Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Memanfaatkan atau dimanfaatkan!


__ADS_3

...Kebahagiaan memang satu paket dengan kesedihan bahkan kebencian. Nyatanya tidak semua orang bisa bahagia melihat kita tertawa....


Tito mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera menemui Lisa yang sudah menjebaknya sekaligus menghancurkan nama baik yang ia jaga selama ini. Jalanan yang macet membuatnya harus bersabar dengan kendaraan yang berjalan begitu lambat di depannya.


Ia menjatuhkan kepala pada kendali di hadapannya saat lampu merah menyala kemudian meneggakkan kembali kepalanya dan mengambil ponsel, memeriksa pesan yang ia kirim pada Lisa, memberitahu lokasi untuk menemuinya. Tapi tak ada jawaban, bahkan pesan itu belum terbaca hingga Tito akhirnya memutuskan untuk menyusul wanita ular itu ke rumahnya.


Tito kembali melajukan kendaraannya saat lampu hijau menyala. Sebenarnya ia enggan untuk datang ke rumah Lisa mengingat kedua orang tua Lisa merupakan pemilik perusahaan properti yang cukup disegani di kota Bandung. Ia tak mau membuat keributan di rumah itu. Tak terbayangkan jika kedua orang tua Lisa mengetahui kelakuan buruk putri semata wayang yang selalu mereka bangga-banggakan pada setiap relasi bisnisnya. Bahkan pernah sekali Tito bertemu dengan Lisa di pertemuan bisnis orang tua mereka. Tito masih ingat bagaimana orang tua Lisa begitu memuji dan membanggakan wanita itu. Tak dipungkiri tak hanya cantik, Lisa juga pandai.


Tito mendengus kesal, “Saking pandainya dia bisa memanfaatkan orang-orang disekitarnya. Dasar sialan!" Umpatnya.


Setelah memeberitahukan maksud dan tujuannya berkunjung, satpam penjaga rumah Lisa membukakan gerbang untuknya. Tito memarkirkan kendaraanya dan langsung berjalan menghampiri pintu utama yang tertutup.


Ia menekan bel di samping pintu, tak lama muncul wanita paruh baya yang anggun dari dalam sana. Senyumnya begitu ramah. Senyuman meneduhkan itu seratus persen mirip senyum ramah Lisa saat berpura-pura di hadapan Freya.


Tito menyalami wanita itu, “Siang Tante, Lisa nya ada?”


“Oh temennya Lisa. Ada, masuk.” Jawabnya ramah kemudian mempersilahkan Tito untuk masuk.


“Tidak usah Tan, saya di sini saja.” jawab Tito sungkan.


“Ya udah kamu bisa duduk di kursi itu, ”Ibu Lisa menunjuk kursi teras yang tak jauh dari pintu. Tito mengangguk kemudian duduk di sana. “Tante panggilkan Lisa dulu.” Lanjutnya kemudian menghilang dibalik pintu.

__ADS_1


Tak lama ART Lisa menyajikan minuman untuk Tito, “Makasih Bi.”


“Sama-sama.” ART itu kembali masuk ke dalam rumah.


Cukup lama Tito menunggu akhirnya Lisa menemuinya, wanita itu berjalan dengan angkuh dan duduk di kursi sebelah Tito, hanya terhalang meja diantara mereka.


“Ngapain lu kesini? Kita udah nggak ada urusan!” ucap Lisa begitu enteng seolah tak punya dosa.


Tito menatap tajam wanita yang tampak biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa diantara mereka. “Lu bilang nggak ada urusan? Lu pikir apa yang udah lu lakuin ke gue semalem!” meskipun kesal Tito berusaha menahan emosi, tak ingin ribut di rumah orang. Apalagi perusahaan orang tua mereka saling bekerja sama. Tito mengambil ponselnya, memainkan layar benda pipih itu kemudian meletakannya di meja, dengan posisi terbalik.


“Kenapa lu diem hah? Semalem nggak sesuai dengan rencana yang udah kita sepakati.” Ujar Tito.


“Gue nggak peduli sama rencana sebelumnya, karena dari awal gue udah ragu sama lu. Gue kan nyuruh lu pake obat perangsang, malah lu ganti pake obat tidur.” Jawab Lisa datar.


“Kalo iya kenapa?” Jawab Lisa dengan senyum jumawa nya. “Hidup ini tentang di manfaatkan atau dimanfaatkan. Lagi pula gue nggak yakin lu bakal merkosa Freya sesuai perintah gue. so why? Kalo gue punya rencana cadangan yang lebih menguntungkan, ya harus gue gunain sebaik mungkin lah.” Imbuhnya dengan enteng, tak ada lagi senyum ramah meneduhkan yang hampir dua bulan terakhir selalu ia pamerkan dihadapan Freya. Hanya senyum penuh ejekan yang tersungging di bibir wanita ular itu.


Tito benar-benar geram dengan semua jawaban-jawaban Lisa, wanita cantik dan cerdas itu benar-benar bermuka dua. Tito sudah mengepalkan kedua tangannya Ingin rasanya ia baku hantam saja wajah itu. Wajah yang bisa-bisanya tersenyum setelah memanfaatkan orang lain hanya demi ambisi gilanya.


“Kenapa lu ngeliatin gue kayak gitu hah? Kalo udah selesai lu bisa pergi dari sini.” Usir Lisa.


“Gue nggak nyangka ada manusia kayak lu di dunia ini. Suatu saat lu pasti bakal dapat balasan yang setimpal buat semua yang lu lakuin ke gue dan Freya. Bisa-bisanya lu manfaatin anak polos kayak dia.”

__ADS_1


“Sekali lagi gue kasih tau yah, hidup ini tentang memanfaatkan atau dimanfaatkan! Gue udah muak selalu dimanfaatkan dimasa lalu. Sekarang saatnya gue manfaatin apa pun demi dapetin Arka lagi. Jangankan pura-pura baik di depan Freya, kalo perlu gue abisin tuh anak asal gue bisa balik sama Arka, bukan masalah buat gue.”


Tito semakin kesal mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Lisa, “dan lu pikir Arka bakal mau balik sama lu kalo dia udah tau semua kelakuan lu?”


Lisa tersenyum sinis, “tentu saja. Bahkan mungkin sebentar lagi dia bakalan bilang makasih ke gue, secara gue kan udah nyelamatin adik sepupunya dari baji ngan kayak lu.”


“Nyelamatin? Nyelamatin apa? Lu nggak malu bilang kayak gitu ke gue? secara gue tau jelas kebenarannya. Dan gue pastiin, gue bakal bongkar wajah asli lu ke semua orang, terutama Arka. Gue bakal pastiin dia nggak bakalan mau sama lu, sekalipun lu adalah stok wanita terakhir di bumi."


Lisa hanya menanggapi ucapan serius Tito dengan tawa arogannya, “Silahkan kasih tau dia sesuka lu, toh dia nggak bakal percaya. Semuanya udah jelas kalo lu …” Lisa menunjuk wajah Tito dengan angkuh, “Lu cowok breng sek yang mau ngancurin adik sepupunya, dan gue malaikat pelindung Freya.”


Tito mengambil ponselnya kemudian beranjak dari duduknya. Ia berdiri tepat di hadapan Lisa yang juga ikut berdiri. Ditatapnya tajam wajah cantik itu, “Ya lu malaikat, Malaikat maut yang ditakuti semua penghuni bentala!” Ucap Tito penuh penekanan kemudian berlalu meninggalkan Lisa.


Tito meninggalkan Lisa. Setelah duduk di balik kemudi ia mengeluarkan ponselnya, memeriksa hasil rekaman percakapan yang sengaja ia ambil. Suara Lisa dan dirinya terdengar jelas disana.


“Gue rasa ini cukup buat bikin Arka tau wajah asli lu, Lisa.” Tito kembali memasukan ponselnya ke saku. Dia segera menginjak pedas gas, meninggalkan kediaman Lisa.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa Like, komen, share, dan favoritkan juga yah. komen sebanyak-banyaknya biar aku makin semangat.


__ADS_2