Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Jadi Bang Ar semua


__ADS_3

Dua puluh satu tahun bernafas di atas bentala baru kali ini Arka si anak sultan harus berdiri selama perjalanan menuju tempat KKN. Tak hanya sebentar, dua jam perjalanan berhasil membuat kaki Arka pegal karena terus berdiri, padahal dia bukan kenek bus yang harus berdiri dan menagih ongkos pada penumpang. Bukan juga kang ngamen karena tampangnya kelewat tampan untuk disejajarkan dengan pengamen. Tapi apalah daya, ini adalah cara paling aman untuk menghindari mantan yang selalu berusaha kembali padanya.


Langit sudah gelap ketika rombongan mahasiswa KKN tiba di rumah yang menjadi posko mereka. Satu-persatu setiap anggota keluar dari bus dan membawa barang-barang mereka sendiri. "Kang ini ongkosnya, kembalian lima puluh ribu." Irfan meletakan uang pecahan dua ribu rupiah ke tangan Arka yang sedang berdiri di samping bus untuk memastikan semua anggota kelompoknya sudah turun.


Arka meremas uang kertas yang baru saja diterimanya. "Dua ribu minta kembalian lima puluh ribu, rugi dong gue." Batinnya seraya melemparkan uang itu ke Irfan. "Gue bukan kenek woy!" Irfan hanya menanggapinya dengan senyum mengejek.


Setelah memastikan semua anggota kelompok sudah turun dari bus dan tak ada barang-barang yang ketinggalan Arka segera masuk ke dalam rumah dan memberikan pengarahan pada teman-temannya.


Arkana Rahardian, lelaki tinggi tampan yang mengenakan kemeja biru itu duduk lesehan, membentuk lingkaran dengan anggota lainnya. Di sampingnya duduk sang mantan yang tak tau diri menggeser Rendi yang sebelumnya duduk di sana. Jabatannya sebagai ketua BEM di kampus tak membuat Arka kesulitan beradaptasi dengan kelompok KKN nya. Dia mulai membagi anggota kelompoknya kedalam kelompok kecil beranggotakan tiga sampai empat orang yang nantinya memiliki tanggungjawab masing-masing.


Tak lupa dari mulai jadwal piket bersih-bersih posko, masak dan belanja juga dibaginya dengan sama rata. Hingga pembagian kamar pun sudah dirincinya dengan baik. Karena rumah yang jadi posko mereka hanya memiliki empat kamar maka setiap kamar akan diisi oleh lima orang.


Tak ada yang memprotes pembagian yang baru saja Arka jelaskan, hanya Lisa yang terus saja ngedumel karena harus sekamar dengan orang asing.


Setelah selesai dengan pembagian kamar dan sebagainya, Arka dan yang lain segera masuk ke kamar dan membereskan barang bawaan mereka.


Arka keluar dari rumah, lelaki itu duduk di teras untuk melakukan panggilan pada istri yang bahkan belum dua puluh empat jam ia tinggalkan. Berulang kali Arka menelpon ponsel Freya tapi tak ada jawaban, hingga ia memutuskan menelpon nomor rumahnya saja.


"Halo, ini siapa?" Terdengar jawaban dari seberang sana. Arka tau itu suara istrinya, karena hanya Freya perempuan muda yang ada di rumah itu.


"Arka nya ada?"


"Nggak ada. Lagi pergi." Lain halnya dengan Arka, Freya tak mengenali suara Arka di telpon karena sejauh ini dia tak pernah menerima panggilan telpon dari Arka, hanya sebatas chat.


"Oh. Ini siapanya Arka? Setau gue Arka nggak punya saudara perempuan." Arka menahan tawanya karena Freya tak mengenali suaranya. Membuat dia ingin menjahilinya lebih lama.


"Gue... Gue adik sepupu. Iya adik sepupunya Bang Ar. Kenapa gitu? Kalo nggak ada yang penting gue tutup telponnya yah." Jawab Freya dengan malas.


"Jangan Dek."

__ADS_1


Mendengar kata 'dek' Freya langsung menjawab dengan semangat padahal tadinya ia hendak menyimpan gagang telpon itu "Bang Ar? Ini Abang?"


"Iya ini Abang. Kamu lagi apa?"


"Kenapa nggak bilang dari tadi sih? Abang udah sampe?"


"Udah barusan. Kamu lagi apa?" Tanya Arka.


"Nonton TV sama Bunda. Abang lagi apa?"


"Lagi kangen istri." Ada senyum terbit ketika mengucapkan kata istri.


Freya di seberang sana sudah tersipu malu mendengar jawaban Arka. "Jadi kangen suami." Timpal Freya. "Abang bisa nggak sih KKN nya nggak pake nginep. Berangkat pagi sorenya pulang." suaranya terdengar manja.


"Ada-ada aja kamu dek, nggak bisa gitu lah." Arka tak habis pikir dengan isi otak istrinya, bisa-bisanya KKN di suruh berangkat pagi dan pulang sore, emangnya PKL anak SMK.


Lama keduanya mengobrol mencurahkan rindu yang sudah menggunung padahal baru berpisah beberapa jam. Arka mengakhiri panggilannya saat melihat Lisa keluar dari rumah dan menghampirinya, gadis itu membawa cangkir ditangan kanannya.


Lisa duduk di kursi teras yang kosong hanya meja kecil yang menjadi jarak antara mereka. Gadis itu meletakan secangkir kopi di meja. "Abis telpon siapa yang? Gue bikinin kopi buat lu."


"Telpon siapa aja bukan urusan lu." Jawab Arka ketus sambil memainkan ponselnya. Mengirim ucapan selamat tidur untuk dedek tersayang.


"Minum dulu yang, gue udah bikinin. Seenggaknya lu hargai dong." Geram Lisa saat melihat Arka beranjak dari duduk dan meninggalkannya.


"Lu minum sendiri aja. Gue nggak pernah nyuruh lu buat bikin kok." Ucap Arka datar sambil masuk ke rumah dan masuk ke kamar.


Lisa berdiri dan menatap ke dalam rumah, kedua tangannya mengepal menahan geram. "Semakin lu ngehindar semakin semangat gue buat dapetin lu lagi Ar. Lu emang beda dari yang lain dan gue bakal buktiin kalo gue bisa dapetin lu lagi." Batinnya.


"Dari mana lu?" Tanya Irfan yang sudah rebahan di kasur.

__ADS_1


Arka merebahkan tubuhnya di samping Irfan. "Dari depan."


"Abis nelpon Dedek Gemes gue yah." Timpal Rendi dari ranjang sebelah yang hanya terpisah meja.


Bantal guling terbang bebas mengenai kepala Rendi. "Udah gue bilang cuma gue yang boleh panggil dedek."


"Ih Bang Ar marah. Serem Dek." Ledek Irfan.


"Sialan kalian berdua." Arka menatap dua sahabatnya bergantian dengan kesal.


Kegaduhan mereka berhenti saat dua orang penghuni kamar tiba dan mematikan lampu. "Tidur guys besok kita harus udah bangun pagi-pagi banget."


Arka sudah berlayar ke alam mimpi, mungkin karena lelah berdiri lama membuat lelaki itu cepat terlelap. Beda halnya dengan gadis berambut panjang yang kini sedang berguling kesana kemari diatas ranjang karena tak bisa tidur. Sudah berbagai cara Freya lakukan untuk mengalihkan perhatiannya supaya tak memikirkan Arka terus. Dari mulai nonton drakor, berseluncur di aneka media sosial hingga mantengin vidio Treasure yang sebelumnya sangat ia gilai namun tak berhasil mengalihkan pikirannya, yang ada semua personel Treasure yang beranggotakan dua belas orang itu mendadak wajahnya berubah jadi Arka semua di mata Freya. "Astaga gue bener-bener nggak bisa kaya gini terus nih. Bisa-bisa besok mata gue item." Gerutunya sambil meletakan ponsel dan beranjak dari ranjang.


Tak sengaja ia melihat dua poster jumbo yang dibelikan Arka beberapa waktu lalu. "astaga segitu kangennya gue sama Bang Ar kenapa sekarang poster Asahi aja wajahnya jadi Bang Ar."


Freya membuka lemari dan mencari kemeja putih Arka yang pernah ia kenakan saat dulu saat pertama tidur di kamar ini. "Kok nggak ada yah?" Freya mengacak rambut panjangnya.


"Pake ini aja lah." Gadis itu membuka baju tidurnya dan menggantinya dengan kemeja maroon lengan panjang yang kebesaran di tubuhnya.


"Nah kalo kaya gini kan berasa deket sama Bang Ar." gumamnya.


.


.


.


aku jadi kepo gimana cara kalian biar berasa deket sama orang yang kalian sayang kalo lagi berjauhan?

__ADS_1


TBC


__ADS_2