
Rendi dan Irfan sudah meninggalkan rumah Arka sekitar tiga puluh menit yang lalu setelah kembali menceritakan kejadian yang dialami Freya pada Bunda Mira, wanita itu nampak masih tak percaya meskipun sudah dua kali Rendi menjelaskannya. Bunda Mira tipikal orang yang tak enakan, apalagi selama ini ia tak menyukai Lisa tapi saat ini ia malah jadi hutang budi pada wanita yang pernah di pacari sang putra.
“Udah lah Bun, bagaimana pun dia udah nolong Freya. Kalo bukan karena Lisa kita tidak tau apa yang akan terjadi dengan Freya dan rumah tangga anak kita.” Ujar Bayu.
“Tapi Yah, masalahnya Lisa itu tidak tau kalo Freya istri Arka. Bunda takut kalo dia akan minta Arka untuk jadi pacarnya lagi sebagai balas budi.”
“Bunda kok mikirnya malah negative gitu sih. Kita harus bilang makasih sama Kak Lisa Bun. Lagian kakak udah pernah bilang kalo dia udah nikah kok, walaupun nggak penah bilang kalo istrinya itu Freya. Di kampus taunya Freya itu saudara sepupu kita.” Imbuh Ardi.
“Iya menurut aku juga gitu Tan. Lagian beberapa bulan terakhir aku lihat Kak Lisa udah berubah, dia baik banget sama aku dan Freya.” Ujar Miya.
Ditengah-tengah obrolan mereka yang belum selesai, Freya dan Arka terlihat menuruni tangga. Wajah keduanya terlihat begitu bahagia. Freya terus tersenyum, sesekali mengusap perutnya yang masih rata. Begitu juga Arka yang terus mengukir senyum meski wajahnya terlihat sedikit pucat. Sepertinya calon papa muda itu kebanyakan muntah pagi ini.
“Kalian lagi bahas apa? Kelihatannya serus banget?” Freya seperti biasa duduk nyempil diantara mertuanya.
Ardi sudah tak aneh lagi melihat pemandangan kakak ipar yang tak sengan-sengan pada mertuanya, tapi kali ini ada yang berbeda. Jika biasanya Arka akan duduk di sofa yang kosong kali ini sang kakak malah menggeser Ayahnya dan ikut nyempil disana, hingga mereka berdesakan.
“Abang ngapain ikut duduk di sini, sempit nih. Biasanya juga di sebelah sana.” Freya menunjuk sofa di samping Ardi yang kosong.
“Si baby pengen deket sama papanya terus Dek.” Jawab Arka sambil menyandarkan kepala di bahu Freya, tangannya di letakan di perut Freya. Mengelus calon bayi mereka.
“Kalian bener-bener lebay. Bikin mata gue sepet liatnya.” Ujar Ardi.
“Bilang aja sirik.” Balas Freya.
“Nggak. Sorry aja gue sirik sama lu.” Jawab Ardi. “Ayo Mi gue anterin pulang.” Lanjutnya sambil menarik tangan Miya.
“Tunggu Di!” panggil Arka, membuat Ardi dan Miya yang sudah hampir keluar dari rumah kembali menghampiri mereka.
“Apaan kak?”
“Nggak jadi deh. Udah sana anterin Miya dulu.”
“Heuh dasar!”
Setelah kepergian Ardi dan Miya, Freya kembali kepo dengan bahasan mertua dengan Ardi dan Mya yang begitu terlihat serius tadi. “Bunda tadi lagi bahas apaan sih, kelihatannya serius banget?”
“Nggak bahas apa-apa sayang. Bukankah kalian mau ke dokter kandungan? Udah sana berangkat mumpung belum terlalu siang.” Ujar Bunda Mira. Mereka semua sudah sepakat untuk tak memberitahu kejadian tak meyenangkan di acara inagurasi, Mira tak ingin Freya banyak pikiran. Ia takut akan mempengaruhi kandungan menantunya.
__ADS_1
“Oh kirain lagi bahas apa gitu. Ya udah Aku sama Bang Ar pergi dulu Bun.” Pamit Freya kemudian menyalami kedua mertuanya.
Kini Freya dan Arka duduk di hadapan dokter yang baru saja memeriksa kandungan Freya. Dokter itu menjelaskan jika kadungan Freya sudah menginjak lima minggu dan perkembangan janin yang masih sebesar biji kacang itu bagus. Tak hanya itu Arka juga menceritakan dirinya yang selalu mual dan muntah di pagi dan malam hari serta keinginannya yang aneh-aneh dan kadang tak masuk akal. Dan dokter bilang itu hal yang wajar-wajar saja. Kasus seperti itu memang kadang terjadi meskipun terhitung langka, tapi sebagian besar ibu hamil justru bersyukur karena bisa makan apa pun tanpa mual.
Mendengar penjelasan dokter membuat Arka merasa lega, tadinya sebelum mengetahui semua keanehan yang terjadi pada dirinya karena kehamilan sang istri ia sudah takut jika dirinya terkena penyakit yang berbahaya.
Lain halnya dengan Arka, Freya malah terlihat cemberut. “Kenapa sih nggak aku aja yang ngidam Dok? Aku tuh udah nyiapin rencana ngidam dari jauh-jauh hari loh.” Protesnya.
Si dokter menahan tawanya, baru kali ini ada ibu hamil yang merencanakan ngidam.
“Ehm.” Si dokter bingung juga harus menjelaskan dari mana, melihat ibu hamil dihadapannya yang masih begitu muda dan lugu.
“Begini yah Nona, untuk ngidam itu tidak bisa direncanakan. Dan anda harusnya bersyukur karena suami anda yang ngidam. Jadi anda masih tetap bisa beraktifitas dan makan dengan enak tanpa harus mual muntah seperti keluhan ibu hamil lainnya.” Tutur si dokter.
“Ish tapi aku maunya aku yang ngidam Dok! Pokoknya aku yang ngidam, titik.” Rengek Freya.
“Begini yah…”
“Maaf yah Dok, Biar saya saja.” Potong Arka.
“Aku udah ada rencana ngidam buat Ardi. Nanti aku kasih tau di rumah Bang.” Bisik Freya yang dianggukki oleh Arka.
Freya tersenyum puas, “Baik Dok sekarang aku udah terima deh, nggak apa-apa suami aku aja yang ngidam.”
“baik. Ini saya berikan vitamin yang harus di minum yah.” Ucap si dokter sambil memberikan beberapa vitamin serta penjelasan aturan minumnya.
Selesai periksa Freya dan Arka kembali ke rumah Bunda Mira. Keduanya akan kembali tinggal disana sesuai permintaan bunda Mira yang ingin menemani Freya selama masa kehamilannya, selain itu juga Arka tak mau Freya dan calon bayinya kesepian jika mereka tinggal di apartemen mengingat Freya tak ada yang menemani saat dirinya bekerja.
Mereka tiba di rumah bersamaan dengan Ardi yang baru saja kembali dari mengantar Miya.
“Ardi, sini bentar!” panggil Arka.
Ardi menghampiri Arka yang sedang membukakan pintu mobil untuk Freya, “Apaan sih Kak? Panas nih, pengen minum gue.”
Arka membuka dompet dan mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribu, “Beliin buah kedongdong mentah yang masih ijo. Ponakan lu lagi pengen makan itu.” Ucapnya sambil memberikan uang itu pada Ardi.
“Lu kali kak yang pengen, modus pake ponakan gue segala. Oke ntar gue beliin sekarung.” Ucap Ardi sambil memasukan uang yang baru saja ia terima ke dalam saku celana.
__ADS_1
“Nggak usah banyak-banyak Di, dua aja cukup. Inget yang mentah, masih ijo. Tapi…”
“Tapi apa?” Tanya Ardi yang mulai menerka-nerka kesulitan yang akan segera ia dapatkan, mengingat cerita orang-orang tentang keinginan orang ngidam yang aneh-aneh. Melihat sang kakak yang ngidam, bukan istrinya saja sudah aneh. Di tambah saudara lelakinya itu selalu muntah-muntah tiap pagi dan malam.
“Tapi yang manis yah.” Ucap Arka.
Ardi menghembuskan nafasnya kasar, huuh. kemudian ia mengacak rambutnya sendiri. Tak habis pikir dengan keinginan kakaknya. Mana ada kedongdong yang masih mentah, ijo dan rasanya manis? Buah kedongdong yang sudah matang saja kadang rasanya masih asem.
“Gue beliin manisannya ja yah Kak, yang udah jelas manis. Kalo yang mentah tapi manis udah pasti nggak ada lah.”
“Ardi lu mau ponakan lu ileran apa?” timpal Freya.
“Iya iya deh gue cariin sekarang.” Ardi kembali ke mobilnya.
“Ponakan gue ya salam…. Sabar-sabar Ardi.” Gerutu Ardi sambil kembali melajukan mobilnya. “Gue samperin Miya lagi aja deh buat bantu nyari, dari pada gue stres sendiri.” Gumamnya.
setelah kepergian Ardi, Freya dan Arka masuk ke dalam rumah. Keduanya sedang menapaki tangga menuju kamar tapi bel rumah berbunyi membuat Freya dan Arka menghentikan langkah mereka.
“Biarin aja, nanti juga dibukain sama Bi Tuti.” Ucap Arka sambil merangkul bahu Freya.
“Kayaknya BI Tuti sama Bunda nggak di rumah deh Bang. Ini hari minggu, biasanya Bunda belanja mingguan sama Bi Tuti. Biar aku aja yang bukain.” Ujar Freya.
“Ya. Abang ke kamar duluan.”
Freya mengangguk kemudian kembali menuruni tangga, “Sebentar!” ucapnya sambil berjalan menghampiri pintu kemudian membukanya.
“Kak Tito?”
.
.
.
.
like komen favorit jangan lupa yah para kesayangannya akuh😘😘
__ADS_1