Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Minta maaf


__ADS_3

Arka baru saja menutup pintu apartemennya, ia berjalan dibelakang Freya yang baru saja menyimpan tasnya di sofa ruang tamu. Arka memindahkan tas Freya ke meja dan duduk di sofa. Menunggu sang istri yang sedang mengambilkan ia air minum. Semenjak tinggal di apartmen hal itu seolah menjadi kebiasaan Freya. Padahal selama tinggal di rumah orang tuanya Freya nyaris tak pernah mengambilkan air untuk Arka. Sepertinya hasil belajar memasak beberapa hari yang lalu dengan Bunda Mira membuat Freya banyak belajar juga cara memperlakukan suami dengan baik.


“Kamu tuh Dek sama Ardi selalu ribut terus tiap ketemu. Abang sampe pusing liatnya.” Ucapnya sambil menerima gelas yang disodorkan Freya. Meneguk isi gelas itu hingga tandas.


“Ardi tuh yang ngeselin Bang. Jangan nyalahin aku.”


“Iya seenggaknya kalo dia mancing-mancing nggak udah ditanggepin, sayang.” Kali ini Arka mencubit kedua pipi Freya gemas dengan gadis yang sudah tak perawan lagi tapi sifak kenak-kanakan tetap masih melekat disana.


“Sakit ih Abang.” Freya menangkup kedua pipinya. “Ikan kali di pancing Bang!”


“Iya terserah kamu lah Dek, Pusing.”


“Jadi aku bikin Abang pusing?” mode ngambek mulai on.


“Nggak… nggak… bukan kamu yang bikin pusing sayang. Itu tadi kerjaan kantor yang bikin pusing. Iya kerjaan.” Ulangnya sekali lagi untuk meyakinkan istri bocahnya.


Pagi ini Arka mengantar Freya ke kampus sebelum berangkat kerja. Tapi ada yang beda dengan wajah Arka, lingkar matanya terlihat sedikit hitam. Lewat tengah malam keduanya baru tidur karena Freya yang mengerjakan tugas kampus pertama dengan begitu lama. Ditambah dengan hukuman menjelang pagi demi kesejahteraan permen.


Flashback On


Freya meminta Arka untuk membantunya mengerjakan tugas, tentu sang suami tak menolak. Dengan sabar ia mengajari Freya tapi malah dibuat emosi karena focus istrinya bukan tugas yang harus ia kerjakan malah pada suami yang sedang berbicara layaknya dosen.


“Udah belum sayang? Lama banget sih?” Arka melihat tugas yang baru dua puluh lima persen dikerjakan.


“Masih banyak Abang. Bantuin lah.” Rengeknya. “Kalo Abang bantu aku ngerjain sisanya, ntar buka pabrik permen aku yang diatas deh.” Rayuan maut mulai Freya keluarkan.


Rayuan Freya itu benar-benar membuat Arka ketar-ketir dan hampir setuju dengan ide istrinya, tapi untung saja akal sehatnya masih bisa terkontrol. Mengerjakan tugas Freya bukanlah hal yang sulit bagi seorang Arkana, mengingat keduanya ada di jurusan yang sama. Dan lagi Arka adalah salah satu mahasiswa cerdas yang selalu mendapatkan beasiswa. Tapi ia tak ingin istrinya terlalu bergantung padanya, apalagi ini baru tugas pertama. Jika ia kerjakan pasti kedepannya Freya tak akan mau berusaha lebih dan akan selalu mengandalkannya.


“Jangan pake ngrayu segala sayang. Nggak akan mempan.” Jawaban itu membuat Freya cemberut dan kembali menatap laptopnya.


“Jangan cemberut gitu. Bukannya Abang nggak mau bantu, tapi Abang mau kamu kerjakan sendiri. Kalo ada yang susah boleh nanya nanti Abang jelasin lagi.” Ucap Arka penuh pengertian, tak mau istrinya salah tanggap.

__ADS_1


Freya mengangguk paham, “Iya Bang. Aku kerjain nih, tapi Abang jangan tidur! Temenin.”


“Iya sayang.”


Flasback Off.


Freya sudah mengenakan tasnya dan siap turun dari mobil, seperti biasa ia mencium punggungt angan Arka sebulum pamit. “Aku kuliah dulu yah Bang.”


“Iya. Belajar yang bener. Awas aja kalo belajarnya nggak focus. Abang hukum kamu.”


“Bang Ar, aku bolos aja deh ngampusnya.” ucapnya dengan semangat.


Arka menaikan kedua alisnya sambil menatap aneh pada gadis yang masih duduk di sampingnya.


“Biar dihukum terus sama Abang. Habis hukumannya bikin nagih sih. Enak.” Ucapnya sambil tersenyum polos, mengingat hukuman yang diberikan Arka menjelang pagi tadi.


Arka menoyor kening Freya. “Dasar kamu tuh Dek! Kalo gitu Abang ganti hukumannya.” Arka sedikit berfikir mencari kelemahan istrinya. “setiap hari Abang bakal tes hasil kuliah kamu. Kalo ketauan kamu nggak focus belajarnya, Abang buang semua pernak Pernik kpop kamu, termasuk poster suami halu kamu!” Ancam Arka.


Cup… cup… cup…


“Paket komplit biar kamu semangat belajarnya.” Ucap Arka setelang mencium kening, pipi dan bibir Freya.


Freya berjalan menuju fakultas Bismen tempat kelasnya berada setelah mobil yang dikendarai suaminya tak lagi terlihat. Ia duduk dikursi paling depan, megeluarkan buku dan alat tulisnya kemudian melihat kembali tugas yang ia kerjakan semalaman.


“Wuih ngimpi apa ini Freyanisa duduk paling depan?” ucap Miya yang baru saja datang dan duduk di kursi samping Freya.


“Ini gue nggak mimpi kan?” Miya mencubit pipinya sendiri setelah melihat sahabatnya sudah mengerjakan tugas. Padahal pagi ini ia sengaja berangkat lebih awal, jaga-jaga barangkali Freya akan menyalin tugasnya. Mengingat pada masa SMK gadis itu sering lupa tak mengerjakan tugas.


“Ini beneran Freya kan? Mungkinkah kembarannya?” ucap Miya yang masih terheran. “Eh lupa lu kan kagak punya kembaran yah.” Lanjutnya.


“Kenapa sih Mi heboh banget? Aneh yah liat gue ngerjain tugas? Ini tuh gara-gara Bang Ar tau!” Freya menceritakan semuanya dan si sahabat tertawa puas mendengarnya.

__ADS_1


Obrolan mereka berhenti begitu dosen mata kuliah pertama datang. Dan sesuai wejangan suaminya kini Freya benar-benar focus dengan pelajarannya.


Jam kuliah terakhir sudah selesai, kini tiba saatnya bagi mereka untuk pulang. Kali ini Freya tak pulang bersama Ardi. Adik iparnya pergi bersama Miya untuk membeli HP baru. Ardi sudah mengajak Freya untuk ikut serta tapi ia menolak. Freya masih ingat betul sahabatnya menyukai Ardi, hingga membiarkan mereka pergi berdua saja.


“Udah nggak apa-apa kalian jalan aja. Gue udah pesen taksi online kok.” Freya menunjukan aplikasi di ponselnya pada Ardi, tertera taksi yang ia pesan sedang dalam perjalanan menjemputnya.


Freya membuka pintu taksi yang baru saja berhenti di hadapannya, baru saja ia duduk dan menutup pintu, tapi pintu itu kembali terbuka. “Kita perlu bicara!” ucap wanita dengan stelan kerja warna merah, persis seperti baju kerja Won In Jae di drama start-up. Anggun dan elegan.


“Kalo kakak cma mau ngajak ribut lagi, gue nggak mau Kak!” tolak Freya.


“Nggak. Gue nggak bakalan ribut. Gue mau minta maaf. Lu turun dulu!”


“Minta maaf?” batin Freya sambil menatap lawan bicaranya yang masih setia berdiri di depan pintu, menahan agar pintu itu tak tertutup lagi.


Freya mengawati wajah wanita yang kemarin membuat wajahnya lengket dengan jus tomat, tak telihat emosi maupun amarah seperti sebelumnya. Senyumnya begitu anggun dan meneduhkan. Sepertinya ia tulus akan meminta maaf.


“Maaf yah Pak aku cancel aja. Tapi tetep aku kasih tip.” Ucapnya pada sopir lalu turun dari mobil.


.


.


.


Noh Kakak Lisa mau minta maaf tuh.


aku nggak mau up kalo yang komen dikit lah🤭🤭


aku di komen next next aja juga udah seneng loh. setidaknya aku tau kalian baca cerita ini. please jangan jadi readers ghaib🤣🤣


Jangan ketinggalan like dan komentarnya!

__ADS_1


__ADS_2