Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Malam itu...


__ADS_3

Tok… tok…


Gadis kecil dengan rambut dikuncir dua membuka pintu berwarna coklat setelah mengetuk sebelumnya. Ia melihat sang paman yang duduk di ranjang dengan kamar yang berantakan. Sedikit takut, anak berusia tujuh tahun itu menghampiri pamannya.


“Amang kenapa? Amang abis nangis?” tanyanya begitu polos, wajah penasaran bocah itu terlihat jelas. “kalo ada yang jahatin Amang bilang sama Icha, biar nanti Icha bilang ke Papah.” Lanjutnya.


Tito mengusap wajahnya, menatap gadis kecil di hadapannya kemudian mengendong Icha keluar kamar, “Amang tidak apa-apa, ayo kita sarapan.”


Setibanya di meja makan, ia menurunkan Icha dan mendudukan anak kecil yang merupakan putri dari kakaknya di tepat di sebelah ia duduk. Ia berusaha bersikap biasa saja, menyesali sikapnya yang membuat keributan di kamarnya tadi malam hingga membuat anggota keluarga lain terbangun dan berlari ke kamarnya, tak terkecuali Icha. Ponakan kesayangannya pun pagi ini masih terlihat sedikit ketakutan padanya.


Selesai sarapan, kakak ipar dan kedua orang tuanya mengajak Tito untuk berbicara. Sementara sang kakak perempuan dengan Icha sudah meninggalkan meja makan sedari tadi.


“Ceritakan pada kami apa yang terjadi sampai kamu merusak semua barang-barang yang ada di kamar.” Ucap sang ayah.


“Benar, tak biasanya kamu seperti itu nak.” Timpal ibu dengan lembut.


“Aku tidak apa-apa. Maaf atas keributan tadi malam.” Tito beranjak dari duduknya, meninggalkan meja makan. Ia tak mau keluarganya mengetahui kejadian memalukan yang menimpa dirinya.


Sejak awal memang tak seharusnya ia mengikuti rencana Lisa, wanita itu benar-benar licik. Ditambah lagi besok ia harus siap-siap menghadap kepala program studi untuk mempertanggungjawabkan hal yang tak ia lakukan.


Tito kembali ke kamar, duduk di sofa. Melihat ponselnya hanya sekedar melihat pesan masuk yang sebagian besar berisi caci maki. Baik di Wa grup maupun medsos kampus namanya mendadak menjadi buah bibir. Bukan karena prestasi melainkan karena sebutan “lelaki breng*sek” yang kini seolah menggantikan namanya.


Ia melempar ponselnya asal, kembali menjambak rambut pendeknya untuk menghilangkan pusing bukan kepalang yang sedang ia alami. Meskipun hal itu tak merubah keadaannya Tito masih berulag kali menjambak rambutnya, gusar. Hingga kesekian kalinya ia berhenti, menyandarkan kepala pada sofa, menatap kosong langit-langit putih kamar tempat ia berada.


Tito membuang nafasnya kasar, sekelebat kejadian yang bahkan belum genap dua puluh empat jam berlalu itu kembali tergambar nyata di pikirannya. Bagaimana orang-orang mencaci maki, mengumpat hingga pukulan keras di perut yang kini masih menyisakan rasa sakit.


Flashback On


Selepas Freya pergi ke toilet, Lisa dan Tito mengikuti Freya dan menunggu gadis itu di luar. Lisa masuk terlebih dulu saat mendengar suara orang terjatuh. Setelah memastikan Freya sudah tak sadarkan diri, Lisa keluar dan menyuruh Tito masuk ke dalam toilet wanita.

__ADS_1


Sesuai instruksi Lisa, Tito mengendong Freya dan membawa gadis itu ke salah satu kamar yang sudah di siapkan sebelumnya. Sementara Lisa kembali ke ballroom, katanya supaya tak ada yang curiga.


Tito merebahkan Freya di ranjang, “Maafin gue Fre, gue terpaksa ngelakuin ini.” Ucap Tito lirih, kemudian melihat gadis yang pernah memberinya surat cinta dari ujung kaki hingga wajah terlelap tenang itu.


Tito duduk di ujung ranjang, ia melepaskan kedua sepatu yang di kenakan Freya kemudian meletakannya asal. Kembali menatap wajah tenang yang sedang terlelap. Tito masih tak yakin untuk melakukan itu pada Freya.


Lisa menyuruhnya untuk menggagahi freya, dengan begitu ia bisa memiliki Freya sepenuhnya. Meskipun gadis itu menolak pun tak ada pilihan lain selain menerima dirinya menjadi suami. Tak sampai disana saja, Lisa pun meminta Tito untuk mengabadikan kegiatan itu, untuk membuat Arka membenci Freya hingga ia tak memiliki saingan lagi untuk kembali pada Arka. Lisa tak mau Freya yang statusnya sebagai saudara sepupu naik tingkat jadi pacar Arka, mengingat mantannya itu sangat dekat dengan Freya.


Tapi sumpah demi apa pun, Tito benar-benar tak ingin melakukan hal itu. Freya, gadis polos itu benar-benar tak berdosa. Tito menatap miris pada Freya, gadis cantik itu begitu polos dan baik. Bahkan dengan mudahnya ia memaafkan Lisa dan mempercayai wanita itu, ia bahkan tak sadar jika Lisa hanya berpura-pura baik padanya.


Setelah cukup lama bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya Tito menemukan solusi yang menurutnya paling aman. Sekali lagi ia menatap Freya yang masih terlelap tidur.


“Maafin gue Fre, gue vuma mau buka baju lu sampe bahu lu keliatan. Abis itu kita foto dan semuanya selesai.” Gumamnya.


Tito membuka kemeja yang ia kenakan dan membuangnya asal, ia sudah memutuskan tak akan menyentuh Freya, hanya akan mengambil foto diriinya dan Freya dengan lengan baju Freya yang di turunkan sedikit supaya nampak bahunya saja dan terlihat seperti mereka tak berpakaian.


Baru satu lengan gaun Freya berhasil ia turunkan, tiba-tiba segerombolan orang dengnan satu petugas hotel menerobos masuk ke dalam kamar. Bahkan satu orang diantara mereka langsung menghadiahinya dengan pukulan keras perut.


Tito tersungkur ke lantai sebelah ranjang dengan kondisinya bertelanjang dada.


“Gue nggak nyangka lu sebreng sek ini.” Ucap Rendi yang baru saja membuatnya tersengkur ke lantai. Tak sampai di sana, ia masih menerima tendangan dari Irfan.


“Ini nggak seperti yang kalian pikirkan.” Tito berusaha membela diri.


“Jangan banyak ba cot! Lu bakal terima balasan yang setimpal.” Sentak Rendi.


“Gue bener-bener ngga ngelakuin apa pun ke Freya.” Ucap Tito.


“Ya lu nggak ngelakuin apa-apa karena keburu kita-kita datang kan?” Kali ini Irfan yang jarang marah meninggikan suaranya. Menatap jijik pada adik tingkatnya.

__ADS_1


“Gue bener-bener nggak ngapa-ngapain dia.” Ucap Tito lirih sambil menahan sakit di perutnya. Matanya kini menatap si biang kerok yang merencanakan semua ini sedang berakting layaknya artis papan atas dengan segala penghargaan. Lisa wanita dengan gaun kuning seksi itu sedang duduk di tepi ranjang, tangannya membenarkan gaun Freya sambil menangis sesegukan.


“Gue berani sumpah. Gue nggak ngelakuin apa-apa. Gue cuma di jebak. Dan dia dalang dibalik semua ini.” Ucap Tito sambil menunjuk Lisa.


Tak terima dengan tuduhan itu, Lisa beranjak dari duduknya dan menghampiri Tito dengan angkuhnya, “Bisa-bisanya lu yah! Udah kelakuan be jad gitu malah main fitnah orang!”


Mendengar pembelaan Tito membuat Rendi semakin murka, ia berjongkok dan menatap tajam lelaki hitam manis yang masih terpuruk di lantai. “Bukannya nyesel sama kelakuan lu yang be jad, lu malah ngefitnah orang lain. Gue justru berterimakasih, karena Lisa gue bisa ngegagalin rencana busuk lu.”


Rendi berdiri kemudian menghampiri Freya yang masih terlelap, ia menggendong Freya keluar dari kamar. Sementara Lisa tersenyum puas pada Tito, ia ikut berjalan di belakang mengikuti Rendi dan Irfan.


Tiba di parkiran, Rendi merebahkan tubuh istri sahabatnya di kursi belakang mobilnya. Sementara Irfan sedang kembali ke ballroom untuk menyusul Miya dan Ardi yang masih menari di dekat panggung.


Keduanya begitu terkejut saat Irfan mengatakan Freya tak sadarkan diri dan langsung mengikuti Irfan ke parkiran tanpa banyak tanya.


“Makasih buat semuanya Lis.” Ucap Rendi pada Lisa sebelum menjalakan mobilnya menuju rumah Arka.


“Sama-sama. Ati-ati di jalan.” Jawab Lisa ditambah dengan senyuman ramahnya.


Flashback Off


Arrgh… teriak Tito, lelaki itu kembali menjambak rambutnya, frustasi. Ia beranjak dari sofa dan mengambil kunci mobilnya.


“Lisa sialan!” umpatnya kemudian keluar dari kamar dan menutup pintu itu dengan keras.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah para kesayangannya akuh.

__ADS_1


__ADS_2