Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Kamu Siapa?


__ADS_3

Siang ini Arka akan mengikuti rapat rutin akhir bulan. Seperti biasa tiap akhir bulan setiap karyawan menanggung beban yang cukup berat untuk tutup buku ditambah dengan laporan-laporan tambahan lainnya. Ia memasukan kembali ponselnya setelah membalas pesan Freya.


Abang ada rapat sebentar, kalo udah sampe kantor tunggu aja di ruangan.


Kali ini Arka ingin rapatnya tak berlangsung terlalu lama, ia sudah ingin menemui istri tercinta. Jangan sampe calon ibu dari anaknya itu merasa bosan karena harus menunggu terlalu lama.


Di depan perusahaan, tepatnya di seberang jalan Freya baru saja turun dari mobil. Ia hendak menelpon Arka untuk memberitahu kalo dia telah tiba, tapi sebelum melakukan panggilan ia terlebih dulu membaca pesan masuk dari Arka hingga ia membatalkan niatnya untuk menelpon dan memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.


Kondisi jalan di depan kantor Arka siang ini tak terlalu ramai, ia menengok ke sampingnya dan tersenyum ramah pada remaja yang bisa ia tebak usianya tak beda jauh dengan dirinya. Melihat dari pakaian yang dikenakan anak itu Freya bisa menebak dengan yakin jika anak perempuan itu adalah anak SMK yang sedang praktek pengenalan lapangan. Baju putih dengan rok hitam dan almamater ciri khas salah satu sekolah, ditambah dengan name tag yang menggantung di leher gadis itu.


“Anak PKL yah Dek?” tanyanya dengan membubuhkan kata ‘Dek’ berlagak sok dewasa padahal dia saja di rumah dipanggil Dedek.


“Iya Kak. Kok tau?”


“Keliatan lah dari baju sama name tag kamu. PKL di Bank depan sana?” Freya menunjuk kantor tempat Arka bekerja.


“Iya kak.”


“Kenal sama Pak Arkana dong?” Freya mulai kepo. Ia ingin tau apakah suaminya cukup famous di kantor. Sekedar basa-basi sambil nunggu mau nyebrang jalan.


“Aku sih nggak kenal Kak, soalnya aku kan PKL nya di bawah. Bantu-bantu ngisi formulir pendaftaran nasabah sama tukang kasih cap aja. Kadang-kadang disuruh foto copy berkas. Tapi aku sering lihat kok Pak Arka tiap pagi, ganteng banget tau Kak. Mirip Cha Eun Wo, temen-temen aku aja pada suka.”


“Terus… terus…” jiwa kepo Freya meronta-ronta. Niatnya basa basi sambil nunggu nyebrang malah kepancing cerita anak PKL.


“Ya mau terus… terus gimana kak? orang semua cuma mentok sampe sana.” Si anak PKL menjeda ucapannya, terlihat wajah sedikit kecewa.


“Lah kok mentok sih?”


“Ya karena Pak Arka udah nikah. Kita-kita aja baru tau seminggu yang lalu. Pupus sudah harapan anak-anak Kak, padahal udah ngarep kali aja Pak Arka melirik salah satu dari kita.” Ucapnya kemudian memanyunkan bibir menunjukan rasa kecewanya.


“Tapi kakak siapa sih? Kepo banget sama Pak Arka?”


“Aku?” tanya Freya sambil menunjuk dirinya sendiri. Si anak PKL mengangguk.


“Istrinya Pak Arka.” Jawab Freya.

__ADS_1


Si anak PKL menutup mulutnya, ia seolah berdosa sudah mengangumi suami dari wanita di hadapannya. “Aduh kakak… hm gimana yah…” anak itu terlihat bingung dan serba salah. Bahkan kini ia menunduk menghindari tatapan Freya.


“Udah nggak usah takut gitu. Gue nggak apa-apa lagi. Resiko punya laki ganteng.” Ucapnya dengan bangga. “Mau nyebrang kan?”


Si anak PKL menatap Freya dan mengangguk.


“Ya udah bareng yuk, gue juga mau nemuin Bang Ar, eh Pak Arka maksudnya.” Ralat Freya.


Kedua melihat ke kanan kiri sebelum melangkah, memastikan jalanan lengang dan aman untuk diseberangi. Tak banyak kendaraan berlalu lalang. Hanya ada mobil merah yang terparkir tak jauh dari mereka.


Layaknya orang tua yang hendak menyeberangkann anaknya, Freya menggandeng tangan si anak PKL, “Udah kosong nih ayo kita jalan.” Ucapnya dan mulai melangkah.


Baru beberapa langkah maju, tiba-tiba mobil merah yang tadi terhenti melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Tak seperti sinetron yang mendadak slow motion apalagi hanya berteriak saat melihat melihat kendaraan melaju kencang ke arah mereka. Si anak PKL yang lebih dulu melihat segera menarik lengan Freya untuk mundur, namun naas karena laju mobil itu begitu cepat hingga berhasil menyerepet tubuh keduanya hingga tersungkur ke bahu jalan.


Bakpia yang dibawa Freya sudah tercecer di jalan, ia dan anak PKL itu tak sadarkan diri seketika. Kejadian itu langsung membuat jalan macet, warga sekitar berlari menghampiri dua orang yang tak sadar diri di bahu jalan.


Arka yang baru saja selesai rapat dan hendak kembali ke ruangan, melangkah ke dekat jendela karena penasaran dengan apa yang di liat para karyawan hingga mereka berdiri di sana.


“Pada liatin apaan sih?”


“Ada yang kecelakaan kok malah nonton dari kejauhan doang.” Arka mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Freya.


Ada kecelakaan di depan, tunggu bentar yah Dek. Abang mau lihat dulu katanya anak PKL keserempet mobil.


Arka segera keluar dan menghampiri keramaian itu, dia langsung terduduk lemas begitu mendapati bukan hanya anak PKL, tapi juga istrinya tergeletak di bahu jalan.


“Sayang bangun. Kenapa bisa sampe kayak gini.” Tangisnya tak tertahan melihat Freya tak sadarkan diri. Ia merengkuh Freya ke dalam pelukan. Arka makin panik saat mendapati darah yang menempel di tangannya.


“Sayang bangun…”


Keduanya di bawa ke rumah sakit terdekat saat ambulan tiba. Sepanjang jalan Arka terus menggenggam erat tangan Freya. Memanggil istrinya berulang kali di sela-sela isak tangisnya.


Arka duduk di depan ruang UGD seorang diri, menunggu istrinya yang sedang di tangani dokter. Wajah cemas terpapar jelas di sana. Kemeja putih yang dikenakannya sudah berkombinasi dengan darah dari kepala Freya. Dasi yang biasanya melekat rapi di leher kini sudah tak ada. Arka duduk tertunduk dengan kedua tangan memegangi kepala, sesekali ia menjambak rambutnya sendiri.


Suara alas kaki yang beradu dengan lantai rumah sakit semakin terdengar jelas di telinga Arka, kepalanya mendongak menatap orang yang berhenti di hadapannya.

__ADS_1


“Di mana Freya Ar?” tanya Mira dengan panik.


“Di dalem masih ditangani dokter.”


“Gimana kejadiannya sih Kak, kok Freya bisa sampe kecelakaan? Padahal kan jalan depan kantor kan nggak rame-rame amat.” Tanya Ardi yang baru saja tiba di sana bersama dengan Miya. Sahabat satu server Freya itu sudah berderai air mata. Ardi dan Miya yang sedang berada di kebun coklat milik salah satu petani langsung meluncur ke rumah sakit begitu mendapat kabar.


“Udah-udah Mi jangan nangis terus. Freya nggak apa-apa tenang aja.” Ardi mencoba menenangkan Miya dengan memeluknya.


“Ini salah kita Di, seharusnya kita ajak Freya aja nyari coklat. Kecelakaan ini pasti nggak akan terjadi.” Miya terisak ia merasa bersalah karena meninggalkan Freya.


“Udah-udah…” Ardi kembali menepuk pelan punggung gadis yang sedang menangis di pelukannya, “ini bukan salah siapa-siapa.” Imbuhnya.


Kini Freya sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Bayu memilih ruang VVIP demi dengan layanan terbaik untuk menantunya. Meski dokter sudah mengatakan tak ada yang perlu dikhawatirkan tapi Mira dan keluarganya tetap panik karena sampai saat Freya belum sadarkan diri. Sedangkan si anak PKL saja sudah sadar sedari tadi.


Berbekal penuturan dari anak PKL yang kecelakaan bersama Freya, Bayu sudah meminta pengacaranya untuk menyelidiki kecelakaan yang menimpa Freya. Ia merasa kecelakaan ini tak wajar mengingat jalan di depan kantor cabangnya tak terlalu ramai. Bahkan sangat jarang terjadi kecelakaan di sana.


Ardi dan Miya duduk di sofa. Begitu juga dengan Mira dan Bayu, mereka semua menunggu Freya siuman. Sementara Arka duduk di samping ranjang Freya. Ia terus menggenggam tangan Freya. Sesekali ia membelai kepala Freya yang terbalut perban. Calon mama muda itu mendapat tiga jahitan di kepala.


“Sayang bangun…” berulang kali kalimat itu ia serukan.


Setalah hampir dua jam akhirnya mata itu mulai terbuka, “Bunda Freya udah sadar.”


Ardi, Miya, Ayah Bayu dan Bunda Mira langsung berdiri dan menghampiri Freya. Mereka berdiri di belakang Arka, tersenyum lega menatap Freya yang sudah terjaga.


“Sayang kamu udah bangun.” Arka berdiri dan memeluk Freya yang masih terbaring. Hanya seperkian detik Arka melepas pelukannya. Ia kembali duduk di samping Freya dan menggenggam tangan istrinya. “Abang takut banget kamu kenapa-napa sayang.” Imbuhnya.


Freya menatap satu persatu orang-orang di sekitarnya, terakhir ia menatap Arka yang cukup lama kemudian menarik tangannya dari genggaman Arka.


“Kamu siapa?”


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa kewajiban like komen dan favoritkan!!!


__ADS_2