
Mira tak pernah menyangka jika kedua putranya akan memperebutkan satu wanita. Dan sialnya dia yang membuat semua ini jadi rumit karena menjodohkan Arka dengan Freya. Tak habis pikir dengan tindakan yang membuat putra bungsunya begitu menderita dalam diam selama ini. Tiba-tiba dunianya berubah gelap dan wanita paruh baya itu pingsan di depan Ardi.
"Bunda." Teriak Ardi dan Arka bersamaan.
"Ini semua gara-gara lu." Ucap Arka.
"Gara-gara kakak juga." Bentak Ardi.
"Udah lu berdua jangan ribut terus. Kita bawa Tante ke kamar atau ke rumah sakit aja?" Tanya Rendi.
"Kamar aja biar nanti dokter Rere yang kesini." Jawab Arka.
Setelah sang bunda di periksa oleh dokter Rere dan kondisinya baik-baik saja hanya shock mendadak yang membuat wanita itu pingsan. Arka menemani bunda Mira di kamar sementara Ardi mengantar dokter Rere hingga halaman.
"Maafin aku udah bikin bunda jadi kaya gini. Aku pasti bawa menantu kesayangan bunda balik lagi ke sini." Ujar Arka sambil menggenggam telapak tangan Bundanya.
"Kamu mau bawa pulang Freya kesini karena bunda? Bukan karena kamu emang cinta sama Freya?"
"Aku cinta sama Freya Bun. Jujur diawal aku nggak suka sama dia. Freya itu alay, pecicilan, polos dan ngambekan. Dia bener-bener kekanak-kanakan Bun." Pikirannya tiba-tiba mengingat masa-masa diawal ia bertemu dengan Freya. "Apalagi kalo Bunda tau gimana dia waktu minta uang jajan sama orang tuanya pas kita pamitan mau ke bandung. Asli aku malu banget sama mertua Bun. Gimana dia terang-terangan nanya 'aku mau dikasih makan apa? Bang Ar kan bukan Ceo?'. Belum lagi tingkah dia kalo lagi ngambek." Tanpa sadar Arka menceritakan kegemasannya pada Freya membuatnya semakin merindukan istrinya yang sedang minggat.
"Terus bagaiman dengan Lisa? Kenapa gadis itu bilang dia pacar kamu?"
"Sumpah Bun, aku nggak ada hubungan apa-apa sama Lisa. Kita udah putus, cuma dianya aja yang suka ngaku-ngaku. Bunda bisa tanya Irfan sama Rendi kalo nggak percaya. Lagian ini semua juga bukan seratus persen salah aku." Arka membuang nafasnya kasar. " Huh...kalo aja pernikahan aku nggak perlu dirahasiakan semua pasti nggak bakal kaya gini Bun. Kenapa nggak diumumin aja sih Bun?" Lanjutnya.
__ADS_1
Mira tersenyum mendengar cerita Arka, "Nanti kita atur waktunya."
wanita itu kemudian mengelus pipi kiri putranya, " Apa ini masih sakit? Maafin bunda."
Arka menggapai tangan bunda Mira yang masih menempel di pipinya. "Nggak kok. Aku pantes kok digampar. Aku emang bukan suami yang baik. Aku pasti bawa Freya balik kesini lagi Bun."
"Buruan susul kakak ipar gue, apa perlu gue yang nyusul sekalian gue tikung?" Teriak Ardi dari depan pintu kamar.
Arka hanya menatap balik adiknya yang berdiri di depan pintu dan kini mulai berjalan menghampirinya, berdiri tepat di depan Arka.
"Bunda nggak apa-apa kan? Kata dokter Rere bunda nggak boleh banyak pikiran." Ucap Ardi.
"Iya Bunda nggak apa-apa. Kalian tidak perlu khawatir." Bunda Mira melihat ke arah Arka dan Ardi secara bergantian.
"Ardi sini deket Bunda." Pinta Mira yang membuat Ardi menuruti perkataannya. Ardi berlutut di samping kasur tempat bundanya berbaring sementara Arka duduk di sisi ranjang.
"Aku nggak apa-apa Bun. Jujur, bohong kalo aku bilang aku nggak kecewa. Dari awal Freya cerita dia udah dijodohin aja bikin aku nyesek setengah mati dan udah niat banget mau nikung Freya dari calon suaminya. Tapi begitu tau Kakak yang jadi calon suami Freya," Ardi melirik sebentar ke Arka kemudian kembali menatap Bundanya. "Aku tau kakakku orang yang baik dan pasti bisa bikin Freya bahagia. Sakit sih Bun tapi buat aku kebahagiaan Freya yang utama jadi aku belajar ikhlasin Freya buat kakak. Aku seneng liat kakak sama Freya akur bahkan semakin hari Freya begitu ceria tapi malam itu aku bener-bener nggak bisa ngontrol diri pas tau Kakak bikin Freya kecewa. Gimana bisa tega aku liat dia nangis terus jadi pas dia minta anter ke stasiun ya aku anterin aja." Tutur Ardi panjang lebar.
"Kamu bener-bener udah dewasa Ardi. Bunda harap kamu bisa segera dapat pengganti Freya. Bagaimanapun Freya itu istri kakak, kamu tidak boleh manganggap dia lebih dari kakak ipar." Ujar Mira.
"Iya aku tau Bun. Tapi kalo suaminya bikin dia sedih terus mah aku tikung nggak apa-apa kan Bun?" Ledek Ardi sambil melirik Arka.
"Enak aja. Bini gue woy itu." Sergah Arka. "Lu minta jodohin aja sama bunda kali aja masih ada stok jodoh dari GC." Imbuhnya.
__ADS_1
"Mau Ardi? Ntar bunda cariin kayaknya masih ada temen bunda yang punya anak gadis." Ucap Mira yang mendadak jadi semangat.
"Nggak mau Bun. Aku mau cari sendiri aja." Jawab Ardi.
"Maafin gue karena nggak ngasih tau kakak. Harusnya aku ngajak Freya pulang aja bukan malah bantuin dia minggat. Abisnya gue nggak tega banget liat dia sedih kaya gitu." Ujar Ardi.
"Nggak apa-apa biar kakak susul ke Jogja sekalian silaturahmi ke mertua. Makasih udah jagain jodoh kakak sejak dulu." Ujar Arka.
"Makasih sih makasih, tapi inget ya Kak awas aja kalo lu bikin Freya sedih, gue siap nikung. Biarin janda juga nggak apa-apa lah." Kelakar Ardi.
"Lu nggak usah mimpi mau nikung Di. Karena Freya nggak akan jadi janda, kecuali kalo gue mati. Gue pasti bahagiain temen lu."
"Buktiin!"
"Iya nih gue mau nyusulin kakak ipar lu sekarang." Ucap Arka. "Ntar kalo Freya udah balik kesini gue bakal pindah dari sini. Biar lu cepet move on." Ledeknya pada Ardi.
"Biar gue cepet move on apa karena kakak takut Freya ketikung?"
"Biar lu cepet move on lah. Dedek Freya mah udah cinta sama gue kagak bakal mau dah sama lu." Ucap Arka penuh keyakinan.
Tak ada lagi suasana menegangkan diantara mereka, Mira begitu lega melihat Ardi dan Arka yang sudah biasa saja, tak ada tatapan dendam maupun kebencian diantara mereka. Tadi Mira sempat shock mendengar pengakuan Ardi, ia mengira kedua putranya akan terlibat baku hantam tapi syukurlah Ardi begitu dewasa menerima kenyataan dan merelakan orang yang ia cintai untuk kakaknya.
Jangan lupakan dua sahabat Arka, Irfan dan Rendi yang sedari tadi duduk di sofa tak jauh dari ranjang Mira. Mereka hanya terdiam dan sesekali tertawa dengan drama adik kakak dihadapannya.
__ADS_1
udah siap otw nyusul yang lagi ngambek🤗🤗