
Setelah curhatan yang berakhir dengan panduan do’a yang terkesan maksa, kini Miya menjalani hari-harinya benar-benar sebagai dirinya sendiri. Dia sudah meyakini kata-kata sahabat satu servernya yang penting usaha dan do’a toh kalo jodoh tak kemana. Kalo nggak jodoh yah tinggal tikung via do’a.
Sudah hampir seminggu Arka dan Freya tinggal sendiri, berlatih mandiri katanya sih. Tapi nyatanya sampai saat ini saking mandirinya istrinya belum pernah masak selain saat perjamuan syukuran hunian baru yang berakhir dengan mie instan. Kali ini bukan karena tak ada bahan makanan di tempat tinggal mereka. Semua bahan makanan lengkap di dapur, hanya yang mengolahnya saja tak ada. Akhir-akhir ini mood Freya benar-benar sedang tak baik. Berulang kali Arka kena omelan hanya karena hal sepele. Jatah permennya pun sudah libur selama
tiga hari ini karena si istri yang sedang palang merah.
Seperti biasa pagi ini mereka sarapan bubur ayam di kampus. Hari ini adalah hari terakhir ospek yang hanya diisi oleh panitia tanpa dosen tak seperti hari-hari sebelumnya. Ada sesi perekrutan anggota UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dan sesi tanya jawab dengan mahasiswa-mahasiswa yang aktif dalam organisasi
kampus juga tentunya. Tak ketinggalan sesi hiburan dari perwakilan mahasiswa
baru tiap jurusan.
Hanya membayangkan saja sudah membuat Freya kesal, otak gadis itu sudah mengsimulasikan bagaimana para mahasiswi akan gencar menanyakan ini itu pada Arka saat sesi tanya jawab nanti. Beberapa hari ini terus saja mendengar mahasiswi membicarakan kekaguman mereka pada Arka benar-benar membuat Freya panas. Padahal sebelumnya ia sudah menduga jika hal seperti ini akan terjadi dan dengan percaya diri ia tak masalah selama Arka tetap di sisinya, tapi semua salah. Saat ini ia butuh pengakuan dan tak ingin siapa pun mendekati suaminya.
Arkana sudah fix hanya miliknya.
“Dimakan Dek jangan Cuma di aduk-aduk doang.” Tegur Arka pada Freya yang sedari tadi hanya mengaduk bubur.
“Hm.”
“Kamu kenapa sih Dek? Sejak menstruasi kamu jadi aneh gini. Dikit-dikit marah, dikit-dikit murung.”
Freya masih terus mengaduk buburnya dan mengedarkan pandangan ke sekitar mereka banyak mahasiswi yang memperhatikan Arka.
“Aku nggak kenapa-kenapa. Aku Cuma nggak suka aja mereka terus merhatiin Abang.” Ucap Freya cemberut.
“Sama.” Kali ini Arka menyimpan sendoknya dan berbalik menatap Freya.
__ADS_1
“Sama gimana?”
“Ya sama Abang juga nggak suka tuh kamu di deketin cowok lain. Tapi Abang nggak pernah ngambek-ngambek nggak jelas kayak kamu.” Tangan kanan Arka mengelus puncak kepala Freya, mengacak pelan rambut gadis itu. “Karena kita nggak bisa ngelarang orang lain untuk suka sama kita, itu hak mereka. Yang penting perasaan diantara kita nggak pernah berubah. Belajar dewasa yah Dedek Freya nya Abang.” Arka kembali mengacak rambut Freya.
Ucapan Arka berhasil menenangkan panas di hatinya, suaminya benar menyukai orang adalah hak setiap individu dan kita tak bisa melarangnya. Seperti dirinya
yang masih menyukai suami halu meskipun sudah punya suami beneran.
“Udah Bang jangan di acak-acak rambut aku.” Freya menyingkirkan tangan Arka dari kepalanya.
“Kenapa emang?”
“Rambut yang diacak-acak tapi hati aku yang berantakan Bang. Nih jedag jedug banget disini.” Ucapnya sambil memegangi dadanya.
Arka hanya tersenyum dengan jawaban unfaedah dari istrinya.
“Abang jangan senyum!”
“Takut mereka makin suka sama Abang. Kasihan aku ntar mereka patah hati berjamaah kalo tau Abang tuh punya aku.” Bisik Freya pelan.
Lagi-lagi Arka tersenyum dan mengelus puncak kepala Freya. “Ada-ada aja kamu. Udah buruan abisin buburnya!”
“ish di bilangin jangan senyum juga.” Kesal Freya kemudian menghabiskan makanannya dengan cepat.
“Aku masuk duluan Bang.” Pamit Freya buru-buru karena sebentar lagi sudah mau jam tujuh, ia tak mau terlambat.
Freya berjalan dengan sesekali berlari supaya cepat sampai, hingga karena keteledorannya ia menabrak seseorang.
__ADS_1
“Maaf Kak, aku nggak sengaja.” Ucapnya pada lelaki jangkung yang mengenakan jas almamater kampus. Lelaki itu masih sibuk memunguti berkas yang berceceran, Freya berjongkok dan membantu mengambil beberapa lembaran kertas kemudian berdiri dan memberikannya pada senior yang kini berdiri berhadapan dengannya.
Freya menelan ludahnya sendiri saat melihat wajah senior yang tak asing baginya. Dengan gugup ia menyerahkan kertas di tangannya. “sekali lagi maaf Kak. Gue nggak sengaja.” Ucap Freya.
Lelaki itu menerima berkas yang Freya berikan dan menyatukannya dengan berkas yang ada di tangannya. “Nggak apa-apa. lu?” si senior tampak sedang mengingat sesuatu, tangannya menunjuk Freya. “lu tuh? Anak X AK alumni SMK xx Jogja kan?” Si senior menyebut nama sekolah Freya.
“I-iya Kak.” Jawab Freya gugup.
“Aduh siapa yah nama lu gue lupa.”
“Freya Kak. Kakak masih inget gue?”
“Inget lah. Lu kan yang ngirim surat cinta ke gue pas masa orientasi siswa baru dulu. Soalnya surat lu tuh amazing banget bahkan sampe sekarang gue masih inget isinya.”
Freya menunduk malu. Dulu saat masa orientasi siswa baru SMk memang pernah mengirim surat cinta pada senior yang kini sedang menatapnya. Tapi dulu semua siswa juga melakukannya, dimana itu adalah salah satu tugas untuk siswa baru. Setiap siswa wajib memberikan surat cinta pada senior yang mereka sukai. Saat itu Kak Tito, lelaki yang kini masih menatapnya adalah Bendahara OSIS yang sangat Freya sukai. Selain tampan, lelaki hitam manis dihadapannya sangat ramah dan jago main basket. Saat teman-teman perempuannya mengirim surat cinta pada ketua OSIS, Freya malah memberikan surat cintanya untuk Kak Tito. Bahkan selama duduk di kelas X setiap pelajaran matematika mata Freya bukan tertuju pada Pak Warto melainkan ke lapang basket, memperhatikan si hitam manis yang hanya ia sukai dalam diam. Sering kali Freya menerima hukuman dari Pak Warto karena meleng di pelajarannya. Tapi itu tak merubah kebiasaannya selama setahun pertamanya.
“Hei kok malah ngelamun?” Tito menggerakkan tangannya di depan wajah Freya.
“Nggak apa-apak Kak. Kakak kuliah di sini juga?” pertanyaan bodoh yang tak perlu ditanyakan, karena dari almamater yang dikenakan pemuda itu saja sudah terjawab.
“Iya lah kalo kagak kuliah di sini kagak mungkin sekarang gue ada di depan lu.” Jawabnya sambil menatap Freya.
“Tapi dari kemaren gue kok nggak pernah liat kakak?”
“Gue kan bukan panitia, kesini hari ini doang soalnya mau promo UKM gue.” Jawab Tito yang kini menjadi mahasiswa tingkat tiga, “Jadi gimana Fre kalo sekarang lu udah boleh pacaran kan sama Mama lu?” imbuhnya.
Freya hanya diam. Tiba-tiba ia jadi ingat kembali kejadian dua tahun silam saat acara perpisahan sekolah. Sebelum Kak Tito pergi kuliah meminta ia jadi pacarnya yang tentu ditolak dengan alasan tak boleh pacaran oleh sang Mama.
__ADS_1
“Malah diem. Kalo sekarang bisa kan kita pacaran?” Ucap Tito.
“Hah?” hanya itu kata yang keluar dari bibir Freya. Gadis itu tak tau harus berkata apa.