
Arka menjalani kesibukan kuliahnya seperti biasa, meskipun berulang kali mantannya itu selalu menghampirinya dan menolak putus, tapi dengan tegas dia mengatakan bahwa tak ada lagi hubungan diantara keduanya.
“Sebaiknya lu berhenti ganggu gue Sa. Karena sampe kapanpun kita ngga akan pernah balikan!” Ucap Arka sambil tetap berjalan menuju kantin bersama kedua temannya.
“Tapi Ar gue cinta sama lu. Lu tuh salah paham, gue bisa jelasin semuanya.” Ujarnya tak tau malu padahal sudah jelas-jelas ketahuan hanya memanfaatkan Arka saja. Ya meskipun Arka tak penuli dengan itu semua dan tak sakit hati sedikit pun karena dari awal memang hanya memacari Lisa karena status saja supaya tak terus di ledek jomblo akut oleh dua sahabatnya.
“Cinta sama Arka apa sama dompetnya lu?” Sindir Rendi yang tak tahan dengan rengekan Lisa yang tak tau malu.
“Diem lu.” Sergahnya. “Ar lu mau kan maafin gue dan kita balikan?” rengeknya lagi, kali ini sambil memegang lengan kiri Arka dan menyingkirkan Irfan yang berjalan di samping kiri Arka dengan kasar.
“Buset bar-bar amat Mak.” Umpat Irfan.
Arka menghentikan langkahnya dan menyingkirkan tangan Lisa dari lengannya. “Sorry tapi sampai kapan pun kita ngga bisa balikan!” Tegas Arka kemudian berjalan kembali meninggalkan Lisa yang terlihat mengepalkan tangannya.
“Kalo gue ngga bisa dapetin lu, siapa pun ngga boleh deket sama lu!” Ucapnya lirih tapi masih bisa di dengar oleh Irfan yang berdiri di belakangnya. Setelah dua minggu putus dari Arka dirinya benar-benar merasa kehilangan. Bukan hanya kehilangan ATM yang selalu menuruti keinginannya, tapi ia baru sadar bahwa selama ini dirinya benar-benar menyukai Arka.
“Halu aja terus lu. Sampe kapan pun lu kaga bakal bisa dapetin Arka lagi.” Ledeknya sambil berjalan cepat meninggalkan Lisa menyusul Arka dan Rendi yang sudah menjauh.
Bukan lagi kantin yang menjadi tempat ngobrol mereka karena tak mau Lisa kembali menghampirinya, kini untuk pertama kalinya setelah menikah Arka menyempatkan waktu nongkrong di cafe bersama dua sahabatnya.
“Gimana progress bini polos lu?” tanya Rendi.
“Lumayan lah.” Jawab Arka.
“Udah ena-ena dong?” Kali ini Irfan yang dengan vulgar menanyakan sesutau yang seharusnya tak pelu dibahas.
“Kepo jangan berlebihan lu! Gue takut lu pada ngiler kalo gue ceritain. Kasian lu berdua kan belum ada lawan buat praktek.” Ejek Arka dengan bangganya, padahal dirinya saja belum praktek karena lawannya terlalu polos dan butuh pelajaran lanjutan darinya.
__ADS_1
Arka membuka ponselnya stelah mendengar notifikasi pesan masuk. Senyumnya merekah begitu membaca pesan yang ia terima. Setelah membalas pesan itu ia kembali meletakan ponselnya di meja.
“Gue berasa liat bocah yang lagi mulai pacaran Ar liat lu senyam senyum ngga jelas gitu.” Ejek Irfan.
“Pesan dar siapa sampe bikin lu sesenang itu?” kali ini Rendi yang ikutan kepo.
“Dedek gemes gue lah.”
“Gue pengen muntah dengernya. Lu alay!” ejek Irfan.
“Kalo mau muntah kresekin, terus lu kasih ke Rendi. Gue ikhlas kaga lu kasih juga. Gue duluan.” Pamit Arka.
“Gue yang kaga ikhlas Ar.” Sungut Rendi.
“Bayar dulu jangan main kabur lu.” Teriak Irfan yang hanya diacungi jempol oleh Arka yang kemudian berjalan menuju meja kasir dan membayar bill mereka.
Sepanjang perjalan pulang dirinya masih tersenyum berulang kali. Pesan dari Freya nya itu benar-benar membuatnya tak bisa berhenti tertawa. Bagaimana bisa bocah ini menanyakan dimana lokasi pabrik permennya. Rupaya istrinya itu benar-benar menganggapnya memiliki pabrik permen. “Bener-bener kaga bisa di kasih kode lu Dek.” Ucapnya sembari membelokan mobilnya ke salah satu toko serba ada dan membeli beberapa makanan ringan tak lupa permen juga. Untuk jaga-jaga karena pastinya istri polosnya itu akan menanyakan permennya.
Sementara itu di rumah Freya dan Ardi sedang menunggu pengumaman hasil penerimaan mahasiswa baru di universitas Persada. Keduanya duduk di ruang TV bersama dengan Bunda Mira yang menunggu detik-detik portal pengumuman di buka.
“Buruan Di, udah di buka belum sih?” Tanya Freya pada Ardi yang sudah stanby di depan laptop.
“Udah santai aja sayang. Kamu pasti di terima kok.” Mira mencoba menenangkan menatunya.
“Kalo Ardi udah jelas di terima Bun. Kalo menantu Bunda mah Ardi ngga jamin, dia kan siswa yang biasa aja. Kerjaannya aja nyontek PR Ardi.” Ejek Ardi.
Mendengar Ardi yang mulai membuka aibnya membuat Freya geram dan beranjak dari duduknya di samping Mira dan menghampiri Ardi yang lesehan di hadapannya. “Alah gue tukang nyontek aja lu cinta mati.” Ucapnya Freya yang langsung di bungkam oleh Ardi dengan kedua tangannya. Untung Mira sedang sibuk dengan ponselnya jadi tak mendengar jelas ucapan Freya.
__ADS_1
Freya langsung menatap Ardi yang membungkam mulutnya. Ini pertama kalinya sedekat ini dengan Ardi. “Lu kalo ngomong Fre pake saringan jangan asal ceplos.” Bisik Ardi.
“Ardi apa-apaan kamu Freya di bungkam gitu, lepasin!” Titah Mira. “Barusan siapa yang cinta mati?” imbuhnya.
Freya benar-benar gelagapan menjawab pertanyaan mertuanya. “Oh itu... itu temen aku bun di sekolah. Dia cinta mati sama temennya yang tukang nyontek. Aku sih berharap temen aku tuh sekarang udah move on, soalnya kasihan Bun dia yang suka eh kakaknya yang dapet.” Jawab Freya sambil menatap sebal ke Ardi.
“Wah nyesek banget itu pastinya yah.” Ucap Arka yang baru saja masuk dan mendengar ucapan Freya.
Mendengar suara Arka, Freya langsung memalingkan pandangannya ke sumber suara dan segera menghampiri Arka. “Bang Ar udah pulang.” Ucapnya begitu riang kemudian mencium tangan suaminya.
Ardi menatap Freya dan Arka yang terlihat begitu saling menyayangi. “Iya itu nyesek banget kak. Gue yakin lu juga bakal sedih kalo tau orang yang nyesek itu gue. Adik lu sendiri.” Batin Ardi.
Arka mencium kening Freya kemudian mengacak gemas rambut Freya seperti biasa. “Kamu lagi ngapain?” tanyanya seraya berjalan menghampiri Bundanya.
“Nunggu pengumuman penerimaan mahasiswa Bang.” Jawab Freya sambil melihat ke arah kresek yang di bawa Arka. “itu buat aku Bang?” tanyanya yang dijawab dengan senyuman dan memberikan kresek itu ke Freya.
Freya membuka kresek itu dan mengambil permen yang sejak tadi pagi membuatnya penasaran. “Bang Ar.” Panggilnya lirih.
“Hm.” Jawab Arka asal yang sedang membelai rambut Freyanya.
Ardi melirik keduanya. “Bener-bener ngga ada ati lu Fre. Kalo Kak Arka mesra-mesraan di depan gue kan lu bisa menghindar. Harusnya lu bisa jaga perasaan gue kek. Sakit tau.” Gerutu Ardi dalam hati.
Freya memainkan permen panjang di tangannya setelah sebelumnya mencicipinya sedikit. “Bang Ar ini panjang dan gede sih, tapi kok ngga keras?” Tanyanya sambil menatap Arka dengan polosnya.
.
.
__ADS_1
.
Itu like dan komentarnya jangan lupa yah. Aku mau cari yang panjang dan keras dulu wkwkwk.