
Sudah lima belas menit berlalu Arka membujuk Freya tapi gadis itu masih mendiamkannya. Bahkan seolah menjauhkan diri setiap Arka menyentuhnya, seperti jijik pada suami yang tak mengakuinya.
Arka mengusap wajahnya, gusar. Baru kali ini Freya ngambeknya nggak ketulungan. Padahal sebelumnya cukup di iming-imingi jajan atau poster idol favaritnya sudah auto ceria lagi. “Dek mau sampe kapan kayak gini sih? Kamu kekanak-kanakan banget.”
“Iya aku kekanakan, aku bocah, aku nggak bisa nyenengin Abang. Aku tau kok!” Jawabnya makin judes saja.
Astaga kali ini Arka sudah benar-benar tak tau harus berbuat apa lagi. Kata-kata yang ia keluarkan saat emosinya tak terkontrol tadi seolah menjadi senjata ampuh bagi Freya untuk menjatuhkannya. Benar ternyata wanita itu ahli sejarah mengalahkan sejarawan karena satu kata yang menyakitinya bisa terus diingat dan diulang-ulang bahkan mungkin selamanya tak akan lupa.
Arka menarik paksa Freya kepelukannya, “Dengerin dulu penjelasan Abang jangan main ngambek-ngambek nggak jelas gini.”
“Lepasin! Udah jelas kok aku cuma adik sepupu. Abang nggak perlu ngejelasin apa-apa aku paham kok aku emang cuma bocah.”
“Bukan gitu. Dengerin dulu-“ belum satu kata penjelasan pun keluar dari bibir Arka keduanya sudah dikagetkan oleh ketukan kaca pada mobilnya yang membuat Arka segera melepaskan Freya dan membuka kaca mobil disebelahnya.
Dua sahabat yang membuat masalahnya makin rumit berdiri di samping mobilnya. “Udah selesai belum berantemnya Bang Ar?” Ledek Rendi yang hanya di jawab dengan tatapan kesal Arka.
“Kuy lah berangkat! Ntar keburu sore Bang.” Ujar Irfan yang sudah masuk dan duduk di kursi belakang.
“Iya buruan Bang!” Timpal Rendi yang kini sudah duduk di samping Irfan dan menutup pintu mobil.
Menyebalkan sekali kedua sahabatnya ikut-ikutan memanggilnya Abang. “Kalian manggil gue Abang sekali lagi gue turunin lu pada.” Ujar Arka sambil menjalakan mobilnya. “Berasa jadi tukang bakso gue di panggil Abang.” Imbuhnya.
“Iya maaf kakak hahaha.” Ledek Rendi.
“Yaudah Bang berenti di sini. Aku mau turun. Aku udah bisa turun kan soalnya aku manggil Abang. Maaf juga karena panggilan aku bikin kamu jadi kayak tukang Bakso.” Ujar Freya saat mobil Arka baru keluar dari gerbang kampus.
__ADS_1
“Nggak Dek. Abang seneng kok dipanggil Abang sama kamu.” Ujar Arka sambil mengelus kepala Freya yang langsung di tepis oleh Freya.
“Hueekkk...gue pengen muntah dengernya Ar. Lu bawa kresek nggak Fan?” Ledek Rendi dengan ekspresi mual yang tak ketinggalan.
“Jangan pegang-pegang Bang. Kita hanya saudara sepupu.” Ucap Freya.
“Kakak sepupu sama adik sepupu lagi marahan Ren.” Kali ini Irfan tak mau ketinggalan meledek sahabatnya. Jarang-jarang bisa melihat Arka diabaikan perempuan. Bahkan ini pertama kalinya bagi lelaki yang belum lama menyandang gelar suami itu.
“Kalian bisa diem nggak? Kalian tuh bikin masalah ini tambah ruwet tau.” Keluh Arka.
“lu sendiri yang bikin ruwet Ar. Kita sih nggak ikutan.” Elak Rendi.
“Jangan dengerin mereka Dek. Merea gila.” Kesal Arka yang kemudian memarkirkan mobilnya di depan toserba. “Bentar Abang beli cemilan dulu buat kamu.” Ucap Arka sebelum keluar dari mobilnya. Ya kali aja di kasih jajan si Freya bisa sedikit berkurang lah ngambeknya. Karena Arka tau gadis itu tak memakan makanannya di kantin tadi.
“Ar gue sekalian beliin yah!” Teriak Rendi dari dalam mobil.
Arka sudah di dalam toserba, memasukan beberapa camilan untuk istri dan sahabatnya yang menyebalkan. Bukannya membantu menyelesaikan salah pahamnya dengan Freya malah memperkeruh keadaan. Padahal Rendi dan Irfan tau alasan mengapa Arka menyembunyikan status Freya di hadapan teman-teman KKN nya. “Huh dasar temen nggak ada akhlak.” Batinnya sambil memasukan beberapa minuman dingin.
Sementara itu di dalam mobil Rendi dan Irfan yang sedari tadi seolah menikmati pemandangan Arka yang dicueki oleh istrinya sedangn berusaha meyakinkan Freya yang salah paham pada Arka. Tak tega juga melihat sahabatnya terlalu lama diabaikan istrinya. Apalagi mengingat curhatan Arka yang selalu bersabar menghadapi Freya yang polosnya minta ampun. Kadang Irfan dan Rendi berfikir sebenarnya istri sahabatnya itu polos apa beg*o karena beda-beda tipis lah.
“Fre.” Panggil Rendi.
“Iya kak.” Freya menjawab panggilan itu kemudian menengok ke belakang melihat Irfan dan Rendi secara bergantian karena ia tak tau siapa yang memanggilnya.
“Jangan nyuekin Arka terus. Kasihan dia.” Ujar Rendi.
__ADS_1
“Coba kakak pikir deh. Kalo kakak ada di posisi gue apa kakak nggak bakalan kesel? Gue nggak dianggap.”
“Iya kalo gue diposisi lu gue juga pasti bakalan marah. Kesel udah pasti, pake banget malahan. Tapi apa lu nggak mikirin alasan Arka ngakuin lu adik sepupu?” Jawab Rendi.
“Ya tau lah. Jelas-jelas tadi Bang Ar bilang kalo gue tuh bocah, kekanak-kanakan, nggak bisa masak, nggak bisa bikin dia seneng di-“ Ucapannya tertahan. Freya baru sadar jika memang dia benar-benar tak bisa menyenangkan Arka di ranjang.
“Di mana?” Penasaran Irfan.
“Nggak kak.” Jawab Freya yang entah kenapa jadi malu jika mengingat kata ranjang.
“Yang jelas semua yang lu ucapin barusan itu bisa gue jamin seratus persen salah Fre. Gue kenal Arka udah lama. Dan gue tau dia bener-bener sayang sama lu.” Jelas Irfan yang masih sedikit merasa bersalah karena di kantin tadi ikut-ikutan memperkeruh suasana. Ia tak mau sahabatnya jadi tak akur dengan istrinya terlalu lama. Karena bisa di lihat Freya itu benar-benar polos bahkan gadis itu tak sadar betapa Arka menyayanginya.
“Bang Ar sayang sama gue? Plese jangan bercanda kak. Bang Ar nggak pernah bilang sayang ke gue, apalagi cinta kayaknya di luar jangkauan. Jelas-jelas dia cuma nganggap gue adik sepupu.” Ucap Freya dengan raut wajah sedihnya.
“Ish Dedek Freya bener-bener ngegemesin yah.” Ujar Rendi. “Buat cowok ungkapan tuh nggak penting. Yang penting perlakuan. Coba lu pikir apa Arka pernah berlaku kasar sama lu? Yang gue tau malah kesabaran dia meningkat pesat gara-gara lu.” Imbuhnya.
“Bang Ar galak Kak. Tadi gue dibentak-bentak!” keluh Freya.
“kenapa lu nggak mikir apa salah lu sampe Arka bentak lu? Lucu deh lu Fre. Pantes aja kesel-kesel juga Arka malah makin sayang sama lu kayaknya. Lu bener-bener polos.” Ujar Rendi. Dan Freya tentu saja sampai kini belum sadar kenapa Arka membentaknya karena yang digarisbawahi oleh otaknya adalah Arka yang hanya menganggapnya adik sepupu. Ia seolah lupa kalo mengajak teman suami berpacaran di hadapan suaminya adalah kesalahan fatal yang membuat mereka dalam skor satu sama dalam masalah ini.
.
.
.
__ADS_1
Segini dulu. Tadinya aku nggak mau up berhubung mau tugas negara. Tapi takut kalian kangen sama aku hehe.
Jangan lupa tinggalkan jejak supaya aku tau kalian suka apa nggak sama cerita ini.