Jodoh Dari GC

Jodoh Dari GC
Mau dikasih makan apa?


__ADS_3

Sepanjang perjalan dari rumahnya hingga tiba di stasiun gadis dengan rambut panjang berponi itu cemberut dan sesekali mengerucutkan bibirnya sambil komat-kamit menggerutu tidak jelas. Gadis itu kesal karena Arka menariknya paksa bahkan orang tuanya belum memberinya uang jajan.


Sedangkan Arka memilih membiarkannya saja. Mengahadapi istrinya yang sedang ngambek itu sebenarnya gampang-gampang susah jadi mending di biarkan saja dulu sementara lah, lagi pula istrinya itu terlihat menggemaskan kalo lagi ngambek.


Arka beranjak dari kursi tunggu untuk mencetak tiket kereta mereka. "Jangan kemana-mana ya Dek. Abang cetak tiket kita dulu." Titah Arka.


"Hm." Jawab gadis yang tampaknya masih ngambek itu, yang kini malah asik sendiri dengan ponselnya.


Arka meninggalkan Freya, sesekali lelaki tinggi itu menoleh ke belakang melihat istrinya dari kejauhan. Setelah selesai mencetak tiket kereta mereka, Arka masuk ke salah satu mini market yang ada di dalam stasiun itu. "Beli jajan dulu buat nyogok yang lagi ngambek." Ucap Arka lirih sambil mengambil beberapa makanan ringan tak lupa dengan minumannya juga.


Arka keluar dari mini market dengan menenteng kresek putih hasil belanjaannya. Ia melihat ke tempat istrinya duduk tapi tak terlihat Freya di sana. "****** gue. Kemana lagi tuh bocah. Jangan-jangan kabur." Pikir Arka kemudian mempercepat langkahnya menuju tempat tunggu. Arka meletakan kresek jajan itu sembarangan karena panik mencari Freya yang tiba-tiba menghilang. Padahal tadi masih ada, asik sama hp nya.


Arka mengambil hp nya dan menghubungi Freya tapi panggilannya itu selalu di tolak. Tak hilang akal, Arka pun mengirim pesan. Namun sayang hanya di read saja tapi tak di balas. Arka mengacak rambutnya, kali ini dirinya ikutan kesal. Sejenak Arka menghembuskan nafasnya pelan dan memilih duduk kembali di ruang tunggu untuk menenangkan kekesalannya. "Sabar-sabar Arkana. Resiko punya istri masih bocah." Gumamnya sambil kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling stasiun.


Arka melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, tersisa waktu dua puluh menit sebelum keberangkatan. Arka hendak menghubungi mertua menanyakan apakah Freya kembali ke rumah tapi sebelum mertuanya mengangkat telponnya Arka melihat Freya dan Miya masuk ke stasiun. Bahkan gadis itu sudah terlihat ceria lagi. Arka mematikan panggilan yang belum tersambung itu kemudian berjalan cepat menghampiri Freya. "Gue pusing nyari kesana-kemari tuh bocah malah cengengesan." Batin Arka. Ingin sekali kali ini memarahi gadis yang membuatnya khawatir itu. Tapi melihat ada Miya di samping istrinya membuat Arka memilih bersikap biasa saja. Karena memarahi Freya di depan temannya bukanlah hal yang tepat, itu akan membuat istrinya malu.


"Dari mana kamu Dek?" Tanyanya setelah berdiri di samping Freya.


"Ngga kemana-kemana." Jawab Freya cuek dan kembali mengobrol dengan Miya.


"Apa kabar Kak?" Sapa Miya.


"Baik." Jawab Arka.


Kedua gadis yang baru lulus putih abu itu saling berpelukan seolah tak akan bertemu lagi. Arka hanya dengan sabar menunggu keduanya selesai dengan drama perpisahan mereka.


"Lu baik-baik di sana ya Fre. Semoga kita bisa sama-sama di terima di Universitas Persada. Biar kita bisa bareng-bareng lagi." Ucap Miya.


"Iya Mi. Tapi tenang aja kata mertua gue semua bisa di atur kok." Ucap Freya setelah melepas pelukannya. "Gue berangkat dulu yah." Lanjutnya, kemudian meninggalkan Miya.


"Kakak titip sahabat gue yah." Teriak Miya pada Arka yang hanya di jawab dengan acungan jempol oleh Arka.


Freya meminta tiketnya pada Arka karena sebelum masuk ke kereta mereka harus menunjukan tiket dan KTP. Arka mencari tiket yang telah di cetaknya tadi namun karena kepanikannya mencari Freya tiket dan jajan yang sudah ia beli entah tertinggal di mana.

__ADS_1


"Bang mana tiket aku ih?" Rengek Freya karena waktu keberangkatan tinggal sepuluh menit lagi.


"Tiketnya ilang Dek. Sini pinjem KTP kamu bentar. Biar Abang beli lagi."


Freya menyerahkan KTP nya pada Arka. "Nih Bang. Ceroboh banget Bang Ar tuh. Ngurus tiket aja sampe ilang." Ejeknya.


Arka mengambil KTP Freya tanpa menanggapi ucapan gadis itu. Saat ini membeli ulang tiket lebih penting dari pada menanggapi ocehan istrinya itu tak akan ada habisnya.


Setelah mendapatkan tiket barunya dan petugas telah memeriksa KTP mereka. Freya berjalan mendahului Arka yang tengah menyeret koper mereka berdua. "Bang Ar buruan, kita bisa ketinggalan ini keretanya udah mau berangkat. Tinggal lima menit lagi nih." Teriak Freya.


Arka mengikuti Freya, suami istri itu terlihat sangat buru-buru takut ketinggalan kereta. Dan benar saja saat keduanya baru memasuki gerbong kereta langsung berjalan meninggalkan stasiun.


"Huh finaly ngga ketinggalan." Ucap Freya.


"Ya udah sekarang cek deh kursi kita di mana Dek? Abang udah cape ini lari-lari bawa dua koper pula. Pegel nih tangan." Ucap Arka sambil menggerakan kedua tangannya yang pegal.


Freya memeriksa tiketnya dan juga tiket Arka yang ia pegang. "Premiun 1 kursi 12B sama 12C Bang."


Setelah tiba di kursinya Freya segera duduk di kursi samping jendela sementara Arka meletakan koper mereka ke tempat yang sudah disediakan, kemudian duduk di samping Freya. "Gila ini pertama kalinya gue naik kereta, eh pake acara buru-buru juga." Keluh Arka.


"Ya itu semua kan karena Abang ceroboh tiket aja sampe ilang. Kalo tadi tuh tiket ngga ilang, ngga bakal kita maraton nguber kereta yang udah mau maju." Ujar Freya tanpa menatap Arka, gadis itu melihat pemandangan di luar sana, pepohonan yang seolah berjalan karena efek laju kereta.


Arka hanya membatin saja. "Semua gara-gara lu." Kemudian memejamkan matanya. Mengabaikan istrinya yang masih ngoceh-ngoceh.


"Bang Ar.... Abang." Panggilnya sambil menggerakkan lengan Arka.


"Apaan?"


"Jajan." Ucapnya dengan polos dengan tatapan mengarah pada petugas kereta yang membawa aneka makanan ringan beserta minuman.


"Ya udah sih tinggal ambil aja." Ujar Arka.


Arka membayar jajan yang baru saja di ambil istrinya. Gadis itu kini kembali ke mode normal, ceria dan menikmati makanannya.

__ADS_1


"Gemesnya." Batin Arka yang lagi-lagi tangannya itu reflek mengelus kepala Freya.


"Bang aaa." Freya menyuapkan satu keripik kentang pada Arka.


"Bang Ar?" Panggilnya pada Arka yang masih membelai rambutnya.


"Apa Dek?"


"Abang tuh CEO bukan?" Lagi-lagi pertanyaan konyol itu meluncur bebas.


"Bukan lah. Kan kamu tau suamimu ini cuma mahasiswa." Jawab Arka dengan menekankan kata 'suamimu' kemudian tertawa sendiri merasa geli dengan kata-kata itu.


"Ya kali aja Bang Ar itu mahasiswa yang sambil kerja di kantor papanya. Bahkan katanya mahasiswa udah punya perusahaan sendiri. Jadi keren gitu kaya di novel-novel yang mama aku baca. Katanya kaya gitu Bang."


"Ya elah itu sih halu banget Dek. Boro-boro ngurusin kerjaan tugas kuliah aja numpuk."


"Terus aku mau di kasih makan apa Bang kalo Abang cuma mahasiswa? Mau di kasih makan cinta juga kan Abang belum tentu cinta sama aku." Ucapnya sambil cemberut.


"Udah kamu makan aja tuh kripik, jangan kebanyakan mikir! kasian otak kamu." Ujar Arka sambil terus membelai rambut Freya.


.


.


.


.


Nah loh bener juga. Ci Freya mau di kasih makan apa coba??


Aku up sehari satu part. Biar kalian ngga kesel nunggu cerita ini up, kalian bisa mampir ke karya aku yang udah tamat "BUKAN PERJODOHAN"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN FAVORITKAN

__ADS_1


__ADS_2