Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Mau sekarang!


__ADS_3

warning 21++


buat dedek dedek yang dibawah umur silahkan scroll aja nggak usah dibaca yah wkwkwk


Bayu meletakan amplop besar ke meja di hadapan Arka. mereka kini berada di ruang TV, Mira duduk di samping Bayu sedang Arka berada di sisi yang berlawanan.


"Buka! Itu hadiah pernikahan dari kami untuk kamu dan Freya." Ujar Bayu.


"Bunda harap kalian suka sama pilihan kami." Imbuh Mira.


Arka mengambil amplop besar berwarna coklat kemudian membukanya. "Sertifikat Apartemen?" Tanya Arka setelah membaca isinya dan meletakan kembali berkas itu di meja.


"Iya Bunda sengaja beliin apartemen buat kalian. Bunda kan juga pengen kaya dinovel-novel yang mengunjungi rumah anak dan menantunya." Mira begitu antusias menjelaskan alasannya. "Ya sapa tau bunda bisa ngegrebeg kalian yang lagi mesum hahaha." Imbuhnya sambil tertawa, entah apa yang ada di pikiran bunda Mira.


Arka hanya menggelengkan kepala mendengar alasan Bunda Mira. Belum apa-apa bunda Mira sudah ada niatan mengganggu. "Lagi-lagi bunda keracunan novel, segala kepengen kaya di novel. Belum pindah ke apartemen aja aja bunda udah sukses ganggu pake banget." Batin Arka.


Sejenak Arka mengingat semua kesabarannya menghadapi Freya tapi saat tiba waktu untuk memanen hasil dari sabar yang ia jalani selama ini malah gangguan datang bertubi-tubi seolah tak membiarkan dia merasakan surga dunia yang banyak di bicarakan orang setelah menikah.


Berbeda dengan Bayu yang setuju dengan keinginan Mira membeli apartemen untuk Arka karena ingin membuat putranya menjadi lebih bertanggungjawab dan mandiri.


"Kalo sudah tidak ada yang mau dibahas lagi aku mau pamit kembali ke kamar Bun. Makasih untuk hadiahnya Freya pasti suka." Pamit Arka.


Arka menutup pintu kamar dan tak lupa menguncinya. Harapannya tak ada lagi yang akan menganggu. Andai kamarnya adalah hotel Arka akan menggantungkan tulisan 'dont distrub' di daun pintu supaya mereka bisa bebas dari gangguan.


Arka meletakan sertifikat apartemen pemberian orang tuanya di meja belajar kemudian berjalan menghampiri Freya.


Sesuai dugaan, Freya sudah tenggelam di dunia mimpi. Arka membenarkan selimut yang tersingkap, terlihat tubuh bagian atas Freya yang tanpa pakaian. Ia menelan ludahnya melihat pemandangan indah yang kini hanya bisa dilihat tanpa digarap karena sang pemilik sedang terlelap.

__ADS_1


Arka membuka kaos yang ia kenakan. Pikirnya lumayan nyicil nempel-nempel dikit dari pada tidak sama sekali. Ditariknya Freya ke dalam pelukan, membenamkan wajah gadis itu di dada telanjangnya. "Selamat tidur my treasure."


Tak ada yang terjadi hingga pagi menjelang, mereka berdua tidur dengan tenang. Mungkin efek lelah dengan drama adik dan kakak sepupu yang mereka lakoni di hari kemarin.


Freya terbangun dari tidur tapi belum membuka matanya. Ia merasakan pelukan hangat yang membuatnya malas untuk beranjak dari tidurnya. Biasanya juga dipeluk Arka begitu nyaman, tapi kali ini lebih nyaman. Mungkinkah ini efek karena mereka sudah mengungkapkan perasaan masing-masing atau karena dipeluk tanpa pakaian?


Freya melingkarkan tangannya ke punggung Arka kemudian membuka matanya. "Bang Ar ngga pake baju?" Tanyanya sambil menatap dada telanjang Arka.


Arka tak menjawab. Lelaki itu malah mengusap-usap punggung telanjang Freya seolah meminta Freya untuk kembali tidur.


Ada desiran berbeda setiap Arka menyentuh tubuh polosnya. "Bang Ar ini masih pagi."


"Emangnya kenapa kalo masih pagi? Abang mau sekarang sayang." Ucapannya parau dengan suara khas bangun tidur.


"Bang Ar mau apa? Makan? Biar aku masakin." Jawab Freya dengan suara pelan.


Leguhan dan desahan lolos begitu saja dari bibir Freya saat Arka meneguk kembali pabrik susunya. Tak tinggal diam tangan kanan Arka mulai turun dan menelanjangi bagian bawah Freya. Di lemparnya asal pakaian itu, diikuti dengan pakaiannya hingga kini keduanya benar-benar dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.


Arka menatap Freya yang kini ada di bawah kungkungannya dengan penuh gairah. "Jangan ditutupin. Itu punya Abang." Sambil menunjuk dada dan bagian bawah tubuh Freya yang ditutupi oleh tangan.


"Aku malu Bang." Freya memejamkan matanya. Malu melihat Arka yang tanpa busana meskipun dia suka dengan tubuh Arka yang bagus. Malu juga dengan dirinya yang telanjang di depan orang lain untuk pertama kali sekalipun itu suaminya.


Arka mengecup kedua mata Freya secara bergantian. "Buka mata kamu sayang." Kini Arka perlahan menyingkirkan tangan Freya yang menutupi area yang kini menjadi favoritnya. Arka memindahkan tangan Freya supaya mengalung di lehernya. Gadis itu hanya menurut saja dengan wajah yang sudah memerah.


Arka membuka kaki Freya dan menempatkan permen unlimited yang khusus untuk Freya tepat di depan rumah baru si permen. Permennya sudah benar-benar besar, panjang dan keras tentunya.


"Bang Ar pelan-pelan aku takut. Itu gede banget." Ucap Freya sambil melirik permen di bawah sana.

__ADS_1


"Iya sayang Abang pelan-pelan." Arka membelai kepala Freya dan mencium kening gadis itu kemudian dengan perlahan memasukan permen pada hunian baru yang masih sempit. Bahkan sangat sulit untuk masuk kedalam.


"Abang sa...kit." Freya memeluk Arka lebih erat saat baru setengah permen Arka masuk dalam huniannya.


Arka segera membungkam mulut Freya dengan bibirnya. Melum*atnya dalam-dalam membiarkan lidah mereka bertautan di dalam sana guna mengalihkan rasa sakit yang Freya rasakan. Dengan sekali hentakan Arka sukses memasukan seluruh permennya beriringan dengan Freya yang mencakar rahangnya.


Arka membiarkan permennya diam di dalam hunian barunya. "Maaf, abis ini udah nggak bakalan sakit kok." Arka menghujani Freya dengan ciuman dan menambahkan beberapa tanda cinta di leher hingga dada istri yang tak perawan lagi.


Dan benar saja setelah beberapa saat sudah tak ada sakit yang Freya rasakan. Hanya rasa baru yang sulit di terjemahkan. Enak, nikmat dan membahagiakan.


Suara-suara erotis yang keluar dari pasangan pengantin yang sudah menikah hampir satu bulan tapi baru merealisasikan malam pertama mereka di pagi hari ini memenuhi kamar dengan nuansa putih biru.


"Terimakasih karena sudah menjadi istriku yang sepenuhnya. Love you Freyaku." Ucap Arka kemudian mengecup kening dan bibir Freya secara bergantian setelah keduanya mencapai surga dunia bersama.


"Sama-sama Bang Ar nya aku. Love you too." Ucap Freya seraya kembali menenggelamkan kepalanya di dada telanjang Arka, gadis itu masih malu.


Arka menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka kemudian terlelap dengan memeluk Freya.


Bukan di luar kota maupun luar negri dengan rencana bulan madu yang menyenangkan. Bukan pula di hotel dengan ranjang bertaburan kelopak bunga mawar merah yang romantis, hanya di rumah orang tuanya, keduanya memadu bulan madu yang manisnya melebihi madu maupun gula yang pernah rasakan.


.


.


.


Segini dulu permen paginya yah.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen dan favoritkan!


__ADS_2