
Pelan-pelan bulu mata lentik itu turun naik mengikuti mata yang terbuka, pandangannya menyapu ruangan tempatnya berada kini. Seorang wanita paruh baya yang sangat ia kenal membantunya duduk bersandar pada kepala ranjang. Ruangan yang didonimasi warna putih, ia tau ini kamar suaminya.
Sekali lagi pandagannya menyapu ruangan yang kini dipenuhi oleh orang-orang, ia melirik jam di dinding menunjukan pukul tujuh, yang ia yakini jam tujum pagi. Meskipun bingung dengan apa yang terjadi, Freya tersenyum ramah pada semua yang ada di sana. Bahkan ayah mertua yang seharusnya ada di luar kota pun terlihat duduk di sofa, masih dengan pakaian yang dikenakan saat berangkat. Suara orang yang sedang muntah-muntah pun terdengar dari kamar mandi yang tertutup dengan sempurna di ruangan itu.
Freya mencoba mengingat apa yang terjadi padanya hingga sahabatnya dan sahabat suaminya berkumpul semua disini, bahkan semuanya masih mengenakan baju warna kuning sesuai dress code inagurasi. Freya memijit pelipisnya, berulang kali berusaha mengingat tapi ia tak ingat apa pun, yang ia tau terakhir kali ia ke toilet dan tiba-tiba terbangun sudah di kamar Arka.
“Sayang apa kamu pusing?” tanya Mira yang sedari tadi duduk di samping Freya.
Freya menggelengkan kepala, “Aku nggak apa-apa Bun, kenapa rame banget sih di sini?” ia menatap heran satu persatu orang-orang yang masih ada di kamarnya.
“Kak Rendi ngapain di sini? Masih pake baju yang semalem juga.” Tanyanya sambil melirik Rendi, “Lu juga Mi, lu nggak pulang?” lanjutnya.
Tak ada yang menjawab pertanyaan Freya, semuanya hanya terdiam.
“Ayah juga, bukannya harusnya masih di Jogja? Dokter Rere juga ngapain pagi-pagi di sini? Apa ada yang sakit?” pandangannya kemudian beralih ke samping, ia merasa terganggu dengan suara orang muntah-muntah sedari tadi tak juga berhenti. “Itu siapa sih Bun yang pake kamar mandi? Apa Ardi?” tebak Freya karena hanya Ardi yang tak ada di ruangan itu.
Freya terus memberondong pertanyaan pada orang-orang di sekitarnya, hingga Arka yang terlihat pucat keluar dari kamar mandi, suaminya itu berjalan dibantu oleh Irfan. Melihat putranya sudah keluar dari kamar mandi, Mira segera berpindah dari tempat tidur. Wanita itu berdiri dan membantu Arka duduk di samping Freya.
“Bang Ar kenapa? Abang sakit? Kenapa Abang udah pulang? Harusnya kan Abang pulang hari senin?” Tanya Freya yang tak dijawab Arka, lelaki itu makin mengeratkan pelukannya, mengirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri yang mampu menenangkan rasa mualnya.
“Biarin kayak gini aja bentar sayang.” Ucap Arka lirih, ia kembali memeluk Freya dengan posesif. panggilan 'sayang' yang biasanya hanya digunakan saat mereka sedang berdua saja sudah Freya dengar berulang kali hari ini. Freya yang tak tau apa yang terjadi memilih menuruti keinginan suaminya, mengusap-usap punggung suaminya.
Ardi dengan masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi bubur dan air hangat, ia mendengus kesal melihat pemandangan pasutri yang sedang saling berpelukan di ranjang menjadi tontonan orang-orang yang terlihat menikmati pemandangan itu tanpa malu.
“Bisa-bisanya kalian malah nonton orang mesum!” sindirnya sambil lewat, ia berjalan mengampiri sang Kakak. Ia meletakan nampan pada nakas di samping ranjang.
“Minum dulu nih! Lepasin dulu Freya nya. Dia kagak bakalan ilang.” Ardi menepuk bahu Arka, kemudian memeberikan segelas air hangat yang baru saja ia bawakan.
Arka melepas pelukannya, tapi tangan kirinya masih merangkul Freya. Benar-benar tak ingin lepas dari istrinya. “Makasih Di.” Arka meminum sedikit air itu kemudian memberikannya kembali pada Ardi.
“Makan juga tuh buburnya, biar nanti kalo muntah ada stok buat dimuntahin. Nggak cuma hoek… hoek… tapi nggak ada yang keluar.” Ardi menirukan suara Arka saat muntah, mengakhirinya dengan tawa penuh ejekan.
“Sebenernya Bang Ar sakit apa?” kali ini Freya benar-benar terlihat cemas, apalagi melihat wajah suaminya yang pucat. “Kita ke dokter aja yah Bang. Dari kemaren kan aku udah ngajak Abang ke dokter. Biar Abang nggak muntah-muntah terus. Liat wajah Abang yang ganteng jadi pucat gini.” Imbuhnya sambil menangkup wajah Arka dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Arka tak menjawab ia malah ikut meletakan tangannya di atas telapak tangan Freya yang sedang menangukup pipinya, mengelus manja punggung tangan sang istri.
“Abang kita ke dokter yah? Kalo nggak periksa sekarang aja nih. Mumpung ada Dokter Rere.” Bujuknya sambil tersenyum pada Dokter Rere yang sedang duduk di sofa dengan Bunda Mira. Keduanya terlihat sedang membahas sesuatu yang serius, senyum Bunda Mira berulang kali tersungging setiap kali berbicara dengan wanita berjas putih itu.
Arka hanya tersenyum, kemudian menggelengkan kepala. “Abang nggak apa-apa kok sayang.”
“Kalian bener-bener bikin gue risih. Lu juga Kak, kelakuan lu bener-bener manja. Kayak anak TK yang takut di tinggal emaknya, nempel mulu.” Ujar Ardi.
“Ardi kenapa lu jadi ngegas gitu sih? Lu nggak khawatir liat kakak lu ini sakit hah? Liat wajahnya pucat gini. Mana muntah-muntah mulu lagi.” Cerocos Freya. “Kasih tau Dokter Rere buat priksa Bang Ar deh!” imbuhnya sambil menatap kesal Ardi.
“Laki lu kagak apa-apa. Lu yang seharusnya ke dokter buat periksa.”
“Gue nggak apa-apa Di, kenapa gue yang harus ke dokter sih? Kayaknya lu juga harus diperiksa deh, lu aneh.” Timpal Freya.
Ardi tak mau berdebat terlalu lama dengan kakak iparnya, rasa bersalah karena tak menjaga kakak iparnya dengan baik masih menyelimuti hatinya. Apalagi mengingat kemarahan Arka saat tiba di rumah subuh tadi. Benar-benar membuatnya menyesal tak mengantar Freya ke toilet malam tadi.
“Jaga keponakan gue baik-baik Fre.” Ucapnya kemudian meninggalkan kamar.
“Ponakan?” ulang Freya. “Ponakan yang mana Di? Kok gue nggak kenal? Bukannya lu nggak punya ponakan? Kalian kan cuma dua bersodara.”
Freya menatap perutnya yang datar, tangan suaminya melingkar di sana sejak tadi.
“Bang Ar pe…perut aku, ponakan Ardi?” ucapnya yang tiba-tiba terbata-bata.
“Iya sayang. Ada ponakan Ardi disini.” Arka mengelus pelan perut Freya, “Baby kita.” Imbuhnya.
“Be… beneran Bang?” teriak Freya spontan, ia takut mengecewakan mertuanya, mengingat insiden asam lambung beberapa bulan yang lalu.
Bunda Mira dan Dokter Rere menghampiri mereka. Dan Arka masih saja memeluk Freya dengan tak tau malunya.
“Beneran sayang, Dokter Rere udah periksa tadi. Jaga cucu Bunda baik-baik yah.” Ucap Mira.
“Benar. Selamat atas kehamilannya. Kalian bisa lanjutkan konsultasi dengan dokter spesialis kandungan.” Imbuh Dokter Rere.
__ADS_1
Bunda Mira mengantar Dokter Rere meninggalkan kamar. Satu persatu dari mulai ayah mertua hingga sahabat satu servernya mengucapkan selamat atas kehamilan Freya.
“Selamat yah menantu kesayangan ayah, jaga cucu-cucu ayah baik-baik.”
“Selamat Ar, permen lu sudah terbukti ampuh.” Ucap Rendi.
“selamat yah Fre, bentar lagi kita jadi Oom nih.” Ujar Irfan.
Semuanya sudah meninggalkan kamar, hanya menyisakan Miya, Arka dan Freya.
Sahabat satu servernya menghampiri Freya. “Selamat yah Fre.” Miya ingin memeluk Freya tapi tak bisa ia lakukan karena Arka yang terus menempel.
“Makasih Mi.” jawab Freya sambil tersenyum. “Bang Ar lepas bentar yah. Aku pengen meluk Miya.” Ucapnya pada Arka. Meskipun enggan tapi ia menuruti perintah istrinya.
Freya turun dari ranjang dan memeluk Miya.
“Gue seneng banget Fre, lu udah mau jadi Mama muda.”
“Makasih Mi. gue juga seneng banget. Dan ini saatnya rencana ngidam kita realisasikan Mi.” Ucap Freya dengan semangat.
“Ya ampun Fre lu masih inget aja. Itu nggak penting Fre, yang penting lu jaga baby lu baik-baik. Maafin gue nggak bisa jaga lu tadi malem.” Ucap Miya kemudian melepas pelukannya.
"Emangnya tadi malem kenapa Mi?"
.
.
.
aku seneng loh dikomentarin, tapi buat nerima komentar selevel seblak aku belum siap. meskipun aku semua itu supaya tulisanku bisa jadi lebih baik lagi. aku suka langsung baper loh. pen nangis😭😭😭😭😭. tapi lanjutin aja komentar level seblaknya, kalo bisa cabenya tambahin biar makin kuat mental aku ini🙏🙏
maafkan malah curhat.
__ADS_1
seperti biasa like dan komentarnya yah. jangan lupa favoritkan juga.