Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Mirip siapa?


__ADS_3

“Kamu siapa?” ulang Freya sambil bangun, Arka mengabaikan pertanyaan sang istri dan membantunya gadis dengan perban di kepala itu duduk bersandar.


“Kok nanya abang siapa sih Dek? Ya jelas suami kamu lah.” Jawab Arka sambil kembali memegang tangan Freya. Dia berulang kali mencium punggung tangan istrinya, bersyukur orang yang begitu ia cintai sudah sadar. Meskipun mungkin nyawanya belum seratus persen kumpul karena tak mengenali dirinya.


“Dek?” ucap Freya, kini ia memandangi satu-persatu orang-orang disekitarnya yang juga sedang menatap khawatir padanya.


“Jangan ngaku-ngaku suami gue deh! Boro-boro suami, pacar aja gue kagak punya.” Ujar Freya sambil kembali menarik tangannya yang di genggam Arka.


Arka jadi bingung sendiri, kata dokter istrinya itu tak apa-apa. Tak ada yang perlu di khawatirkan tapi kenapa dia tak mengenali suaminya sendiri.


“Kamu beneran nggak inget Abang?” tanya Arka. Pikirannya sudah mulai kalut, apakah mungkin Freya amnesia mengingat kepalanya terbentur bahu jalan dan mendapat hadiah tiga jahitan.


“Abang? Maksud lu Abang bakso yang biasa mangkal depan sekolah?” tanya Freya.


“Ish kok jadi Abang bakso sih,” Arka mengacak rambutnya, pusing.


“Kalo dia kamu kenal nggak Dek?” tanya Arka sambil menunjuk Ardi.


“Berhenti manggil gue dengan sebutan ‘dek’ deh, gue bukan adek lu!” ucap Freya kemudian melihat ke arah orang yang baru saja ditunjuk Arka.


“Dia Ardi lah, temen gue.” jawab Freya.


“Kalo dia?” kali ini Arka menunjuk Miya.


“My best Friend Kamiya Maulida.” Jawab Freya sambil menatap gadis berambut pendek yang berdiri di samping Ardi.


Bunda Mira menjauh dari tempat tidur Freya, wanita paruh baya itu tak kuat menahan tangis melihat menantu kesayangannya tak mengenali Arka. Miya menyusul Bunda Mira, memeluk wanita yang ia harap juga akan menjadi mertuanya kelak. Ia memeluk Mira, mencoba menenangkan wanita itu meski tak tau harus bagaimana karena ia saja masih tak percaya jika sahabatnya hilang ingatan.


Sekali lagi Arka mencoba meyakinkan Freya, “Kamu sama Ardi dan Miya nggak lupa. Masa sama Abang nggak inget Dek? Suami kamu. Papanya caby kesayangan kita.” Ucap Arka sambil mengelus perut Freya.


“Ish ini apaan sih, nggak sopan banget deh pegang-pegang perut gue.” Freya menyingkirkan tangan Arka dengan kasar.


Arka beranjak dari duduknya, lelaki dua puluh satu tahun itu kentara sekali menahan tangis. Terlihat dari matanya yang sudah berkaca-kaca.


“Yah kita harus minta dokter periksa Freya sekali lagi.” Ucapnya pada Bayu.


“Tapi kata dokter tadi Freya tidak apa-apa Ar, bahkan bisa pulang kalo udah sadar. Kamu juga kan tadi denger sendiri.”


“Tapi Yah… Ayah lihat sendiri kan dia nggak ngenalin aku. Kalo perlu lakukan operasi barang kali ada pasir atau batu yang masuk ke kepala Freya sampe dia lupa sama aku.” Protes Arka tak logis.


“Ya sudah ayah temui dokter dulu supaya melakukan pemeriksaan ulang.” Jawab Bayu.


“Ayah jangan… aku nggak mau di suntik.” Teriak Freya dari ranjang.

__ADS_1


Arka kembali menghampiri Freya, “kamu inget itu siapa?”


“Ayah Bayu, mertua aku yang paling baik.” Jawab Freya sambil tersenyum pada mertuanya. “Jangan panggil dokter Bang, aku takut disuntik.” Lanjutnya dengan wajah melas menatap Arka.


“Jadi kamu?”


Freya tersenyum dan menghambur memeluk Arka, “Iya aku nggak amnesia Bang. Papanya caby, Bang Ar kesayangannya aku.”


“Sayang… kamu bener-bener bikin abang hampir gila. Bisa-bisanya kamu pura-pura nggak inget abang.”


“Jadi lu ngprank kita Fre?” tanya Ardi dengan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. “Anjim banget emang lu Fre. Udah mau jadi emak aja masih main prank.” Kesal Ardi.


“Bang Ar, Ardi jahat tuh.” Adu Freya pada Arka yang masih memeluknya.


“Ngadu aja ngadu terus lu kayak bocah!”


“Kakak ipar lu tuh baru sadar Di. Jangan diajak berantem dulu. Kalian tuh bener-bener kayak bocah.” Ucap Arka.


Freya melepas pelukannya, tak terima disebut bocah. Tatapan super memelas beradu dengan mata Arka. “Abaang…”


“Iya-iya Ardi yang bocah. Kamu udah dewasa sayang, bukan bocah kan calon Mama yah.” Ucap Arka setelah mengirup nafas panjang dan menghembuskannya pelan.


Haduh please yang waras ngalah. Batin Arka.


Kini giliran Miya dan Mira menghampiri Freya. Berulang kali mertuanya itu memeluk Freya, “Bunda seneng banget kamu nggak apa-apa sayang. Tadi Bunda udah takut banget pas kamu bangun nggak ngenalin Arka.”


“Freya nggak apa-apa Bunda. Cuma iseng aja, abis Bang Ar nangis mulu.” Jawab Freya.


“Bisa-bisanya disaat kayak gini lu malah iseng Fre. Gue udah takut banget lu kenapa-napa. Harusnya gue nggak ninggalin lu tadi.” Ucap Miya merasa bersalah.


“Nggak apa-apa Mi, ini bukan salah lu. Namanya juga kecelakaan.” Jawab Freya, “Eh gimana keadaan bocah yang tadi bareng gue Mi?” lanjutnya.


“Dia tidak apa-apa, malahan udah pulang dari tadi.” Ucap Bayu.


“Oh syukur deh kalo gitu.”


Karena tak ada yang perlu dikhawatirkan, Freya sudah diperbolehkan pulang setelah sebelumnya Arka membereskan administrasi. Keduanya kini duduk di kursi belakang, sementara di depan ada Miya dan Ardi yang sedang fokus dengan kemudi.


Miya sesekali merilik ke kaca, terlihat di belakang sana Arka yang sedang membelai rambut Freya dengan penuh kasih sayang. Pikirnya, beruntung sekali sahabatnya itu mendapatkan suami yang benar-benar mencintainya.


Kini tatapannya melirik Ardi, “andai hubungan kita bukan sekedar pura-pura Di, gue pasti bahagia banget.” Gumamnya dalam hati.


“Kenapa ngeliatin gue kaya gitu Mi?” tanya Ardi yang tak sengaja memergoki Miya.

__ADS_1


“Eh.. nggak Di. Sapa juga yang ngeliatin lu.” Elaknya sedikit gugup lalu membuang pandangan ke luar.


“Elah lu pada sok malu-malu di depan gue.” celetuk Freya dari belakang.


Calon ibu yang kelakuannya masih seperti bocah itu menyembulkan kepalanya diantara Ardi dan Miya.


“Kalian mau pandang-pandangan bahkan pelukan di depan gue juga silahkan. Gue kagak bakalan sirik. Gue kan udah dewasa. Udah ngelakuin hal yang lebih uwuw dari itu.” Ledek Freya pada pasangan yang masih terlihat malu-malu kucing.


“Sayang sini duduk yang bener. Kepala kamu masih sakit.” Arka menarik Freya supaya kembali duduk.


“Tau tuh Kak, pecicilan banget bini lu.” Celetuk Ardi, “mudah-mudahan si caby ntar kalo udah lahir mirip sama lu aja Kak, jangan mirip sama emaknya. Bisa stres lu ntar.” Imbuhnya.


“Mana bisa begitu. Anak gue ya mirip gue lah.” Protes Freya tak terima. “Tapi kalo bisa pengen mirip Asahi sih kalo cowok. Ganteng banget soalnya dia. Ya kan Mi?” imbuhnya dengan tak masuk akal.


“Sahi ganteng sih Fre, tapi kalo gue boleh request sih mending mirip Choi Hyun Suk, soalnya dia cute unyu-unyu banget.” Jawab Miya dengan wajah menggemaskan mengingat betapa cute member Treasure favoritnya itu.


“Kalian itu halu, kajauhan mikirnya. Nggak mungkin anaknya Freya bakal mirip… siapa itu lah yang barusan kalian sebutin? Kalo mirip sama gue masih bisa. Secara gue pamannya.” Ujar Ardi.


Freya kembali maju dan menyembulkan kepalanya diantara Ardi dan Miya, “Anak gue mirip sama lu? ogah banget deh.” Cibirnya sambil melirik Ardi kemudian beralih pada Miya, “mending juga mirip sama salah satu member Treasure yah Mi?” imbuhnya meminta persetujuan sahabat satu server dan tentu saja dianggukki setuju oleh Miya.


“Bener Fre. Habis ini lu harus sering-sering nonton Treasure. Lu pantengin terus Asahi biar si caby ntar mirip dia.”


“Siap laksanakan Mi.” jawab Freya dengan antusias.


“Hoax itu, mana ada orang hamil liat video atau gambar orang yang dia suka pas lahir anaknya bisa jadi mirip. Kalo emang beneran, kayaknya semua kpopers Indonesia anaknya pada mirip selebriti korea.” Bantah Ardi.


“Lu diem aja deh Di. Nyetir aja yang bener!"


“Hih dibilangin ngeyel lu. ini bini lu ajarin yang bener Kak, ilmu pengetahuannya sesat.”


“Enak aja lu bilang gue sesat.” Protes Freya.


Dan adu mulut unfaedah tiga bocah yang pernah satu kelas itu terus berlanjut membuat Arka memijit keningnya sendiri. Hari ini benar-benar seperti naik Roller Coaster. Dari mulai kecelakaan istrinya, prank lupa ingatan hingga perdebatan unfaedah soal anaknya kelak. “Dasar kalian semua bocah, yang jelas si caby bakal mirip gue lah. Jelas-jelas karya gue.” batinnya.


.


.


.


.


Tenang aja Bang Ar, ntar si caby mirip author yang menggemaskan ini. Kan gue yang nulis. Readers dilarang protes!! apalagi protes si caby bakal mirip kalian wkwkwk.

__ADS_1


INGAT LIKE KOMEN DAN FAVORITKAN WAJIB!!!


__ADS_2