
Hari ini Freya kelewat senang sampai ia tak focus memperhatikan kelompok yang sedang presentasi di depan kelas. Ia terlalu sibuk mengorek hubungan Ardi dan Miya. Keduanya mendapat teguran dari dosen karena tak mempehatikan dan tak bisa menanggapi hasil diskusi yang berlangsung. Mereka diminta mengumpulkan tugas dan membawanya ke ruang dosen.
“Elah pada tebel-tebel amat sih bikin makalahnya? Padahal mah kagak bakal di baca juga kali sama Pak Budi.” Gerutu Freya sambil menerima makalah individu yang makin menumpuk di mejanya.
“Tau nih, kayaknya makalah kita doang yang paling tipis Fre.” Timpal Miya yang sedang membagi tumpukan dua puluh delapan makalah itu menjadi dua bagian. Satu tumpuk untuknya satu bagian lagi untuk Freya.
“Udah semua nih? Ada yang belum ngumpulin nggak? Kalo udah semua mau kita bawa ke ruang dosen nih.” Teriak Miya. Tak ada jawaban, teman-teman mereka malah sibuk berkemas kemudian meninggalkan kelas.
“Euh dasar… udah semua kali Fre. Kuy lah bawa. Gue udah pengen makan nih lapar.” Keluh Miya.
Mereka membawa tumpukan makalah itu ke ruang dosen, meletakannya di meja Pak Budi. “Ini Pak udah semua.” Ucap Freya.
“Ya, makasih. Lain kali jangan meleng. Belajar yang fokus.” Pak Budi menasehati.
“Iya Pak.” Jawab Miya dan Freya kompak.
Keduanya keluar dari ruang dosen bersamaan dengan Tito yang baru saja keluar dari ruang kepala prodi. Lelaki itu membawa surat di tangan kanannya, bisa dipastikan itu surat skorsing.
“Kak Tito maaf yah, gara-gara gue kakak jadi kena skors.” Ucap Freya.
Tito hanya tersenyum dan membuang surat yang ia bawa, “nggak apa-apa Fre, cuma tiga hari kok. Lagian ini juga salah gue.”
“Salah Kak Lisa lah, kakak juga termasuk korban disini.” Timpal Miya.
“Nggak sepenuhnya, karena dari awal gue salah juga udah mau ikut rencana dia. Udah nggak apa-apa nanti juga semua kembali seperti semula. Tinggal nunggu beberapa hari lagi doang kok. Jangan lupa undang gue yah Fre.” Ucap Tito sebelum pergi.
“Undang apaan Fre?” tanya Miya.
“Ulang tahun perusahaan mertua gue, sekalian resepsi nikahan juga sih katanya.”
“Gue di undang juga dong?”
“Lu nggak usah pake undangan, kan lu calon adik ipar gue.”
__ADS_1
Miya hanya tersenyum mendengar kata adik ipar, hubungannya dengan Ardi saja tak jelas.
“Malah bengong. Kuy lah balik katanya tadi lapar.” Ajak Freya.
.
.
.
Hari-hari berlalu begitu cepat, persiapan acara ulang tahun perusahaan dan resepsinya semakin mepet. Tinggal dua hari saja. Mira juga sudah mengabari teman-teman anggota grup chat sekaligus mempersiapakan akomodasi. Ratna, besannya dan teman-teman online yang haya baru sekali meet up saat acara akad nikah ikut berbahagia mendengar kabar kehamilan Freya. Bahkan mereka ikutan-ikutan sibuk mempersiapkan nama untuk si caby yang baru mau menginjak bulan kedua.
“Pokoknya pada datang yah. Itu tiket pulang pergi udah aku kirim.” Ucap Mira sebelum mengakhiri rapat rutin mereka yang berlangsung hampir dua jam.
Untuk acara ulang tahun perusahaan kali ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika dulu yang diundang hanya kolega-kolega bisnis, kali ini Bayu dan Mira mengundang lebih banyak orang. Semua karyawan serta teman-teman Arka dan Freya pun ikut di undang meskipun dalam undangannya tak menyertakan acara reserpsi pernikahan, hanya ulang tahun perusahaan saja. Selain untuk memberikan kejutan pada Lisa, kata Bunda Mira supaya kayak di novel-novel gitu.
Selain itu pasangan anak dan menantunya menolak resepsi, bagi mereka cukup orang-orang tau saja tentang status mereka sudah cukup. Arka hanya ingin tak ada lagi yang mengusik kebahagiaan keluarga kecilnya. Dia dan Freya sudah sangat bahagia sejauh ini, apalagi ada si caby.
“Sayang beneran nggak mau pake baju yang ini? Biar kayak penganten loh kamu. Ini Bunda pesenin spesial loh.” Bujuk Mira pada Freya yang sedang menikmati sebal origininal dengan level pedas nol.
“Ya udah deh terserah kalian. Yang penting kalian seneng. Dan calon cucu Bunda sehat.”
“Siap Bun.” Jawab Freya sambil hormat ala anak sekolah yang dihukum hormat bendera. “Bun, abis ini aku mau jalan sama Miya yah nyari baju buat acara besok. Kita udah janjian sama Bang Ar di Mall.” Lanjutnya.
“Minta anterin Ardi yah sayang. Tunggu dia bentar lagi juga pulang kuliah.”
“Ardi udah telpon juga Bun katanya ketemu di Mall aja soalnya dosen dia hari ini masuknya telat jadi pulangnya rada ngaret. Bentar lagi juga Miya datang kok jemput aku. Kita pake taksi online aja.”
Freya dan Miya menunggu di food court sambil menonton video terbaru treasure.
“Tau nggak Mi? sebelum Treasure rilis lagu ‘my treasure’ Bang Ar kan udah manggil gue ‘My Treasure’ uwuw banget kan?” ujar Freya.
“Uwuw banget sumpah. Kapan yah gue bisa jadi My Treasure buat orang lain?” jawab Miya.
__ADS_1
“Tenang aja lu udah jadi treasure di hati gue Mi.” balas Ardi yang baru saja duduk di sampingnya dan meminum jus jambu dari gelas Miya.
“Jangan pamer di depan gue deh Di!” sindir Freya saat melihat Ardi mengacak kemudian merapikan kembali rambut Miya. Lelaki itu tak mengiraukan ucapan Freya. Dia terus memainkan rambut pendek Miya.
Tak lama Arka muncul dari kejauhan, Freya melambaikan tangan dan tersenyum senang. Tapi senyumnya sirna seketika saat mendapati Lisa berjalan di belakang Arka.
“Halo calon adik sepupu… calon adik ipar juga.” Sapanya sambil melihat Ardi dan Freya secara bergantian.
“Hai kak,” jawab Freya.
“Udah ada Kak Arka, gue jalan sama Miya aja yah. Ayo Mi.” tanpa menungu persetujuan Freya, Ardi sudah menarik tangan Miya meninggalkan food court.
“Lepasin Di, si Freya udah nggak ngeliat kita kok.” Ucap Miya saat sudah tak bisa melihat Freya ketiak ia menengok ke belakang.
“Nggak apa-apa. Kayak gini aja terus. Takut tiba-tiba itu anak nongol.” Jawab Ardi yang malah semakin menggengam jemari Miya. Bagi Ardi berada di dekat Miya membuatnya betah. Apalagi mengacak rambut pendeknya, seolah jadi hobi baru yang di turunkan dari sang kakak.
Tinggalkan pasangan yang katanya pura-pura pacaran demi caby tapi nggak jelas ujungnya hingga kini. Mereka masih menutupi perasaan masing-masing dengan tameng persahabatan tapi tingkahnya benar-benar uwuw. Yang cewek udah jaga-jaga supaya tak baper parah dengan sebisa mungkin bersikap biasa saja. Sedangkan Ardi malah dengan terang-terangan menunjukan rasa sayangnya meski berkedok demi calon ponakan.
Moment belanja baju untuk acara spesialnya malam besok malah berubah jadi tak menyenangkan. Freya malah berjalan di belakang Arka dan Lisa. Wanita yang mengaku calon kakak sepupunya itu tak memberinya kesempatan untuk berdekatan dengan Arka.
“Gue cobain ini dulu yah Ar.” Ucap Lisa sebelum masuk ke ruang ganti.
“Jangan cemberut gitu Dek. Nanti kalo tuh lampir udah pergi kita baru belanja.” Ucap Arka sambil mencubit gemas kedua pipi Freya.
“Lagian Bang Ar ngapain ngajak dia sih. Jadi nggak asik kan.”
“Abang nggak ngajak. Kayaknya dia ngikutin Abang deh, soalnya tadi kan abis ada meeting sama Ayahnya Lisa. Dia juga ikut di sana.” Tutur Arka.
Obrolan mereka terhenti saat Lisa keluar dari ruang ganti, gaun merah panjang pres body dengan delahan dada rendah membalut tubuhnya.
“Gimana bagus nggak?” tanyanya pada Arka dan Freya.
“Bagus.” Jawab Freya dan Arka kompak. Yang penting cepet minggat aja tuh orang.
__ADS_1
“Oke deh gue bungkus yang ini. Karena besok acara spesial gue nggak mau bikin malu calon mertua gue dong.” Jawab Lisa dengan percaya diri. Ia sudah yakin seratus persen jika Arka akan menerimanya kembali di malam itu.
--