
"Yang gue bikinin sarapan buat lu." Lisa meletakan dua lembar roti tawar yang sudah dioles selai cokelat dan segelas kopi pada Arka. Lelaki itu lagi-lagi mengabaikannya, malah berulang kali melakukan panggilan yang nampaknya tak ada jawaban dari seberang sana.
"Arka gue udah buatin lu sarapan. Seenggaknya lu makan hargai gue." Kesal Lisa yang sengaja menyiapkan semua untuk Arka.
Rendi dan Irfan yang baru saja keluar kamar langsung mengambil dua lembar roti di hadapan Arka. "Bagi dua Ren satu-satu." Ujar Irfan.
"Heh itu bukan buat kalian." Sungut Lisa.
"Dari pada mubah Lis, si Arka juga kagak bakalan makan sarapan buatan lu." Ejek Rendi.
Tak sampai di situ kopi buatan Lisa pun ikut di seruput bergantian oleh keduanya. "Thanks sarapannya Lis." Ujar Rendi. Seraya melempar pandangannya ke Arka mengajak lelaki itu keluar.
"Lu laper Ar lesu gitu?" Tanya Rendi.
"Nggak, cuma rasanya beda aja bangun pagi nggak liat Freya. Gue telpon juga nggak diangkat."
"Yaelah penganten baru. Palingan tuh bocah masih tidur. Udah yuk buruan siapin aula buat pembukaan." Ketiganya berjalan ke kantor desa letaknya tak jauh dari posko mereka.
Dari dalam rumah Lisa menatap geram pada Arka yang semakin mengabaikannya. Diakuinya dulu memang tak menyukai Arka hanya memanfaatkannya saja. Sebenarnya Lisa yang memang matre bukanlah gadis dari kalangan bawah sehingga menempel seperti parasit pada pacarnya.
Seperti kebanyakan mahasiswa di universitas persada, Lisa Anindya merupakan putri dari salah satu pengusaha ternama di Bandung. Gadis itu sama sekali tak kekurangan apa pun. Tapi karena masa lalunya saat SMA yang pernah di manfaatkan oleh teman-temannya membuat Lisa berubah menjadi orang yang ingin memanfaatkan orang lain alih-alih menjadi bermanfaat bagi orang lain. Bagi Lisa hidup adalah soal dimanfaatkan atau memanfaatkan. Dari sanalah Lisa mulai berubah dan memanfaatkan orang lain untuk kepopulerannya.
Mengenal Arka dari saat dirinya di semester empat, laki-laki tampan yang mendadak mengajaknya pacaran. Kala itu tak ada rasa untuk Arka, tetap menerima Arka hanya untuk dipamerkan pada teman-temannya. Bisa memanfaatkan banyak orang membuatnya memiliki rasa bangga tersendiri. Memamerkan kemampuannya membuat lelaki menuruti semua keinginannya seolah menambah nilai plus pada dirinya.
Cantik, kaya dan memiliki pacar tampan titisan sultan. Itu lah image yang dibangunnya sejak berpacaran dengan Arka. Siapa yang tak akan iri jika membandingkan posisi Lisa dengan kehidupannya. Seolah tak ada yang kurang dari gadis itu.
Tapi itulah hidup hanya sebatas pandangan, terlihat indah oleh orang lain tapi belum tentu indah bagi yang menjalani.
__ADS_1
Karma seolah datang begitu cepat saat Arka mengetahui dirinya hanya dimanfaatkan dan memutus hubungan mereka. Yang Lisa tau Arka begitu mencintainya karena lelaki itu selalu menuruti semua keinginannya, hingga kini dia tak pernah mundur untuk mendapatkan Arka kembali. Tak pernah terpikir oleh Lisa jika dia benar-benar menyukai Arka karena awalnya hanya memanfaatkan saja. Tapi kini dia benar-benar tak rela melepaskan sosok yang selalu menghindar bahkan tak menganggapnya ada.
"Ayo Lis kita ke aula yang lain udah pergi semua." Ajak Tia tapi gadis itu masih tenggelam di lamunannya. "Lisa ayo! Lu kenapa sih?" Tia mengguncang bahu Lisa.
"Eh iya ayo Ti."
"Lu lagi ada masalah?"
"Hm.. Lu tau kan ketua kelompok kita?"
"Arkana?"
"Iya Arka. Dia cowok gue." Ucap Lisa.
"Serius? Tapi kata Rendi kemaren pas gue duduk sama dia, katanya Arka bukan cowok lu." Tia menatap ragu pada Lisa. Mereka memang gak satu fakultas hingga Tia tak tau hubungan Arka dan Lisa yang sempat pacaran. Yang Tia tahu Lisa seperti orang yang tau tau malu terus mengejar Arka.
"Jujur gue nggak tau masalah kalian. Yang gue tau cuma Arka tuh jomblo hehe. Bahkan temen-temen yang lain ada rencana buat deketin Arka. Secara dia ganteng, pinter, baik lagi."
"What? Mau pada deketin Arka? Lu kasih tau aja yah sama mereka kalo gue ceweknya Arka. Kita cuma lagi ribut aja, ntar juga balikan lagi." Ujar Lisa.
"Ya ya ya ntar gue kasih tau. Kalo perlu gue kasih pengumuman deh. Buruan keluar mau gue kunci nih." Tia segera mengunci pintu saat Lisa keluar. Keduanya berjalan menuju aula desa.
Di ruangan sederhana dengan luas yang tak seberapa sudah berjejer kepala desa dengan stafnya. Para ketua rukun tetangga dan rukun warga pun ikut diundang dalam acara pembukaan KKN itu. Arka selaku ketua kelompok dengan lancar memaparkan program-program yang akan mereka laksanakan selama KKN. Kepala desa dan tamu lainnya menanggapi program-program yang akan mereka laksanakan dengan antusias, terutama program tata kelola keuangan sederhana untuk para pengelola UMKM yang baru-baru ini mendapat bantuan suntikan dana dari pemerintah.
Di sela-sela acara pembukaan Lisa terus mendekati Tia, gadis yang satu kelompok dengan Arka dan Irfan untuk program tata kelola keuangan. "Ti lu kan sekelompok tuh sama Arka dan Irfan. Gimana kalo kita tukeran. Lu masuk kelompok gue dan gue masuk kelompok Arka. Lagian lu pasti nggak mau kan pusing-pusing ngitung duit." Bujuk Lisa.
"Iya sih gue juga nggak paham masalah ngitung-ngitung keuangan gitu. Kayaknya Arka keliru deh masukin mahasiswa bahasa inggris buat ke UMKM." Keluh Tia.
__ADS_1
"Ya udah lu tukeran sama gue aja. Kelompok gue mah enak programnya cuma mengelola TK sebelah biar rame dan banyak muridnya di tahun ajaran baru nanti. Paling mentok nyanyi-nyanyi doang." Lisa berusaha meyakinkan.
"Ya udah deh. Tapi lu yang bilang ke Arka ya."
"Oke siap."ucap Lisa sambil mengacungkan dua jempolnya. Lisa benar-benar beruntung kali ini bisa tetap berada di dekat Arka.
Setelah selesai dengan acara pembukaan, semua mahasiswa kembali ke posko sebelum menjalankan tugas masing-masing.
Kegiatan pertama mereka adalah mengunjungi tempat yang menjadi sasaran program mereka. Arka dan Irfan sedang sudah siap di depan posko tinggal menunggu Tia lalu berangkat ke tempat UMKM pembuatan kripik tempe.
"Ayo berangkat. Gue udah ready." Ucap Lisa sambil memegang lengan kiri Arka.
"Sorry yah Lis kita kan nggak sekelompok." Ujar Irfan.
"Gue sekelompok sama kalian kali. Udah tukeran sama Tia. Dia nggak mau ke program UMKM pusing katanya kalo ngurusin keuangan." Tutur Lisa.
"Gimana nih Ar? Nggak apa-apa kita barengan nih cewek kaga tau malu?" Tanya Irfan karena sebelumnya Irfan, Rendi dan Arka sudah sengaja membuat Lisa tak satu kelompok dengannya, eh tapi masih bisa aja si Lisa nyempil diantara mereka.
"Ya udah lah mau gimana lagi. Udah terlanjur lagian si Tia udah berangkat." Ujar Arka sambil menyingkirkan tangan Lisa dan berjalan mendahuluinya bersama dengan Irfan.
"Liat aja Ar, gue pasti bisa dapetin lu lagi." Batin Lisa kemudian berlari mengejar Arka. "Yang tungguin." Teriaknya.
.
.
.
__ADS_1
Biasa ritual like, komen dan vote nya jangan ketinggalan yah.