
Biarkan suami yang mengambil keuntungan dari keluguan sang istri, membuat ranjang mereka menghangat di tengah panasnya matahari yang masih belum turun dari peredarannya.
Beralih pada Miya dan Ardi yang sedang keliling Mall demi album treasure. Keduanya berjalan beriringan seperti biasanya meskipun tanpa Freya. Dulu mereka bertiga selalu bersama kemana pun, karena Ardi yang tak pernah absen memaksa untuk ikut. Meskipun sepanjang mengikuti dua sahabatnya itu tak ada yang menyenangkan baginya, hanya sekedar ingin memastikan tak ada yang mendekati Freya nya.
Tapi itu semua dulu, lain lagi ceritanya untuk saat ini. Tak ada lagi gadis yang ia ikuti kemana-mana. Justru kali ini ia yang di buat risih karena beberapa gadis terus menempel padanya, mencari perhatian dengan berbagai cara yang justru membuatnya semakin tak suka.
Mengalami terus di desak dan di paksa memberi perhatian pada orang yang tak kita sukai ternyata tak enak. Mau bersikap cuek juga tak enak hati karenanya Ardi tetap bersikap baik pada gadis-gadis yang mendekatinya.
Seperti saat di kampus tadi, beberapa gadis dengan segala alasan meminta nomer HP nya karena tak enak hati Ardi pun memberikannya. Bagaimana pun Ardi bukanlah tipe lelaki yang bersikap dingin, ia begitu ramah dengan siapa pun, membuatnya semakin banyak di kagumi kaum hawa.
Saat SMK dia menolak mentah-mentah setiap gadis yang mendekatinya dengan alasan sudah memiliki gadis yang ia sukai, dan hampir semua anak-anak di sekolah tau akan hal itu hingga tak ada lagi yang mendekatinya.
Tapi kini tak ada lagi gadis yang ia sukai, Freya adalah kakak iparnya, tak akan pernah menjadi miliknya. Tak ada lagi alasan menjauh dari gadis-gadis yang mendekatinya. Tapi melayani gadis-gadis yang terus mendekat tak membuat hatinya bergetar. Tak ada satu pun yang menarik bagi Ardi.
Ardi melirik Miya yang berjalan di sampingnya, gadis berambut pendek itu benar-benar berbeda dengan gadis yang terus mendekatinya di kampus tadi. Ia tak mencari perhatiannya dan terlihat asik dengan dunianya sendiri seperti biasa.
"Eh Di kayaknya tempatnya di sebelah sana deh." Seru Miya sambil menunjuk salah satu toko.
"Ardi!" Panggilnya lagi karena Ardi tak menjawab lelaki itu terlihat hanyut dengan pikirannya. "Ardi?" Kali ini Miya menepuk bahu lelaki di sampingnya.
"Eh iya kenapa?"
"Lu kenapa sih? Ngelamun lu yah? Kayaknya tokonya di sana deh." Sekali lagi Miya menunjuk toko itu.
"Nggak apa-apa. Ayo ke sana." Tanpa sadar Ardi menarik tangan Miya, keduanya berjalan seperti pasangan yang sedang kencan.
Miya yang di otaknya saat ini hanya berisi album treasure juga tak menyadari sejak tadi mereka berjalan bergandeng tangan hingga pegawai toko menawarkan bando couple ala Drama korea.
"Maaf kak tapi kami bukan pasangan." Tolak Miya setelah reflek melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Saya kira kalian pasangan. Sayang sekali padahal kalian terlihat sangat cocok." Puji si pegawai setelah melihat pada Miya dan Ardi secara bergantian.
Keduanya hanya tersenyum canggung kemudian menjauh dari si pegawai.
Ardi menahan tawanya, "masa ya Mi kita di kira pasangan? Yang bener aja haha."
"Ya berarti kita cocok Di." Jawab Miya sekenanya, gadis itu tengah sibuk memilih pernak pernik treasure. Mumpung gratis mau ambil rada banyak biar mereka jadi teume sejati pikirnya.
"Mana ada kita cocok. Gue ngebayanginnya aja udah ngeri hih." Jawab Ardi yang masih setia menemani Miya berjalan kesana-kemari di dalam toko. Sesekali lelaki itu menyentuh pernak pernik yang menurutnya terlalu alay.
Kini iseng-iseng tangan kanannya memegang satu pulpen dengan ujung berbentuk kepala salah member Treasure. "Apa-apaan coba cowok cantik kayak gini." Ucapnya sambil melihat pulpen yang ia pegang.
"Astaga suami gue. Ganteng gini lu bilang cantik." Sewot Miya yang kemudian merebut pulpen dengan emoc Yedam di ujungnya.
"Astaga ngeri gue liat lu Mi, udah kayak orang gila aja segala lu bilang tuh si cantik suami lu." Ejek Ardi.
"Ngeselin banget sih lu Di. Bawain ini!" Miya menyerahkan keranjang yang ia bawa pada Ardi.
"Bayar dong Di."
"Kok gue?"
"Kan kata Freya gratis tadi. Berhubung tadi Kak Arka belum ngasih uang dan gue juga lupa minta jadi lu bayarin dulu lah."
"Si freya bener-bener dah, udah nggak ada di sini juga tetep ngeselin." Gerutu Ardi tapi tetap mengeluarkan sebuah kartu dan membayar tagihan.
Miya dengan ceria keluar dari toko membawa belanjaannya. "Di makan dulu lah gue laper."
"Yaudah ayo tapi lu yang bayar yah."
__ADS_1
"Lu dulu lah yang bayar ntar tinggal kita gabungin struknya kasih ke Kak Arka, kita tukar nota." Jawab Miya.
Keduanya duduk di salah satu meja, di sana banyak juga anak seumuran mereka melakukan hal yang sama hanya status yang membedakannya. Yang lain pasangan sedangan Miya dan Ardi hanya teman.
"Lu makan kagak ada anggun-anggunnya. Liat tuh cewek lain mah pada jaga image di depan cowoknya." Mata Ardi menunjuk pada pasangan di depannya, si gadis makan dengan begitu anggun dan pelan.
Miya menengok kebelakang sebentar kemudian kembali menatap Ardi. "Gue nggak mau kayak mereka. Buat apa bersikap so manis di depan pacarnya. Gue maunya apa adanya aja. Lu suka ya syukur kalo kagak ya udah."
"Iya sih yah lagian buat apa hubungan kalo nggak saling nyaman." Timpal Ardi. "Lagian lu juga bukan pacar gue jadi lu nggak usah so jaga image juga di depan gue." Lanjutnya seraya mengambil gelas dan meneguknya.
"Sekarang sih gue belum jadi pacar lu, tapi gue lagi usaha nih. Gimana kalo kita pacaran?" Kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir Miya tanpa rem.
Byurr... Wajah Miya kini basah terkena semburan air minum Ardi.
"Sorry sorry." Ardi segera mengelap wajah gadis di hadapannya dengan tisu. "Lu kalo ngomong suka ceplas ceplos gitu sih."
"Gue serius Di." Miya menatap Ardi dengan tajam dan penuh harap layaknya orang yang sedang menanti jawaban atas perasaan yang baru saja di ungkapkan.
Ardi terdiam, lelaki itu terlihat berfikir. Seperti Miya yang menatapnya tajam, ia pun melakukan hal yang sama.
"Hahahaa...Serius amat lu Di." Miya tertawa memecah kecanggungan diantara mereka.
Ardi yang masih memegang tisu bekas mengelap wajah Miya tadi membentuk tisu itu menjadi bulatan dan melemparkannya pada wajah Miya. "Sialan lu. bercandaan lu nggak asik banget."
"Sorry sorry deh soalnya gue lagi berasa jadi salah satu pemain trus beauty nih." elak Miya, padahal kata-kata murni dari hatinya yang paling dalam.
"Halah halu lu Mi. Pasti lu lagi halu jadi pemeran utama yang di rebutin dua cowok kan? Udah balik yuk." Ujar Ardi sambil beranjak dari kursinya.
Miya mengikuti Ardi beranjak dari kursinya. Kali ini mereka tak berjalan beriringan. Miya berjalan dibelakang Ardi memandang punggung lelaki yang berjalan di depannya.
__ADS_1
"Sayangnya gue bukan Lim jukyung yang di rebutin Su Ho dan Seo Jun. Gue cuma Seo Jun yang mencintai dalam diam."