
Miya dan Ardi mengunjungi apartemen Freya untuk mengantarkan album plus pernak pernik treasure yang baru saja mereka beli, sekalian tukar nota belanjaan pada Arka.
Setelah menekan bel keduanya berdiri cukup lama di depan pintu bernomor dua puluh tujuh itu. Sekali lagi Miya menekan bel tapi masih belum juga ada tanda-tanda pintu akan terbuka.
"Mereka nggak ada kali yah Di?"
"Ada, coba lu tekan sekali lagi. Tadi gue liat mobil kakak ada di bawah kok. Mereka pasti ada di dalem."
Benar saja tak lama pintu terbuka, Ardi langsung nyelonong masuk melewati Arka yang berdiri di samping pintu.
"Lama amat sih kak buka pintunya." Ujar Ardi yang kemudian berjalan menuju dapur, mengambil segelas air dan duduk di ruang tamu.
Miya ikut masuk setelah di persilahkan Arka, ia duduk tak jauh dari Ardi.
"Mi kalo mau minum ambil sendiri aja tuh kaya si Ardi nggak usah sungkan-sungkan." Ujar Arka yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Miya.
"Siniin Mi nota belanjaannya tadi, kita tuker." Ardi menjulurkan tangannya untuk menerima nota belanjaan kemudian menyerahkan tiga lembar nota pada Arka. "Noh Kak ganti duit gue."
"Iya nanti gue transfer." Ujar Arka setelah menerima kertas berisikan jumlah pembayaran.
Miya mengedarkan pandangannya mencari Freya yang tak terlihat sejak tadi. "Freya kemana Kak?" Tanyanya pada Arka.
"Tidur."
"Jam segini udah tidur aja kakak ipar gue. Bener-bener tuh anak mentang-mentang udah pindah tidur mulu kerjanya." Ujar Ardi.
"Cape dia. Biarin aja."
"Cape? Emangnya abis ngapain kak?" Tanya Miya.
__ADS_1
"Habis..." Belum selesai Arka bicara ketiganya reflek menengok ke belakang begitu mendengar suara parau Freya.
"Bang Ar dimana? Aku pengen minum, haus." Gadis itu berjalan dengan mata yang masih setengah merem melek, sepertinya nyawanya belum seratus persen terkumpul.
Miya dan Ardi membulatkan matanya terkejut dengan penampilan Freya. Ini bukan kali pertama Ardi melihat Freya mengenakan kemeja sang kakak yang tentu kebesaran di tubuh gadis itu. Tapi bukan di sana fokus penglihatan mereka saat ini, kemeja itu adalah kemeja maroon yang tadi di pakai Arka ke kampus, lebih gila lagi gadis itu hanya mengancingkan bajunya asal dan rambut Freya yang acak-acakan dan apa itu? Leher kakak iparnya begitu penuh dengan bercak merah.
Arka langsung beranjak dari duduknya, menghampiri Freya dan menyembunyikan gadis itu di belakanganya. Hal yang sama juga di lakukan oleh Miya, gadis itu menghampiri Freya dan terlihat khawatir.
"Lu kenapa Fre? Lu kena alergi? Kenapa merah-merah gini?" Miya menyibakkan rambut Freya hingga kini bisa melihat tanda merah itu begitu jelas dan banyak.
"Wajah lu juga lesu banget." Kali ini Miya menangkupkan kedua tangannya di pipi kiri dan kanan Freya. Matanya kini melirik Arka yang berdiri di dekatnya.
"Kak kayaknya kita harus bawa Freya ke rumah sakit. Gue takut dia kenapa-kenapa. Liat ini merah-merah banget." Miya menunjukan leher Freya. Kini matanya ke bawah, baju yang hanya di kancing asal membuat Miya bisa melihat dada sahabatnya.
"Astaga Freya." Serunya panik. "Kenapa sampe ke dada juga. Ini bener-bener harus segera di bawa ke dokter. Gue takut ntar semua tubuh lu jadi merah-merah." Lanjut Miya yang mengira bercak merah di leher Freya semakin menyebar. Padahal dari awal karya bibir Arka memang tersebar di sana.
Karena kepanikan Miya yang berisik membuat Freya membuka matanya secara penuh. Ia berulang kali mengucek matanya, membuka paksa meski menahan kantuk karena lelah melayani Arka dari siang tadi.
Di sampingnya berdiri ada Miya yang masih terlihat panik dan ngoceh-ngoceh pada Arka.
"Kak Arka kok diem aja. Ayo kita ke dokter!" Ujar Miya.
Arka menggaruk rambutnya sendiri yang tak gatal. Tak tau juga harus berkata apa pada sahabat istrinya yang terlihat super panik itu.
"Gue nggak apa-apa Mi." Ucap Freya yang membuat Miya menoleh padanya.
"Tapi lihat nih leher lu merah-merah. Dada lu juga."
Ardi sudah tak tahan melihat drama konyol di depan matanya. Ardi sungguh merutuki kepanikan Miya.
__ADS_1
"Gue punya sahabat dua nggak ada yang waras. Si Freya polosnya kagak ketulungan yang sekarang udah jadi kakak gue. Dan sekarang Miya, kenapa dia nggak bisa bedain alergi sama kissmark." Batin Ardi. Dia lantas beranjak dari duduknya dan menarik Miya.
"Ayo balik dah udah sore."
"Kak Arka jangan lupa temen gue bawa ke dokter. Gue takut ntar alerginya tambah parah." Ujarnya pada Arka.
"Udah ayo! Freya nggak apa-apa." Kali ini Ardi kembali menarik paksa Miya. Membawa gadis itu keluar dari apartemen sang kakak. "Jangan lupa transfer uangnya kak!" Ucap Ardi sebelum menghilang di balik pintu.
Sepanjang perjalanan pulang Miya terus mengomel pada Ardi yang kini sedang mengemudikan mobilnya menuju apartemen tempat Miya tinggal. Lelaki itu tampak tenang dan hanya menanggapi setiap ocehan yang keluar dari bibir Miya dengan kata iya, iya dan iya. Tiga tahun dekat dengan Miya dan Freya, dia tau untuk mengahadapi kedua gadis itu jika sedang ngomel cukup bilang iya iya saja, karena percuma tak akan pernah menang kalo ditanggapi dengan serius. Toh nanti kalo sudah lelah mereka akan berhenti ngomel.
"Jadi lu ngerti nggak sih Di? Jangan cuma iya iya doang. Gue tuh takut alergi Freya tambah parah. Nggak kebayang gue kalo seluruh tubuhnya jadi merah-merah semua."
"Iya."
"Nanti lu harus pastiin Kak Arka bawa Freya ke dokter."
"Iya."
"Awas jangan iya iya doang lu."
Lama-lama Ardi jadi kesal juga, ia berhenti di depan gedung apartemen Miya. Ia Merubah duduknya hingga bisa menatap gadis di sampingnya.
"Kenapa?"
"Panas kuping gue lu ngoceh mulu Mi. Ni gue kasih tau yah si Freya merah-merah gitu bukan karena alergi."
"Terus kenapa?"
"Udah lah percuma gue jelasin ke lu juga kagak bakalan paham kecuali gue praktekin."
__ADS_1
"Yaudah yuk kita praktekin aja!" Jawab Miya santai sambil membuka sabuk pengamannya.
Saat ini Ardi benar-benar ingin sekali membungkam mulut ceplas ceplos Miya. Bagaimana bisa dia malah ngajakin praktek bikin kissmark.