
"Mau sampe kapan kalian ngoceh-ngoceh nggak jelas kayak gitu? Udah mahasiswa aja masih kayak bocah lu berdua."
Freya dan Miya tau betul pemilik suara itu, keduanya reflek menengok ke belakang.
"Ardi?" kompak Freya dan Miya menyebut nama itu. Keduanya gelagapan takut-takut Ardi mendengar semuanya.
"Se..sejak kapan lu ada di situ? Bukannya tadi lu duduk di sana?" Miya menunjuk kursi Ardi yang sebelumnya.
"Sejak temen lu bilang kalo gue nggak bakal tega ngebiarin ponakannya ngences mulu."
"Oh." Lagi-lagi keduanya ber oh ria, kompak.
"Ah oh ah oh mulu lu berdua. Gue cabut lah ke kantin lapar." Ujar Ardi kemudian pergi meninggalkan Miya dan Freya.
Huh... Setelah kepergian Ardi keduanya merasa lega, setidaknya mereka sudah memastikan jika Ardi tak mendengar apa yang seharusnya tak ia ketahui.
"Gue udah dag dig dug banget tau Fre." Ucap Miya sambil melihat Ardi yang sudah menjauh. "Gue takut dia tau kalo gue suka sama dia. Hancur dah gue kalo ketauan." Imbuhnya.
"Terus lu mau diem-diem terus gitu nggak ngasih tau dia kalo lu suka sama dia?" Tanya Freya.
"Ya terus gue mesti gimana Fre? Masa iya gue harus nembak dia? Gengsi dong."
"Ya gimana ya? Gue juga nggak tau. Lu tau sendiri gue belum pernah pacaran. Kagak ngerti gue kalo urusan kayak begituan. Sabar yah tunggu gue hamil biar bisa minta Ardi jadiin lu pacar." Sungguh solusi yang sangat sangat tidak masuk akal tapi tetap di iyakan oleh Miya.
"Kalo gitu lu buruan hamil yah."
"Oke di usahakan." Jawab Freya dengan membentuk huruf O dengan jarinya.
Jam istirahat sudah berlalu, Freya dan Miya sama sekali tak beranjak dari tempat duduk. Mereka asik membahas misi mendapatkan Ardi. Bahkan sampai materi dari dosen yang kini sedang berbicara di depan pun tak mereka gubris. Urusan hati paling utama itulah yang ada di pikiran mereka saat ini.
Gemuruh tepuk tangan dari para mahasiswa baru untuk dosen yang baru saja turun dari panggung menandakan acara ospek hari pertama telah usai.
Ruangan yang tadinya penuh kini mulai sepi, hanya tersisa beberapa mahasiswa yang masih bercengkrama di sana.
Freya ditemani Miya Berdiri di samping pintu auditorium menunggu suami yang masih sibuk berbincang dengan beberapa panitia di dalam sana.
"Ardi sini lu temenin gue nungguin Bang Ar." Freya menarik lengan Ardi yang baru saja melewatinya dengan beberapa gadis di samping si adik ipar. Dengan wajah yang tampan membuat banyak gadis berusaha mendekatinya.
Beberapa gadis yang bersama Ardi ikut berhenti, mereka menatap Freya dengan kesal.
"Sorry sorry deh kalo gue ganggu kalian. Tapi perlu kalian tau si Ardi ini." Freya menepuk bahu Ardi sambil tersenyum santai pada gadis-gadis yang sedang menatapnya. "Dia ini sepupu gue." Lanjutnya.
Mendengar ucapan Freya, tatapan kesal dari mereka langsung berubah menjadi senyum ramah. "Oh gitu. Ya udah kita duluan yah. Nanti gue telpon yah Ar." Ucap salah seorang dari mereka yang kemudian menjauh sambil melambaikan tangannya.
"Cie Ardi sekarang udah banyak fans nya yah padahal baru sehari doang masuk." Ujar Miya.
"Nanti gue telpon yah Ar." Sambung Freya dengan centilnya menirukan ucapan salah satu gadis tadi.
__ADS_1
"Apaan sih kalian gaje banget." Ketus Ardi.
"Marah Babang Ardi Mi." Ejek Freya.
"Udah lah gue cabut nih."
"Hush jangan dulu Di. Temenin gue nungguin Bang Ar." Rengek Freya.
"Kan udah di temenin Miya tuh." Ardi menunjuk Miya dengan lirikan matanya.
"Dari dulu kan kita selalu bertiga kemana-mana. Masa nemenin kita bentar aja lu nolak sih." Protes Freya sambil mencubit lengan Ardi.
Ditengah adu mulutnya dengan Ardi, mereka tak sadar jika beberapa panitia ospek dan Arka sedang berdiri di tak jauh dari mereka. Si senior yang menghukumnya tadi pagi bahkan kini kembali meledeknya.
"Ckck Tukang gombal udah dapat target nih. Cakep juga pilihan lu." Godanya pada Freya.
"Kak Arka enaknya kita apain nih bocah yah? Tadi pagi gombalin Kakak eh sekarang malah PDKT sama dia." Si senior menunjuk Ardi yang ada di hadapannya. "Eh kalian kok mirip?" Lanjutnya.
"Siapa yang PDKT sih kak. Dia ini sepupu gue." Freya kembali menepuk bahu Ardi, "Orang itu juga sepupu gue." Lanjutnya sambil menunjuk Arka yang berdiri di belakang si senior.
Si senior menengok ke belakang, "punya sepupu cantik kayak dia buat gue dong kak, nggak apa-apa deh dia nggak bisa bangun pagi juga gue terima." Ucapnya pada Arka.
Sebelum Arka menjawab, si istri malah sudah protes duluan. "Tuh kan Kak! Kakak nggak gue gombalin aja udah baper sama gue. Tapi mohon maaf yah Kak gue nggak bisa nerima permintaan kakak."
"Kenalan dulu deh Fre. Gue Irgi anak TI tingkat tiga tahun ini." Ucap si senior, "kasih kesempatan gue PDKT sama lu." Pintanya terang-terangan.
"Asahi suami halu gue kagak bakalan marah tapi orang di belakang lu tuh yang udah mau meledak."
"Bisa aja lu. Ya udah gue duluan yah." Pamit Irgi diikuti teman-temannya.
Arka menghampiri Freya yang kini bersembunyi di belakang Ardi. "Seneng yah ada yang PDKT sama kamu Dek?" Ujar Arka sambil menarik Freya hingga gadis itu kini berdiri di sampingnya.
"Seneng lah Bang. Aku nggak nyangka banyak yang suka sama aku." Ucapnya jujur sambil tertawa. "Tapi tetep kok di sini cuma ada Bang Ar doang." Lanjutnya sambil menunjuk hatinya. Ia tak mau kena bentak lagi seperti dulu saat ia dengan sengaja mengajak Irfan pacaran di depan Arka saat lelaki itu hanya mengenalkannya sebagai adik sepupu.
"Anak pinter." Ucap Arka sambil mengusap kepala sang istri.
"Pamer terus aja terus. Ayo Mi cabut kita! di sini kita udah kayak mahluk ghaib aja, ada tapi tak terlihat di mata mereka." Sindir Ardi.
"Bentar Mi gue mau minta tolong." Ucap Arka.
"Minta tolong apa kak?"
"Beliin album treasure terbaru buat sahabat lu ini. Sekalian lu beli juga ntar gue yang bayar."
"Wah asik gratisan nih. Siap kak!" Jawab Miya sambil memberi hormat pada Arka layaknya pemimpin upacara yang sedang hormat pada pembina. "Kuy lah Fre kita beli." Miya dengan semangat menarik tangan Freya.
"Kuy lah ayo tapi..." Freya terlihat sedikit berfikir. "Tapi gue nggak bisa lu pergi sama Ardi aja. Gue ada perlu sama Bang Ar." Lanjutnya.
__ADS_1
Miya bisa mengerti alasan Freya tak mau ikut, sahabatnya pasti ingin membiarkannya berdua saja dengan Ardi. Kini ia melirik Ardi, "gimana Di mau nggak nemenin gue nyari album barunya treasure?"
"Temenin aja Di. Kita kan sahabatan, dari dulu aja lu selalu ikut kalo kita kemana-mana bahkan maksa meskipun udah gue larang." Ujar Freya.
"Iya iya gue temenin, Ayo!" Jawab Ardi, lelaki itu berjalan duluan.
Miya menghampiri Freya sebelum pergi. "Makasih Fre."
"Sama-sama. Selamat berjuang mendapatkan Ardi, tapi jangan sampe lupa albumnya Treasure."
"Siap."
Freya tersenyum senang melihat sahabatnya yang sedang berlari mengejar Ardi.
"Tumben nggak ikut padahal mau nyari album suami halu kamu tuh." Ledek Arka saat keduanya sudah berada di mobil.
"Nggak, mau sama Abang aja. Lagian aku pengen biarin mereka berdua aja. Miya tuh suka sama Ardi tau Bang."
"Iya, keliatan sih."
"Masa sih Bang? Kok aku nggak tau yah. Aku aja baru tau tadi itu juga karena Miya yang bilang sendiri."
"Kamu mana peka soal begituan. Dulu kalo Abang nggak bilang cinta sama kamu juga kamu nggak akan percaya kalo Abang cinta sama kamu. Meskipun udah di kode kalo cinta itu nggak perlu di ungkapkan yang penting perlakuan kita ke pasangan."
"Ya kan kalo kagak diungkapin mana tau Bang." Jawabnya polos seperti biasa.
Keduanya turun dari mobil dan berjalan ke apartemen mereka. Setibanya di dalam, Freya mengambil air mineral untuknya dan Arka.
"Bang Ar." Panggilnya sambil menyerahkan gelas berisi air pada Arka kemudian duduk di samping sang suami.
Arka menerima gelas itu kemudian meminum isinya.
"Abang nanti kalo aku hamil ingetin buat ngidam Ardi pacaran sama Miya yah." Ujar Freya yang sukses membuat Arka yang sedang minum menyemburkan air yang sedang ia teguk hingga mengenai wajah Freya.
Dengan buru-buru Freya mengambil gelas di tangan Arka dan meletakannya di meja kemudian mengelap wajah basahnya dengan baju. "Abang minumnya hati-hati dong. Udah kayak dukun aja aku disembur-sembur." Gerutu Freya.
"Maaf maaf Dek, Abisnya kamu aneh mana ada ngidam kaya gitu."
"Ya makanya takut nanti aku pas ngidam lupa gitu, Abang ingetin yah. Soalnya itu udah rencana aku." Ujar Freya jujur.
Lagi-lagi Arka hanya bisa memijit keningnya pelan, aneh dengan cara berfikir istrinya, mana ada orang ngidam direncanakan. Tapi tak lama tersungging senyum di bibirnya.
"Ih ngerti nggak sih Bang? Kok malah senyum gitu."
Arka tak menjawab, dia malah menggendong istrinya.
"Ih Bang Ar bukannya jawab malah main gendong aja." Kesal Freya.
__ADS_1
Arka menjatuhkan Freya di ranjang dan kemudian memeluk sang istri. "Abang ngerti kok. Ngerti banget malahan. Makanya sekarang Abang mau usaha biar kamu bisa cepet ngidam dan bikin Ardi sama Miya jadian."