik yang baru saja ia pakai ke dalam tas kemudian beranjak dari duduknya.


“Gue mau ke podium biar kalo dipanggil nggak kelamaan jalannya.” Ucap Lisa.


__ADS_2