
Pagi ini ada yang berbeda di rumah Lisa. Dua orang polisi baru saja membawa dirinya secara paksa. Gadis yang masih mengenakan piama tidur itu terus meronta. Sang Ayah begitu terkejut mendapati polisi sudah datang ke rumahnya dipagi buta. Setelah membaca surat penangkapan yang dibawa oleh petugas, sang ayah hanya bisa mengangguk dan membiarkan anaknya di bawa. Bukannya ia tak peduli membiarkan putrinya di bawa tanpa perlawanan sama sekali, tapi kemampuan menghadapi keadaan presdir perusahaan property itu layak diacungi jempol. Percuma berdebat dengan polisi yang sudah membawa surat perintah, toh ia tak akan pernah menang. Lebih baik membiarkan putrinya di bawa. Jika Lisa memang tak bersalah semua akan baik-saja, lagi pula ada pengacara yang akan mengurusnya nanti. Sementara Ibu Lisa sudah tak sadarkan diri. Wanita yang memiliki riwayat penyakit jantung itu jatuh limbung begitu saja.
“Ayah tolongin aku, kau nggak salah.” Teriak Lisa dengan air mata yang berderai. Tangisnya semakin pecah saat mendapati ibunya yang sudah tak sadarkan diri terjatuh di lantai sementara sang ayah hanya menantapnya kepergiaannya seolah tak peduli.
Setelah kepergian polisi, ayah Lisa segera membawa istrinya ke rumah sakit. Kini wanita paruh baya itu tergulai lemas dengan jarum infus yang menancap di lengan kirinya. Lelehan air mengiringi bata sayu yang mulai terbuka.
“Lisa,” kata pertama yang terucap dari bibir MUA profesional itu.
“Lisa putri kita mana yah?” tanyanya pada sang suami yang duduk di samping ranjangnya.
Tak berbeda dengan dirinya, kini wajah suaminya sudah tak setenang tadi. Setengah jam yang lalu pengacaranya sudah menghubungi dan mengatakan jika putri semata wayangnya terjerat kasus kriminal dan kemungkinan akan memperoleh hukuman berupa penjara selama lima belas tahun, sesuai dengan pasal 338 dan pasal 340 KUHP tentang percobaan pembunuhan.
“Lisa mana Yah? Kemana putriku? Kenapa polisi membawa putri kita?” kini suara Ibu Lisa semakin lemah. Wanita itu seolah sudah tak mampu berkata-kata lagi melihat suaminya yang tak menjawab sedari tadi, ia sudah bisa menduga terjadi hal yang buruk pada Lisa.
“Istirahatlah, kita pasti bisa mengatasi musibah ini.”
“Katakan dimana Lisa?”
“Putri kita terjerat kasus kriminal. Dia mencoba mencelakai menantu Pak Bayu kemarin…”
“Tidak, ini tidak mungkin. Putri kita bukan penjahat.”
__ADS_1
“Tenanglah, aku sedang memikirkan jalan terbaik untuk semua ini.”
“Aku tidak mau anak kita cacat hukum Yah, dia masih muda. Masa depannya masih panjang. Lisa…” sosok ibu yang terbaring lemah itu bangkit dan mencabut paksa jarum infus yang melekat di tangannya. “Aku mau ketemu Lisa sekarang!”
“Sayang istirahat lah dulu. Jika kamu sudah benar-benar tak apa-apa kita akan mengunjungi Lisa.” Cegah Ayah Lisa.
“Bagaimana aku bisa beristirahat dengan tenang jika aku tak tau bagaimana keadaan anak kita saat ini.”
Meskipun wajah pucat masih jelas terlihat di wajah sang istri, ayah Lisa mengalah dan membawa istrinya ke kantor polisi. Setelah memperoleh penjelasan dari pengacara, keduanya di bawa tempat khusus yang biasa digunakan oleh keluarga narapidana saat untuk menemui keluarganya.
Kini Lisa duduk berhadapan dengan Ayah dan Ibunya. Gadis yang biasanya tak terllihat lemah kini hanya bisa menunduk, bahkan untuk menatap kedua orang tuanya pun ia tak mampu. Baru dua belas jam di penjara sudah membuat dunianya jungkir balik.
“Karena dia udah ngambil Arka dari aku Bu.”
“Kamu pikir dengan menyingkirkan istrinya Arka akan mau menjadikanmu pendamping?” sentak Ayah Lisa.
“Aku nggak peduli. Kalo aku nggak bisa milikin Arka, orang lain juga nggak boleh!”
“Sejak kapan kamu jadi sebodoh ini Lisa? Harus berapa kali Ayah bilang masih banyak lelaki di luar sana. Apa kamu tidak berfikir akibat dari perbuatanmu hah? Mau jadi apa kamu dimasa depan kalo masa mudamu dihabiskan di penjara?”
“Ayah masih peduli sama masa depan aku? Selama ini kemana perhatian Ayah? Ayah nggak pernah ada waktu buat aku.” Kini Lisa berganti menatap ibunya yang sudah terisak sejak tadi. “Ibu juga. Semenjak kuliah, aku ngerasa kalian udah nggak peduli lagi sama aku. Kalian selalu sibuk dengan kedok demi kebahagiaanku. Tapi nyatanya saat aku minta kalian buat dapetin Arka buat aku kalian nggak bisa. Dan ayah malah nampar aku di depan umum. Apa kalian nggak pernah mikirin perasaan aku?” tutur Lisa sambil sesekali menghapus air matanya sendiri.
__ADS_1
“Sejak dulu aku selalu iri dengan anak-anak lain yang mendapatkan pujian dari orang tuanya saat pembagian rapot, walau peringkat yang mereka dapatkan tak lebih baik dari aku yang selalu ada di peringkat tiga besar.” Pikiran Lisa kembali menerawang pada masa-masa putih abunya.
“Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik dan mencoba membuat kalian selalu bangga denganku. Tapi kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan dan hanya memuji dan membanggakanku di depan rekan-rekan bisnis. Kalian hanya memanfaatkan aku untuk mendapatkan pujian dan membuat rekan bisnis kalian menganggap kalian orang tua yang sempurna. Aku udah cape! semua hanya memanfaatkan aku saja.” Tutur Lisa yang masih memengang teguh prinsip hidup tentang memanfaatkan atau dimanfaatkan. Jika biasanya Lisa selalu terlihat angkuh dengan semua gaya hidupnya yang glamor dan membanggakan diri saat mampu memanfaatkan orang lain, kini terlihat jelas jika ia hanyalah gadis yang haus akan perhatian. Sifat egois dan sikapnya yang so berkuasa dan tak terkalahkan hanyalah topeng untuk menutupi kerapuhan hatinya.
“Sayang kamu salah paham. Tak ada orang tua yang ingin memanfaatkan anaknya. Semua yang kami lakukan demi kamu. Demi kebahagiaan kamu.” Ucap Ayah Lisa.
“Nggak kalian semua cuma manfaatin aku. Hanya Arka yang tulus sama, aku cuma mau Arka.” Ucap Lisa sambil menangis. Dalam benak Lisa, Arka adalah satu-satunya pacar yang tak pernah menuntut apa pun. berbeda dengan pacar-pacarnya yang lain yang terlihat tulus di depan tapi ternyata hanya kedok sebagai jalan untuk memuluskan usaha orang tua mereka. Tak jarang laki-laki mendekatinya karena statusnya sebagai anak pebisnis sukses.
“Dan kamu udah bikin orang itu benci sama kamu.” Ucap Ayah Lisa. “Kamu harus minta maaf pada Arka dan istrinya supaya kamu bisa keluar dari sini.” Lanjut Ayah Lisa.
“Aku nggak salah. Anak itu yang salah udah ngambil Arka dari aku.” Ucap Lisa sebelum akhirnya petugas membawanya kembali ke dalam tahanan.
Sepulang dari penjara, dua orang paruh baya itu tak langsung kembali ke rumah mereka, melainkan menuju rumah Bayu untuk meminta maaf dan berharap Bayu mencabut laporannya hingga sang putri bisa kembali menghirup udara bebas.
.
.
.
Seperti biasa like komen dan favoritkan jangan lupa!!
__ADS_1